BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau kurang lebih 17.000-an pulau besar dan kecil, juga memiliki panjang pantai terpanjang kedua di dunia elah Australia yang mencapai kurang lebih 81.000 km. Sebagai Negara kepulauan yang dikelilingi laut, Indonesia mempunyai sumber daya alam laut yang besar, baik sumber daya hayati maupun non-hayati.
            Selain perairan laut, luas daratan Indonesia juga “menyimpan” perairan umum atau perairan tawar yang cukup luas. Sebagaimana perairan laut, perairan tawar pun menyimpan potensi sumberdaya alam yang tidak sedikit, yang dapat dimamfaatkan untuk kesejahteraan pendududk Indonesia.
            Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, pada tahun 2000 diperkirakan telah mencapai 210 juta jiwa, maka meningkat pula kebutuhan pangan. Itu berarti luasnya laut dan perairan umum Indonesia merupakan sebuah “lumbung” pangan nasional yang setiap saat siap dimamfaatkan secara optimal.
            Sejak dahulu, nenek moyang bangsa Indonesia telah memamfaatkan laut dan perairan umum untuk memenuhi kebutuhan pangan, khususnya protein hewani, dengan menangkap dan memungut berbagai jenis ikan, udang, rumput laut, kerang dan sebagainya. Kegiatan itu kini masih memdominasi kegiatan penduduk yang bermukim dekat pantai dan perairan umum.
            Kegiatan yang bersifat penangkapan (capture) itu kini telah menimbulkan banyak masalah, mulai dari terjadi padat tangkap (overfishing) hingga beberapa kimoditas telah mengalami kepunahan (species extinction), juga terjadi penurunan pendapatan nelayan yang melakukan kegiatan tersebut. Bahkan telah terjadi kehancuran ekosistem sumber perairan di berbagai wilayah. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan, apalagi wilayah-wilayah tersebut terus diharapkan untuk menyediakan sumber protein untuk penduduk Indonesia yang terus bertambah. Kondisi ini tentu tidak perlu kita ratapi, tetapi perlu dipikirkan untuk direhabilitasi dan perlu kerja keras untuk ditemukan alternatif kegiatan-kegiatan yang mampu memenuhi kebutuhan penduduk yang makin bertambah tersebut. Dan salah satu pilihan itu adalah usaha budi daya (culture) sumber daya hayati air. Usaha budi daya perairan ini mempunyai kelebihan dalam beberapa hal untuk jangka waktu mendatang, yaitu berikut ini.
  1. Mengimbangi usaha penangkapan, sehingga mencegah berlanjutnya kepunahan spesies.
  2. Salah satu faktor dalam budi daya, yaitu pembenihan tidak hanya diharapkan untuk menyediakan benih biota perairan untuk dibesarkan dan kemudian dipasarkan saja, tetapi lebih dari itu benih-benih ditebarkan kembali (restocking) ke perairan untuk stabilisasi ekosistem.
  3. Meningkatkan pendapatan nelayan dan petani ikan dengan resiko usaha yang lebih kecil dibandingkan dengan penangkapan, terutama di laut karena ganasnya badai dan gelombang.
  4. Kesadaran masyarakat dunia tentang kelestarian lingkungan menguntungkan posisi para pembudi daya. Karena hasil tangkapan yang dianggap merusak sumber daya perairan, sering kali ditolak konsumen internasiaonal. Mau tidak mau produksi perairan kita harus berasal dari usaha budi daya.
Ikan yang merupakan sumber daya hayati terbesar di perairan adalah penyedian protein hewani sejak zaman dahulu. Dan kini, dengan berkembangnya teknologi budi daya, produksi ikan dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan (protein) masyarakat Indonesia dan menambah pemasukan devisa Negara. Dengan catatan, usaha budi daya ikan yang kita lakukan harus mempertimbangkan faktor-faktor ekologis (kelestarian lingkungan).
BAB II
PERMASALAHAN
Potensi yang besar dan prospek pengembangan yang begitu terbuka, bukanlah jaminan bahwa budi daya ikan akan berjalan mulus, tanpa permasalahan. Kini telah banyak masalah yang dihadapi oleh sektor budi daya ikan.
Masalah-masalah itu antara lain, rusaknya lingkungan hutan mangrove  karena pembukaan lahan tambak yang membabi buta serta menurunnya daya dukung lahan karena budi daya ikan dan udang di beberapa tempat mengabaikan daya dukung lahan tersebut. Khusus untuk beberapa jenis ikan tertentu, pasokan benih masih mengandalkan hasil penangkapan di alam, sehingga selain pasokan benih terbatas, penamgkapan benih telah menyebabakan kerusakan habitat ikan.
Dan masalah yang dianggap sering menjadi penghambat budi daya ikan terbesar adalah munculnya serangan penyakit. Pengalaman dalam dunia perundangan merupakan trauma berkepanjangan, yamg saat ini belum terpecahkan secara tuntas. Karena serangan penyakit dapat menimbulkan kerugian ekonomis, bahkan menggagalkan hasil panen, maka para akuakulturis dan calon akuakulturis, perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang penaggulangan hama dan penyakit. Untuk memfasilitasi dan mengisi kekosongan bahan rujukan dalam penanggulangan hama dan penyakit ikan, maka perlu adanya sosialisasi tentang permasalahan ini.
Dalam budi daya ikan, serangan penyakit merupakan masalah dan aspek yang sangat penting, setara dengan masalah dan aspek lainnya. Artinya penanggulangan penyakit dan hama juga harus menjadi pengetahuan penting bagi petani ikan dan siapa saja yang hendak membudidayakan ikan. Sebab serangan penyakit maupun gangguan hama dapat mengakibatkan kerugian ekonomis. Serangan penyakit dan gangguan hama dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat (kekerdilan), padat tebar sangat rendah, konversi pakan menjadi tinggi, periode pemeliharaan lebih lama, yang berarti meningkatnya biaya produksi. Dan pada tahap tertentu, serangan penyakit dan gangguan hama tidak hanya dapat menyebabkan menurunnya hasil panen (produksi), tetapi pada tahap yang lebih jauh dapat menyebabkan kegagalan panen.
Agar para pembudi daya ikan mampu mencegah serta mengatasi serangan penyakit dan gangguan hama yang terjadi pada ikan peliharaan, maka perlu dibekali pengetahuan mengenai sumber penyakit, penyebab, dan jenisnya serta teknik-teknik penanggulangannya.
Pengenalan Penyakit Ikan
Dalam budi daya ikan, penyakit ikan dapat mengakibatkan kerugian ekonomis. Karena penyakit dapat menyebabkan kekerdilan, periode pemeliharaan lebih lama, tingginya konversi pakan, tingkat padat tebar yang rendah dan kematian. Sehingga dapat mengakibatkan menurunnya atau hilangnya produksi.
Penyakit ikan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi di dalam air), kondisi inang(ikan), dan adanya jasad pathogen(jasad penyakit). Dengan demikian, timbulnya serangan penyakit itu merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, ikan, dan jasad/organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimilikinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang oleh prenyakit.
Di lingkungan alam, ikan dapat diserang berbagai macam penyakit. Demikian juga dalam pembudidayaannya, bahkan penyakit tersebut dapat menyerang ikan dalam jumlah besar dan dapat menyebabkan kematian ikan, sehingga kerugian yang ditimbulkannya pun sangat besar. Kerugian yang ditimbulkannya bergantung pada beberapa faktor, yaitu umur ikan yang sakit(yang terserang penyakit), persentase populasi yang terserang penyakit, parahnya penyakit, dan adanya infeksi sekunder.
Penyakit-penyakit tersebut banyak yang bersifat infektif, tetapi faktor-faktor non-infeksi juga sangat berperan. Menurut Zonneveld dan kawan-kawan (1991) peran ini berhubungan dengan dua faktor, yaitu :
1. lingkungan tempat hidup ikan, tempat ikan terkungkung oleh air beserta semua jenis     
    mikroorganisme dan polusi.
2. Sifat ikan yang poikilotermis suhu tubuh ikan dipengaruhi oleh suhu air disekitarnya),
    sifat ini mengakibatkan rendahnya tingkat metabolisme setelah air mengalami penuruna suhu.
Penyakit dapat ditimbulkan oleh satu atau berbagai macam penyakit. Sebagai contoh, penyakit disebabkan oleh satu faktor, tetapi kemudian dibarengi oleh faktor lain. Bila terjadi semacam ini, berarti penyakit kedua (sekunder) memamfaatkan kondisi yang disebabkan oleh penyakit pertama (penyakit primer).
A. Penyebab Penyakit 
            Manusia memegang peranan penting dalam upaya mencegah terjadinya serangan penyakit pada ikan budi daya, baik di kolam, keramba, tambak, maupun di wadah budi daya lainnya, yaitu dengan cara memelihara keserasian interaksi antara tiga komponen di ats. Ini berarti, kerugian yang diderita karena serangan penyakit sebenarnya dapat dihindari apabila petani mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai cara menjaga keserasian antara ketiga komponen penyebab penyakit ikan. Di samping itu, ketelitian dan kecermatan petani juga sangat menentukan keberhasilan dalam pencegahan serangan penyakit ikan tersebut.

Ciri masing-masing penyebab penyakit merupakan proses menuju morbiditas dan mortalitas. Dan di antara berbagai penyebab penyakit tersebut, proses menuju ke mortalitas sangat tergantung pada jenis penyebabnya. Kebanyakan keracunan dan infeksi virus terjadi secara mendadak dan meningkatkan kematian dengan tajam.

Penyebab penyakit pada ikan atau peristiwa yang memicu terjadinya serangan penyakit antara lain sebagai berikut.
1. Stres
            Semua perubahan pada lingkungan dianggap sebagai penyebab stres bagi ikan dan untuk itu diperlukan adanya adaptasi dari ikan. Beberapa faktor stres, misalmya meningkatnya suhu air dan salinitas, bias menyebabkan meningkatnya meteabolisme ikan. Faktor lain misalnya transportasi, dapat menyebabkan tekanan pada system kekebalan dan menghasilkan berbagai macam penyebab meningkatnya penyakit dan kematian pada ikan. Oleh karena itu, juga membutuhkan pencegahan yang berbeda.
            Stres dapat mengakibatkan ikan menjadi shok, tidak mau makan, kanibalisme(terutama ikan-ikan karnivor) dan meningkatnya kepekaan terhadap penyakit. Untuk mengurangi stres pada saat penebaran benih harus hati-hati. Ikan-ikan yang baru ditangkap atau baru didatangkan, tidak boleh langsung dicampur dengan ikan-ikan yang lama. Tindakan aklimatisasi dilakukan dengan cara mengubah sedikit demi sedikit kondisinya sehingga menyerupai kondisi lingkungan yang baru. Sebagai contoh, benih-benih yang baru saja mengalami transportasi sacara tertutup dalam kantong plastik tidak langsung ditebar, namun perlu dilakukan adaptasi suhu terlebih dahulu.
2. Kekurangan Gizi
            Ikan yang kekurangan gizi juga merupakan sumber dan penyebab penyakit. Pakan yang kandungan proteinnya rendah akan mengurangi laju pertumbuhan, proses reproduksi kurang sempurna, dan dapat menyebabkan ikan jadi mudah terserang penyakit. Kekurangan lemak dan atau asam lemak akan menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat, kesulitan reproduksi, dan warna kulit yang tidak normal. Kekurangan karbohidrat dan mineral jarang terjadi, kecuali yodium yang dapat menyebabkan gondok. Kekurangan vitamin dapat mengakibatkan pertumbuhan menurun, mata ikan redup, anemia, kulit pucat, dan pertumbuhan tulang belakang kurang baik (bengkok).
            Kondisi yang membuat ikan tidak normal tersebut, menyebabkan ketahanan tubuh ikan menurun, sehingga dengan mudah diserang penyakit. Pencegahan dilakukan dengan memberikan ikan makanan yang megandung gizi lengkap, tidak kelebihan gizi, pemberian makanan cukup, tepet waktu, dan makanan tidak mengandung bahan beracun.
3. Pemberian Pakan Yang Berlebihan
            Pakan yang berlebihan yang tidak habis dimakan oleh ikan akan tertimbun di dasar kolam dan tambak. Denagn demikian akan mempercepat penurunan kualitas air, karena pakan merupakan sumber bahan organik yang bila mengalami dekomposisi (terutama protein) akan menjadi amonia. Sedangkan konsentrasi amonia yang  berlebihan dapat menyebabkan timbulnya keracunan pada ikan.

4. Keracunan
            Beberapa penyebab penyakit hanya bisa menyerang ikan apabila faktor lingkungan melampaui nilai kritis. Apabila pertukaran antara gas-gas dan ion-ion efisien, maka proses terjadi keracunan sangat mudah. Keracuna yang banyak dikenal adalah yang disebabkan oleh ion NO²¯ dan NH3. Tetapi ini terjadi hanya pada kondisi lingkungan tertentu, misalnya penimbunan lumpur dan sisa pakan yang banyak di kolam atau tambak.
            Keracunan juga bisa berasal dari pakan. Misalnya dari bahn baku yang digunakan, aktivitas mikroorganisme yang mencemari pakan dan penurunan/pengrusakan komponen pakan selama penyimpanan. Ketengikan lemak dapat merusak funsi hati ikan. Mycotoxin dari Aspergilus flavus dapat menyebabkan tumor hati. Beberapa senyawa lainnya yang tidak beracun tetapi dapat menurunkan kualitas pakan antara lain enzim thiaminase yang dapat merusak thiamin (vitamin B1), trypsin inhibitor yang dapat menghambat aktivitas enzim tripsin.
            Selain keracunan yang disebutkan diatas, keracunan juga bisa berasal dari limbah baik limbah dari limbah rumah tangga seperti deterjen, limbah pertanian seperti pestisida maupun limbah industri seperti Cu, Cd dan Hg serta berbagai bahan pensemaran lainnya. Kesemuannya ini pada konsentrasi tinggi dapat membahayakan ikan danb para pengkonsumsi ikan.
5. Memar dan Luka 
Ikan yang memar atau luka juga merupakan sumber penyebab serangan penyakit.     Ikan mengalami memar dan luka karena saling menggigit atau penanganan yang kurang baik. Penyakit ulcus syndrome pada ikan kerapu yang diidentifikasi disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Vibriosis berasal dari memar dan luka pada ikan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Samaruddin Siregar dkk., dari Fakultas Perikanan Universitas Riau, Pekanbaru, ditemukan bahwa pada kasus penyakit ulcus syndrom, diperkirakan serangannya timbul akibat ikan telah mengalami memar atau luika sebelum dipelihara dalam kantung jaring apung. Luka atau memar ini terjadi akibat penangkapan atau penanganan benih yang kurang hati-hati (Anonim, 1994).
6. Cacat
            Cacat yang dimaksud disini adalah cacat bawaan/turunan yang di bawa ikan sejak lahir. Ikan yang cacat bawaan  seperti berupa tulang belakang yang tidak sempurna, tulang kepala membengkok atau mata yang juling. Ikan yang demikian dalam banyak hal mengalami kesulitan hidup di alam yang tidak bebas seperti di kolam atau keramba. Ikan cacat akan kesulitan memperoleh makanan, baik karena pergerakannya lambat atau memang karena kecacatannya sehingga mengalami kekerdilan. Dan karena itu, sulit bersaing terutama dalam memperoleh  makanan.
            Walaupun demikian, ikan yang cacat bukan hanya merupakan penyakit (non-infeksi) bawaan, tetapi juga karena perlakuan pembenihan yang tidak tepat. Misalnya, ikan yang mempunyai kebiasaan memakan makanan di dasar perairan, oleh pembenihan diberikan makanan terapung. Perlakuan seperti ini akan menyebabkan ikan menderita mata juling. Begitu juga ikan yang mengalami pembengkokan tulang. Mungkin saja telur ikan ditetaskan terserang penyakit terlebih dahulu sebelum menetas. Oleh karena itu, pembenihan juga harus dapat memastikan media air yang digunakan maupun telur yang hendak ditetaskan adalah dalam kondisi optimal.
7. Kualitas Air
            Air merupakan media yang paling vital bagi kehidupan ikan. Air yang memadai, baik kuantitas maupun kualitas, dalam budu daya ikan sangat menentukan keberhasilan budi daya tersebut. Bila kondisi air tidak memenuhi syarat, maka disitulah merupakan sumber penyakit yang paling berbahaya. Kuantitas air budi daya yang tidak memenuhi syarat, misalnya tinggi kolam terlalu rendah dapat menyebabkan ikan shok (stres) terutama ketika suhu air meningkat pada siang hari. Ikan yang shok atau stres karena tekanan peningkatan suhu yang tinggi mudah terserang organisme penyakit.
8. Hama
            Penyakit juga dapat disebabkan oleh hama yang secara sengaja maupun tidak sengaja masuk ke dalam wadah pemeliharaan. Hama dapat mengganggu ikan peliharaan sebagai pemangsa (predator), penyaing (kompetitor), dan perusak sarana budi daya.
Selain ikan, hama predator yang sering dijumpai di kolam, tambak, dan wadah budi daya lainnya antara lain katak, ular, burung, dan beberapa insekta. Burung biasanya menyerang dan memangsa ikan yang memiliki warna cerah (merah atau kuning), sehingga dianjurkan untuk memelihara ikan ynag mempunyai warna tubuh yang tidak menyolok. Beberapa jenis insekta yang merupakan jenis pemangsa ikan dan cukup berbahaya antara lain Notonecta spp., Cybester spp., Belostoma indicus dan kini-kini. Insekta dari kelompok Notonecta spp., merupakan insekta berbahaya karena sering merusak telur maupun benih ikan dengan cara menghisap cairan isinya. Insekta ini agak sulit diberantas, karena pada malam hari selalu terbang dari satu kolam lainnya untuk mencari mangsa.
Hama perusak sarana menyebabkan pada sarana, misalnya kynag menggali pematang (tanggul) dan merobek penyaring pada pintu. Belut  yang juga dapat menggali pematang atau berbagai organisme yang dapat merusak (melubangi) bahan-bahan  kayu maupun papan pada keramba jarring apung di perairan umu maupun di laut.
9. Jasad Patogen
            Jasad patogen (penyakit) seperti bakteri, virus, parasit atau jamur adalah organisme yang umumnya menimbulkan kerugian yang cukup besar. Dalam kondisi normal di lingkungan perairan bebas, jumlah ikan yang terserang jasad patogen tidak besar, kecuali terjadi hal-hal tertentu, sehingga menimbulkan kematian ikan yang sangat besar, misalnya up welling atau terjadinya pembalikan badan air (biasa disebut umbalan). Pada keadaan seperti ini jumlah ikan yang mati sangat besar, terutama pada waduk atau danau yang dalam.
            Jasad patogen akan lebih mempunyai peluang bila terjadi perubahan-perubahan di kolam atau di tambak karena campur tangan manusia. Jasad pathogen yang tadinya aman bagi ikan akan sangat berbahaya karena perubahan-perubahan itu, ikan pun mengalami tekanan yang memaksanya untuk beradaptasi. Di saat penyakit mempunyai peluang dan ikan mengalami kelonggaran dalam pertahanan tubuh, maka peluang ikan terserang penyakit menjadi lebih besar.
B. Sumber Penyakit
            Pengetahuan mengenai sumber penyakit yang sering dapat menyebabkan ikan terserang penyakit, selain sangat membantu dalam upaya pengobatan, juga bermamfaat dalam menentukan tindakan yang harus dilakukan petani ikan untuk mencegah serangan suatu penyakit yang mungkin akan dialami oleh ikan budi dayanya. Penyakit yang menyerang ikan budi daya tidak dating begitu saja, melainkan akibat dari infeksi yang tidak serasi antara tiga komponen utama, yaitu lingkungan, ikan, dan organisme penyebab penyakit.
1. Jasad Patogen
Jasad patogen dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu pathogen asli (true patogen) dan pathogen potensial (opportunistic patogen). Patogen asli adalah organisme pathogen yang selalu menimbulkan penyakit khas apabila ada kontak dengan ikan. Patogen potensial adalah organisme pathogen yang dalam keadaan normal hidup damai dengan ikan, akan tetapi jika kondisi lingkungan menunjang akan segera menjadi patogen yang membahayakan ikan (penyebab suatu penyakit), seperti bakteri vibrio sp.dan ikan kerapu (Epinephelus spp.). Jasad pathogen yang dikenal menyerang ikan-ikan budi daya, baik ikan air tawar maupun ikan-ikan air laut, antara lain sebagai berikut.
Ø      Virus adalah organisme penyebab dan sumber penyakit yang sangat kecil, karena memiliki ukuran tubuh antara 20-300 nanometer, sehingga hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.
Ø      Parasit adalah hewan atau tumbuhan yang hidup di dalam atau pada tubuh organisme lain (berbeda jenis), sehingga memperoleh makanan dari inangnya tanpa ada kompensasi apa pun dan ia hidup atas jerih payah organisme lain tanpa memberi imbalan apa pun.
Ø      Bakteri adalah mikroorganisme dengan struktur intraseluler yang sederhana, yang mempunyai daerah penyebaran relative luas. Ukurannya lebih besar dari virus, yaitu antara 0,3-0,5 mikron.
Ø      Jamur adalah tumbuhan yang tidak bias dibedakan antara akr, batang, dan daun. Jamur dibagi menjadi fungi/jamur (tidak mempunyai klorofil) dan alga (mempunyai klorofil).
2. Hama
            Hama adalah organisme yang mampu menimbulkan ganguan terhadap ikan budi daya. Hama dapat meyebabkan terjadinya serangan penyakit, baik langsung maupu tidak langsung. Penyebab serangan penyakit langsung misalnya dengan melukai ikan, karena ikan yang terluka dengna mudah diserang bakteri, parasit dan jamur. Sedangkan penyebab penyakit tidak langsung, misalnya kehadiran ikan atau hewan lain yang menyebabkan terjadinya persaingan lebih besar dan berat.
3. Lingkungan
            Lingkungan air tidak hanya merupakan habitat ikan, tetapi juga merupakan habitat mahkluk hidup maupun tempat mahkluk tak hidup, termasuk di dalamnya bakteri, virus, parasit, dan jamur. Oleh karena itu, di lingkungan tersebut terjadi hubungan ekologis yang saling menguntungkan atau merugikan. Lingkungan di dalam air yang merupakan habitat komplek terdapat berbagai jasad pathogen, tetapi jasad patogen ini tidak berbahaya jika kondisi lingkungan optimum dan ikan-ikan di dalamnya pun dalam kondisi prima.
C. Bagian Tubuh Ikan yang Diserang Penyakit
            Berdasarkan daerah penyerangan penyakit pada tubuh ikan, terutama penyakit infeksi, dibagi menjadi 3 yaitu.
1. Kulit
            Ikan yang terserang penyakit pada kulitnya akan terlihat lebih pucat (tampak jelas pada ikan yang berwarna gelap) dan berlendir. Ikan tersebut biasanya akan menggosok-gosokan tubuhnya pada benda-benda yang ada disekitarnya.
2. Insang
            Serangan penyakit pada ikan menyebabkan ikan sulit bernafas, tutup insang mengembang, dan warna insang menjadi pucat. Pada lembaran insang sering terlihat binti-bintik merah karena pendarahan kecil (peradangan).
3. Organ dalam
            Penyakit yang menyerang organ dalam sering mengakibatkan perut ikan membengkak dengan sisik-sisik yang berdiri (penyakit eropsi). Sering pula dijumpai perut ikan menjadi kurus. Jika menyerang usus, biasanya akan mengakibatkan peradangan dan jika menyerang gelembung renang, ikan akan kehilangan keseimbangan pada saat berenang.
            Organisme pathogen yang sering menimbulkan penyakit di bagian luar tubuh ikan disebut ektopatogen, dan bila ditimbulkan oleh parasit disebut ektoparasit. Sedangkan yang menyerang di bagian dalam tubuh ikan disebut endopatogen, dan bila disebabkan oleh parasit disebut endoparasit. Serangan endopatogen atau endoparasit dianggap lebih berbahaya dibandingkan serangan ektopatogen atau ektoparasit, karena efek serangannya sulit dideteksi secara dini, sehingga petani ikan sering terlambat mencegahnya.  Serangan endopatogen atau endoparasit baru dapat dipastikan bila dilakukan pemeriksaan organ dalam ikan. Sedangkan untuk bisa memeriksa organ dalam, ikan harus dibedah (dibunuh).
D. Penanggulangan Penyakit Ikan
            Cara penanggulangan penyakit ikan dengan menggunakan obat-obatan atau secara kimiawi dapat dilakukan di dalam bak (tank treatment) maupun di kolam/tambak (pond treatment). Sedangkan teknik-teknik yang digunakan sebagai berikut.
1. Jangka Pendek
           Untuk penanggulangan penyakit ikan jangka pendek (short duration) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
a.         Metode Perendaman (Dip Method)
            Metode perendaman dilakukan dengan memakai dosis konsentrasi yang tinggi                                        
           untuk waktu yang pendek, tidak lebih dari beberapa detik. Ikan yang diobati               
           dengan cara ini dimasukkan ke dalam jarring dan dicelupkan. Cara ini    
           diterapkan pada pengobatan  ikan dan telur ikan.
b.        Metode Pembilasan (flush)
           Metode pembilasan dilakukan dengan memakai konsentrasi yang relatif tinggi.               .          Ikan dibilas sekaligus sambil dilakukan pergantian air. Biasanya cara ini
           diterapkan untuk telur ikan.
2. Jangka Panjang
           Penanggulangan penyakit ikan jangka panjang (prolonged treatment) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.
a.        Metode Pemandian (Bath Method)                                                                           
Metode pengobatan dengan cara pemandian dilakukan sekitar 1 jam. Selama       pengobatan ikan selalu diamati. Aerasi juga terus-menerus diberikan selama pengobatan (pemandian). 
b.         Perlakuan dengan Alira Air Tetap (Constant Flow Treatment)
            Metode ini diperlukan alat aliran air tetap (constant flow apparatus). Lama  
            pengobatan unutk metode ini sekitar 1 jam.
3. Jangka Waktu Tak Terbatas
            Metode pengobatan ikan sakit dalam jangka waktu tak terbatas (indenfinite treatment) umumnya dipakai untuk pengobatan di kolam, tambak atau bak-bak berukuran besar. Bahan kimia yang dipergunakan dalam dosis yang rendah untuk jangka waktu yang lama, dan dibiarkan supaya berkurang dan hilang dengan sendirinya.
4. Penyemprotan
            Penanggulangan penyakit ikan di kolam atau tambak dapat dilakukan dengan cara penyemprotan. Bahan kimia yang biasanya  digunakan adalah dengan jalan penyemprotan pestisida. Pengobatan dengan pestisida ini hanya dilakukan sebagai cara terakhir, setelah cara-cara lain tidak ada yang efektif.
5. Penyuntikan
            Pengobatan melalui penyuntikan biasanya dilakukan untuk ikan-ikan yang berukuran besar atau induk-induk ikan. Penyuntikan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.
a.         Secara Intra Peritoneal (IP), yaitu penyuntikan dilakukan pada bagian belakang    dari rongga perut, tepat di depan sirip perut (diusahakan agar tidak melukai usus ikan).
b.         Secara Intra Muscular (IM), yaitu penyuntikan dilakukan pada bagian tengah otot punggung dekat sirip punggung (kurang lebih 3 sisik di bawah ujung belakang sirip punggung).
6. Pengobatan Melalui makanan
               Apabila ikan yang terserang penyakit masih mau makan (belum kehilangan nafsu makannya) maka pengobatan dapat dilakukan melalui makanan. Caranya, obat yang hendak digunakan dicampurkan dengan makanan (sesuai dosis) sesaat sebelum makanan diberikan.
BAB III
KESIMPULAN
Ikan merupakan sumber protein hewani yang sangat penting untuk dibudi daya, namun ada kendala-kendala yang menghambat seperti serangan penyakit pada ikan peliharaan sehingga nelayan/petani tambak merasa takut untuk memeliharanya. Kendati demikia perlu adanya sosialisasi kepada pihak-pihak nelayan tentang pengetahuan budi daya itu sendiri
Usaha budi daya mempunyai kelebihan dalam beberapa hal untuk jangka waktu mendatang, yaitu berikut ini.
1.      Mengimbangi usaha penangkapan, sehingga mencegah berlanjutnya kepunahan spesies.
2.      Salah satu faktor dalam budi daya, yaitu pembenihan tidak hanya diharapkan untuk menyediakan benih biota perairan untuk dibesarkan dan kemudian dipasarkan saja, tetapi lebih dari itu benih-benih ditebarkan kembali (restocking) ke perairan untuk stabilisasi ekosistem.
3.      Meningkatkan pendapatan nelayan dan petani ikan dengan resiko usaha yang lebih kecil dibandingkan dengan penangkapan, terutama di laut karena ganasnya badai dan gelombang.
4.      Kesadaran masyarakat dunia tentang kelestarian lingkungan menguntungkan posisi para pembudi daya. Karena hasil tangkapan yang dianggap merusak sumber daya perairan, sering kali ditolak konsumen internasiaonal. Mau tidak mau produksi perairan kita harus berasal dari usaha budi daya.