Kenaikan harga minyak dunia tentu saja sangat mempengaruhi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia. Kenaikan harga BBM selalu mempunyai akibat langsung terutama kepada semua sektor ekonomi yang menggunakan Bahan Bakar Minyak sebagai sumber energi. Oleh karena setiap barang membutuhkan jasa angkutan untuk sampai kepada konsumen, maka mau tidak mau barang-barang pun pada gilirannya akan turut naik hrganya, menyesuaikan dengan kenaikan tarif angkutan dan tentu saja akan mengakibatkan inflasi.
            Perubahan dan membumbungnya harga minyak dunia sebenarnya bukan hal baru. Krisis pertama terjadi pada September 1973, saat negara-negara OPEC menahan produksi minyaknya hingga mencapai 19,8 juta barel per hari. Saat itu terjadi kenaikan harga minyak mencapai lebih dari 300% dari 2,9 dollar AS per barel menjadi 11,65 dollar AS per barel. Krisis minyak kembali terjadi tahun 1979 saat revolusi Iran. Meskipun suplai minyak hanya berkurang 3% dari total pasar minyak dunia, kekhawatiran akan terjadinya gejolak lebih jauh di timur tengah mampu menaikkan harga minyak mencapai 42 dollar AS per barel dari semula 15 dollar AS per barelnya.
Gelombang krisis energi terjadi lagi sebelas tahun kemudian, saat terjadi invasi Irak ke Kuwait pada tahun 1990 yang mengganggu 8% dari suplai ke pasar minyak dunia. Terganggunya pengapalan minyak dari kedua negara ini menyebabkan naiknya harga minyak dunia dari sekitar 21,5 dollar AS per barel menjadi 28,30 dollar AS dalam waktu hanya satu bulan, pada Januari hingga Februari 1990.
               Gejolak harga minyak dunia sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun 2000. Tiga tahun berikutnya harga terus naik seiring dengan menurunnya kapasitas cadangan.  Ada sejumlah faktor penyebab terjadinya gejolak ini, salah satunya adalah persepsi terhadap rendahnya kapasitas cadangan harga minyak yang ada saat ini, yang kedua adalah naiknya permintaan (demand) dan di sisi lain terdapat kekhawatiran atas ketidak mampuan negara-negara produsen untuk meningkatkan produksi, sedangkan masalah tingkat utilisasi kilang di beberapa negara dan menurunnya persediaan bensin di Amerika Serikat juga turut berpengaruh terhadap posisi harga minyak yang terus meninggi
               Krisis minyak terakhir terjadi lagi pada tahun 2005 saat pasokan minyak terganggu karena badai Katrina yang juga menyebabkan beberapa kilang produksi di Amerika rusak dan disusul dengan kerusuhan di negara produsen minyak Nigeria. Kekhawatiran ini menyebabkan naiknya harga minyak dari 36,05 dollar AS per barel menjadi 65,64 dollar AS per barel. Pada tahun 2006 harga minyak adalah sebesar 70, 08 dollar AS per barel meningkat lagi pada tahun 2007 yaitu menjadi sebesar 89,61 dollar AS per barel. Harga minyak dunia terus meningkat hingga sekarang. Dimana harga minyak kembali membubung tinggi hingga mencapai angka yang jauh dari perkiraan. Terlebih dengan adanya permintaan akan minyak yang terus meningkat, terutama dari negara industri baru seperti China dan India. Untuk lebih jelasnya maka perkembangan harga minyak dunia dapat dilihat dari tabel IV-3.
 
 
TABEL IV – 3
PERKEMBANGAN HARGA MINYAK DUNIA,
1990-2007
Tahun
US $ per Barel
1990
28,30
1991
20,40
1992
20,29
1993
18,68
1994
20,28
1995
17,48
1996
27,60
1997
23,12
1998
24,36
1999
28,10
2000
30,60
2001
31,12
2002
33,36
2003
34,10
2004
36,05
2005
65,64
2006
70,08
2007
89,61
                      Sumber : Statistik Indonesia ,2007
4. 2.  Analisis Hasil Estimasi Pengaruh Kurs Rupiah dan Harga Minyak Dunia terhadap Inflasi di Indonesia
               Besarnya pengaruh kurs rupiah dan harga minyak dunia terhadap inflasi di Indonesia di analisis dengan menggunakan model regresi linear berganda, dengan persamaan sebagai berikut :
π  = β0+ β1Є + β2BBMf + e1
Berdasarkan hasil analisis diperoleh model regresi sebagai berikut :
π  = 230,063 + 0,022 Є + 4,945 BBMf + ei
               Data-data yang dikumpulkan diproses dengan menggunakan program statistical package for social science (SPSS) version 13.00 dan diperoleh print out hasil yang ditabelkan pada Tabel IV – 4
TABEL IV-4
HASIL ESTIMASI PENGARUH KURS RUPIAH DAN HARGA MINYAK DUNIA
TERHADAP INFLASI DI INDONESIA, 1990-2007
Variabel
Koefisien Estimasi
Standar error
T hitung
Konstanta
230,063
18,825
12,221
Kurs Rupiah
0,022
0,003
8,086
Harga Minyak Dunia
4,945
0,511
9,676
R         = 0,978
D-W    = 1,627
F tabel = 3,20
R2           = 0,957
F hitung  = 168,546
Adj R2  = 0,952
T tabel     = 2,145
   Sumber : Hasil Penelitian, 2007
               Berdasarkan Tabel IV-4 diperoleh koefisien-koefisien yang dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
1.      Konstanta (β0) sebesar 230,063 artinya apabila variabel kurs rupiah dan harga minyak dunia sama dengan nol (0) maka laju inflasi di Indonesia adalah sebesar 230,063 persen.
2.      Koefisien regresi untuk kurs rupiah (β1) adalah 0,022 artinya apabila terjadi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat di Indonesia sebesar 1 rupiah maka akan menyebabkan meningkatnya laju inflasi di Indonesia sebesar 0,022 persen, dengan asumsi harga minyak dunia dianggap konstan dan faktor-faktor lain juga tetap.
3.      Koefisien regresi untuk harga minyak dunia (β2) sebesar 4,945 menyatakan bahwa setiap terjadinya kenaikan harga minyak dunia sebesar 1 dollar Amerika Serikat per barel maka akan meningkatkan inflasi sebesar 4,945 persen, dengan asumsi kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dianggap konstan dan faktor-faktor lain juga tetap.
4.      Koefisien korelasi (R) sebesar 0,978, artinya kurs rupiah dan harga minyak dunia memiliki korelasi yang sangat kuat dengan inflasi di Indonesia
5.      Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,957, artinya 95,7 persen perubahan variabel terikat (inflasi) dijelaskan oleh variabel bebas ( kurs rupiah dan harga minyak dunia), sedangkan selebihnya 4,30 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar penelitian ini, seperti faktor keamanan, jumlah uang yang beredar dan suku bunga.
6.      Perhitungan Adjusted R2 sebesar 0,952, artinya bahwa derajat hubungan antara variabel bebas ( kurs rupiah dan harga minyak dunia) dengan variabel terikat (inflasi) adalah 95,2 persen. Dengan kata lain kurs rupiah dan harga minyak dunia berhubungan signifikan dengan laju inflasi di Indonesia. Sedangkan sisanya sebesar 4,80 persen berhubungan dengan faktor-faktor lain di luar penelitian ini.
           
            Pengujian hipotesis dengan uji –t, menunjukkan bahwa variabel kurs rupiah memiliki pengaruh positif terhadap inflasi di Indonesia selama periode 1990-2007 yang diperoleh dengan keyakinan sebesar 95 persen, hal ini didasarkan pada perolehan t-hitung 8,086 > t-tabel 2,145. Begitu juga dengan harga minyak dunia dimana menunjukkan t-hitung 9,676 > t-tabel 2,145  yang membuktikan bahwa harga minyak dunia memiliki pengaruh positif terhadap inflasi di Indonesia juga dengan keyakinan sebesar 95 persen. Untuk menguji pengaruh kurs rupiah dan harga minyak dunia secara keseluruhan terhadap inflasi di Indonesia dapat dibuktikan dari hasil perhitungan dengan F-hitung dan F-tabel. Dari perhitungan diperoleh bahwa nilai F-hit = 168,546 > F-Tab = 3,20. Ini berarti bahwa kurs rupiah dan harga minyak dunia secara keseluruhan bersama-sama mempengaruhi inflasi di Indonesia selama periode 1990-2007.
            Dengan diperoleh nilai D-W hitung adalah sebesar 1,627 maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak terjadi otokorelasi (korelasi serial) atau model regresi memenuhi persyaratan asumsi klasik tentang otokorelasi. Atau dapat dikatakan bahwa Durbin – Watson Test yang menunjukkan angka sebesar 1,627 merupakan angka signifikan secara statistik yang mengisyaratkan  bahwa tidak terjadi otokorelasi.
Butuh daftar pustakanya klik disni