PERBEDAAN HASIL BELAJAR ANTARA SISWA GAYA KOGNITIF FIELD INDEPENDENT DENGAN SISWA GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT MELALUI PEMBELAJARAN LANGSUNG PADA POKOK BAHASAN SPLDV KELAS VIII SMP NEGERI 2 PALU

ABSTRAK

Novalin D. Samel, 2008. Perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif field independent dengan siswa gaya kognitif field dependent melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV kelas VIII SMPN 2 Palu, Skripsi Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Tadulako. Pembimbing (1) Drs. Abdul Hamid, M.Pd (II) Pathuddin, S.Pd, M.Si

Kata kunci: Gaya Kognitif FI, Gaya Kognitif FD, Pembelajaran Langsung, SPLDV.

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa khususnya pada pokok bahasan SPLDV. Hal ini terlihat pada hasil penelitian serah (2006: 2) dimana siswa mendapat nilai di bawah ukuran yang diharapkan, yakni 65% siswa mencapai nilai di bawah 6,5. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Ketepatan belajar semakin tinggi bilamana dalam proses pembelajaran memperhatikan perbedaan individu. Salah satu proses pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individu adalah gaya kognitif, yakni gaya kognitif field independent (FI) dan gaya kognitif field dependent (FD).
Penelitian ini memfokuskan pada masalah apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif field independent dengan siswa gaya kognitif field dependent melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplorasi yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif field independent dengan siswa gaya kognitif field dependent melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV. Populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 2 Palu tahun ajaran 2007/2008 yang terdiri dari 7 kelas. Teknik pengambilan sampel secara random yakni kelas VIIIA dan kelas VIIIC berjumlah 85 orang yang sedang mempelajari SPLDV dipilih sebagai sampel dimana kedua kelas tersebut terdapat kelompok siswa yang bergaya kognitif FI dan FD.
Untuk membedakan siswa yang bergaya kognitif FI dan FD tersebut digunakan tes GEFT, dan untuk mengukur hasil belajar siswa digunakan tes yang berbentuk essay yang telah diuji cobakan pada pokok bahasan SPLDV. Dari hasil tes SPLDV tersebut diperoleh data yang dianalisis secara statistik deskriptif dan statistik inferensial untuk pengujian hipotesis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif field independent dengan siswa gaya kognitif field dependent melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV kelas VIII SMPN 2 Palu dimana kelompok siswa yang bergaya kognitif FI mempunyai hasil belajar yang lebih baik daripada siswa yang bergaya kognitif FD.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang materinya perlu dipahami dengan penalaran yang kuat, sehingga dalam kegiatan pembelajaran matematika memerlukan perhatian yang serius. Tujuan pembelajaran matematika pada hakekatnya adalah mempertajam penalaran, sehingga siswa dapat mengembangkan pemikiran yang bersifat logis, kritis dan sistematis. Mengingat pentingnya peranan matematika, maka para siswa dari jenjang sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah mutlak dituntut untuk menguasai pelajaran matematika secara tuntas. Dengan demikian siswa diharapkan dapat memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.
Salah satu cara yang digunakan untuk menguasai matematika adalah dengan menguasai konsep, rumus dan prinsip dasar. Djaali (dalam Suarni, 2004: 1) menyatakan “untuk meningkatkan prestasi belajar matematika perlu penggunaan konsep, rumus atau prinsip yang telah dikuasai dalam situasi baru”. Prestasi belajar siswa akan meningkat bila siswa mampu menyelesaikan atau memecahkan soal-soal dalam matematika.
Salah satu materi pelajaran matematika dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan SMP/MTS tahun 2006 adalah sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV). Pokok bahasan ini sangat penting karena akan menunjang pelajaran di SMA bahkan sampai ke perguruan tinggi dan dalam kehidupan sehari- hari. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak kesulitan yang dihadapi dalam pencapaian prestasi yang optimal disaat siswa melangkah menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat banyak siswa yang setelah belajar matematika khususnya pada pokok bahasan SPLDV banyak yang kurang dipahami yang dapat menyebabkan ketidaktuntasan belajar, di mana siswa mendapat nilai dibawah ukuran yang diharapkan, yakni 65% siswa mencapai nilai di bawah 6,5 (Serah, 2006 : 2). Hal ini merupakan salah satu penyebab rendahnya hasil belajar matematika siswa disetiap jenjang pendidikan, termasuk di SMP Negeri 2 Palu.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru matematika di SMP Negeri 2 Palu pada saat peneliti melakukan praktek pengalaman lapangan, diperoleh informasi bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar matematika, sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika yang dicapai oleh siswa.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar juga dapat dilakukan dengan memperhatikan perbedaan gaya kognitif. Menurut Budi lestari (dalam Suarni, 2004: 2) menyatakan bahwa “Suatu metode pembelajaran yang tepat berkenaan dengan ketepatan belajar”. Ketepatan belajar semakin tinggi bilamana dalam proses pembelajaran memperhatikan perbedaan individu, salah satu proses pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individu adalah gaya kognitif.
Pendapat di atas diperkuat lagi oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Suarni yang menyatakan bahwa “Rata-rata skor hasil belajar persamaan kuadrat siswa yang bergaya kognitif FI lebih baik dari pada rata-rata skor hasil belajar persamaan kuadrat siswa yang bergaya kognitif FD” dan menurut Cahyowati yang meneliti tentang adanya perbedaan hasil belajar pada pokok bahasan aljabar, salah satu sub pokok bahasan yang tercakup di dalamnya adalah SPLDV (Suarni, 2004: 34 – 35).
Dalam pengajaran matematika banyak model-model pembelajaran yang dapat diterapkan saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Salah satunya adalah model pembelajaran langsung. Dengan model pembelajaran langsung guru dapat membantu siswa untuk mempelajari keterampilan dasar dan pengetahuan yang tersusun secara baik serta memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Dalam proses pembelajaran, siswa memiliki cara yang berbeda dalam menerima informasi serta memecahkan masalah atau dikenal dengan gaya kognitif.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian untuk melihat perbedaan hasil belajar siswa pada materi SPLDV dengan menggunakan model pembelajaran langsung yang direalisasikan dengan judul “perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif field independent dengan siswa gaya kognitif field dependent melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV kelas VIII SMPN 2 Palu”.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif field independent dengan siswa gaya kognitif field dependent melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV kelas VIII SMPN 2 Palu?”
C. Tujuan
Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif field independent dengan siswa gaya kognitif field dependent melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV kelas VIII SMPN 2 Palu”.
D. Manfaat Penelitian
Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi:
a. Siswa : Dapat membantu siswa untuk mengatasi kesulitan belajar dalam
materi SPLDV.
b. Guru : Memberikan masukan bagi guru, khususnya guru matematika
dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa dengan
memperhatikan gaya kognitif F1 dan FD pada pembelajaran
matematika khususnya pada pembelajaran SPLDV
c. Sekolah : Dapat memberikan layanan pembelajaran yang lebih baik kepada
siswa.
d. Peneliti : Sebagai bahan kajian bagi penelitian yang relevan di masa
mendatang.

E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif field independent dengan siswa gaya kognitif field dependent melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV kelas VIII SMPN 2 Palu”.
F. Asumsi Penelitian
Asumsi yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah gaya kognitif FD dan FI siswa dapat ditentukan dengan menggunakan perangkat GEFT (Group Embedded Figures Test ) Witkhin dkk dalam (Zainuddin, 2002: 12 ). Hasil belajar siswa dapat diukur melalui tes pemahaman tentang SPLDV.
G. Definisi Istilah
Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan judul penelitian ini, maka dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut:
1. Gaya Kognitif adalah kecenderungan seseorang yang relatif tetap dalam menerima, memikirkan dan memecahkan masalah serta mengingat informasi.
2. Field Dependent (FD) adalah gaya kognitif siswa yang dalam mengamati sesuatu cenderung secara keseluruhan.
3. Field Independent (F1) adalah gaya kognitif siswa yang dalam mengamati sesuatu cenderung secara bagian perbagian.
Lusiana dalam (Zainuddin, 2002:14)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Hasil Belajar
Kamus besar bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990), menyebutkan bahwa “hasil” artinya sesuatu yang diperoleh dan belajar artinya berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.
Menurut Slameto (2003: 13) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi di atas, sejalan dengan Gagne yang mengemukakan pendapatnya tentang definisi belajar yaitu suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
Proses belajar bila dikaitkan dengan kegiatan alat ukurnya, maka dapat ditentukan hasil belajar. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh atau dicapai oleh siswa pada bidang studi tertentu dengan menggunakan tes atau evaluasi sebagai alat pengukuran keberhasilan Risda dalam (Aminah, 2005: 14).
Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam belajar melalui proses evaluasi hasil belajar terhadap proses belajar yang diikutinya. Sedangkan hasil belajar matematika adalah hasil yang diperoleh atau dicapai oleh siswa pada bidang studi matematika dengan menggunakan tes atau evaluasi sebagai alat pengukuran keberhasilan.
B. Gaya Kognitif
Masing-masing individu memiliki karakteristik yang khas, yang tidak dimiliki oleh individu yang lain. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa setiap individu berbeda satu dengan yang lain. Khususnya dalam upaya memecahkan persoalan dan penerapan pengetahuan yang dimilikinya.
Selain berbeda dalam tingkat kecakapan memecahkan masalah, taraf kecerdasan, atau kemampuan berpikir kreatif siswa juga dapat berbeda dalam cara memperoleh, menyimpan serta menerapkan pengetahuan. Mereka dapat berbeda dalam pendekatan terhadap situasi belajar, dalam cara mereka menerima, mengorganisasi dan menghubungkan pengalaman-pengalaman mereka, dalam cara mereka merespon metode pengajaran tersebut.
Perbedaan-perbedaan antar pribadi yang menetap dalam cara menyusun dan mengelola informasi serta pengalaman-pengalaman ini dikenal sebagai Gaya Kognitif. (Slameto, 2003: 160). Gaya Kognitif sebagai variabel mempunyai potensi yang besar bilamana dimanfaatkan dalam upaya peningkatan efektifitas proses belajar-mengajar. (Zainuddin: 2002: 52).
Penjelasan lebih lanjut mengenai gaya kognitif dapat diungkap dengan menyebutkan karakteristik gaya kognitif. (Zainuddin, 2002: 52) mengemukakan bahwa gaya kognitif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a. Gaya kognitif merupakan dimensi yang dapat “Menembus” keseluruh tingkah laku, baik aspek kognitif maupun dalam aspek afektif.
b. Gaya kognitif stabil sepanjang waktu. Hal tersebut disebabkan karena gaya kognitif tersebut telah tertanam dari gaya mengajar orang tua/masyarakat kepada anak sejak lahir. Gaya mengajar guru harusnya bervariasi menyesuaikan dengan gaya kognitif anak, meskipun gaya kognitif guru berbeda dengan gaya kognitif anak, hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya anak yang dirugikan dalam proses pembelajaran. Pada kejadian normal, seseorang yang mempunyai style khusus pada suatu hari akan mempunyai style yang sama pada hari, minggu, bulan, dan bahkan tahun berikutnya. Stabilitas tersebut menjadikan gaya kognitif berguna dalam rentang yang sama untuk pembimbingan penyuluhan.
c. Gaya kognitif bersifat bipolar. Karakteristik ini mampu membedakan gaya kognitif dengan intelegensi dan dimensi kemampuan (ability) lainnya. Seseorang yang mempunyai intelegensi tinggi lebih baik dari pada seseorang yang mempunyai intelegensi rendah. Seseorang yang mempunyai banyak kemampuan lebih baik dari pada seseorang yang mempunyai sedikit kemampuan. Pada gaya kognitif, masing-masing kutub mempunyai nilai adaptif dalam keadaan khusus. Tidak dapat dikatakan bahwa seseorang yang mempunyai skor lebih tinggi pada tes gaya kognitif berarti dia lebih baik dalam setiap keadaan dibandingkan seseorang yang mempunyai skor yang lebih rendah pada tes gaya kognitif.

1. Field Independent – Field Dependent
Gaya kognitif terbagi atas dua bagian, yakni Field Dependent (FD) dan Field Independent (F1). Witkin (dalam Zainuddin, 2002: 54) telah memulai mengembangkan alat ukur untuk membedakan tipe-tipe siswa berdasarkan gaya kognitif. Witkin (dalam Zainuddin) menyatakan bahwa individu yang bersifat analitik adalah individu yang merasakan lingkungan ke dalam komponen-komponennya, kurang bergantung pada lingkungan atau kurang dipengaruhi oleh lingkungannya. Individu ini dikatakan termasuk gaya kognitif Field Independent (F1), sedangkan individu yang bersifat global adalah individu yang memfokuskan pada lingkungan secara keseluruhan, didominasi atau dipengaruhi lingkungan. Individu tersebut dikatakan termasuk gaya kognitif Field Dependent (FD).
Meskipun terdapat dua kelompok gaya kognitif yang berbeda tapi tidak dapat dikatakan bahwa siswa dengan gaya kognitif F1 lebih baik dari siswa yang dengan gaya kognitif FD atau sebaliknya. Siswa yang termasuk ke salah satu tipe FD atau FI bukanlah masalah baik – buruknya.
Individu yang sulit melepaskan diri dari keadaan yang mengacaukannya, yaitu individu Field Dependent, akan menemukan kesulitan dalam masalah-masalah yang menuntut keterangan diluar konteks. Individu Field Dependent akan mengorganisasikan apa yang diterimanya sebagaimana yang disajikan. Sedangkan pada individu yang Field Independent, akan mampu menanggulangi apa yang diterimanya dengan mencari komponen-komponen yang dapat diletakkan pada permasalahan yang dihadapinya.
Individu Field Independent mempunyai kecenderungan dalam mengamati sesuatu bagian perbagian. Kemampuan tersebut akan tampak sangat kuat jika yang diamati merupakan objek yang terstruktur. Individu yang Field Independent akan menemui kesulitan dalam mengamati bagian-bagian dari objek yang tidak berstruktur. Berdasarkan hal tersebut, individu yang Field Independent cenderung sulit memecahkan masalah sosial dan bahasa, karena objek sosial dan bahasa merupakan objek yang rumit dan kurang terstruktur.
Individu Field Dependent dalam mengamati sesuatu, cenderung secara keseluruhan, individu Field Dependent cenderung tidak mendapatkan kesulitan dalam memecahkan masalah sosial. Hal tersebut karena individu Field dependent cenderung tidak memperhatikan bagian perbagian dari objek yang diamatinya. Sehingga walaupun objek sosial adalah objek yang rumit dan kurang terstruktur, individu Field Dependent tidak mempermasalahkannya.
Karakteristik individu Field Dependent dan Field Independent dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:
Tabel.2.1 Perbedaan Gaya Kognitif FD dan F1
No Aspek Field Independent Field Dependent
1 Menyelesaikan tugas Lebih baik jika bekerja secara bebas Lebih baik jika banyak bimbingan.
2 Pengaruh lingkungan Tidak mudah dipengaruhi lingkungan. Mudah dipengaruhi lingkungan.
3 Penyelesaian tugas yang bersifat analitik Dapat menyelesaikan dengan baik Kurang baik
Sumber: Cahyowati (dalam Suarni, 1990: 28).
2. Pengukuran Field Independent – Field Dependent
Mengetahui seseorang cenderung ke salah satu tipe gaya kognitif, akan lebih mudah mengarahkan atau membantu dirinya dalam perkembangan akademiknya. Alat ukur untuk menggolongkan seseorang apakah termasuk gaya kognitif FD atau F1 adalah dengan Group Embedded Figures Test (GEFT). Tes ini dikembangkan oleh Witkin dengan teks asli berbahasa inggris dan telah dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Degeng, Dosen program pascasarjana jurusan teknologi pendidikan Universitas Negeri Malang.
Pada GEFT disajikan suatu gambar-gambar rumit, kemudian subjek diminta untuk menebalkan gambar sederhana yang melekat pada gambar rumit tadi. Gambar sederhana yang ditemukan harus sama persis baik ukuran dan arahnya, dengan salah satu gambar rumit dan terdapat lebih dari satu gambar sederhana yang dimaksud, maka subjek cukup menebalkan satu gambar saja, asalkan memenuhi syarat yang telah ditetapkan tadi.
Alat tes GEFT ini terdiri dari tiga bagian yaitu pertama terdiri dari 7 gambar, bagian kedua terdiri dari 9 gambar, dan bagian ketiga terdiri dari 9 gambar. Agar subyek lebih memahami cara menjawab GEFT, maka sebelum subjek masuk pada bagian pertama diberikan terlebih dahulu dua contoh. Pada GEFT bagian pertama terdiri dari 7 soal dimaksudkan sebagai latihan. Jadi perolehan skornya tidak diperhitungkan dalam analisis penetapan jenis gaya kognitif. Waktu yang disediakan untuk menyelesaikan GEFT bagian pertama disediakan waktu 2 menit. Sedangkan GEFT bagian kedua dan ketiga merupakan tes yang sesungguhnya. Untuk menyelesaikan GEFT bagian kedua dan ketiga, masing-masing disediakan waktu selama 5 menit.
Penggolongan individu ke salah satu tipe gaya kognitif FD atau F1 didasarkan atas penampilannya secara cepat dan tepat menemukan gambar sederhana tersebut dalam batas waktu yang telah disediakan. Setiap jawaban benar, yang berarti subjek mampu menebalkan secara tepat bentuk gambar sederhana yang tersembunyi, diberi skor 1 sedangkan untuk jawaban salah diberi skor 0, dengan demikian maka skor tertinggi yang dapat dicapai subjek adalah 18 dan skor terendah adalah 0, makin tinggi skor yang diperoleh subjek, berarti makin mudah subjek menemukan gambar sederhana yang tersembunyi dalam suatu gambar yang rumit atau kompleks. Dengan kata lain subjek makin mampu mengatasi pengaruh latar dari gambar rumit. Sebaliknya, makin rendah skor yang diperoleh subjek, berarti makin sulit subjek menemukan gambar sederhana dalam suatu gambar rumit atau kompleks. Dengan kata lain subjek semakin tidak mampu mengatasi pengaruh latar dari gambar rumit.
Dari pengertian Field Dependent- Field Independent, maka subyek dengan skor gaya kognitif makin mendekati 18 disebut memiliki Gaya Kognitif F1 dan subjek dengan skor gaya kognitif makin mendekati 0 disebut memiliki Gaya Kognitif FD.
C. Model Pembelajaran langsung
1. Pengertian model pembelajaran langsung
Untuk melaksanakan proses belajar mengajar di kelas guru memerlukan cara atau teknik pembelajaran. Cara atau teknik pembelajaran ini dimaksudkan untuk membantu mengatasi kesulitan belajar pada siswa. Jadi dalam hal ini seorang guru memerlukan model pembelajaran yang mencakup cara atau teknik pembelajaran agar siswa mengalami proses belajar untuk memahami materi pembelajaran.
Model pembelajaran merupakan kerangka yang dijadikan sebagai acuan untuk membuat langkah-langkah kongkrit dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Secara umum model pembelajaran diartikan sebagai kerangka konseptual yang melaksanakan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran (Neneng, 2006: 8)
Pendapat di atas menunjukkan bahwa setiap guru diharapkan dapat memahami berbagai model pembelajaran untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran langsung merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan pengetahuan yang tersusun secara baik serta memproses informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Pengetahuan dasar yang dimaksud adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu dan informasi yang diperoleh siswa menyangkut pengetahuan deklaratif yaitu pengetahuan tentang sesuatu seperti menghafal hukum/rumus dalam bidang studi matematika.
Menurut Usman (2004: 89) bahwa Model pembelajaran langsung adalah suatu strategi pembelajaran berpusat pada guru yang menggunakan penjelasan dan pemodelan guru yang digabungkan dengan latihan dan umpan balik dalam mengajarkan konsep dan keterampilan. Model pembelajaran ini berpusat pada guru dalam pengertian bahwa guru memegang tanggung jawab untuk menjelaskan tujuan pelajaran dan memainkan peranan aktif dalam menjelaskan materi atau ketrampilan kepada siswa. Para siswa lalu diberikan beberapa kesempatan untuk mempraktekkan atau berlatih konsep dan ketrampilan yang telah diajarkan dan guru memberikan umpan balik. Akan tetapi perlu ditekankan bahwa “berpusat pada guru” tidak menunjukkan kalau siswa tersebut bersifat pasif. Penekanan ini telah di pertegas oleh Usman (2004:92) yang mengatakan model pembelajaran langsung bersifat efektif dan secara aktif melibatkan siswa dalam pembelajaran melalui penggunaan pertanyaan dari guru, contoh-contoh, latihan dan umpan balik
Dalam model pembelajaran langsung, pola interaksi guru dengan siswa bergeser sejalan dengan perkembangan pelajaran. Awalnya, guru menyajikan informasi dan teliti membimbing siswa ketika mereka mengerjakan soal-soal dan mempelajari contoh. Setelah itu, siswa bekerja secara mandiri hingga mereka mampu menganalisis contoh dan memecahkan masalah tanpa bantuan guru. (Usman, 2004: 100)

2. Sintaks Model Pembelajaran Langsung
Tabel 2.2 Sintaks model pembelajaran langsung
Fase Tujuan
Pengantar Memberikan gambaran tentang materi (isi) baru, menjelaskan hubungan (kaitan) dengan latar belakang siswa dan membantu siswa memahami nilai dari materi (isi) baru tersebut.

Presentasi/penyajian Materi baru dijelaskan dan dimodelkan oleh guru dalam bentuk interaktif

Latihan terbimbing Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba materi baru

Latihan mandiri Penyimpanan dan penyaluran pemahaman siswa ditingkatkan melalui latihan konsep atau keterampilan.
(Usman, 2004: 90)
D. Materi Pembelajaran Sistem persamaan Linear dua Variabel (SPLDV)
1. Pengertian Sistem persamaan linear dua Variabel
Persamaan linear dua variabel adalah suatu persamaan yang mempunyai dua variabel berpangkat satu, yang dapat dinyatakan sebagai ax + by = c dengan
a  0, b  o, dan a, b, c.  R. Di mana x, y disebut variable, a, b disebut koefisien dari variable, dan c disebut konstanta real dan tidak memuat fungsi trigonometri, logaritma atau fungsi eksponensial. (Mujiyono, 2005: 78).
Sistem persamaan linear adalah dua persamaan linear atau lebih yang menggunakan variabel-variabel sama pada tiap-tiap persamaan linearnya dan penyelesaiannya adalah pasangan berurutan bilangan yang memenuhi semua persamaan dalam sistem tersebut. (Depdiknas, 2004b: 91).
Bentuk umum dapat dinyatakan sebagai berikut:
ax + by = c
px + qy = r dengan a, b, c, p, q, r  R dan a, b, p, q  0

Berdasarkan pengertian dan bentuk umum SPLDV di atas, maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa sistem persamaan linear dua variabel adalah kumpulan dari dua atau lebih persamaan linear yang mempunyai dua variabel berbeda dan masing-masing variabelnya berpangkat satu.
Contoh bentuk sistem persamaan linear dua variabel adalah:

x + y = 35 ……….(1)
x– y = 11 ……….(2)

Sedangkan, Contoh sistem persamaan yang bukan merupakan bentuk SPLDV

adalah:
x + 2y = 5 ……….(1)
2p + 4q = 10 …….(2)

Persamaan ini bukan merupakan SPLDV karena persamaan (1) mempunyai variabel x dan y, sedangkan persamaan (2) mempunyai variabel p dan q. Atau komponen-komponen variabel pada persamaan tidak sesuai dengan pengertian SPLDV yang telah digaris di atas.

2. Penyelesaian SPLDV
Menentukan himpunan penyelesaian dari SPLDV
ax + by = c dan
mx + ny = k dengan a, b, c, m, n, , k  R dan a, b, m, n  0
Berarti menentukan pasangan nilai (x,y) yang akan menjadikan SPLDV itu bernilai benar apabila nilai x dan y disubstitusi kembali pada sistem persamaan semula. Himpunan penyelesaian dari sistem persamaan linear dapat dicari dengan menggunakan metode grafik, substitusi, eliminasi, dan gabungan eliminasi-substitusi, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Metode Grafik
Mencari penyelesaian dengan metode grafik pada dasarnya adalah menggambar persamaan-persamaan garis yang terdapat dalam SPLDV. Setiap persamaan yang ada dalam SPLDV tidak lain adalah persamaan garis lurus. Jika garis-garis tersebut digambarkan pada bidang cartesius, maka ada 3 kemungkinan yang terjadi yaitu:
1) Garis itu berpotongan disatu titik, berarti SPLDV tersebut mempunyai penyelesaian tunggal.
2) Garis itu sejajar, berarti SPLDV tersebut tidak mempunyai penyelesaian.
3) Garis itu berhimpit, berarti SPLDV tersebut mempunyai banyak penyelesaian.

1) y 2). y 3). y

x x x

Gambar 2.1 Grafik kemungkinan penyelesaian SPLDV
Langkah-langkah yang digunakan dalam menyelesaikan SPLDV dengan metode grafik adalah:
a. Menentukan titik potong kedua persamaan dengan sumbu koordinat yakni:
• Titik potong dengan sumbu x dengan y = 0; sehingga diperoleh titik dengan koordinat (x,0)
• Titik Potong dengan sumbu y dengan x = 0; sehingga diperoleh titik dengan koordinat (0,y)
b. Menggambarkan grafik berupa garis-garis lurus melalui kedua titik potong dengan sumbu koordinat persamaan linear yang diperoleh pada langkah a diatas.
c. Koordinat titik potong garis-garis pada langkah b tersebut merupakan himpunan penyelesaian dari sistem persamaan.
Contoh soal:
Tentukan himpunan penyelesaian sistem 3x – 2y = 12 dan 2x + y = 8 dengan x dan y peubah pada himpunan bilangan real, menggunakan metode grafik
Penyelesaian:
Metode Grafik
1) 3x – 2y = 12

• Titik potong dengan sumbu y:

Untuk x = 0 maka –2y = 12 – 3x
-2y = 12 – 0
y = -6
Sehingga diperoleh koordinat (0,-6).

• Titik potong dengan sumbu x:

Untuk y = 0, maka 3y = 12 + 2y
3x = 12 + 0
x = 4
Sehingga di peroleh koordinat (4,0)

2) 2x + y = 8

• Titik potong dengan sumbu y:

Untuk x = 0, maka y = 8 – 2x
y = 8 – 0
y = 8
Sehingga di peroleh koordinat (0,8)

• Titik potong dengan sumbu x:

Untuk y = 0, maka 2x = 8 – y
2x = 8 – 0
2x = 8
x = 4
Sehingga di peroleh koordinat (4,0)

Grafik :

Kedua garis berpotongan di titik (4,0).
Jadi, penyelesaiannya adalah { (4,0)}
b. Metode Subtitusi
Subtitusi berarti mengganti. Menyelesaikan SPLDV dengan metode subtitusi berarti mengganti atau menyatakan salah satu variabel dalam variabel lain pada salah satu persamaan, kemudian mensubtitusikannya pada persamaan yang lain. Penyelesaian ini menggunakan prosedur sebagai berikut :
a) Jika persamaan itu memuat pecahan, bentuklah persamaan baru yang ekuivalen yang tidak memuat pecahan.
b) Memiliki satu persamaan dan dinyatakan dalam x dan y. Jika x dinyatakan dalam y, maka substitusi nilai x atau sebaliknya jika y dinyatakan dalam x maka substitusi nilai y.
c) Mensubstitusi x atau y ke persamaan lain sehingga diperoleh nilai- nilai x dan y.
Contoh soal:
Tentukan himpunan penyelesaian sistem 3x – 2y = 12 dan 2x + y = 8 dengan x dan y peubah pada himpunan bilangan real, menggunakan metode substitusi Penyelesaian:
Metode Subtitusi
3x – 2y = 12 ………….(1)
2x + y = 8 ……………(2)

 Misal ambil Persamaan (2)
2x + y = 8
2x = 8 – y
x = ½ ( 8 – y) atau
x = 4 – ½ y……..(3)
 Persamaan (3) disubtitusi ke persamaan (1)
3x – 2y = 12
3( 4 – ½ y) – 2y = 12
12 – 3/2 y – 2y = 12
12 – 7/2 y = 12
– 7/2 y = 12 – 12 – 7/2 y = y = 0

 y = 0 disubtitusi kepersamaan (2)
2x + y = 8
2x + 0 = 8
2x= 8
x = 8/2
x = 4
Jadi diperoleh Hp = { (4,0) }

c. Metode Eliminasi
Eliminasi berarti penghilangan / pelenyapan. Menyelesaikan SPLDV menggunakan metode eliminasi berarti menghilangkan salah satu variabel pada SPLDV untuk mencari nilai variabel yang lain pada SPLDV tersebut. Jika mencari nilai pengganti untuk x, maka variabel y dihilangkan. Demikian juga sebaliknya. Angka / koefisien variabel yang akan dihilangkan harus sama atau dibuat menjadi sama dengan cara mengalikan kedua persamaan dengan bilangan ≠ 0 sedemikian sehingga salah satu variabel berkoefisien sama.
Proses penyelesaian dengan metode eliminasi menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Mengalikan masing-masing persamaan dengan bilangan tertentu sehingga koefisien variabel x dan y pada persamaan pertama dan kedua sama.
b) Menjumlahkan atau mengurangkan persamaan yang satu dengan yang lain sehingga jumlah koefisien salah satu variabel adalah sama dengan nol.
c) Menjumlahkan atau mengurangkan persamaan yang sederhana, kemudian ditentukan nilai variabel tersebut.
Contoh soal:
Tentukan himpunan penyelesaian sistem 3x – 2y = 12 dan 2x + y = 8 dengan x dan y peubah pada himpunan bilangan real, menggunakan metode eliminasi.

Penyelesaian:
Metode Eliminasi
3 x – 2 y = 12 ……….(1)
2 x + y = 8 …………(2)

• Melenyapkan x untuk mencari y, maka koefisien dari x disamakan dengan mengalikan 2 kepersamaan (1), dan 3 kepersamaan (2) sehingga diperoleh:
3x – 2y = 12 x 2 6x – 4y = 24
2x + y = 8 x 3 6x + 3y = 24
-y = 0
y = 0
• Melenyapkan y untuk mencari x, maka koefisien dari y disamakan dengan mengalikan 1 kepersamaan (1), dan 2 kepersamaan (2) sehingga diperoleh:
3x – 2y = 12 x 1 3x – 2y = 12
2x + y = 8 x2 4x + 2y = 16
7x = 28
x = 28/7
x = 4
Jadi diperoleh Hp = { (4,0)}

d. Metode Gabungan Eliminasi – Substitusi :
Menyelesaikan SPLDV dengan metode gabungan eliminasi – substitusi ditempuh dengan cara mengeliminasi salah satu variabel, kemudian nilai salah satu variabel yang diperoleh disubtitusikan ke dalam salah satu persamaan untuk memperoleh pengganti variabel yang lain.
Cara penyelesaian menggunakan langkah-langkah dari metode eliminasi, setelah memperoleh nilai dari salah satu variabel, kemudian disubtitusikan ke dalam salah satu persamaan untuk memperoleh pengganti variabel lain.

Contoh soal:
Tentukan himpunan penyelesaian sistem 3x – 2y = 12 dan 2x + y = 8 dengan x dan y peubah pada himpunan bilangan real, menggunakan metode gabungan eliminasi-substitusi
Penyelesaian:
3x – 2y = 12 ……….(1)
2x + y = 8 …………(2)

• Melenyapkan x ( mencari y ) dengan mengalikan pers. (1) dengan 2 dan pers. (2) dengan 3 :
Sehingga diperoleh :

3x – 2y = 12 x 2 6x – 4y = 24
2x + y = 8 x3 6x + 3y = 24
-7y = 0
y = 0

• Untuk mencari nilai x, nilai y = 0 disubtitusi ke persamaan (1) diperoleh :
3x – 2y = 12
3x – 0 = 12
3x = 12
x = 12/3
x = 4.
Jadi Hp diperoleh {(4,0)}
• Ternyata penyelesaian dengan menggunakan metode grafik, substitusi, eliminasi, dan Gabungan eliminasi-substitusi pada SPLDV mempunyai hasil yang sama dan harus sama.
3. Penerapan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Tanpa disadari, sebenarnya banyak masalah sehari-hari yang berhubungan dengan sistem persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) dengan menyatakannya dalam model Matematika, dan menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan konsep SPLDV. Langkah-langkah penyelesaian:
1. Menyatakan unsur dengan peubah / variabel
2. Menyusun SPLDV tersebut dalam model Matematika
3. Menyelesaikan SPLDV
Contoh:
Ibu Hasbulla membeli 3 kg gula pasir dan 2 kg telur seharga Rp. 25.700,-. Untuk 2 kg gula pasir dan 4 kg telur, Ia harus membayar Rp. 35.800,-. Berapakah Ibu Hasbullah membayar 4 kg gula pasir dan 2 kg telur.
Jawab:
a. Menyatakan unsur dalam variabel masing-masing
Misalkan: harga 1 kg gula pasir adalah x dan
harga 1 kg telur adalah y
b. Membuat model matematikanya :
3x + 2y = 25.700
2x + 4y = 35.800

c. Menyelesaikan SPLDV tersebut :
Salah satu cara menyelesaikan menggunakan metode gabungan eliminasi subtitusi :
3x + 2y = 25.700 x2 > 6x + 4y = 51.400
2x + 4y = 35.800 x1 > 2x + 4y = 35.800 –
4x = 15.600
x = 3.900

x = 3.900 di substitusikan ke persamaan 3x + 2y = 25.700
3x + 2y = 25.700
3 (3.900) + 2y = 25.700
11.700 + 2y = 25.700
2y = 25.700-11.700
2y = 14.000
y = 7.000

sehingga diperoleh 1 kg gula pasir adalah Rp. 3.900,- dan harga 1 kg telur adalah Rp. 7.000,-
d. Untuk 4 kg gula pasir Ibu Hasbullah harus membayar sebesar =
Rp. 4 x 3.900.,- = Rp. 15.600,-
e. Untuk 2 kg telur Ibu Hasbullah harus membayar sebesar
= 2 x Rp. 7.000,- = Rp. 14.000,-

Jadi untuk 4 kg gula pasir dan 2 telur, Ibu Hasbullah harus membayar sebesar Rp. 15.600,- + Rp. 14.000,- = Rp. 29.600,-

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksploratif. Secara sederhana desain penelitian dapat digambarkan seperti pada gambar 3.1
X

Y0 Y1

Perbedaan
Gambar 3.1 Desain Penelitian
Keterangan:
X = Pembelajaran langsung dengan materi SPLDV
Y0 = Hasil belajar siswa gaya kognitif FD pada pokok bahasan SPLDV
Y1 = Hasil belajar siswa gaya kognitif FI pada pokok bahasan SPLDV
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Palu yang terdiri dari 9 kelas. Adapun jumlah siswa kelas VIII yang tercatat pada tahun pelajaran 2007/2008 sebanyak 410 orang

2. Sampel Penelitian
Dari seluruh kelas VIII SMP Negeri 2 Palu dipilih dua kelas untuk dijadikan sampel penelitian. Kelas yang dijadikan sampel yaitu kelas VIIIA berjumlah 40 siswa dan VIIIC berjumlah 45 siswa yang diajar melalui pembelajaran yang sama (pembelajaran langsung). Jumlah siswa yang bergaya kognitif FI dari kelas VIIIA adalah 29 orang dan jumlah siswa yang bergaya kognitif FD adalah 11 orang. Sedangkan di kelas VIIIC, jumlah siswa yang bergaya kognitif FI adalah 11 orang dan jumlah siswa yang bergaya kognitif FD adalah 34 orang. Sampel penelitian terdiri dari 7 kelas yang dipilih secara random.
C. Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, digunakan dua macam alat ukur yaitu tes GEFT dan tes hasil belajar pada pokok bahasan SPLDV. Tes GEFT adalah alat untuk menggolongkan siswa yang termasuk gaya kognitif field independen dan field dependent sedangkan alat ukur untuk memperoleh data tentang hasil belajar matematika pada pokok bahasan SPLDV adalah tes yang berbentuk essay yang dibuat oleh peneliti yang telah di ujicobakan pada siswa kelas VIIIG SMPN 2 Palu dan dianalisis untuk mengetahui (1) validitas, (2) reliabilitas, (3) daya pembeda, dan (4) indeks kesukaran (lihat lampiran 8b). Keempatnya dijelaskan sebagai berikut:

1. Analisis Validitas Tes
Untuk menghitung validitas tes dapat digunakan rumus korelasi produk momen sebagai berikut:
rxy = (Toha, 1990: 115)
Keterangan:
N : Banyak subyek
y : Skor total
x : Skor instrumen yang akan dicari validitas nya
rxy : Koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y
Untuk menentukan tingkat koefisien validitas instrumen digunakan kriteria:
0,80 < rxy ≤ 1,00 validitas sangat tinggi
0,60 < rxy ≤ 0,80 validitas tinggi
0,40 < rxy ≤ 0,60 validitas sedang
0,20 < rxy ≤ 0,40 validitas rendah
0,00 < rxy ≤ 0,20 validitas sangat rendah
rxy ≤ 0,00 Tidak valid
2. Analisis Realibilitas Tes
Untuk menentukan apakah tes hasil belajar bentuk uraian telah memiliki daya keajegan mengukur atau realibilitas yang tinggi ataukah belum, pada umumnya digunakan rumus yang dikenal dengan nama rumus alpha. Adapun rumus alpha yang di maksud adalah:
r11 = (Sudjiono, 2003: 208)
Dengan: r11 = Koefisien reliabilitas tes
n = Banyaknya butir item yang dikeluarkan dalam tes
∑Si2 = Jumlah varian skor dari tiap-tiap butir item
St2 = Varian total
Kriteria koefisien reliabilitas adalah sebagai berikut:
0,80 < rxy ≤ 1,00 reliabilitas sangat tinggi
0,60 < rxy ≤ 0,80 reliabilitas tinggi
0,40 < rxy ≤ 0,60 reliabilitas sedang
0,20 < rxy ≤ 0,40 reliabilitas rendah
0,00 < rxy ≤ 0,20 reliabilitas sangat rendah
rxy ≤ 0,00 Tidak reliabilitas
3. Analisis Daya Pembeda
Analisis daya pembeda butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan suatu butir soal membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang berkemampuan rendah. Untuk menentukan daya pembeda butir soal digunakan rumus:
DP = Suprapto (Sudina, 2001: 24)
Keterangan :
DP = Indeks daya pembeda butir tes
SA = Jumlah skor yang dicapai kelompok atas
SB = Jumlah skor yang dicapai kelompok bawah
Smax = Skor maksimal butir soal
NA = jumlah peserta tes pada kelompok atas
NB = jumlah peserta tes pada kelompok bawah
Kriteria kualifikasi daya pembeda butir soal sebagai berikut:
DP ≥ 0,40 Baik sekali
0,30 ≤ DP < 0,40 Baik
0,20 ≤ DP < 0,30 Kurang baik
DP < 0,20 Jelek
4. Indeks Kesukaran
Derajat kesukaran suatu butir soal dinyatakan dengan p yang disebut indeks kesukaran (Difficulty Index). Adapun rumus untuk menentukan indeks kesukaran yaitu: p = (Surapranata, 2005: 12)
Keterangan:
p = Tingkat kesukaran
∑X = Jumlah skor siswa pada soal tertentu
Sm = Skor maksimum
N = Jumlah peserta tes
Klasifikasi interprestasi indeks kesukaran digunakan:
p ≤ 0,00 Soal terlalu sukar
0,00 < p ≤ 0,30 Soal Sukar
0,30 < p ≤ 0,70 Soal Sedang
0,70 < p ≤ 1,00 Soal Mudah
p = 1,00 Soal terlalu mudah
D. Pengumpulan Data
Pengumpulan Data penelitian melalui tiga tahap yaitu:
1. Tahap Persiapan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah:
• Menyusun Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian
• Menentukan lokasi, populasi, dan sampel penelitian
• Melaksanakan uji coba pada kelas VIIIG SMP Negeri 2 Palu untuk
mendapatkan instrument yang sifatnya valid dan reliabel (kegiatan ini
dilaksanakan pada tanggal 17 April 2008)
• Memberikan Group Embedded Figures Test (GEFT) kepada subyek untuk membedakan gaya kognitif siswa yang FD dan FI pada tanggal 18 – 19 April 2008

2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan ini, aktivitas yang dilaksanakan adalah:
• Menetapkan kelompok siswa dengan gaya kognitif FD dan FI yang diajar menggunakan pembelajaran langsung
• Masing-masing kelompok diajar dengan frekuensi pertemuan yang sama dengan pokok bahasan SPLDV.
• Pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kelompok dilaksanakan tiga kali pertemuan yakni di kelas VIIIA, kegiatan pertama dilakukan pada tanggal 21 April 2008, kedua tanggal 22 April 2008 dan ketiga tanggal 28 April 2008 dan di kelas VIIIC, kegiatan pertama dilakukan pada tanggal 23 April 2008, kedua tanggal 24 April 2008 dan ketiga tanggal 30 April 2008. Kegiatan yang berlangsung selama proses pembelajaran untuk kedua kelompok adalah sama yakni menggunakan model pembelajaran langsung
• Setelah proses pembelajaran diberikan tes pada pokok bahasan SPLDV, dengan bobot soal yang sama untuk kedua kelompok (kegiatan ini dilaksanakan tanggal 10 Mei 2008)
3. Tahap Akhir
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengadakan:
• Tabulasi data
• Pengolahan dan analisis data
• Pemaknaan data
• Penyusunan laporan penelitian
E. Analisis Data
Pengolahan data penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial sebagai berikut:
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan skor
responden bagi masing-masing kelompok yaitu kelompok pertama
(FI) dan kelompok kedua (FD)
2. Statistik Inferensial
Untuk menguji hipotesis yang diajukan, statistik yang digunakan adalah statistik t.
Dengan demikian harus dilakukan uji normalitas dan homogenitas.
a. Uji Normalitas
Untuk menguji hipotesis yang diajukan, digunakan statistik t. Namun sebelum dilakukan uji statistik t, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dengan menggunakan rumus, yaitu:
X hit = (Sudjana, 1984: 273)
Keterangan:
X = Chi-kuadrat
= Frekuensi yang diamati
= Frekuensi yang diharapkan
k = Jumlah kelas interval
dk = k – 3
Dengan kriteria pengujian data berdistribusi normal jika X hitung < X tabel
b. Uji Homogenitas Varians
Uji homogenitas varians dimaksudkan untuk menguji kesamaan dua varians antara data kelompok FI dengan data kelompok FD. Dalam hal ini digunakan statistik:
F = (Sudjana, 1992: 250)
Kriteria pengujian adalah:
Untuk signifikan α dan derajat kebebasan V1 dan V2, data mempunyai varians yang homogen jika Fhitung < Ftabel
c. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis ini menggunakan analisis uji “t” dua sampel dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menghitung nilai statistik t dengan rumus:
t = (Sudjana, 1992: 239)
Dengan:
S² =

Keterangan:
X1 : Rata-rata kelompok FI
X2 : Rata-rata kelompok FD
n1 : Banyaknya sampel kelompok FI
n2 : Banyaknya sampel kelompok FD
S1 : Varians kelompok FI
S2 : Varians kelompok FD
S : Standar deviasi
Dengan pasangan hipotesis:
Ho: µ1 = µ2: Tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif
FI dengan siswa gaya kognitif FD melalui pembelajaran langsung
pada pokok bahasan SPLDV
H1: µ1 ≠ µ2: Terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif
FI dengan siswa gaya kognitif FD melalui pembelajaran langsung
pada pokok bahasan SPLDV
b. Kriteria / keputusan pengujian
Ho diterima jika: –t(1-1/2 α) < thit < t(1-1/2 α) dalam hal lain H0 ditolak
Dimana t(1-1/2 α) didapat dan daftar distribusi t dengan derajat kebebasan
(dk) = n1 + n2 – 2 dan peluang dengan taraf nyata kepercayaan α = 5%

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
a. Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Tes
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes yang telah diujicobakan dan telah terbukti memenuhi syarat untuk digunakan sebagai tes standar. Instrumen tes yang diujicobakan adalah tes hasil belajar siswa pada pokok bahasan SPLDV. Analisis hasil uji coba instrumen tes diuraikan sebagai berikut:
1. Validitas butir tes
Berdasarkan perhitungan pada lampiran 3A yaitu dalam menentukan skor hasil uji coba validitas butir tes diperoleh nilai yang dapat diterima dalam setiap soal/item yaitu 0,41 – 0,82. Hasil perhitungan lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 3A.
2. Indeks kesukaran tes
Berdasarkan perhitungan pada lampiran 3D diperoleh hasil bahwa indeks kesukaran terdapat pada rentang antara 0,54 – 0,80 dan dari 6 yang diujicobakan, ada 5 soal yang hasilnya dapat diterima atau layak dijadikan sebagai tes baku. Uraian lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 3D.

3. Daya pembeda
Berdasarkan perhitungan pada lampiran 3D yaitu untuk menentukan daya pembeda (DP) setiap butir soal dan hasil yang diterima berkisar antara 0,30 – 0,62 yang menunjukkan bahwa interprestasi butir soal layak digunakan, hasil perhitungan lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 3D.
4. Reliabilitas tes
Berdasarkan perhitungan pada lampiran 3B Reliabilitas secara keseluruhan adalah 0,53 reliabilitas tergolong sedang dan memenuhi kriteria untuk dipakai dalam instrumen tes. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 3B.
b. Analisis statistik deskriptif
Berdasarkan hasil tes GEFT dan tes SPLDV pada lampiran 6 diperoleh data berupa skor tes GEFT dan skor tes SPLDV pada kelompok siswa FI dan kelompok siswa FD. Tes GEFT mempunyai skor antara 0 – 18. Untuk menentukan siswa yang bergaya kognitif FI dan FD dapat diperoleh dari hasil skor tes GEFT yang diberikan oleh peneliti, dimana siswa yang memperoleh skor dari 0 – 9 dikatakan bergaya kognitif FD dan skor dari 10 – 18 siswa tersebut dikatakan bergaya kognitif FI. Skor tertinggi yang dicapai oleh siswa dengan gaya kognitif FI dari kedua kelompok pada tes GEFT adalah 16, skor terendah adalah 10 dan skor tertinggi yang dicapai oleh siswa dengan gaya kognitif FD pada tes GEFT adalah 9, skor terendah adalah 0. Data yang akan dianalisis adalah skor tes hasil belajar siswa pada pokok bahasan SPLDV kedua kelompok dapat dilihat pada lampiran 8. Selanjutnya analisis hasil tes siswa kedua kelompok adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Analisis hasil tes siswa kedua kelompok
Distribusi ukuran Post – tes Kelompok
statistik FI FD
Sampel 40 45
Rata – rata 67,475 60,066
Standar deviasi 13, 995 12, 817
Skor terendah 41 32
Skor tertinggi 100 85

Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa skor siswa kelompok pertama (FI) pada pokok bahasan SPLDV melalui pembelajaran langsung dengan jumlah 40 siswa diperoleh skor terendah 41, skor tertinggi 100, dengan skor rata-rata 67,475 dan standar deviasi 13,995 (lampiran 8A). Sedangkan skor siswa kelompok kedua (FD) pada pokok bahasan SPLDV melalui pembelajaran langsung dengan jumlah 45 siswa diperoleh skor terendah 32, skor tertinggi 85, dengan skor rata-rata 60,066 dan standar deviasi 12, 817 (lampiran 8B).
c. Analisis Statistik Inferensial
Analisis inferensial data hasil belajar digunakan untuk menguji hipotesis. Ada dua jenis data yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu data hasil tes SPLDV pada kelompok pertama (FI) dan data hasil tes SPLDV pada kelompok kedua (FD) (lampiran 6). Masing-masing analisis tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1. Uji Normalitas Data Hasil tes SPLDV Kelompok Pertama (FI)
Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui bahwa kedua kelas tersebut homogen adalah statistik uji F (uji kesamaan dua varians). Sebelum uji homogenitas, perlu dilakukan uji normalitas data. Berdasarkan data pada lampiran 8a dan hasilnya dapat dilihat pada lampiran 9a, maka diperoleh hasil perhitungan dengan menggunakan uji dengan α = 0,05 dan dk = 3 diperoleh hitung = 4,54 dan tabel = 7,81. Dari data tersebut terlihat bahwa hitung < tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal.
2. Uji Normalitas Data Hasil tes SPLDV Kelompok Kedua (FD)
Berdasarkan data pada lampiran 8b yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 9b, maka hasil perhitungan dengan menggunakan uji dengan α = 0,05 dan dk = 3 diperoleh hitung = 2,72 dan tabel = 7,81. Terlihat bahwa hitung < tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal.
3. Uji Homogenitas
Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran 10 (pengujian homogenitas hasil belajar siswa kelompok pertama dan kelompok kedua) diperoleh F hitung = 1,18 dan F tabel = 1,66. Berdasarkan kriteria pengujian maka data dari kedua kelompok tersebut adalah homogen atau memiliki varians yang sama karena 1, 18 < 1,66 atau F hitung < F tabel.
2. Pengujian Hipotesis
Sesuai dengan hipotesis yang telah dikemukakan pada bab I, yang secara statistik dirumuskan sebagai berikut:
Ho: µ1 = µ2: Tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif
FI dengan siswa gaya kognitif FD melalui pembelajaran langsung
pada pokok bahasan SPLDV
H1: µ1 ≠ µ2: Terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif FI
dengan siswa gaya kognitif FD melalui pembelajaran langsung pada
pokok bahasan SPLDV.
Berdasarkan data pada lampiran 8 yang hasil perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 11 maka diperoleh t hitung = 2, 56 dan t(1-1/2 α) = 2,00 dengan α = 0,05 dan dk = n1 + n2 – 2. Berdasarkan kriteria pengujian Ho diterima jika –t(1-1/2 α) < thit < t(1-1/2 α) berarti H1 ditolak. Dengan demikian maka –t(1-1/2 α) = 2,00 < thitung = 2,56 > t(1-1/2 α) = 2,00 sehingga Ho ditolak dengan kata lain H1 diterima atau dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif FI dengan siswa gaya kognitif FD melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV.
B. Pembahasan
Tujuan dari kegiatan belajar mengajar tidak akan pernah tercapai selama komponen – komponen lainnya terabaikan, salah satunya adalah komponen metode. Metode adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan, dengan memanfaatkan metode secara akurat guru akan mampu mencapai tujuan pembelajaran.
Adanya kecocokan suatu metode dalam melaksanakan pembelajaran menuntut adanya seorang guru dalam memilih suatu strategi mengajar yang harus diterapkan. Oleh karena itu guru dituntut memahami pengetahuan tentang pemilihan metode mengajar sehingga penggunaannya dalam pembelajaran tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai semaksimal mungkin.
Dari hasil analisis deskripsi data sebelum diberi perlakuan diperoleh bahwa kedua kelas yang dijadikan sampel penelitian tersebut skor siswa homogen atau tidak ada perbedaan, sehingga kedua kelas tersebut bisa diambil sebagai sampel penelitian dan selanjutnya akan diberi perlakuan. Dari hasil penelitian dan analisis deskripsi data setelah diberikan perlakuan, diperoleh skor rata-rata kelas kelompok pertama lebih tinggi daripada kelompok kedua yaitu kelompok pertama diperoleh skor rat-rata 67,475 dan standar deviasi 13,935 (lampiran 8a) sedangkan kelompok kedua diperoleh skor rata-rata 60,066 dan standar deviasi 12,817 (lampiran 8b).
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada lampiran 11 diketahui bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang dicapai oleh siswa pada kelompok pertama (FI) dengan siswa pada kelompok kedua (FD) melalui pembelajaran langsung, dimana pada hasil analisis data menggunakan uji “t”, diperoleh thitung = 2,56 dan ttabel = 2,00 dengan dk = 83 pada taraf nyata α = 0,05. Berdasarkan tabel statistik pada lampiran 11 ternyata thitung berada diluar daerah penerimaan Ho, maka Ho ditolak dan H1 diterima. Dalam hal ini terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa gaya kognitif FI dan gaya kognitif FD melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV.
Pada penelitian ini, diketahui bahwa nilai rata-rata pada kelompok pertama (FI) lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata siswa pada kelompok kedua (FD) yaitu 67,475 > 60,066 melalui model pembelajaran langsung. (data lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 8).
Adanya perbedaan hasil belajar materi SPLDV antara siswa yang bergaya kognitif FI dan siswa yang bergaya kognitif FD yang melalui pembelajaran langsung tersebut terutama dikarenakan dalam proses pembelajaran siswa yang bergaya kognitif FI cenderung bekerja secara independent dan banyak menerima umpan balik yang diberikan oleh guru serta aktif belajar sendiri. Sedangkan siswa yang bergaya kognitif FD dalam proses pembelajaran, kurang menerima umpan balik dari guru, sangat tergantung kepada penguatan yang diberikan oleh guru dan masih banyak membutuhkan bimbingan baik dari pihak guru maupun teman. Hal ini sesuai pula dengan karakteristik bahwa dalam penyelesaian tugas yang menghendaki ketrampilan yang bersifat analitik (sistem persamaan linear dua variabel bersifat analitik), individu field independent dapat menyelesaikan dengan baik, sedangkan individu field dependent kurang baik.
Perbedaan di atas sesuai pula dengan temuan Cahyowati (1990: 81) bahwa siswa yang bergaya kognitif FI mempunyai hasil belajar matematika yang baik daripada siswa yang bergaya kognitif FD. Meskipun hasil belajar siswa yang bergaya kognitif FI dan siswa yang bergaya kognitif FD berbeda tetapi tidak dapat dikatakan bahwa siswa yang bergaya kognitif FI lebih baik dari pada siswa yang bergaya kognitif FD atau sebaliknya. Masing-masing siswa yang bergaya kognitif FI dan siswa yang bergaya kognitif FD tersebut mempunyai kelebihan dan keunggulan pada bidangnya.

BAB V
PENUTUP

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab III dan IV maka pada bab ini dapat dikemukakan kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran sebagai berikut:
A. Kesimpulan
1. Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa gaya kognitif field independent dengan siswa gaya kognitif field dependent melalui pembelajaran langsung pada pokok bahasan SPLDV kelas VIII SMPN 2 Palu.
B. Saran
1. Disarankan supaya guru mengetahui gaya kognitif FI dan FD pada siswa sehingga dapat memberikan bimbingan belajar yang sesuai dan cocok bagi siswa
2. Disarankan kepada guru agar menggunakan metode pembelajaran yang cocok dengan gaya kognitif siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Agung. I. G. N. 1992. Metode Penelitian Sosial; Pengertian dan Pemakaian Praktis.
Jilid I. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum

Mujiyono, Endang Retno Wulan. 2005. Matematika, Untuk SMP dan MTs Kelas VIII.
Surakarta: PT. Grahadi.

Nasution, S. 1998. Berbagai Pendekatan dalam proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bina Aksara

Suherman, E. 1993. Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Matematika. Materi Pokok Modul 1 – 6. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikdasmen BPPG SLTP D – III.
Slameto. 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka.

I Putu Sudina, 2001. Perbedaan Prestasi Belajar Matematika siswa kelas I SLTP Negeri 7 Palu antara yang diberikan pekerjaan rumah dan yang tidak diberikan pekerjaan rumah. Skripsi (Tidak Diterbitkan) Pene1itian FKIP Universitas Tadulako Palu.
Nasution. 2003. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Sudjana. 1984. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sudjana. 1992. Metode statistik. Bandung: Tarsito

Soeparman Kardi, 2000. Pengajaran Langsung. Penerbit Universitas Negeri Surabaya University Press.
Sudjiono, Anas. 2003. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Suarni. 2004. Field dependent – Independent (FDI) dalam Kaitannya dengan Hasil Belajar Persamaan Kuadrat pada Siswa Kelas 1 Madrasah Aliyah Negeri 1 Palu. Skripsi, tidak diterbitkan. Palu: Universitas Tadulako.
Sudjana, Nana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mangajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sukino, Wilson Simangungsong, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Standar Isi, MATEMATIKA Untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Penerbit Erlangga
Serah. 2005. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 2D SMPN 2 Palu Dalam Menentukan Solusi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Melalui Pengajaran Remedial Model Pembelajaran Langsung. Skripsi, tidak diterbitkan. Palu: Universitas Tadulako.
Surapranata, Sumarna. 2005. Analisis, Validitas, Reliabilitas, dan Interprestasi Hasil Tes. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Toha. 1990. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Usman, Husaini, Akbar, Setiyadi, Purnomo, R. 2003. Pengantar Statistik. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Usman H. B. 2004. Strategi Pembelajaran Kontemporer Suatu Pendekatan Model. Cisarua: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas.
Zainuddin. 2002. Studi Tentang Penerapan Belajar Kooperatif Model STAD dengan Konsentrasi Gaya Kognitif FD dan FI Siswa Pada Pembelajaran Fungsi di Kelas II MAN I Palu. Tesis, tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *