KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, selawat dan salam kepada Rasulullah SAW serta sahabat dan keluarga beliau sekalian dengan segala kebaikan Beliau yang telah membawa kits dari Alam Jahiliyah kepada Alam Islamiayh dan dari Alam yang penuh Kebiadaban kepada Alam yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan. Dalam makalah ini yang berjudul “Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah” yang ditulis dengan segenap kemampuan yang terbatas dan sederhana mungkin.
Terima kasih yang tidak terhingga kepada Dosen Pembimbing dan seluruh pihak yang telah ikut berpatisipasi dalam penyelesaian makalah ini. Dengan selesainya penyusunan makalah ini, saya berharap agar makalah ini dapat dikritik yang membangun dan hasilnya dapat bermanfaat bagi kami dan orang lain.

Banda Aceh, 1 Februari 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2

BAB II PEMBAHASAN 3
2.1 Pengertian Perencanaan Evaluasi Pendidikan Di Sekolah 3
2.2 Metode 6
2.3 Kategori Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah 10
2.4 Kegunaan Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah 12
2.5 Beberapa jenis pendekatan evaluasi sebagai perencanaan pertimbangan evaluasi 15
2.6 Langkah-langkah Perencanaan Evaluasi di Sekolah 17

BAB III PENUTUP 18
3.1 Kesimpulan 18
3.2 Saran 19

DAFTAR PUSTAKA 20

“PERENCANAAN EVALUASI PENDIDIKAN
DI SEKOLAH”

MAKALAH
Diajukan Untuk Melengkapai Tugas-Tugas
Mata Kuliah Perencanaan Pendidikan

DI

S
U
S
U
N

OLEH :

Nama : SUZANNI
NIM : 1009200050117
Ruang : Reguler A3

Dosen Pengasuh : Prof. Dr. Hj. Murniati AR, M.Pd

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SYIAH KUALA
PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
BANDA ACEH
2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Kualitas sumber daya manusia bergantung pada kualitas pendidikannya. Pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Sebagaimana tertuang dalam salah satu butir GBHN tahun 1999-2004 bab IV mengenai Kebijakan Bidang Pendidikan.
Dalam hal ini, evaluasi merupakan dimensi penting dari pendidikan. Evaluasi program pendidikan dapat dikatakan sebagai proses monitoring dan penyesuaian yang dikehendaki oleh para evaluator dalam menentukan atau meningkatkan kualitas pendidikan. Evaluasi menunjukkan seberapa baik program pendidikan berjalan dan menyediakan cara untuk memperbaikinya. Mengacu pada konsep manajemen, proses evaluasi pendidikan dapat dibagi menjadi tiga bagian utama: Perencanaan (Planning), Implementasi (Implementing), dan Evaluasi (Evaluating). Jadi dalam proses ini kita mulai dengan merencanakan evaluasi, mengimplementasikan evaluasi, dan mengevaluasi evaluasi. Kita perlu merencanakan dan melaksanakan evaluasi secara sistematis dengan cara (a) mengidentifikasi kebutuhan, (b) memilih strategi yang tepat dari berbagai alternatif, (c) memonitor perubahan yang muncul, dan (d) mengukur dampak dari perubahan tersebut.
Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. (dikutip dari Bloom et.all 1971).
Mengevaluasi evaluasi berarti bahwa evaluasi itu hendaknya memang harus dievaluasi (meta-evaluation). Jelas bahwa proses perencanaan evaluasi merupakan bagian yang paling penting dalam proses evaluasi secara keseluruhan. Kita harus memiliki perencanaan evaluasi yang baik sebelum hal tersebut diimplementasikan. Dengan perencanaan yang baik, diharapkan bahwa implementasi evaluasi akan berjalan lancar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam merencanakan suatu evaluasi, yaitu (1) menentukan tujuan evaluasi, merumuskan masalah, (2) menentukan jenis data, (3) menentukan sampel evaluasi, (4) menentukan model evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi, (5) menentukan alat evaluasi, (6) merencanakan personal evaluasi, (7) merencanakan anggaran, dan (8) merencanakan jadwal kegiatan. (www.google.com-2011-26)
1.2 Permasalah
Permasalah yang dikaji dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa sebenarnya pengertian dari Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah itu?
2. Bagaimana metode-metode cara melakukan Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah itu agar hasil dari yang di evaluasi tidak buruk atau tidak memuahkan hasil yang baik ?.
3. Bagaimana sebenarnya kategori dari Perencanaan Evaluasi Pendidikan itu?.
4. Apa sebanarnya kegunaan dari Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah itu dilakukan ?.
5. Bagaimana langkah-langkah untuk melakukan Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah ?.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dari Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah
Sebelum kita berbicara mengenai perencanaan evaluasi, kita perdalam lebih dahulu istilah ‗rencana‘ dan ‗perencanaan‘. Kita pahami bahwa rencana adalah a detailed proposal for doing or achieving something‖, artinya suatu rancangan rinci untuk melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu. Dalam hal ini, perencanaan berarti ―proses merencanakan sesuatu‖. Harus kita sadari bahwa perencanaan merupakan suatu cara untuk memproyeksi maksud dan tujuan. Seperti yang telah kita tahu, perencanaan berkaitan dengan konsep masa depan, masalah-masalah yang memerlukan imajinasi dan pilihan (choice), pemikiran yang ditujukan ke masa depan, dan proses mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, perencanaan mencerminkan upaya yang penuh pertimbangan. Perencanaan diakui sebagai cara yang paling andal (reliable) untuk mewujudkan tujuan dan sasaran. Perencanaan merupakan suatu cara untuk menentukan serangkaian tindakan untuk mengarahkan tindakan tersebut agar sesuai dengan visi. Ackoff menyatakan bahwa walaupun perencanaan itu merupakan suatu proses pembuatan-keputusan, perencanaan adalah jenis pembuatan keputusan khusus: (a) perencanaan merupakan sesuatu yang kita lakukan sebelum bertindak, artinya adalah pembuatan keputusan yang sifatnya antisipatif; (b) perencanaan diperlukan bila keadaan masa depan yang kita inginkan tersebut melibatkan sejumlah putusan yang saling berkaitan, artinya suatu sistem keputusan; dan (c) perencanaan merupakan suatu proses yang diarahkan untuk menghasilkan keadaan di masa depan yang diinginkan, dan tidak diharapkan muncul kecuali ada suatu tindakan yang dilakukan.
Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran. Sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan. (M.Chabib Thoha, 1996: 5-6).
Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Padanan kata evaluasi adalah assessment yang menurut Tardif (1989) berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Selain kata evaluasi dan asesement ada pula kata lain yang searti dan relatif lebih masyhur dalam dunia pendidikan kita yakni tes, ujian, dan ulangan.

Tes THB (tes Hasil Belajar) dan TPB (Tes Prestasi Belajar) adalah alat-alat ukur yang banyak digunakan untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah proses belajar-mengajar atau untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah proeses belajar mengajar atau untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah program pengajaran. Sementara itu, istilah evaluasi biasanya digunakana untuk menilai hasil pembelajaran para siswa pada akhir jenjang pendidikan tertentu, seperti Evaluasi Belajar Tahap Akhir dan Evaluasi Belajar tahap Akhir Nasional (EBTA dan EBTANAS). (Muhibbin Syah, 1996: 158-159).
Penegertian evaluasi ialah:
1. Merpakan suatu kegiatan yang direncanakan dengan cermat,
2. Kegiatan yang dimaksud merupakan bagian integral dari penddiikan sehingga arah dan tujuan evaluasi harus sejalan dengan tujuan pendidikan/pengajaran.
3. Evaluasi harus memiliki dan berdasarkan kriteria keberhasilan yaitu keberhasilan dari:
a) Belajar, mahasiswa
b) Mengajar dosen dan
c) Program pengajaran
4. Evaluasi merupakan suatu ters, maka evaluasi dilaksananakan sepanjang kegiatan program pendidikan.
5. Evaluasi bernialai positif, yaitu mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar mahasiswa, kemampuan mengajar dosen serta menyempurnakan program pengajaran.
6. Evaluasi merupakan alat (the means) bukan tujuan (the end), yang digunakan untuk menilai apakah proses perkembangan telah berjalan semestinya? Dan apakah tujuan pendidikan telah tercapai dengan program dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan.
7. Evaluasi adalah bagian yang sangat penting dalam suatu sistem yaitu sistem pengajaran untuk mengetahui apakah sistem itu baik atau tidak. Evaluasi yang diteliti akan membawa pangajaran yang efektif. (slameto, 1997: 58).
Jelaslah bahwa dengan perencanaan yang matang, tindakan yang kita lakukan biasanya akan mulus dan lancar, kecuali ada hal-hal lain yang tidak kita perhitungkan sebelumnya atau yang memang tidak bisa kita antisipasi (dalam batas-batas kemampuan kita sebagai manusia). Sebagai contoh, Anda mungkin pernah mendengar bahwa dengan perencanaan yang matang, berarti 50% dari pekerjaan kita sudah selesai, sisanya tinggal implementasi dan evaluasi, seperti tampak pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1: Pembicaraan dua orang evaluator mengenai perencanaan evaluasi
Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives,” Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
Sedangkan, Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai “setiap usaha atau proses dalam menentukan nilai”. Secara khusus evaluasi atau penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan. Dan menurut Anne Anastasi (1978) mengartikan evaluasi sebagai “a systematic process of determining the extent to which instructional objective are achieved by pupils”. Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tuiuan yang jelas.
2.2 Metode
Beberapa metode yang umum digunakan dalam perencanaan, tetapi dapat diterapkan di bidang pendidikan ditemukan oleh Augus W. Smith (1982), antara lain:
1) Metode mean-ways and analysis (analisis mengenai alat-cara-tujuan)
Metode ini digunakan untuk meneliti sumber-sumber dan alternatif untuk mencapai tujuan tertentu. Tiga hal yang perlu dianalysi dalam metode ini, yaitu: means yang berkaitan dengan sumber-sumber yang diperlukan, ways yang berhubungan dengan cara dan alternative tindakan yang dirumuskan dan bakal dipilih dan ends yang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai. Ketiga aspek tersebut ditelaah dan dikaji secara timbal balik.
2) Metode input-output analysis
Metode ini dilakukan dengna mengadakan pengkajian terhadap interelasi dan interdependensi berbagai komponen masukan dan keluaran dari suatu system. Metode ini dapat digunakan untuk menilai alternative dalam proses transformasi.
3) Metode econometric analysis
Metode ini menggunakan data empirik, teori ekonomi dan statistika dalam mengukur perubahan dalam kaitan dengan ekonomi. Metode ekonometrik mengembangkan persamaan-persamaan yang menggambarkan hubungan ketergantungan di antara variable-variabel yang ada dalam suatu system.
4) Metode Cause-effect
Metode ini digunakan dalam perencanaan dengan menggunakan sikuen hipotetik untuk memperoleh gambaran tentang masa depan. Metode ini sangat cocok untuk perencanaan yang bersifat strategic.
5) Metode Delphi
Metode ini bertujuan untuk menentukan sejumlah alternative program. Mengeksplorasi asumsi-asumsi atau fakta yang melandasi “Judgments” tertentu dengan mencari informasi yang dibutuhkan untuk mencapai suatu consensus. Biasa metode ini dimulai dengan melontarkan suatu masalah yang bersifat umum untuk diidentifikasi menjadi masalah yang lebih spesifik. Partisipan dalam metode ini biasanya orang yang dianggap ahli dalam disiplin ilmu tertentu.
6) Metode heuristic
Metode ini dirancang untuk mengeksplorasi isu-isu dan untuk mengakomodasi pandangan-pandangan yang bertentangan atau ketidakpastian. Metode ini didasarkan atas seperangklat prinsip dan prosedur yang mensistematiskan langkah-langkah dalam usaha pemecahan masalah.
7) Metode life-cycle analysis
Metode ini digunakan terutama untuk mengalokasikan sumber-sumber dengan memperhatikan siklus kehidupan menghenai produksi, proyek, program atau aktivitas. Dalam kaitan ini seringkali digunakan bahan-bahan komperatif denga menganalogkan data, langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ini adalah:
1. Fase Konseptualisasi;
2. Fase Spesifikasi;
3. Fase Pengembangan Prototype;
4. Fase Pengujian dan Evaluasi;
5. Fase Operasi;
6. Fase Produksi.
Metode ini bisa dipergunakan dalam bidang pendidikan terutama dalam mengalokasikan sumber-sumber pendidikan dengan melihat kecenderungan-kecenderungan dari berbagai aspek yang dapat dipertimbangkan untuk merumuskan rencana dan program.
8) Metode value added analysis
Metode ini digunakan untuk mengukur keberhasilan peningkatan produksi atau pelayanan. Dengan demikian, kita dapat mendapatkan gambaran singklat tentang konstribusi dari aspek tertentu terhadap aspek lainnya.
Berkaitan dengan metode yang akan digunakan dalam evaluasi, berikut ini adalah beberapa metode (pengumpulan data) yang secara umum dapat digunakan:
a) Survey/Skala sikap: yaitu survey kepuasan siswa dengan tujuan yang dicapai, kepuasan siswa dengan proses evaluasi, kepuasan siswa dengan hasil evaluasi, dan survey perilaku.
b) Wawancara terstruktur: misalnya wawancara dengan peserta evaluasi pendidikan.
c) Catatan/Laporan: misalnya sistem monitoring, laporan pencapaian tujuan.
d) Observasi langsung: Ini mengacu pada observasi langsung oleh evaluator.

Berikut ini adalah beberapa penjelasan dari beberapa desain eksperimental:
 Studi kasus: merupakan suatu analisis mendalam dari awal sampai akhir mengenai seorang siswa, sekelompok siswa, satu sekolah yang memfokuskan pada faktor-faktor pengembangan dalam hubungannya dengan lingkungan biasanya digunakan untuk menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa?
 Kelompok Kontrol Pra-/Postes: memonitor sekelompok siswa yang sesuai dengan populasi target yang tidak dilibatkan dalam proses evaluasi tertentu, sehingga Anda dapat membandingkannya dengan orang yang terlibat dalam evaluasi, yang bisa membantu Anda dalam mendapatkan gagasan yang lebih baik mengenai seberapa besar pengaruh yang terjadi.
 Time Series: merupakan pengaruh yang diukur dari suatu rentang waktu yang diambil sebelum maupun setelah dilakukan evaluasi.
Apapun pendekatan yang Anda gunakan, perencanaan evaluasi yang Anda lakukan akan sangat bergantung pada informasi yang perlu Anda kumpulkan untuk membuat keputusan penting. Lebih lanjut, dalam pelaksanaannya evaluasi akan melibatkan metodologi kuantitatif dan kualitatif untuk memberikan informasi sesuai dengan tujuan formatif maupun sumatif. Keseluruhan tujuan evaluasi itu harus (1) menentukan akuntabilitas evaluasi dalam menilai setiap kemajuan dalam memenuhi tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam perencanaan, (2) mengukur persepsi mengenai efektivitas implementasi dari perencanaan evaluasi, (3) mengukur dampak dari implementasi terhadap warga sekolah dan kebijakan sekolah, (4) menentukan faktor-faktor dan kebijakan yang merintangi dan/atau yang memudahkan pencapaian keberhasilan dari rencana evaluasi, dan (5) mengidentifikasi hasil yang tidak diharapkan dari pelaksanaan evaluasi.
2.3 Kategori Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah
Dalam hal ini, evaluasi pendidikan biasanya dibagi menjadi dua kategori umum: evaluasi sumatif (setelah) dan evaluasi formatif (selama).
a) Evaluasi sumatif biasanya dilakukan dengan maksud membuat penilaian mengenai keseluruhan aktivitas dan program. Pengumpulan dan analisis biasanya ditujukan pada pengukuran hasil dan tingkat pencapaian dengan mengacu pada tujuan dan standar tertentu yang telah dipahami. Hasil penilaian melalui proses ini dijadikan dasar formal untuk membuat keputusan. Contoh dari putusan ini antara lain yang berkenaan dengan apakah suatu program itu akan dilanjutkan atau dihentikan, aktivitas sekolah, penilaian guru, penempatan siswa, dan kenaikan kelas atau naik pangkat. Putusan ini juga bisa menjadi dasar untuk penilaian komparatif, mengganti kurikulum lama dengan kurikulum baru berdasarkan perbandingan yang dilakukan dari berbagai segi.
b) Evaluasi formatif, sebaliknya, mengacu pada evaluasi yang muncul selama proses atau produk itu dirancang. Evaluasi formatif biasanya digunakan untuk memperbaiki pengembangan, dan dapat dikatakan sebagai evaluasi berkelanjutan yang mengiringi upaya pengembangan atau proses perubahan yang lebih besar. Evaluasi formatif sangat banyak digunakan, misalnya, saat melakukan implementasi program atau sistem pengajaran baru. Melalui pengukuran formatif, guru dan administrator dapat memonitor kemajuan dari upaya implementasi. Pengukuran ini bermanfaat bagi para praktisi untuk mendeteksi dan memecahkan masalah sebelum masalah itu bertambah buruk tanpa kendali.

Evaluasi formatif juga banyak digunakan dalam kaitannya dengan program pengembangan staf dan perubahan organisasi. Yang lebih penting, evaluasi formatif sangat berkaitan dengan perkembangan siswa. Selain evaluasi sumatif dan formatif, Tuckman (1985) menyarankan jenis evaluasi lainnya: ex post facto evaluation (after the fact – setelah fakta). Metode ini melihat proses kejadian-kejadian dan data secara longitudinal untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pendidikan. Evaluasi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan informasi dan memeriksa penilaian yang dibutuhkan untuk perencanaan pendidikan, untuk mencatat hasil, kecenderungan (trend), dan arah masalah.
Perencanaan akan senantiasa diperlukan jika seorang guru memutuskan untuk melakukan prosedur evaluasi seperti evaluasi sejumlah siswa, tugas-tugas selama satu semester, keberhasilan mengajar, dan sebagainya. Setidaknya perencanaan ini hendaknya melibatkan sejumlah hasil pembelajaran yang diinginkan dan teknik-teknik yang digunakan dalam mengevaluasinya.
Dapat dikatakan bahwa perencanaan evaluasi merupakan conditio sine qua non dari proses evaluasi secara keseluruhan. Baik evaluasi formatif maupun sumatif dapat dilakukan untuk tujuan motivasional dan tujuan korektif. Kombinasi dari kedua tujuan ini disajikan pada Tabel di bawah ini.

Sumber : Google.com/2011-27
2.4 Kegunaan Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah
Dalam memberi penjelasan mengenai perlunya evaluasi dan tanggung jawab melakukan evaluasi, kita perlu memahami asal-mula dan alasan mengapa suatu studi evaluasi itu dilakukan, lalu menilai apakah alasan itu layak atau tidak. Jika layak, maka dibuatlah perencanaan; jika tidak evaluator harus bisa mengemukakan alasan bahwa studi evaluasi yang diajukan tersebut memang tidak perlu dilakukan.
Untuk memperjelas pembahasan, kita perlu membedakan beberapa kelompok atau individu yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh suatu studi evaluasi, yaitu: sponsors, clients, participants, stakeholders, dan audiences.
a) Sponsor evaluasi adalah badan atau perorangan yang memiliki wewenang evaluasi dan menyediakan sumberdaya keuangan yang dibutuhkan untuk jalannya evaluasi. Sponsor ini bisa saja memilih evaluator atau terlibat dalam evaluasi tersebut, tetapi pada akhirnya merekalah yang memiliki wewenang yang berkaitan dengan evaluasi, kecuali jika mereka mendelegasikan wewenang tersebut.
b) Klien adalah badan atau perorangan tertentu yang memerlukan dan meminta evaluasi. Dalam beberapa hal, sponsor dan klien ini bisa saja badan atau lembaga yang sama, tetapi tidak selalu begitu. Sebagai contoh, dalam evaluasi pihak ketiga mengenai program persekolahan bagi anak berbakat di suatu kota, dinas pendidikan (klien) mungkin meminta dan menyusun studi evaluasi, tetapi sumberdaya dan pembiayaan untuk evaluasi tersebut berasal dari departemen pendidikan nasional (sponsor).
c) Evaluator tentunya ber-partisipasi dalam studi evaluasi, malahan evaluator itu sendiri yang melaksanakannya. Tetapi di sini kita gunakan istilah partisipan untuk mengacu pada mereka yang berinteraksi dengan evaluator selama perencanaan dan pelaksanaan evaluasi. Termasuk ke dalam partisipan adalah klien (setidaknya selama tahap-tahap perencanaan) dan orang-orang yang menjadi sumber pengumpulan data (misalnya siswa yang ikut dalam suatu ujian atau yang mengisi kuesioner).
d) Stakeholder adalah mereka yang secara langsung dipengaruhi oleh hasil evaluasi. Kepala sekolah, guru, dan orangtua termasuk ke dalam stakeholder. Sponsor, klien, dan partisipan biasanya adalah stakeholder juga, tetapi beberapa stakeholder tidak termasuk ke dalam kelompok tersebut. Sebagai contoh, dimungkinkan (walaupun tidak bijaksana) untuk mengevaluasi program sekolah bagi siswa berbakat tanpa interaksi dengan gurunya. Jelas, guru tersebut akan banyak dipengaruhi oleh hasil dari studi evaluasi tersebut, sehingga mereka memang adalah stakeholders, walaupun mereka bukan partisipan.
e) Audiens adalah individu, kelompok, dan lembaga yang memiliki kepentingan dalam evaluasi dan menerima hasilnya. Sponsor dan klien biasanya merupakan audiens utama dan kadang-kadang merupakan satu-satunya audiens. Biasanya audiens suatu evaluasi akan juga melibatkan semua stakeholder dan partisipan, walaupun tidak selalu begitu. Sebagai contoh, siswa SD mungkin menjadi partisipan dalam evaluasi mata pelajaran membaca. Mereka diamati, dites, atau diwawancara. Tetapi hanya dalam cakupan tertentu saja mereka menunjukkan ketertarikan atau kepentingan terhadap hasil evaluasi tersebut.
Kita, sebagai evaluator, bisa mengakomodasi kepentingan berbagai kelompok atau individu tersebut. Memahami tujuan evaluasi adalah salah satu wawasan paling penting yang harus dimiliki seorang evaluator. Hal ini bisa diperkuat dengan pertanyaan seperti: Siapa yang membutuhkan? Apa yang mereka ingin tahu? Mengapa?. Dalam hal ini, tugas penting seorang evaluator adalah menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan kepada klien. Jika sponsor atau klien telah memahami tujuan dan prosedur tersebut, penting juga bagi seorang evaluator untuk memahami motivasi mereka melakukan evaluasi.
Adapun manfaat dari di adakannya Perencanaan Evaluasi Pembelajaran di Sekolah adalah sebagai berikut :
a) Menjadi pedoman bagi evaluator untuk melalui setiap tahap dari proses evaluasi.
b) Membantu evaluator untuk memutuskan jenis informasi yang diperlukan baik oleh evaluator itu sendiri maupun stakeholders.
c) Menjaga agar tidak membuang-buang waktu Anda dalam mengumpulkan informasi yang tidak begitu diperlukan karena adanya pedoman perencanaan yang pasti.
d) Membantu dalam mengidentifikasi metode dan strategi yang paling tepat dalam mengumpulkan informasi yang dibutuhkan.
e) Membantu Anda membuat penentuan waktu yang wajar dan realistis untuk evaluasi.
f) Yang paling penting, perencanaan evaluasi akan membantu Anda meningkatkan efisiensi program evaluasi Anda.
Bila kita bertanya “Kapan waktu yang paling baik untuk membuat perencanaan”, maka jawabannya adalah “sesegera mungkin”, yaitu sebelum Anda mengimplementasikan program tersebut. Setelah itu, Anda dapat melakukannya kapan saja, tetapi semakin awal Anda mengembangkan perencanaan evaluasi program, semakin baik proses evaluasi tersebut, dan hasil yang diharapkan pada akhirnya akan lebih tercapai. Apakah setiap orang akan berkepentingan dengan evaluasi program kita? Tentu saja tidak.
Dalam hal ini kita harus bisa mengidentifikasi siapa-siapa saja yang akan menjadi stakeholders dari evaluasi kita, yaitu mereka yang tertarik, terlibat, dan berkepentingan dalam seluruh proses evaluasi program pendidikan. Luangkan waktu sejenak untuk melakukan brainstorming mengenai siapa-siapa saja pihak-pihak yang terlibat sebelum Anda membuat perencanaan evaluasi. Di sini juga harus diperhatikan hal-hal yang ingin diketahui stakeholders sehingga evaluator dan stakeholders bisa membuat keputusan mengenai berbagai hal yang mempengaruhi program berdasarkan evaluasi tersebut.
Secara garis besar ada beberapa langkah umum untuk mengembangkan perencanaan evaluasi diantaranya:
a) Menentukan tujuan evaluasi
b) Merumuskan masalah evaluasi
c) Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan
d) Menentukan sampel sesuai dengan tujuan evaluasi
e) Menentukan model evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi
f) Menentukan alat evaluasi
g) Merencanakan personal evaluasi
h) Merencanakan anggaran
i) Merencanakan jadwal kegiatan
2.5 Beberapa Jenis Pendekatan Evaluasi sebagai Pertimbangan dalam Perencanaan Evaluasi
Dalam membuat perencanaan evaluasi, selain jenis informasi yang akan dikumpulkan, kita juga harus mempertimbangkan pendekatan evaluasi yang nantinya akan kita lakukan. Pada dasarnya, ada tiga jenis pendekatan evaluasi yang bisa dipertimbangkan dalam perencanaan evaluasi, yaitu (1) goal-based evaluation, (2) process-based evaluation, dan (3) outcome-based evaluation. Dalam hal ini Anda tidak hanya sekedar mengambil salah satu jenis pendekatan yang ada, tetapi Anda harus mengaitkannya dengan tujuan dilakukannya suatu evaluasi. Berikut ini akan dibahas satu per satu jenis pendekatan evaluasi yang memungkinkan untuk menyempurnakan perencanaan evaluasi.
a) Goal-based Evaluation.
Pendekatan ini berkaitan dengan pencapaian seluruh tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Beberapa pertanyaan yang diajukan saat Anda merencanakan suatu evaluasi bila akan menggunakan pendekatan ini adalah:
 Bagaimana cara menentukan tujuan dan sasaran program? Apakah proses ini akan efektif?
 Apa kriteria dari kemajuan program dalam mencapai tujuan tersebut?
 Akankah tujuan tersebut dicapai sesuai dengan batas waktu yang ditentukan dalam implementasi program? Jika tidak, mengapa?
 Apakah evaluator memiliki cukup sumberdaya (dana, peralatan, fasilitas, pelatihan, dsb.) untuk mencapai tujuan tersebut?
 Bagaimana mengubah prioritas agar program bisa lebih fokus dalam mencapai tujuan tersebut? (pertanyaan ini bisa dianggap sebagai putusan manajemen ketimbang suatu pertanyaan evaluasi.)
 Apakah batas waktu bisa diubah (hati-hati dalam membuat perubahan ini karena hal ini berkaitan dengan penjadwalan)?
 Bagaimana mengubah tujuan tersebut (ketahui upaya-upaya yang mungkin bisa mempengaruhi pencapaian tujuan sebelum Anda memutuskan untuk mengubah tujuan)? Apakah ada tujuan yang bisa ditambahkan atau dikurangkan? Apa alasannya?
b) Process-based Evaluation.
Process-based evaluations digunakan untuk memahami secara mendalam bagaimana suatu program berjalan. Evaluasi ini akan berguna jika suatu program bersifat sangat lama dan telah berubah selama bertahun-tahun. Sebagai contoh, Anda mungkin merencanakan evaluasi berbasis proses

2.6 Langkah-langkah Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah
Tahap-tahap utama dalam perencanaan evaluasi adalah:
1. Menentukan tujuan evaluasi
2. Merumuskan masalah evaluasi
3. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan
4. Menentukan sampel sesuai dengan tujuan evaluasi
5. Menentukan model evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi
6. Menentukan alat evaluasi
7. Merencanakan personal evaluasi
8. Merencanakan anggaran
9. Merencanakan jadwal kegiatan

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan sub bab-bab diatas dpat disimpulan dari perencanaan evaluasi Pendidikan di Sekolah adalah sebagai berikut :
a) Menguraikan strategi mengenai cara mendapatkan dan menganalisis data yang akan membantu meningkatkan efektivitas dari suatu evaluasi program pendidikan. Termasuk ke dalam perencanaan evaluasi ini adalah:
 Penjelasan mengenai perlunya evaluasi dan tanggung jawab melakukan evaluasi;
 Penentuan batasan evaluasi dan analisis konteks evaluasi;
 Identifikasi pertanyaan, kriteria, dan masalah evaluatif;
 Perencanaan pengumpulan, analisis dan interpretasi informasi; dan
 Mengembangkan team manajemen perencanaan evaluasi, termasuk penentuan waktu, anggaran dan biaya, personel, serta menentukan penilaian, monitoring, dan perbaikan perencanaan evaluasi sampai mendapatkan suatu kesepakatan mengenai prosedur evaluasi yang akan dilakukan.
b) Dalam perencanaan evaluasi, langkah-langkah perencanaan yang dapat dilakukan adalah dengan menentukan tujuan evaluasi, merumuskan masalah, menentukan jenis data, menentukan sampel evaluasi, menentukan model evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi, menentukan alat evaluasi, merencanakan personal evaluasi, merencanakan anggaran, dan merencanakan jadwal kegiatan.

3.2 Saran
Adapun yang dapat disarankan pada pelaksanaan Perencanaan Evaluasi Pendidikan di Sekolah yang perlu disarankan adalah Pada intinya perencanaan evaluasi harus memperhatikan: Who doing what to whom, how, when, and what for and for whom?

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, (1988), Penilaian Program Pendidikan, Jakarta: Bina Aksara.

Depdikbud, (1983). Penilaian Program Pendidikan, Modul 12 Program Akta V-B, Jakarta.

Chelimsky, Eleanor & Shadish, William R. (1997). Evaluation for The 21 st Century; A handbook, International Educational and Professional Publisher Thousand Oaks London New Delhi: Sage Publications

Fattah, Nanang. 2001, Landasan Manajemen Pendidikan . Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, Cetakan kelima

Fernandes, H.J.X. (1984), Evaluation of Educational Programs. Jakarta: National Educational Planning and Curriculum Development.

Fraenkel & Wallen (1993). How to Design and Evaluate Research in Education (2nd ed.). McGraw-Hill Inc.

Isaac S, & Michael, W.B. (1983). Handbook in Research and Evaluation, San Diago, California.

Koentjaraningrat (1977). Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia

Stuffebeam, D.L & Shinkfield, A.J. (1987), Evaluation and Enlightment for Decision Making, Columbus, OH: Ohio State University, Evaluation Center.

Tayibnafis, Farida Yusuf, (2000), Evaluasi Program, Jakarta: Rineka Cipta.

Torres, Rosalie T., Preskill, Hallie S & Piontek, Mary E. (1996). Evaluating Strategis for Communicating and Reporting; Enhancing Learning in Organizations, International Educational and Professional Publisher Thousand Oaks London New Delhi: Sage Publications.

Worthen, B.R & Sanders, J.R. (1973), Evaluating Educational and Social Program: Guidelines for Proposal Review Onsite Evaluation Contracts and Technical Assistance, Boston: Kluwer Nyhoff.

Worthen , B.R & Sanders, J.R. (1988), Educational Evaluation; Alternative Approaches and Practical Guidelines. New York & London: Longman.

http://edu-articles.com/metode-perencanaan-pendidikan/#more-48

http://www.dinaspendidikan-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *