Pada dasarnya banyak data statistik ekonomi yang dapat dijadikan indikator untuk memperlihatkan laju inflasi, diantaranya adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Di Indonesia IHK dihitung berdasarkan perkembangan harga di 17 ibu kota propinsi yang mencakup 150 jenis barang dan jasa dengan dasar perhitungan tahun 1983 sampai tahun 1996, sedangkan untuk tahun 1996 sampai sekarang IHK dihitung berdasarkan perkembangan harga di 43 kota yang mencakup 225 jenis barang dan jasa. Oleh karena itu perubahan harga di luar jenis barang dan jasa tersebut dari 17 kota (1983) atau 43 kota (1996) tidak dapat mempengaruhi laju inflasi nasional (Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia, 2007 : 24 ).
Untuk melihat perkembangan laju inflasi dan indeks harga konsumen di Indonesia tahun 1992-2008 dapat di lihat pada Tabel IV-4 berikut :
                                                            Tabel IV-4
                                    Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia,
                                          Tahun 1992-2008

Laju Inflasi
(%)
Indeks Harga Konsumen
(%)
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
4.94
9.77
9.24
8.64
6.47
10.27
77.55
2.01
9.35
12.55
10.00
5.10
6.40
17.11
6.60
6.70
9.05
365.37
379.12
393.46
408.12
419.91
441.91
540.38
544.36
563.28
591.06
616.04
629.90
792.90
798.59
817.26
829.91
921.08

         Sumber : Statistik Indonesia Dari Berbagai Edisi (diolah)
Pada tahun 1992 laju inflasi nasional yang terjadi adalah sebesar 4,94 persen. Dengan IHK sebesar 365,37 persen. Pada tahun 1993 laju inflasi meningkat menjadi sebesar 9,77 persen dengan IHK yang meningkat menjadi sebesar 379,12 persen. Dan pada tahun berikutnya laju inflasi dan IHK mengalami fluktuasi yang di akibat karena kondisi perekonomian Indonesia yang belum stabil.
Pada tahun 1998 laju inflasi di Indonesia meningkat drastis menjadi sebesar 77,55 persen dengan IHK yang meningkat juga sebesar 540,38 persen yang di akibatkan oleh terjadinya krisis ekonomi moneter atau yang lebih dikenal krismon yang melandan Indonesia dan negara-negara sedang berkembang lainnya yang menyebabkan anjloknya mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing yaitu USD. Dengan terjadinya krisis moneter menyebabkan harga-harga barang meningkat drastis sehingga mengurangi daya beli masyarakat dan berimbas kapada para pengusaha karena barang produksinya tidak habis di pasar sehingga para pengusaha harus mengurangi hasil produksi dan banyak para tenaga kerja yang harus dipeberhentikan dan ada juga perusahaan yang mengalami gulung tikar. Untuk mencegah inflasi yang sangat drastis maka pemerintah mulai melakukan pengontrolan dan pengetatan terhadap harga-harga barang dan jasa yang ada di pasar.
Pada tahun-tahun berikutnya laju inflasi dan IHK di Indonesia mengalami fluktuasi karena belum stabilnya perekonomian walaupun sudah berganti kepemimpinan presiden, dari masa orde baru ke masa reformasi. Adapun pada tahun tersebut perekonomian masih sering bergejolaak seperti nilai tukar rupiah yang tidak stabil dan terjadinya kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Dan pada tahun 2008 laju inflasi sebesar 9,05 persen dengan IHK 921,08 persen. Semua ini diakibatkan oleh terjadinya krisis finansial yang melanda Amerika Serikat sehingga berdampak bagi negara-negara sedang berkembang di Indonesia dan banyak perusahaan-perusahaan yang mengalami gulung tikar. Krisis ekonomi ini lebih dikenal dengan nama krisis ekonomi global.