Perkandangan dan Proses Pembuatan Stup Lebah Apis mellifera

Dosen Pengampu Mata Kuliah Ilmu Produksi Aneka Ternak Kmoditi Lebah Madu:

Prof. Dr. Ir. H. MOCHAMMAD JUNUS, MS

Disusun oleh :

Kelompok 4 / Kelas H
Mohammad Risky Amin 145050100111157
Anisa Labibah Ulya 145050100111159
Ida Nuri Yunita 145050100111161
R. Adhitya Parama A. 145050100111162
Siti Khairiyah 145050100111164
Moh. Khomaruddin 145050100111022
M.Lukman R. 145050100111034

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

i

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Allah SWT, karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah mata kuliah Ilmu
Produksi Aneka Ternak Komoditi Lebah Madu ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Dalam makalah ini kami membahas mengenai Perkandangan dan Proses Pembuatan Stup

Lebah Apis mellifera.
Makalah ini dibuat dengan berbagai referensi dan beberapa bantuan dari berbagai
pihak untuk membantu menyelesaikan makalah ini.Oleh karena itu, kami mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun kami. Kritik dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.
Malang, 10 Desember 2015
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman Cover
Kata pengantar ………………………………………………………………………………………… i
Daftar isi…………………………………………………………………………………………………. ii
Daftar Gambar ………………………………………………………………………………………… iii
Bab I Pendahuluan …………………………………………………………………………………… 1
1.1 Latar Belakang ……………………………………………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………………………….. 1
1.3 Tujuan ……………………………………………………………………………………….. 2
Bab II Pembahasan ………………………………………………………………………………….. 3
2.1 Model Budidaya Lebah Madu ……………………………………………………….. 3
2.2 Pemilihan Lokasi Perlebahan (Apiari) …………………………………………….. 4
2.3 Pembuatan Stup …………………………………………………………………………… 5
2.3.1 Pembuatan Stup Tradisional …………………………………………………… 5
2.3.2 Pembuatan Stup Modern ………………………………………………………… 7
2.3.2.1 Mengenal Stup Modern …………………………………………………. 7
2.3.2.2 Membuat Stup Modern …………………………………………………. 7
2.4 Penempatan Stup Budidaya Apis mellifera Yang Baik …………………….. 10
Bab III Penutup ……………………………………………………………………………………….. 12
3.1 Kesimpulan …………………………………………………………………………………. 12
3.2 Saran ………………………………………………………………………………………….. 12
Daftar Pustaka …………………………………………………………………………………………. 13
iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 ……………………………………………………………………………………………. 3
Gambar 2 ……………………………………………………………………………………………. 4
Gambar 3 ……………………………………………………………………………………………. 4
Gambar 4 ……………………………………………………………………………………………. 5
Gambar 5 ……………………………………………………………………………………………. 6
Gambar 6 ……………………………………………………………………………………………. 6
Gambar 7 ……………………………………………………………………………………………. 6
Gambar 8 ……………………………………………………………………………………………. 8
Gambar 9 ……………………………………………………………………………………………. 9
Gambar 10 ………………………………………………………………………………………….. 9
1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lebah termasuk hewan yang masuk dalam kelas insekta famili Apini dan genus Apis. Spesiesnya bermacam-macam, yang banyak terdapat di Indonesia adalah lebah lokal (Apis cerana), lebah hutan atau tawon gung (Apis dorsata), lebah lanceng (Apis florea), dan lebah unggul (Apis mellifera) (Hadisoesilo, 2001). Jenis unggul yang sering dibudidayakan adalah jenis lebah madu import (Apis mellifera). Koloni lebah ada 3 kelas yaitu kelas pekerja (berjenis kelamin betina) lebah ini tidak berkembang biak, ratu lebah atau lebah betina ukuran tubuh lebih besar dari lebah pekerja, lebah pejantan yang bentuk tubuhnya lebih besar dari lebah pekerja. Lebah pekerja dan ratu lebah mempunyai alat penyengat, sedangkan penjantan tidak mempunyai penyengat (Situmorang dan Hasanuddin, 2014) Lebah merupakan salah satu jenis ternak yang berdarah dingin. Manusia membudidayakan ternak lebah sebenarnya sudah lama, hal ini terbukti dengan adanya beberapa relief yang menjadi peninggalan nenek moyang dahulu. Beberapa pertimbangan masyarakat membudidayakan ternak lebah adalah atas dasar pertimbangan produksi secara langsung (madu, tepungsari, royal jelly, malam (lilin), zat perekat dll) serta tidak langsung yaitu dalam proses penyerbukan tanaman. Teknik budidaya lebah madu ada 2 cara, yaitu secara menetap (stative bee keeping) lebah diperoleh dari koloni yang belum dibudidayakan dan budidaya lebah secara berpindah (Megratary bee keeping) koloni diperoleh dari lebah paket.Pemikiran untuk memelihara yang semula di alam terbuka, dalam gua-gua, dalam lubang-lubang, kayu-kayu besar. Selanjutnya manusia mulai membudidayakan dengan memakai gelodog kayu dan pada saat ini disebut dengan sistem stup (stup tradisional dan stup modern). 1.2 Rumusan Masalah Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: 1. Apa saja jenis-jenis model budidaya lebah madu? 2. Bagaimana cara pemilihan lokasi budidaya lebah Apis mellifera? 3. Bagaimana proses pembuatan stup tradisional lebah Apis mellifera? 4. Bagaimana proses pembuatan stup modern lebah Apis mellifera?
2
5. Bagaimana penempatan stup budidaya yang baik?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui jenis-jenis model budidaya lebah madu.
2. Untuk mengetahui cara pemilihan lokasi budidaya lebah Apis mellifera.
3. Untuk mengetahui proses pembuatan stup tradisional lebah Apis mellifera.
4. Untuk mengetahui proses pembuatan stup modern lebah Apis mellifera.
5. Untuk mengetahui penempatan stup budidaya yang baik.
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Model Budidaya Lebah Madu
Budidaya lebah madu di Indonesia terdiri dari lebah lokal (Apis cerana) dan lebah
impor (A. millifera). Bentuk dan teknik manajemen koloni tergantung jenis lebah madu
yang dikelolanya (Adelina dan Yumantoko, 2008)
a) Budidaya Menetap (Stationary Beekeeping)
Jenis lebah madu yang dibudidayakan secara menetap umumnya adalah jenis
lokal A. cerana. Keberhasilan budidaya menetap sangat tergantung dari ketersediaan
sumber pakan sepanjang tahun dan masa pembungaannya Selain itu, untuk
meningkatkan produktivitas koloni maka koloni lebah harus diletakkan menyebar
sedemikian rupa sehingga setiap koloni dapat memperoleh pakan secara maksimal.
(Adelina dan Yumantoko, 2008)
b) Budidaya Berpindah (Migratory Beekeeping)
Jenis lebah madu yang dibudidayakan secara berpindah adalah jenis A.
mellifera. Lebah digembalakan secara berpindahpindah mengikuti musim
pembungaan tanaman. Akan lebih baik apabila di satu lokasi tersedia tanaman
penghasil serbuksari dan nektar dalam jumlah banyak karena akan menekan biaya angon.
Hasil produksi budidaya berpindah tergantung dari luas dan banyaknya jenis tanaman
sumber pakan yang dapat dimanfaatkan untuk menggembalakan lebah madu.
Budidaya berpindah membutuhkan informasi dan pengetahuan musim
pembungaan tumbuhan serta peta dan data luasan tanaman pakan. Peta dan data
tersebut digunakan untuk menentukan kemana koloni lebah akan digembalakan. Hal
tersebut akan dilakukan berulang setiap tahun, baik lokasi maupun tata urutan waktu
penggembalaannya sehingga membentuk siklus tahunan (Adelina dan Yumantoko,
2008)
Gambar 1. Budidaya Menetap
4
2.2 Pemilihan Lokasi Perlebahan (Apiari)
Penentuan lokasi perlebahan (apiari) perlu mempertimbangkan beberapa hal
diantaranya, yaitu: ketersediaan pakan, pendataan jenis-jenis tanaman penghasil nektar
dan pollen, umur tanaman, kepadatan tanaman, serta kesuburannya (Situmorang dan
Hasanuddin, 2014).
Kondisi lokasi apiari sangat erat kaitannya dengan penempatan jumlah stup
pemeliharaan persatuan luasnya (Ha). Hal ini dimaksudkan untuk mencapai daya dukung
optimal apiari terhadap jumlah stup/koloni yang ada. Kompetisi lebah dalam mencari
pakan dapat menyebabkan turunnya produksi atau terganggunya keseimbangan populasi
lebah dan bahkan memungkinkan hijrahnya lebah. Lebah madu biasanya mencari makan
dalam radius 3 km dari sarang, tetapi kadang-kadang mereka melakukan perjalanan jauh
jika memang harus. Syarat lokasi perlebahan yang standar yaitu:
a. Tanah harus bebas pupuk sintetis, pestisida, herbisida dan fungisida, serta bebas
tanaman rekayasa genetika
b. Sebaiknya jauh dari lokasi pertanian konvensional untuk mencegah potensi terjadinya
kontaminasi.
c. Jarak lokasi pertanian intensif sebaiknya minimal 3 km dari lokasi perlebahan.
d. Sarang yang ditempatkan di wilayah pemukiman harus mendapatkan peraturan yang
lebih khusus dari penduduk.
e. Kawasan peternakan lebah harus memiliki drainase dan sirkulasi udara yang baik.
f. Lebah membutuhkan air, jadi mereka harus dapat menemukan air dalam radius 500
m.
Gambar 2. Hutan Tanaman untuk
Budidaya Lebah Madu Berpindah
Gambar 3. Proses Pemindahan Lebah
Madu dalam Budidaya Berpindah
5
g. Areal perlebahan harus dipersiapkan sebelumnya sebelum menempatkan kotak-kotak
sarang, karena aroma dari penyiangan biasanya mengganggu lebah.
2.3 Pembuatan Stup
Stup yang digunakan dalam budidaya lebah madu ada dua, yaitu:
2.3.1 Pembuatan Stup Tradisional
Pada zaman dahulu orang beternak lebah dengan membuat kandang dari kayu
atau dari jerami gandum yang dipintal berbentuk keranjang. Pada umumnya
masyarakat desa sekitar hutan memelihara lebah madu dengan menggunakan
gelodok. Gelodok dibuat dengan meniru rumah-rumah lebah yang terdapat
dirongga-rongga batang pohon besar atau gua yang terlindung dari terik matahari
dan hujan. Rumah tiruan itu dibuat dari batang kelapa , kayu randu, kayu pucung,
atau bahan kayu lain yang berkayu lunak. Batang yang digunakan berbentuk
silinder berukuran panjang 80-100cm yang dibelah dua. Bagian tengah diambil
isinya agar kalau belahan ditangkupkan terbentuk suatu rongga didalamnya.
Ujungnya ditutup tempurung kelapa atau papan yang dilubangi bagian tengahnya.
Gelodok digantung di wuwungan rumah, di dahan pohon yang besar, didekat
pohon bambu, atau tempat lain dimana banyak lebah berkeliaran. Setelah
ditempati koloni lebah gelodok bisa dipindahkan kesamping rumah dengan
digantung memakai tali. Pemindahan dilakukan ketika sore atau malam hari. Saat
itu, seluruh lebah telah berkumpul didalam sarang sehingga tidak ada lebah yang
tercecer.
Madu yang berasal dari gelodok sulit untuk dipanen karena sisiran atau
sarangnya tak dapat dipisahkan dari dinding kayu glodok. Untuk mengambil madu
Gambar 4. Glodok
6
itu sarang atau sisiran harus dirusak. Masalahnya, madu itu bercampur dengan
larva dan telur lebah, dan memisahkan ketiganya sulit dilakukan. Akibatnya, telur
dan larva lebah banyak yang mati.
Gelodok kurang praktis dipakai untuk sarang lebah karena lebih banyak
kerugiannya dibanding dengan keuntungannya. Kerugiannya antara lain:
a. Lebah lebih mudah meninggalkan sarang, banyak terjadi gangguan hama dan
penyakit, serta produksi madunya rendah.
b. Perkembangan lebah juga terganggu karena ruangannya terbatas.
c. Ukuran gelodok yang berbeda-beda menyebabkan sisiran sarang tidak
berkembang wajar. Peternak juga sulit memeriksa keadaan lebahnya.
d. Pemetikan hasil agak sulit karena sarang lebah melekat di dinding gelodok yang
melengkung.
Gambar 5. Proses pemindahan
koloni dalam glodok ke stup
Gambar 6. Glodok dari bambu Gambar 7. Glodok dari batang pohon
7
2.3.2 Pembuatan Stup Modern
2.3.2.1 Mengenal Stup Modern
Budidaya lebah secara modern menggunakan stup dari kayu yang
berisi bingkai-bingkai sisiran. cara ini memberikan keuntungan yang lebih
baik karena mudah pengolahannya dan pemanenan madu tidak merusak
tempat sarang.
Pembuatannya dimulai dengan memperhatikan lebah madu di alam
dalam membuat sarang. Lebah madu yabng membuat sarang yang terdiri dari
sisiran yang selalu dibangun sejajar satu sama lain. Jarak antar dua sisiran
sarag selalu tetap yaitu 1,0-1,2 cm. Sisir dibuat dari malam(lilin lebah) yang
dilengkapi dengan akomodasi pertumbuhan, eraman, dan penyimpanan madu
serta pollen. Berdasarkan itu pembuatan kandang lebah madu berbentuk peti
dengan bingkai sarang didalamnya yang dapat diangkat dan dipindah.
Keuntungan stup modern adalah praktis dipakai, perawatan lebah mudah,
pengambilan hasil mudah, produksi madu yang dihasilkan berlipat ganda,
dan gangguan hama dan penyakit jarang terjadi.
Stup modern merupakan gua tiruan yang disusun menjadi dua tingkat
atau lebih. Didalamnya diberi tempat untuk bersarang bagi lebah kondisi
pembuatan kandang yang baik ini memberikan efek ratu lebah tidak bisa
meninggalkan stup sarangnya. Peristiwa lebah meninggalkan sarang secara
koloni sangat jarang terjadi dengan ditempatkannya lebah disarang modern.
2.3.2.2 Membuat Stup Modern
Stup modern terbuat dari kayu albasia. Bagian-bagiannya terdiri atas:
a. Bagian dasar (alas) kotak, berfungsi sebagai pintu keluar-masuk lebah.
b. Kotak sarang peneluran, berguna untuk memperbanyak jumlah anggota
koloni lebah.
c. Penyakat (pengasingan) ratu, berperan untuk mencegah lebah ratu
berkeliaran keluar sarang.
d. Kotak sarang madu, berfungsi khusus untuk memproduksi madu dan
royal jelly.
e. Penyekat kassa diletakkan diantara kotak sarang khusus madu dan
penutup stup untuk memudahkan pengontrolan,
8
f. Penutup stup yang dilapisi seng, serta frame (bingkai) yang memberi
fondasi dan alat perangkap tepung sari. Frame terdiri dari frame untuk
sarang peneluran, frame untuk madu, frame untuk royal jelly, frame
untuk perbanyakan ratu, dan frame untuk penyimpanan sirup gula saat
paceklik bunga.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan stup modern lebah
madu, yaitu:
a. Bahan stup yang baik terbuat dari kayu yang sudah kering dan tidak berbau
menyengat. Hal ini menghindari pindahnya koloni lebah karena tidak betah
dan pengaruh dari bau kayu tersebut.
b. Untuk menjaga keawetan stup, bagian luar kayu dapat dicat dengan cat
eksterior berwarna terang. Hal ini bertujuan untuk melindungi kayu dari
pelapukan.
c. Dibutuhkan penggantian sisiran secara reguler untuk meminimalkan paparan
bahan kimia ini. Setidaknya 20% sisiran (sekitar 2-3 sisiran) dari kotak stup
harus diganti setiap tahun sehingga tidak pernah ada sarang yang lebih dari 5
tahun.
d. Persiapan sarang dilakukan dengan menggosok bagian dalam sarang dengan
propolis atau dengan lilin lebah yang sudah diencerkan atau dilunakkan.
Gambar 8. Skema Stup
Lebah Madu
9
e. Kotak sarang juga dapat ditempatkan pada tanah, menggantungkannya pada
batang pohon, atau ditempatkan diatas dudukan (standar).
f. Dasar pijakan harus kuat jika ingin ditempatkan dalam posisi bertingkat.
Yang diperhatikan adalah ketinggian penempatan sarang.
Langkah – langkah pembuatan stup modern untuk lebah madu adalah sebagai
berikut :
a. Mula-mula dibuat kotak dari papan setebal 2 cmdengan ukuran bagian
dalamnya 34cm x 18cm x 7.5cm. bagian depan berukuran 18 x 7.5cm. disisi
bawah dibuat lubang berukuran 5 x 1cm. Lubang ini nantinya dipakai
sebagai jalan keluar-masuk lebah.
b. Kotak penutup alasberukuran 40 x 24cm. Alas tampak lebih menonjol
dibanding dengan kotak diatasnya. Ini merupakan dasar kandang.
c. Kotak peneluran dibuat dengan ukuran bagian dalam 34 x 18 x 13cm. Bagian
luar sebelah bawah kotak sebaiknya diberi bilah penghalang berkeliling.
Lebar bilah penghalang 10cm, ditempelkan pada kotak selebar 4cm,
sehingga tersisa 6cm. Sisa lebih ini nantinya berfungsi sebagai penyambung
antar kotak penelurandan kotak dasar supaya tidak bergeser tetapi mudah
diangkat atau dipindahkan.
d. Dibagian dalam kotak peneluran pada sisi bidang yang berukuran 18cm
dipasang bilah dengan tebal 1.5cm dan lebar 2cm. Pemasangan dilakukan
Gambar 9. Stup Tampak
Samping
Gambar 10. Frame/sisiran
tampak atas
10
3cm dibawah bagian atas kotak. Bilah berguna sebagai penggantung tempat
sisiran sarang pada bingkai.
e. Ditengah-tengah sisi bidang yang berukuran 18 cm diberi lubang sebesar
3.7mm. dibagian bawah sebelah luarnya diberi papan tenggeran secukupnya.
Papan ini dipakai untuk bertengger sementara sebelu lebah pekerja masuk
lubang atau terbang mencari pakan.
f. Disalah satu dinding dibuatkan pintu untuk memudahkan perawatan.
g. Buatlah kotak sarang madu yang ukuran dalamnya 34 x 18 x 15cm. Cara
membuatnya sama dengan cara membuat kotak peneluran, lengakap dengan
lubang keluar masuk, bilah penghalang, bilah penggantung dan pintu.
h. Antara kotak peneluran dan kotak sarang madu dibuatkan penyekat dari
papan atau kawat kassa berukuran 34 x 18 cm untuk menghalangi lebah ratu
masuk dalam kotak madu. Tetapi bisa diberi lubang dengan ukuran 3.7mm
agar lebah pekerja tetap leluasa bergerak.
i. Membuat bingkai-bingkai untuk tempat sisiran sarang lebah. Bahan dari
kayu dan bangunan segi empat. Ukurannya disesuaikan dengan kotak
peneluran dan sarang madu. Tebal bingkai 1 cm dan lebar 2 cm. Bingkai
yang menggantung dalam kotak dibuat menonjol kekiri 1 cm dan kekanan 1
cm.
j. Diatas bingkai kotak sarang madu diberi penyekat kawat kassa agar semua
lebah tidak dapat naik keatas.
k. Bagian paling atas diberi penutup. Dibawah atap diberi ruang angin cukup
lebar tetapi ditutup kawat kassa. Atap kandang diberi bilah penghalang di
keliling luarnya agar mudah diangkat atau dilepaskan dan dipasang lagi pada
kotak sarang madu.
2.4 Penempatan Stup Budidaya Apis mellifera Yang Baik
Tindakan selanjutnya setelah penentuan lokasi adalah penempatan stup/kotakkotak
pemeliharaan pada lokasi pemeliharaan. Terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penempatan stup lebah di lokasi pemeliharaan dan/atau
penggembalaan, yaitu:
a. Stup sebaiknya diletakkan pada tempat-tempat terbuka, menghadap ke timur,
menghadap matahari dan membelakangi jalan pemeriksaan.
11
b. Stup diletakkan di atas bangku standar dengan ketinggian ± 50 cm dari tanah. Jika
lokasi berbukit, stup letaknya harus lebih rendah dari sumber makanan.
c. Tiang penyangga (bangku standar) stup diberi minyak pelumas, air atau obat semut
agar tidak diganggu serangga.
d. Stup/koloni sebaiknya terlindung dari terik matahari dan air hujan.
e. Kotak stup dapat disusun berderet dengan jarak 1 s/d 1,5 meter.
f. Lokasi yang disukai lebah adalah tempat terbuka. Daerah sekitar banyak tanamtanaman
yang berbunga. Tersedianya cukup pakan lebah 1,5 – 2 km Apis mallefera.
g. Suhu Lingkungan berkisar 26-34 oC dengan kelembapan 70-80 %. Kondisi ini
optimum untuk lebah melakukan segala kegiatan. Suhu ideal yang cocok bagi lebah
adalah sekitar 26 oC, pada suhu ini lebah dapat beraktifitas normal. Suhu di atas 100 C
lebah masih beraktifitas. Di lereng pegunungan/dataran tinggi yang bersuhu normal
(25 0C) seperti Malang dan Bandung lebah madu masih ideal dibudidayakan
12
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan, yaitu:
a. Stup yang baik untuk produksi madu pada lebah madu adalah stup modern. Stup
tradisional kurang baik untuk lebah madu, karena madu yang dihasilkan sulit
dipisahkan dari sisi gelodok.
b. Pembuatan stup modern juga harus memperhatikan beberapa hal, yaitu suhu, letak
tempat, tersedianya banyak air, jauh dari gangguan, serta jauh dari ladang sayuran
yang sering menggunakan pestisida.
3.2 Saran
Sebaiknya lebah dibuatkan stup modern, karena stup modern jauh lebih baik
dari pada stup tradisional.Stup modern dapat membantu lebah menghasilkan produksi
madu yang tinggi dan dapat mencegah gangguan penyakit menyerang lebah.
13
DAFTAR PUSTAKA
Adelina, Yelin dan Yumantoko. 2008. Lebah Madu. Mataram: Pusat Litbang Konservasi
dan Rehabilitasi (Puskonser) dan BPTHHBK Mataram
Hadisoesilo, Soesilowati. 2001. Keanekaragaman Spesies Lebah Madu Asli Indonesia.
Biodiversitas. 2(1): 123-128
Sarwono,B. 2005. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis Lebah Madu. PT Agro Media
Pustaka,Jakarta.
Situmorang, Rospita O.P. dan Aam Hasanuddin. 2014. Budidaya Lebah Madu. Medan:
DIPA Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *