BAB VIII
PERAWATAN PALIATIF

TUJUAN BELAJAR

TUJUAN KOGNITIF
Setelah membaca bab ini dengan seksama, maka anda sudah akan dapat :
1. Mengetahui perawatan paliatif pada lansia.
1.1 Menyatakan kembali definisi perawatan paliatif
2. Mengetahui perawatan paliatif pada lansia.
2.1 Menyebutkan program perawatan paliatif.
2.2. Menyebutkan cara penatalaksanaan rehabilitasi medik.

TUJUAN AFEKTIF
Setelah membaca bab ini dengan penuh perhatian, maka penulis mengharapkan anda sudah akan dapat :
1. Menunjukkan perhatian yang lebih dalam penatalaksanaan perawatan paliatif pada lansia.
2. Menciptakan hidup yang berguna bagi lansia dengan melaksanakan perawatan paliatif

I. PENDAHULUAN
Hospice sebenarnya tempat istirahat untuk pelancong pada abad ke-4. Pada abad ke-19 ada suatu perintah keagamaan untuk mendirikan hospice untuk orang sakit di Irlandia dan London. Hospice modern merupakan konsep yang relatif baru yang berasal dari Inggris setelah menemukan St. Christopher’s Hospice pada tahun 1967. Dr. Cicely Saunders dipandang sebagai perintis gerakan hospice. Dari permulaan, gerakan hospice tumbuh dengan pesat.
Dalam perawatan paliatif hal yang paling penting adalah bagaimana meningkatkan kualitas hidup lanjut usia pada sisa hidupnya. Agar dapat berhasil, dituntut kepekaan, keahlian teknis dan kerjasama tim yang baik. Selain perawatan medis, perawatan rohani bagi penderita terminal memegang peranan yang cukup penting, oleh karena maut seringkali menimbulkan rasa takut. Rasa takut semacam ini, didasari oleh berbagai macam faktor, seperti ketidakpastian akan pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit atau penderitaan yang sering menyertainya, kegelisahan untuk tidak berkumpul lagi dengan keluarga atau lingkungan sekitarnya.

II. DEFINISI
Menurut WHO Palliative care (perawatan paliatif) merupakan suatu cara pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya dalam menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam kehidupan, melalui pencegahan dan mengurangi penderitaan dengan identifikasi awal, penanganan yang benar, pengobatan rasa sakit dan masalah yang lain,yaitu fisik, psikososial dan spiritual.
Perawatan paliatif:
• Mengurangi rasa sakit dan gejala-gejala lain yang menyusahkan
• Menggabungkan aspek psikologis dan spiritual dari perawatan pasien
• Menawarkan sistem pendukung untuk membantu pasien hidup secara aktif sebisa mungkin sampai meninggal
• Menawarkan sistem pendukung untuk membantu keluarga mengatasi kesukaran selama pasien sakit
• Menggunakan pendekatan dengan suatu tim untuk memenuhi keperluan pasien dan keluarganya, termasuk konseling
• Akan meningkatkan kualitas kehidupan, dan dapat secara positif mempengaruhi perjalanan penyakit
• Dapat diterapkan dini pada perjalanan penyakit, berhubungan dengan terapi-terapi lain yang bertujuan untuk memperpanjang kehidupan, seperti kemoterapi atau terapi radiasi, dan termasuk pemeriksaan lain yang diperlukan untuk lebih memahami dan mengatur komplikasi klinis yang lain
Tujuan akhir dari perawatan paliatif adalah mencapai kualitas hidup yang terbaik untuk pasien dan keluarganya. Pada pasien paliatif, prioritas pelayanan kesehatan berubah dari pengobatan ke perawatan (from cure to care), dari intervensi ke pencegahan dan rehabilitasi. Jadi, tujuan utama perawatan paliatif bukan untuk menyembuhkan penyakit. Dulu perawatan ini hanya diberikan kepada pasien kanker yang secara medis sudah tidak dapat disembuhkan lagi, tetapi kini diberikan pada semua stadium kanker, bahkan juga pada penderita penyakit-penyakit lain yang mengancam kehidupan seperti HIV/AIDS dan berbagai kelainan yang bersifat kronis.
Perawatan yang memadai bagi pasien menjelang ajal disebut perawatan hospice/hospitium. Hospice care adalah sebuah konsep perawatan bagi pasien terminal yang dirancang untuk membebaskan penderitaan dan meringankan gejala-gejala yang tidak diinginkan. Perawatan hospice sendiri dibagi dua, yaitu inpatient hospice adalah perawatan yang memberikan harapan bagi pasien–pasien dengan gejala yang tidak terkendali dengan baik, sedangkan Outpatient hospice menyediakan pelayanan yang terkoordinasi bagi pasien menjelang ajal yang berada di rumah atau dalam fasilitas perawatan jangka panjang.
Perawatan hospice terdiri dari suatu “team work“, yaitu dokter, psikolog, perawat, terapi rehabilitasi, ahli gizi, pekerja sosial, dll yang bersama–sama memberikan tindakan yang terpadu atas tahapan–tahapan psikologis penderita dengan cara yang berbeda–beda.
Palliative medicine (Kedokteran Paliatif) merupakan bagian dari ilmu kedokteran yang mempelajari dan melaksanakan tindakan medis secara aktif dan progresif untuk pasien dengan penyakit lanjut yang mempunyai prognosis buruk dengan fokus perawatan pada upaya untuk mempertahankan kualitas hidup pasien.

Tim perawatan paliatif

1. Pasien /penderita = core
2. Medis = cure
3. Perawatan = care
4. Sosial : keluarga, petugas sosial, dll
5. Spiritual : rohaniwan

Bagan kepemimpinan perawatan paliatif tidak berbentuk kerucut, melainkan berbentuk lingkaran dengan pasien sebagai titik sentral.
Core (1), cure (2), dan care (3) merupakan tiga aspek yang saling berkaitan dan berpengaruh satu sama lain. Sebagian besar pasien kanker pada suatu waktu akan menghadapi keadaan stadium paliatif di mana pengobatan sudah tidak menghasilkan kesembuhan dan diupayakan berbagai tindakan yang dapat mengurangi penderitaan pasien kanker sehingga kualitas hidupnya tetap baik.
Keberhasilan perawatan paliatif tidak ditentukan oleh adanya dokter (2), paramedis (3), serta perawatan dokter yang canggih, tetapi terutama oleh peran keluarga (4), rohaniwan (5), dll. Prinsip kerja tim perawatan paliatif yang terdiri dari tim yang terintegrasi antara dokter, perawat, ahli gizi, psikolog, pekerja sosial, rohaniwan, relawan, keluarga, dll adalah memberikan perawatan paripurna kepada pasien.

III. PENDEKATAN TERHADAP PASIEN
Mengidentifikasi pasien dengan penyakit terminal
Mengidentifikasi pasien menjelang ajal bukanlah suatu masalah ketika pasien tersebut memiliki penyakit keganasan yang agresif dan gagal untuk disembuhkan dengan perawatan yang ada. Namun akan menjadi suatu persoalan jika pasien lanjut usia tersebut tidak dijumpai penyakit ganas yang mematikan, karena sulit untuk memprediksi dengan tepat sisa waktu bagi pasien tersebut. Banyak pasien lanjut usia yang terminal tidak dapat dengan mudah dikatakan terminal begitu saja. Hanya sedikit dari pasien tersebut yang dibawa ke program–program hospice, meskipun mereka seharusnya menjalani perawatan “hospice type“. Diagnosis dan prognosis yang tepat sangat dibutuhkan bagi pasien, sehingga identifikasi pasien terminal dapat tercapai. Hal ini dibutuhkan kerjasama, perawatan, dan pengamatan yang cermat dari tim medis.
Pada lanjut usia, identifikasi pasien terminal tidak boleh terlewatkan begitu saja hanya dengan pertimbangan usia yang memang telah lanjut atau “memang sudah mendekati waktunya“. Justru pelayanan yang terbaiklah yang layak diberikan bagi lanjut usia. Walaupun demikian harus diingat juga, bahwa lanjut usia yang sudah sangat tua juga dapat dianggap sebagi pasien terminal walaupun tidak menderita penyakit yang aktif dan progresif, hanya saja pendekatannya berbeda.

Penilaian medis
Pengidentifikasian juga dapat dibantu lewat evaluasi medis. Pencatatan historis yang mendalam, termasuk tinjauan catatan–catatan medis lampau. Hal yang penting adalah pemahaman penyakit yang diderita di masa lampau dan tindakan yang akan diambil di masa mendatang. Pemeriksaan fisik adalah hal yang berguna dan jika dikerjakan dengan baik dapat berguna untuk menghindari intervensi diagnostik yang tidak perlu dan merepotkan. Mencatat tingkat progesivitas penyakit dapat membantu memilih tindakan yang mempunyai efek–efek yang optimal.

Penilaian aspek – aspek psikososial
Kekuatan dan kelemahan dalam bidang–bidang sosial atau psikososial mungkin merupakan penyebab kontribusi kritis bagi pasien. Klinisi perlu mengetahui keluarga dan teman dekat serta berupaya komunikatif dengan mereka. Seringkali, pertimbangan–pertimbangan finansial terkait erat dengan perawatan–perawatan pasien yang menjelang ajal. Seorang pasien dapat menolak perawatan yang memakan biaya besar karena khawatir akan biaya yang terlampau besar atau dapat merasa tersinggung dengan menolak untuk mengatakan informasi finansial.
Kebutuhan psikologi pasien lanjut usia adalah ”jaminan” yang pada waktunya ia harus menyerahkan otonomi dan kendali pada orang lain. Yang penting adalah tidak melanggar individualitas personal atau harga dirinya. Adalah penting juga bagi orang yang merawat untuk mengetahui faktor–faktor yang mempengaruhi harapan dalam penyakit terminal

Aspek religius dan etika
Dalam pelayanan geriatri aspek religius dan etika memegang peranan yang sangat penting. Di banyak negara Barat, dalam tim geriatri sering dimasukkan anggota yang merupakan perwakilan dari suatu badan keagamaan. Dalam praktek pelayanan geriatri di negara kita, hal ini harus dipikirkan karena beberapa pertimbangan. Keagamaan bisa membantu seorang penderita untuk menentukan keputusan dalam hidup dan kesehatannya dari sisi pandang spiritual dan religius.
Ketika agama sudah menjadi ukuran sentral dalam hidup, adalah mungkin agama memegang peranan penting menjelang kematian, terutama bagi mereka yang menganggap agama adalah penting.
Kegiatan keagamaan dapat menyebabkan pasien menerima kematiannya dengan mudah dan cepat. Ini akan melepaskan mereka dari rasa cemas, ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi dan perasaan bersalah, yang akan menghasilkan relaksasi fisik yang meringankan rasa sakit atau gejala lainnya. Ritual keagamaan menyiapkan kebutuhan psikospiritual yang dalam, dibandingkan cara non religius.

Pentingnya kerjasama tim
Optimalnya, pasien menjelang ajal diberi perawatan oleh suatu tim interdisipliner yang terdiri dari para profesional dan pihak–pihak lain yang berkepentingan. Ahli kesehatan seringkali mengkoordinasi dan memimpin tim ini yang di antaranya perawat, pekerja sosial, kependetaan, relawan (sebagai penasehat dan teman pasien), para ahli terapi rehabilitasi, ahli diet, dan pihak lainnya.
Kualitas interaksi di antara para anggota tim ini akan direfleksikan dalam kemampuan tim tersebut untuk menyediakan pelayanan yang baik kepada pasien. Perawatan pasien akan optimal ketika terdapat rasa saling menghargai di antara para anggota tim. Berbagai informasi dan keahlian memungkinkan tim tersebut untuk melaksanakan pekerjaan lebih baik daripada individu–individu yang bertindak sendiri-sendiri.
Perawatan bagi pasien yang menjelang ajal adalah kegiatan yang penuh ketegangan bagi orang yang terlibat di dalamnya. Meskipun telah berupaya sepenuhnya, kesalahan dapat saja terjadi dan terdapat banyak kekurangan. Diperlukan suatu kerjasama di antara para anggota tim untuk merawat pasien secara holistik dan terkoordinasi.
Pasien lanjut usia yang tidak terlihat akan segera meninggal, keadaannya merosot dengan cepat walaupun kematian tidak disebabkan oleh penyebab yang akut seperti perdarahan yang luas. Staf mungkin akan terkejut atau heran mengapa hal ini bisa terjadi. Oleh karena itu mereka harus diingatkan secara berkala bahwa itu bisa terjadi dan diperlukan dukungan pada staf untuk menangani hal tersebut..

IV. PEMBERIAN INFORMASI KEPADA PASIEN DAN KELUARGA
Memberitahukan kepada pasien
Salah satu persoalan yang muncul yang berkaitan dengan kematian yang terhormat yaitu perlu atau tidaknya lanjut usia mengetahui saat kematian itu tiba. Pada saat lanjut usia memasuki keadaan yang terminal, tim medis bertanggung jawab untuk memberikan penjelasan kondisi mereka dan memastikan tingkat pengetahuan mereka mengenai kondisinya tersebut. Tidak ada alasan bagi keluarga dan pasien untuk tidak mendapat informasi mengenai kematian pasien yang dekat kecuali terdapat larangan dari peraturan setempat untuk menginformasikan hal tersebut
Pasien lanjut usia kadang–kadang tampak tidak sadar bahwa ia akan segera meninggal. Beberapa pasien ada yang bertanya “Kapan ini akan berakhir?” dan memastikan bahwa waktunya tidak lama lagi, sering menerimanya dengan lapang dada. Beberapa dari lanjut usia lebih nyaman bila diberitahukan bahwa waktu mereka sudah dekat. Pasien harus diyakinkan bahwa mereka akan tetap nyaman dan tidak menderita nyeri. Juga harus dikatakan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperpanjang hidup dan kematian akan berlangsung secara damai, ini akan mengurangi rasa sakit tentang kematian. Pasien yang merasa butuh perjuangan dalam menghadapi kematian dan bergumul dengannya dapat menjadi lega bila kita mengatakan “Adalah baik untuk pergi sekarang“. Dengan cara ini kematian yang sulit dapat menjadi kematian yang tenang.
Ketika informasi mengenai kematiannya diberitahukan, pasien lanjut usia berharap kondisinya diobati, pada dasarnya mereka ingin tetap hidup selama mungkin atau meninggal dengan tenang. Harapan itu normal dan sangat penting bagi lanjut usia tersebut upaya bertahan hidup.

Memberitahukan kepada keluarga
Walaupun mendapat fasilitas kesehatan yang profesional, pasien hanya mempunyai waktu yang singkat, keluarga mungkin tidak siap untuk kematian dan sangat merepotkan bila mereka tidak diperingatkan. Kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan, dapat terlewatkan dan ini dapat menyebabkan kesedihan yang mendalam, yang menimbulkan rasa kehilangan. Oleh karena itu keluarga dekat harus diberitahu mengenai hal ini.
Bagaimanapun, pasien yang diperkirakan hanya mempunyai waktu singkat dapat hidup lebih lama dari perkiraan. Karena ketidakpastian dari prognosis tersebut, maka rentang waktu yang lebar harus diberikan ketika memberitahukan kepada keluarganya.

V. TAHAP – TAHAP PENERIMAAN TERHADAP KEMATIAN
Dalam menghadapi maut, setiap penderita akan memberikan reaksi yang berbeda tergantung dari kepribadian dan cara mereka menghadapi hidup ini. Sebab itu kita harus meneliti dengan cermat, di manakah letak kelemahan itu, dan di mana pula letak kekuatannya, agar penanganan selanjutnya lebih terarah lagi.
Bila kelemahan terletak dari segi spiritual, sudah selayaknya untuk dicarikan upaya agar penderitaan seperti ini dapat diringankan. Apabila kegelisahan yang timbul diakibatkan oleh persoalan keluarga, maka harus diyakinkan bahwa kalaupun keluarga itu ditinggalkan, masih ada orang lain yang dapat mengurus mereka. Sedangkan bila “rasa bersalah“ selalu menghantui, sebaiknya seorang rohaniwan dapat mendampingi penderita dan mendengarkan keluhannya maupun pengakuan–pengakuannya.
Beberapa tahap yang akan dilalui oleh setiap penderita dalam fase terminal yang dikemukakan oleh Elizabeth Kubler Ross (1969) setelah menyelidiki 200 kasus adalah :
1. Pengingkaran
Hampir setiap penderita pada fase ini masih menyangsikan diagnosis dari dokternya. Mungkin sekali diagnosis dokter itu keliru. Salah satu kasus yang diungkapkan adalah seorang wanita yang diberitahukan tentang penyakitnya yang serius, mula–mula mengatakan, “Foto itu bukan foto rontgen saya“. Kemudian ia berpindah ke dokter lain untuk berobat. Pengingkaran semacam ini semata–mata merupakan buffer terhadap kejutan berita yang tak terduga.
Fase pengingkaran yang berlarut–larut seringkali kurang menguntungkan penderita. Untuk mempercepat diselesaikannya fase pertama ini, dibutuhkan dukungan dan pengertian yang sebaik–baiknya.

2. Marah dan iri
“Mengapa harus aku yang dipanggil Tuhan? Mengapa bukan Bapak Anu atau Ibu Polan yang lebih tua dari aku?” Sudah tentu kemarahan semacam ini akan dilampiaskan pada peristiwa apa saja yang tentu sangat menyulitkan perawat maupun keluarganya. Penderita mulai mengeluh tentang dokter dan perawat yang tidak bisa merawat, keluarga yang kurang perhatian.
Lampu yang pada malam hari dimatikan dianggap sebagai suatu tanda bahwa mereka sudah tidak mau memperhatikannya lagi. Bila pada saat semacam ini ia diberi pengertian yang baik, ia merasa dihormati dan fase ini akan dilampaui dengan cepat

3. Tawar – menawar
Fase ini biasanya berlangsung tidak lama. Kelakuan penderita menjadi normal kembali dan kadang–kadang terlalu baik, seolah–olah penderita merasakan, “Apabila tidak dapat diingkari atau dimarahi, mudah–mudahan Tuhan meluluskan permintaan saya yang terakhir, yakni biarkan saya hidup lebih lama, sampai cucu saya yang pertama lahir. Atau sampai saya mengawinkan anak bungsu saya.” Seolah–olah ia mengharapkan hadiah dengan kelakuannya yang baik tadi. Ini seperti halnya seorang anak kecil yang mengharapkan diberi kembang gula, ia memperlihatkan sikap yang baik dan menarik.
Ia pun berjanji bahwa ia tidak akan meminta–minta lagi, asalkan permintaannya yang terakhir ini diluluskan. Dan seperti halnya janji anak kecil yang mengatakan “Saya tak akan mengganggu adik lagi,” merupakan janji yang tidak akan pernah ditepati. Pada saat inilah kita harus mampu menilai apakah penderita masih mempunyai ganjalan atau perasaan bersalah pada anak cucunya. Sebab hal ini haruslah ditanggapi secara baik dan hendaknya diselesaikan secara sempurna. Hiburan dengan mengarahkan ke segi religi dapat dilakukan.

4. Depresi
Penderita biasanya sedih untuk meninggalkan keluarganya, walaupun kita mengatakan “Jangan sedih“. Adalah taktis bila kita membiarkan penderita bersedih, dan mengekspresikannya secara alamiah. Kita hanya memberikan dukungan dengan memegang tangannya, mengusap rambutnya atau duduk disampingnya.
Pada fase ini, biasanya penderita sering berdoa dan memohon kepada Yang Maha Esa, atau lebih tepat bila dikatakan berdialog. Ia mulai memikirkan hal–hal yang akan datang. Fase ini sangat bermanfaat bagi penderita agar ia dapat meninggalkan dunia yang fana ini dengan damai dan masuk ke dalam fase berikutnya.

5. Penerimaan
Ini adalah tahap menyerah pada apa yang terjadi. Pada fase ini biasanya justru keluarga yang memerlukan lebih banyak pertolongan agar mereka rela ditinggalkan oleh penderita. Pasien biasanya tampak lelah sekali dan seringkali dijumpai dalam keadaan tertidur.
Jika fase sakit telah hilang, pergulatan juga telah selesai. Ia sudah siap untuk melakukan atau menempuh perjalanan yang panjang dan tak kunjung kembali. Ia menempuh perdamaian dan seringkali pada fase ini penderita tidak ingin ditengok. Kalaupun ada tamu datang, ia tidak ingin berbicara. Komunikasi seringkali dilakukan secara non verbal. Saat semacam ini sebaiknya perawat duduk di samping penderita dan memegang tangannya.

VI. DUKUNGAN DARI KELUARGA
Sebagian besar dukungan bagi kebutuhan “dying person“ biasanya hanya dapat diberikan oleh keluarga. Perhatian dan kasih sayang mereka adalah yang terpenting bagi pasien tersebut. Mereka membutuhkan dukungan dalam waktu kritis mereka dan kemudahan dalam penyediaan perawatannya. Mereka butuh dihargai atas sikapnya yang tegang dan diceritakan tentang pentingnya kontribusi keluarga dalam merawat pasien.
Ketakutan terbesar keluarga yang mengurus pasien di rumah adalah bahwa mereka tidak dapat menyediakan perawatan yang benar, atau tidak tahu apa yang harus dilakukan saat darurat. Sejauh mungkin, mereka memerlukan kebebasan dari ketidakpastian yang mungkin terjadi, dan merasa siap bila menghadapi keadaan–keadaan darurat. Anggota keluarga membutuhkan perasaan bahwa mereka dapat menolong dan membantu pasien sehingga pasien merasa nyaman. Dalam stadium terminal, mereka seharusnya tidak dikecilkan hatinya dari pengorbanan yang mereka lakukan bahwa mereka berkeinginan untuk memberikan sesuatu yang terakhir bagi pasien. Keluarga seharusnya disemangati untuk tinggal dekat pasien, sehingga mereka bisa belajar dari perawat yang berbicara pada pasien walaupun pasien tidak sadar. Mereka dapat menyampaikan kata–kata terakhir bagi pasien dan merasa bahwa itu berguna bagi pasien walaupun ia tidak merespon.

VII. PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kerangka kerja umum
Lanjut usia yang sakit jarang sekali memiliki suatu diagnosis yang cukup untuk menjelaskan seluruh gambaran klinis. Lebih sering lagi akan terdapat masalah–masalah kronis dan akut yang semakin berlipat ganda, elemen–elemen historis dan karakteristik fisiologis yang unik bagi masing–masing pasien. Ketika mengambil keputusan mengenai perawatan, seluruhnya harus menjadi bagian dari penilaian. Pemilihan perawatan akan bergantung pada situasi pasien keseluruhan dan tujuan–tujuan serta keinginan–keinginan pasien tersebut.
Ahli kesehatan juga harus menyadari pilihan mana yang tidak dapat dilaksanakan. Seorang dokter secara etika dan secara hukum dilarang untuk memberikan racun yang mematikan kepada seorang pasien. Pilihan–pilihan lainnya mungkin tidak dapat diterima pasien karena adanya batasan–batasan finansial, jarak perjalanan, atau kurangnya sumber daya.

Resusitasi
Perawatan–perawatan harus selalu dinilai dari hal–hal baik apa yang dapat diberikan kepada pasien. Dalam hal resusitasi kardiopulmoner bagi pasien lansia dapat menjadi masalah dan hanya menambah penderitaan saja.

Nutrisi pada pasien
Pemberian makanan khususnya bagi lanjut usia menjelang kematian memegang peranan yang penting. Seperti diketahui, lanjut usia beresiko tinggi mengalami masalah–masalah nutrisi, apalagi lanjut usia yang berada pada stadium terminal. Selain kelemahan fisik karena penyakit yang diderita ada juga segi psikologi pada pasien menjelang kematian. Asupan nutrisi ini berguna sebagai sumber energi, juga bermanfaat untuk menjamin keadaan pasien tidak makin menurun yang akhirnya bisa memperburuk keadaan umum pasien, sehingga jatuh pada keadaan yang lebih parah.
Faktor utama dalam makanan adalah cairan, karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Memang pada kenyataannya tidak semua bisa terpenuhi, namun minimal masih ada asupan yang adekuat untuk menjamin kebutuhan nutrisi pasien. Asupan cairan yang cukup merupakan nutrien penting yang dibutuhkan, tanpanya perawatan nutrisi lain akan sia–sia. Dalam kondisi normal lanjut usia membutuhkan asupan cairan 1500 ml tiap hari.
Jangan sampai pasien menjelang kematian jatuh dalam keadaan malnutrisi, di mana terjadi penurunan berat badan, peningkatan resiko kerusakan kulit akibat luka tekan, resiko peningkatan infeksi, kelemahan otot, kelelahan yang semuanya itu akan makin memperburuk keadaan umum pasien. Upaya pemberian makanan bisa dilakukan lewat sonde.
Persoalan–persoalan mengenai pemberian makanan artifisial terhadap pasien yang sekarat seringkali muncul. Adalah dibenarkan untuk tidak memberi pasien dengan makanan artifisial, namun hal–hal berikut secara umum dapat diterima.
1. Makanan dan air harus tersedia dengan bebas selama pasien mampu menelan dengan aman.
2. Metode–metode artifisial dengan menyediakan makanan kepada pasien yang tidak lagi dapat menelan makanan dan air seringkali dapat dilakukan dan diinginkan.
3. Kasus–kasus pengadilan tidak mengharuskan para pemberi perawatan untuk memberikan pemberian makanan artifisial kepada seseorang yang menderita penyakit secara serius yang berkeberatan dengan pemberian makanan.
Setiap keputusan harus disesuaikan dengan keadaan pasien dan keadaan khusus. Keputusan ini pada umumnya ditentukan oleh tim medis dengan berbagai macam pertimbangan. Selanjutnya, pasien tersebut dapat dimotivasi agar tabah dan menambahkan pengawasan medis hidrasi intravena. Seperti seluruh perawatan lainnya, pemberian makanan artifisial memiliki beberapa hal yang tidak nyaman dan beresiko.

VIII. MERANCANG PERAWATAN BAGI KENYAMANAN PASIEN
Tujuannya adalah mengelola gejala–gejala yang tidak diinginkan dan mengoptimalkan fungsi dan kenyamanan yaitu dengan merancang pendekatan untuk merawat, memanfaatkan medikasi, interaksi interpersonal, teknik keperawatan yang optimal dan sumber daya lainnya.
Kenyamanan ini mencakup kenyamanan fisik dan psikologis. Kenyamanan fisik berarti menjaga mereka terbebas dari rasa nyeri, sesak napas, kebersihan diri, konstipasi, imobilisasi, inkontinensia, dll. Sedangkan kenyamanan psikologis mencakup perasaan di mana mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi kematian, menghilangkan kecemasan, ketakutan, stres yang mungkin menekan mereka.

IX. PRINSIP – PRINSIP UMUM
Rute medikasi
Pemberian medikasi sewajarnya dilakukan secara per oral, karena biasanya lebih nyaman dan farmakodinamis yang lebih baik. Pemberian secara parenteral biasanya memberikan onset yang lebih cepat, namun hanya mempunyai durasi yang singkat saja. Setelah pasien tidak mampu mentolerir medikasi per oral, maka medikasi per rectal, subkutaneus, intramuskuler, atau intravena dapat dipergunakan. Pemakaian infus konstan (intravena, subcutaneus) analgesik opioid telah terbukti berguna.

Timing
Sebagian besar pasien yang mengalami rasa sakit atau gejala lain yang menjadi masalah akan menjadi lebih nyaman pada pemberian dosis regular sepanjang waktu daripada perawatan hanya setelah gejala menjadi jelas. Tujuan perawatan adalah menekan gejala–gejala dan mencegah munculnya kembali dengan dosis cukup.

Booster
Ketika gejala yang biasa terjadi tidak terkendali dengan baik, dukungan pengobatan parenteral di sela–sela waktu pemberian dosis medikasi oral paliatif dapat membantu memulihkan kendali suatu gejala dengan cepat dan juga memperkirakan jumlah medikasi yang akan dipergunakan secara reguler.

X. PERTIMBANGAN–PERTIMBANGAN ETIS
Tim perawatan berusaha keras untuk memelihara kehidupan pasien lanjut usia sampai benar–benar tidak bisa apa–apa lagi dan akan menyeimbangkan keuntungan potensial dari pengobatan dengan beban potensial. Tujuan utamanya adalah tidak hanya memperpanjang hidup, tetapi membuat hidup senyaman mungkin.

Pengobatan yang sesuai
Menjelang kematian, tujuan pengobatan adalah untuk membuat pasien lanjut usia senyaman mungkin. Pengobatan yang mungkin tepat untuk pasien akut belum tentu sesuai dengan pasien menjelang ajal. RJP, infus intravena, NGT, dan antibiotik adalah tindakan suportif utama pada pasien akut dan kronik untuk memulihkan kesehatannya. Pengobatan seperti itu tidak cocok untuk pasien menjelang ajal. Kita tidak bisa menentukan kematian yang tidak kunjung datang. Pengobatan harus tetap dilakukan. Poin–poin penting yang harus diperhatikan, yaitu :
 Prospek biologis pasien
 Sasaran pengobatan dan keuntungannya
 Efek yang merugikan dari pengobatan
Ketika kematian sudah dekat adalah bijaksana jika kita menyederhanakan pengobatan. Fe, multivitamin, dan kalium biasanya merupakan terapi suportif relevan diberikan bila pasien sudah akan meninggal. Antihipertensi berangsur dihentikan. Diuretik dapat mengakibatkan hipotensi postural walau dosis sudah dikurangi.

Dehidrasi terminal
Makanan dan cairan biasanya dikurangi pada stadium terminal dari sakit. Perlu dilakukan pengaturan dalam pemberian cairan. “Traditional hospice” menyatakan bahwa bila pasien tidak tertarik lagi untuk makan dan minum, pasien jangan dipaksa untuk menerimanya. Namun, banyak pasien terminal yang secara otomatis diberikan cairan intravena untuk balans cairannya. Alasan utama adalah kepercayaan bahwa dehidrasi pada pasien menjelang ajal membuatnya menderita. Staf hospice pada umumnya berpendapat bahwa dehidrasi ringan lebih menguntungkan daripada hidrasi yang cukup. Dikatakan bahwa bila terjadi dehidrasi akan menurunkan volume urin, sehingga pasien tidak perlu bolak–balik ke kamar kecil atau terjadi penurunan frekuensi mengompol. Penurunan sekresi paru, akan menurunkan frekuensi terjadinya batuk dan mengurangi kebutuhan suction. Penurunan sekresi traktus gastrointestinal, akan menurunkan frekuensi muntah pada pasien yang menderita obstruksi.
Indikasi untuk rehidrasi adalah pasien yang merasa mulutnya kering. Ini biasanya terjadi pada pasien yang menderita kanker. Mulut kering juga dapat disebabkan oleh karena obat–obatan, radioterapi lokal, terapi oksigen dan pernapasan melalui mulut. Perawatan mulut yang baik dan penetesan air melalui spuit dapat dicoba, yaitu 1–2 ml setiap 30-60 menit.

XI. MERENCANAKAN DAN MENGKOORDINASIKAN PERAWATAN
Merencanakan perawatan memerlukan pengetahuan mengenai perubahan–perubahan yang terjadi dan fasilitas apa saja yang tersedia. Keluarga juga perlu diberitahu bahwa kebutuhan perawatan akan meningkat dan perawatan apa saja yang tersedia bila pasien ingin dirawat di rumah.

Penanganan dirumah
Diperlukan ketersediaan dokter, informasi sumber–sumber di masyarakat, layanan 24 jam dan instruksi alternatif pemberian obat–obatan

Ketersediaan dokter
Dokter merupakan figur penting dalam pengelolaan gejala di rumah.. Dokter harus melakukan kunjungan rutin dan darurat ke rumah untuk melakukan tindakan medis atau hanya sekedar tinjauan.

Pengaturan obat
Jika pasien sulit menelan, sebaiknya diberikan dalam sediaan cair. Morfin cair dapat diberikan lingual, sublingual atau bukal. Tablet sublingual adalah sediaan terbaik karena jarang ditelan oleh pasien. Medikasi parenteral alternatif bagi pasien yang tidak dapat menelan. Cara pemberian lain yang dinilai lebih baik adalah dengan “syringe driver“

Perencanaan dalam masa kritis
Pada pasien terminal situasi dapat berubah dengan cepat. Antisipasi daftar obat yang dapat diberikan perawat tanpa konsultasi lebih lanjut dengan dokter, pada keadaan darurat.

Masalah perawatan
Kadang–kadang pasien harus dirawat secara inpatient, tetapi kadang pasien lebih menyukai untuk berada dirumah, walaupun sakit atau muntah terus-menerus. Sehingga komunikasi antar anggota keluarga sangat dibutuhkan guna mencegah desakan keluarga agar pasien dirawat.

Perawatan inpatient
Pasien yang tinggal sendiri atau yang keadaan umumnya relatif tidak baik, perlu mendapat perawatan inpatient. Dispnoe berat mudah diatasi dengan inpatient admission. “Home care“ sampai meninggal membutuhkan dukungan keluarga, perawat yang telaten, dokter yang perhatian. Diperlukan kapabilitas tim perawat yang cepat mengambil keputusan bila timbul masalah yang baru.

Lingkungan inpatient
Sebagian besar lembaga hospitium mempunyai ruangan dengan 3 sampai 6 tempat tidur. Susunan seperti ini memberikan dukungan mutual bagi beberapa pasien dan keluarganya dan mengurangi kekhawatiran dengan mengizinkan keluarga dan pasien untuk melihat bahwa kematian adalah damai. Kadang–kadang pasien memerlukan privasi dengan munculnya keinginan untuk dirawat dalam “single room“.

XII. FASE TERMINAL
Adalah fase di mana tujuan pengobatan harus ditinjau kembali dan apakah perlu menghentikan pengobatan yang berlangsung. Mungkin timbul gejala–gejala baru sehingga butuh pengelolaan baru pula. Jika terjadi pengurangan gejala maka pasien dapat meninggal dengan tenang.

Sebab-sebab Kematian
1. Penyakit
 Keganasan, misalnya Carcinoma (Ca hepar, Ca pulmo, Ca mammae)
 Penyakit Kronis, mis DM (Diabetes Mellitus)
2. Kecelakaan, misalnya epidural hematom

Penderitaan tidak selalu berkaitan dengan beratnya gejala. Bahkan bila gejala ringan pun pasien bisa sangat merasa menderita bila ia tidak menerima kalau dirinya akan segera meninggal. Penderitaan yang dialami oleh seseorang dapat terjadi dalam hubungannya dengan berbagai aspek dari seseorang, yaitu fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Penyebab utama penderitaannya adalah perasaan kehilangan arti dan tujuan hidup, perasaan dirinya tak dapat tertolong lagi, hilangnya harapan, kurang kontrol diri. Semua ini menimbulkan gejala fisik dan stres psikologik.
Beberapa hari menjelang kematian, pasien akan tampak sangat lemah dan hanya diam di tempat tidur. Penderitaan dapat dikurangi jika mengetahui sumber nyeri, mengubah arti nyeri, dan memberitahu bahwa nyeri bisa dikurangi. Aspek spiritual juga perlu diperhatikan. Trias terapi yang merupakan dasar hubungan suportif adalah: empati, kehangatan, dan ketulusan.

XIII. MERINGANKAN GEJALA–GEJALA PADA FASE TERMINAL
Banyak cara untuk meringankan gejala–gejala pada hari terakhir kehidupan pasien sebagai kelanjutan dari apa yang telah dilakukan. Kadang, masalah baru muncul pada fase terminal dan perlu ditangani segera.
1. RASA NYERI
Walaupun pasien akan segera meninggal, evaluasi yang cermat masih diperlukan bila pasien terlihat kesakitan. Misalnya anestesi lokal dalam bentuk gel dapat diberikan untuk luka baring yang nyeri atau pemakaian kateter dilakukan pada pasien yang mengalami retensi urin.
Sebagian besar pasien kanker mendapat pengobatan opioid kuat. Umumnya rasa sakit menjelang ajal tidak menjadi masalah bila penanganan sebelumnya cukup baik. Dari penelitian dilaporkan bahwa dalam 48 jam terakhir bagi sebagian besar pasien, kebutuhan analgesik meningkat dan muncul rasa nyeri yang baru. Hal ini perlu mendapat perhatian.
Sebagian besar rasa nyeri pasien dapat dikurangi dengan satu kali peningkatan dosis analgesik. Kadang rasa nyeri masih terasa, tetapi nyeri hebat yang persisten jarang terjadi.
Pasien yang mendapat OAINS untuk mengurangi nyeri akibat metastasis ke tulang kadang–kadang menderita nyeri yang rekuren bila pengobatan dihentikan karena kesulitan menelan. Dalam kasus ini perlu dipertimbangkan cara pemberian obat secara parenteral.
Pasien mungkin akan merasa terganggu oleh rasa nyeri walaupun ia tidak sadar. Mereka mungkin juga tergantung secara fisik terhadap opioid dan gejala withdrawal akan muncul bila medikasi analgesik dihentikan tiba–tiba ketika mereka tidak dapat menelan. Oleh karena itu disarankan juga untuk pemberian preparat supositoria, sublingual atau injeksi.
Dalam fase terminal, pasien sering menunjukkan rasa nyeri karena pergerakan, misalnya mengerang atau menangis, walaupun mereka dalam keadaan tidak sadar yang dalam. Keadaan ini mungkin berkaitan dengan kekakuan sendi dan terjadinya pergerakan spontan. Tanda–tanda ketidaknyamanan juga mungkin timbul sebagai bentuk “alarm respons” dari rasa terganggu.
Gangguan nyeri dapat dikurangi dengan memberitahukan pada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan dan prosedurnya. Bagi pasien stupor pemberian obat dapat diubah dari setiap 4 jam menjadi 5–6 jam. Pada keadaan tertentu, dosis per hari juga dapat dikurangi sampai seperempatnya tanpa menimbulkan gejala withdrawal.
Jika penggunaan “syringe driver“ tersedia, ini akan membuat pasien lebih nyaman dibandingkan dengan injeksi berulang atau suppositoria.

2. GEJALA–GEJALA RESPIRASI
DISPNOEA
Dispnoea terminal mungkin disebabkan oleh multifaktorial dan mungkin tidak dapat dikurangi sepenuhnya. Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi gejala sesak napas yang terlihat. Kesukaran bernapas biasanya diasosiasikan dengan takipnoea yang disertai kecemasan. Sentuhan yang lembut dan suara yang lembut dapat meredakan kecemasan dan bila teknik relaksasi dan kontrol napas dapat dilakukan, takipnoe dapat dikendalikan. Bagaimanapun tabung oksigen harus tersedia bila pasien sianosis.
Pengalaman menunjukan bahwa sesak napas yang tampak dapat diatasi dengan pemberian morfin untuk mengurangi frekuensi napas sampai dengan batas normal, sekitar 16–20 kali/menit. Pasien yang mendapat morfin untuk nyerinya memerlukan dosis morfin 50 % lebih banyak. Bila terdapat ansietas dan dispnoea saat istirahat dapat diberi ansiolitik seperti diazepam 5–10 mg segera dan 5–20 mg pada malam hari.
Morfin nebulizer dapat mengurangi sesak napas dan berefek minimal pada perubahan gas darah dan tanda–tanda vital. Pasien asma tidak termasuk di dalamnya untuk mencegah henti napas yang fatal. Klorpromazin juga dilaporkan efektif bagi kanker stadium lanjut dengan sesak napas.
Peningkatan konsentrasi oksigen yang dihirup mengurangi sesak napas karena gagal jantung kronis. Efek suplementasi oksigen bagi pasien dispnoea dengan COPD masih kontroversial. Beberapa bukti menunjukkan bahwa oksigen berguna dalam meringankan dispnoea pada pasien dengan kanker terminal tanpa COPD.

RESPIRATORY PANIC ATTACKS
Serangan ini adalah episode mendadak dari dispnoea pada pasien yang telah mengalami dispnoea dan berusaha untuk tetap bernapas. Episode ini umumnya terjadi saat aktivitas seperti naik tangga. Perhatian dalam pengelolaan adalah dengan meredakan ansietas akut. Pasien diminta untuk bernapas secara perlahan dan dalam. Dapat pula diberikan ansiolitik kerja cepat (Lorazepam 0,5 mg sublingual).
Stridor akut berat mungkin disebabkan karena perdarahan akibat penekanan tumor pada trakea. Tindakan yang dapat diambil termasuk pemberian diazepam atau midazolam intravena sampai pasien tidur (5–20 mg) atau larutan diazepam 10–20 mg per rectum atau midazolam 10–20 mg secara subkutan bila pemberian IV tidak memungkinkan.

DESIS KEMATIAN ( DEATH RATTLE )
Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret dari orofaring dan trakea sering menghasilkan pernapasan yang berisik seperti sekret yang mengalir ke atas dan ke bawah saat ekspirasi dan inspirasi. Pendekatan yang biasa dilakukan adalah :
– Penjelasan pada pihak pasien
– Jika pasien stupor, posisikan dalam posisi koma
– Berikan obat antikolinergik untuk mengurangi sekresi faringeal
Obat–obatan antikolinergik tidak mengeringkan sekresi yang telah ada . Jika sekresi telah terakumulasi, aspirasi mungkin diperlukan. Di rumah, perlu disarankan untuk melakukan tindakan pencegahan pada pasien stupor. Skopolamin sering digunakan karena mempunyai efek sedatif (0,4 mg).
Hyoscine butilbromida (Buscopan) meningkat penggunaannya sebagai alternatif yang lebih murah. Dosis standar yang biasa digunakan adalah 1 ampul dan diulang bila perlu atau dengan interval 4 jam atau dengan continuous subcutaneous infusion yang lebih murah. Misalnya dosis 20 mg diikuti dengan 20–40 mg selama 24 jam. Atropin dan hiosamin dapat pula digunakan tetapi perlu dikombinasi dengan midazolam untuk mencegah eksitasi.

TAKIPNOEA YANG BISING PADA PASIEN MENJELANG AJAL
Pada keadaan ini terjadi peningkatan frekuensi napas (30–50 kali/menit) yang mendengus dan bising. Pergerakan otot perut dan dada sangat menonjol yang menunjukkan kesan penderitaan terminal yang berat. Dalam keadaan ini, morfin atau diamorfin (secara IV) adalah obat terpilih dan harus segera diberikan tanpa menunggu frekuensi napas mencapai 10–15 kali/menit. Bagi pasien yang tidak menggunakan opioid kuat, dosis morfin 20–30 mg (diamorfin 10–15 mg) sudah mencukupi.
Tujuan dari terapi adalah mengurangi kebisingan dengan mengurangi frekuensi napas dan napas yang dalam. Jika pergerakan otot masih nampak, midazolam 10–20 mg secara parenteral atau diazepam 20–30 mg per rectal mungkin diperlukan.

3. MASALAH – MASALAH GASTROINTESTINAL
ANOREXIA
Para pasien seringkali kehilangan nafsu makan bersamaan dengan hilangnya keinginan untuk hidup. Meskipun demikian, anoreksia dapat terjadi akibat sakit mulut atau disfagia dari penyebab–penyebab yang dapat disembuhkan. Perhatian mengenai pilihan makanan, lingkungan dan presentasi makanan dibuat sederhana namun dalam ukuran–ukuran yang efektif. Stimulasi farmakologis nafsu makan biasanya tidaklah berhasil, meskipun beberapa orang mengatakan bahwa meminum alkohol sebelum makan dapat berguna. Beberapa pasien efektif dengan pemberian steroid untuk meningkatkan nafsu makan.

MUAL – MUAL DAN MUNTAH
Mual–mual dapat disebabkan oleh faktor lokal (gastritis, obtruksi, dll). Antasid dan AH2 umumnya dapat digunakan untuk mengurangi gejala–gejala. Proklorperazin (Compazine) atau dosis kecil haloperidol (Haldol) seringkali efektif. Gastrik paresis atau ileus fungsional ringan dapat berespon dengan tambahan metoklorpropamid (Reglan) 10 mg per oral sebelum makan.

KONSTIPASI
Konstipasi adalah keluhan umum pasien–pasien menjelang ajal. Pada pasien yang memerlukan jumlah narkotika yang besar dan mereka yang memiliki larangan aktivitas dan diet, efek konstipasi dapat menjadi sebuah pertimbangan penting. Seringkali masalah tersebut terlambat diketahui bahkan ketika pasien berada di rumah sakit dan menerima pengawasan medis yang cermat. Melalui pengawasan yang cermat, masalah dapat diatasi dan disembuhkan secara dini.
Penambahan air dan serat pada asupan makanan untuk menyembuhkannya dengan pemberian hidrasi yang ideal dapat dilakukan, namun ukuran–ukuran tersebut dapat menjadi tidak praktis bagi pasien lansia yang menjelang ajal, khususnya mereka dengan konstipasi kronis, dan hal ini merupakan suatu keadaan di mana pelunak kotoran (dokusate, psilium hidrofilik musiloid) dan perawatan agresif dengan pencahar oral perlu dicoba. Jika gagal, maka dilakukan disimpaksi manual, supositoria dan enema dilakukan berurutan. Kewaspadaan dan ketekunan diperlukan untuk pencegahan dan perawatan.

MULUT KERING
Efek–efek medikasi antikolinergik seringkali menyebabkan mulut menjadi kering dan sakit. Terapi radiasi juga dapat memberikan kontribusi bagi kondisi yang menyakitkan ini. Perawatan mulut yang lembut dan menyeluruh dapat mengurangi efek medikasi kausatif dan buruknya hidrasi. Pembersih mulut gliserin dan asam sitrat memberikan hasil yang baik. Xylocain Viscous 1 hingga 2 % atau saliva artifisial (Salivart) dapat berguna.

SARIAWAN MULUT ( ORAL THRUSH )
Kandidiasis dapat melemahkan secara ekstrim dan dapat mengurangi masukan makanan per oral yang memadai. Gejala–gejalanya tidak melibatkan esophagus secara umum. Suatu formula yang diberi nama “Magic Mouthwash“ yang terdiri dari 1 ons masing–masing difenhidramin cair, mintox, nistatin dan xylocain viscous 2 %, 5cc pengecer, Qid, sangatlah berguna. Suspensi oral nistatin (Mycostatin) atau troche, klotrimazol troche (Mycelex) atau ketokonazol troche (Nirazol) mungkin diperlukan bagi kasus–kasus yang refrakter atau sulit disembuhkan. Terapi perlu dilanjutkan selama 2 hingga 4 minggu setelah seluruh tanda–tanda klinis menghilang.

4. PERUBAHAN–PERUBAHAN STATUS MENTAL
KECEMASAN
Pasien menjelang ajal memiliki kecemasan yang mengganggu, ini memerlukan penilaian penyebab–penyebab potensial yang dapat disembuhkan (seperti hipoksemia, rasa sakit, atau rasa takut). Seringkali staf profesional yang tersedia itu sendiri akan meredakan kecemasan.
Pemberian long acting benzodiazepin (flurazepam, diazepam) sebaiknya dihindari. Efek–efeknya dapat menjadi paradoks dan waktu paruh yang memanjang mencegah penyesuaian yang cepat jika pasien tidak toleran dengan efek–efek dari obat–obatan tersebut. Lorazepam (Avitan) atau Alprazolam (Xanax) adalah short acting benzodiazepin yang dapat menjadi pilihan.
Obat–obatan lain yang berguna untuk mengatasi kecemasan termasuk di antaranya difenhidramin (Benadryl) dan hidroksizin (Atarax, Vistaril) yang biasanya dapat ditolerir dengan baik dan efektif selama 4 hingga 6 jam.
HALUSINASI
Jika pasien berhalusinasi, antipsikotik seperti Haloperidol (Haldol), Klorpromazin (Thorazine), dan Tioridazin (Mellaril) dapat berguna dalam meminimalkan input–input halusinatori bagi proses pemikiran pasien dan sekaligus menjadi penenang. Adalah hal yang bijaksana untuk memulainya dengan dosis kecil (seperti haloperidol 0,5 mg) dan pada akhirnya meningkatkan dosis tersebut. Beberapa pasien mungkin membutuhkan waktu yang hanya sedikit jumlahnya untuk memperoleh efek yang dinginkan.

DEPRESI
Metilfenidat (Ritalin) dapat menjadi berguna dan hasilnya dapat dilihat dengan segera. Antidepresan trisiklik juga berguna, dengan sedasi nokturnal yang seringkali menjadi efek samping yang berguna. Manfaat–manfaat antidepresan dari perawatan tersebut memerlukan waktu sedikitnya beberapa hari.

5. KULIT
KULIT PECAH–PECAH
Kulit pecah–pecah adalah ketakutan seluruh pasien yang terbaring terus di ranjang. Orang menjelang ajal memiliki resiko khusus karena mereka dapat menghadapi seluruh keadaan yang menyebabkan kulit pecah–pecah, seperti kurang gizi, inkontinen isi perut dan kandung kemih, berkurangnya mobilitas dan lingkungan yang tidak sehat. Ulkus decubitus adalah hal yang sangat menyakitkan dan dapat memberikan kontribusi bagi morbiditas yang lebih lanjut dan mortalitas dini pada pasien menjelang ajal.
Pasien tersebut harus diubah posisinya setiap 2 jam. Mengurangi lipatan pada kulit adalah hal yang penting. Pasien tersebut tidak boleh ditarik di atas kain. Penutup ranjang yang lembut (seperti matras busa lembut) juga membantu menyebarkan tekanan. Matras pengurang tekanan sangatlah mahal sehingga tidak terjangkau oleh sebagian besar pasien. Meskipun demikian, beberapa produk yang tidak terlalu mahal sedang dikembangkan dan bermanfaat.

TUMOR–TUMOR GANAS
Massa tumor yang besar di permukaan adakalanya mengembangkan area nekrosis dan infeksi, dengan lesi sangat bau yang sakit. Terapi radiasi lokal dapat menjadi efektif bagi control temporer lesi tersebut. Jika perdarahan kapiler terus–menerus adalah masalahnya, bantalan yang direndam dalam epinefrin 1:1000 dapat digunakan. Perdarahan kecil terus–menerus dapat terjadi akibat radioterapi. Pencemaran bau dapat dikendalikan dengan tetrasiklin topikal.

PRURITUS
Medikasi untuk menahan rasa gatal salah satu diantaranya adalah Difenhidramin (Benadryl), Hidroksizin (Iterax), atau anti jamur topikal atau krim steroid. Hidrasi kulit sangatlah berguna dan dapat diperoleh dengan meningkatnya asupan cairan, lotion, mandi.

6. KEJANG
Pasien menjelang ajal karena tumor–tumor sistem saraf pusat atau dengan perubahan–perubahan metabolik yang amat besar dapat menimbulkan aktivitas kejang. Secara umum, regimen antiserangan adalah sama pada pasien dengan serangan kejang. Fenitoin (Dilantin), fenobarbital, karbamazepin (Tegretol), primidon (Mysoline) umum dipergunakan.
Bagi kasus epileptikus, diazepam IV (Valium) adalah obat terpilih. Valium IM menyerap secara tidak teratur. Jika tidak terdapat akses IV, Lorazepam IM (Ativan) dapat menjadi pilihan, karena dapat diserap secara baik. Pada keadaan tersebut dapat diberikan peningkatan 2 mg hingga serangan reda. Lorazepam harus ditempatkan di tempat yang sejuk.
Serangan–serangan dapat muncul dari tekanan intrakranial yang meningkat dan dapat dikurangi dengan steroid. Decadron 4 mg setiap 4 jam selama 2 hingga 3 hari, dapat dicoba untuk melakukan tindakan perawatan yang logis.
7. TRAKTUS GENITOURINARIA
INFEKSI TRAKTUS URINARIUS
Seorang pasien yang terganggu oleh gejala–gejala traktus urinarius, seperti disuria atau frekuensi dapat memiliki infeksi traktus urinarius akut. Untuk menanggulangi gejala yang mengganggu tersebut, biasanya dirawat dengan antibiotik yang cukup dan Fenazopiridin (Pyridium)
.
INKONTINENSIA URIN
Inkontinensia urin adalah masalah umum pada pasien lansia. Penggunaan kateter (foley) bagi pasien geriatrik dapat diteruskan dengan aman pada pasien menjelang ajal. Jika rasa sakit dan dismobilitas adalah masalah yang menonjol, kateter dapat digunakan untuk pertimbangan kenyamanan dan mencegah kulit pecah–pecah.

XIV. PENGELOLAAN KEMATIAN

MENINGGAL SECARA TERHORMAT
Salah satu masalah terbesar yang dialami oleh pasien lanjut usia adalah kematian. Setiap pihak hendaknya terlibat dalam masalah perawatan mengadapi kematian. Meninggal secara terhormat berarti seseorang diperlakukan secara manusiawi bahkan saat meninggal sekalipun. Rasa hormat dijadikan prinsip, di mana setiap individu harus dihargai.

MASA BERKABUNG
Puncak dari segala perawatan paliatif adalah terjadinya kematian. Perawatan dalam bentuk tim bagi pasien lanjut usia juga menyediakan kenyamanan dan memberi ketentraman kepada keluarga dan kerabat dekat. Sudah menjadi kewajiban keluarga untuk mengabulkan semua permintaan terakhir pasien sebagai wujud penghargaan pada pasien sebagai individu maupun sebagai jenazah sekalipun.
Keluarga dan kerabat dekat umumnya mengalami masalah selama berkabung. Masalah–masalah berkabung tersebut diantaranya :
– Menerima realitas kematian tersebut
– Tabah menjalani duka karena kematian tersebut
– Menyesuaikan dengan lingkungan di mana almarhum dirindukan
– Mengumpulkan energi emosional dari almarhum dan menginvestasikan energi tersebut dalam hubungan–hubungan lain dan aktivitas lain.

Setelah kematian terjadi, keluarga dan teman perlu dianjurkan untuk berbicara tentang almarhum. Rasa kehilangan yang mendalam yang mengakibatkan disfungsi perlu mendapatkan konseling profesional.

PERTIMBANGAN–PERTIMBANGAN ESTETIKA
Tim berupaya keras untuk merawat lanjut usia dengan cara menyenangkan baik kepada pasien maupun keluarganya. Bahkan terhadap pasien yang tidak responsif. Ukuran–ukuran ini menunjukan adanya rasa hormat bagi pasien tersebut untuk tetap bertahan sambil melawan perkembangan proses sekarat.

KEMATIAN DI RUMAH
Dengan bantuan keluarga, teman, dan pemberi perawatan, lanjut usia dapat menjalan hidup terakhirnya dirumah. Sehingga kebutuhan–kebutuhan kemasyarakatan terpenuhi dan keluarga tidak direpotkan dengan ”tugas–tugas prosedural” saat kematian. Koordinasi dan perencanaan diperlukan. Pengaturan pemakaman harus dibuat dahulu. Pada saat jam kematian, pemberi perawatan harus meminta dokter untuk mencatat hal–hal yang diperlukan untuk kepentingan selanjutnya, misalnya otopsi.

LEMBAGA HOSPITIUM
Lembaga ini didirikan dengan izin Departemen Kesehatan. Penghuninya adalah lanjut usia berpenyakit menahun yang berada dalam stadim terminal. Petugas perawatan di hospitium harus profesional dan terlatih.

XV. KESIMPULAN
Perawatan paliatif pada lanjut usia adalah bagian penting dalam pelayanan geriatri. Perawatan paliatif bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Pada pasien paliatif, prioritas pelayanan kesehatan berubah dari pengobatan ke perawatan. Perawatan paliatif ditujukan pada pasien dengan kanker semua stadium, HIV/AIDS, dan kelainan yang bersifat kronis.
Pada perawatan paliatif diperlukan suatu “team work“ yang terdiri dari dokter, psikolog, perawat, terapi rehabilitasi, ahli gizi, pekerja sosial, dll yang bersama–sama memberikan tindakan yang terpadu kepada pasien dan keluarganya. Diperlukan suatu cara pendekatan terhadap pasien, cara pemberian informasi.
Untuk pasien dengan fase terminal banyak cara yang dapat dilakukan dalam meringankan gejala-gejala yang menyusahkan. Medikasi pada pasien terminal meliputi terapi suportif, nutrisi, perancangan perawatan yang memberikan kenyamanan bagi pasien dan penatalaksanaan rasa sakit.
Puncak dari perawatan paliatif adalah kematian. Pengelolaan kematian harus dikerjakan dengan sebaik–baiknya sebagai wujud penghargaan kepada pasien sebagai individu, sehingga dapat meninggal secara terhormat.

DAFTAR PUSTAKA

Setiabudhi, Tony, dkk. Menuju Lanjut Usia Sejahtera. Perpustakaan Nasional. Jakarta, 1995
Setiabudhi, Tony; Hardywinoto. Panduan Gerontologi: Tinjauan dari Berbagai Aspek, Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, 1999.
Exton-Smith. Guidelines in Medicine Volume 1 Geriatrics. University Park Press. Baltimore, 1979.
Doyle, Derek, dkk. Oxford Textbook of Palliative Medicine: First edition. Oxford University Press, 2001.
Doyle, Derek, dkk. Oxford Textbook of Palliative Medicine: Second edition. Oxford University Press, 2001.
http://www.who.int/cancer/palliative/definition/en/
http://en.wikipedia.org/wiki/Palliative_care
http://rumahkanker.com/content/view/24/45/
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=2&id=184975&kat_id=105&kat_id1=150

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *