BAB XXXVI
PERANAN ANTIOKSIDAN PADA LANJUT USIA

TUJUAN BELAJAR

TUJUAN KOGNITIF
Setelah membaca bab ini dengan seksama, maka anda sudah akan dapat:
1. Mengetahui penggolongan radikal bebas dan antioksidan.
2. Mengetahui proses menua.
3. Mengetahui factor pemicu radikal bebas.
4. Mengetahui penggolongan antioksidan dan nutrien antioksidan.
5. Mengetahui peranan antioksidan pada penyakit kronik.

TUJUAN AFEKTIF
Setelah membaca bab ini dengan dengan penuh perhatian, maka penulis mengharapkan anda sudah dapat:
1. Mengetahui bahaya radikal bebas.
2. Mengetahui macam-macam antioksidan pada nutrien.
3. Menerapkan pengetahuan tentang manfaat yang didapat dari antioksidan pada penyakit kronik.

I. PENDAHULUAN
Penyakit menular atau tidak menular tentu saja mempengaruhi fungsi organ dan mungkin mempersingkat umur manusia. Radikal bebas merupakan senyawa yang sampai saat ini dianggap berperan baik dalam proses timbulnya penyakit maupun dalam perkembangan penyakit selanjutnya. Dalam penelitian lebih lanjut ternyata Radikal bebas tidak selalu bekerja sendiri namun juga membentuk jaringan atau network yang secara simultan berperan penting dalam pekembangan suatu penyakit.
Pasien geriatrik pada dasarnya memang mempunyai lebih dari satu penyakit yang diderita, diantara beberapa penyakit tersebut, penyakit kronik degeneratif merupakan salah satunya. Penyakit kronik yang diderita acap kali menganggu kualitas hidup bahkan mengancam jiwa. Kualitas hidup yang terganggu tidak saja dalam lingkup ragawi namun juga dalam tampilan gejala klinik di bidang jiwa. Para lanjut usia yang tidak sakit juga mengalami penurunan fungsi berbagai organ, walaupun perjalanannya lambat itu adalah proses menua normal.
Pada proses menua didapatkan keterbatasan karena adanya penurunan fungsi organ-organ yang dikenal sebagai Geriatric Giants, antara lain : instabilitas, intelektual impairment ( demensia ), isolasi ( depresi ), inkontinensia, immunodefisiensi, infeksi, impaksi ( konstipasi ) insomnia, impairment of vision, hearing, taste, smell, communication.
Terjadi penurunan faal organ pada proses menua seperti limfosit berkurang, berkurangnya air dalam tubuh dari 80% menjadi 60%, protein berkurang lemak bertambah, perubahan rate metabolic, kekakuan dinding dada, elastisitas berkurang, penurunan bersihan mukosilier, menurunnya refleks batuk, diameter pembuluh darah menyempit disertai peningkatan resistensi dan turbulensi aliran darah.
Terjadi fibrosis miokard regional dengan penebalan ventrikel kiri, terjadi perubahan struktur pada usus halus yaitu adaptasi atau kemampuan kompensasi terhadap penyakit. Jumlah glomerulus akan berkurang terus sejalan dengan usia.

II. PROSES MENUA
Berbagai teori berkaitan dengan mekanisme proses menjadi tua. Pada dasarnya saat ini terdapat 3 kelompok mekanisme yang dianggap berperan pada proses menua, yaitu kecepatan perbaikan perbaikan DNA akibat kerusakan oleh sinar Ultraviolet, teori glikosilasi dan teori radikal bebas. Selain teori diatas, terdapat 2 teori yang akhir-akhir ini mendapat perhatiaan yaitu teori restriksi kalori dan telomere.
Mekanisme restriksi kalori dalam proses penuaan dijelaskan berdasarkan fakta bahwa usia akan lebih panjang 40% jika diberikan pola diet yang terbatas ( 60% dari total kalori yang dapat mereka makan ) dengan catatan mikronutrien tercukupi. Pembatasan kalori ini tidak saja memperpanjang usia namun juga terbebas dari penyakit dalam waktu yang lebih lama.
Telomere adalah sekuens DNA yang terdapat di ujung kromosom manusia yang memendek setiap kali sel mengalami mitosis. Jadi dengan mengukur panjang telomere tersebut maka akan diperoleh informasi tentang jumlah pembelahan sel yang telah terjadi.
Teori yang sampai saat ini banyak dianut sebagai dasar proses menua adalah teori radikal bebas. Teori radikal bebas menjelaskan proses menua berdasarkan timbulnya kerusakan jaringan yang disebabkan oleh molekul atau atom yang struktur elektron dilapisan terluarnya tidak lengkap. Radikal bebas dapat terbentuk akibat hilangnya atau penambahan elektron di lintasannya pada terputusnya ikatan kovalen atom atau molekul yang bersangkutan. Energi untuk memutuskan ikatan kovalen tersbut berasal dari panas, radiasi elektromagnetik atau reaksi redoks berlebihan.
Sebenarnya radikal bebas dapat dirusak oleh enzim protektif yang dibentuk oleh tubuh. Namun jika terdapat radikal bebas yang tidak terdestruksi ( karena jumlahnya lebih banyak ) maka radikal bebas tersebut akan merusak membran organel subseluler seperti membrane mitokondria dan membrane mikrosom.
Akhir-akhir ini didapatkan bukti bahwa radikal bebas juga mampu merusak konstituen sel lain seperti DNA dan protein.
Keadaan tersebut akan mengakibatkan terjadinya kerusakan sel. Bentuk kerusakan yang tampak misalnya kerusakan endotel dengan munculnya berbagai proses degeneratif.
Berbagai penyakit yang berhubungan dengan radikal bebas, yaitu kardiovaskuler, diabetes melitus, demensia, alzheimer, gangguan parkinson, karsinoma, katarak, hipertensi, osteoporosis, aterosklerosis, dll.

III. RADIKAL BEBAS
Radikal bebas ialah atom atau molekul dengan susunan electron tidak lengkap atau tidak berpasangan sehingga bersifat tidak stabil dan kecenderungan kuat untuk berpasangan. Radikal bebas bertendensi kuat memperoleh elektron dari atom lain, sehingga atom lain yang kekurangan satu elektron ini menjadi radikal bebas pula yang disebut radikal bebas sekunder. Proses ini akan berlangsung berantai dan menyebabkan kerusakan biologik. Radikal bebas menyebabkan efek samping invivo sehingga terjadi injury sel atau disfungsi dan diikuti inflamasi dan pada akhirnya terjadi penyakit degeneratif. Hilang atau bertambahnya satu elektron pada molekul lain menyebabkan terjadinya radikal bebas baru dan mengakibatkan perubahan dramatis secara fisik dan kimiawi pada tubuh manusia.
Secara normal radikal bebas terdapat dalam sistem biologi dan penting untuk mempertahankan hidup. Karena pengaruh atmosfer yang berisi oksigen, terjadilah metabolisme aerobic sehingga terbentuk radikal bebas dari molekul oksigen ( oksigen diradikal ) dan molekul aktif.
Molekul oksigen mempunyai dua sisi, satu sisi menunjang kehidupan, sisi lain menimbulkan toksisitas. Oksigen dalam keadaan basal mengandung dua elektron yang tidak berpasangan sehingga cenderung mencari elektron lain. Molekul oksigen diradikal berada dalam posisi energi rendah dan dapat menerima energi yang menyebabkan terjadinya perubahan konfigurasi elektron sehingga bersifat radikal kuat. Molekul oksigen diradikal 7-8 kali lebih mudah larut dalam lingkungan nonpolar misalnya pada lapisan membrane lipid bilayer yang banyak mengandung asam lemak.
Mula-mula dirangsang ( initiation ) terjadinya radikal bebas, kemudian radikal bebas cenderung bertambah banyak ( propagate ) membuat rantai reaksi dengan molekul lain. Senyawa reaksi berantai ini mempunyai masa paruh yang lebih panjang dan potensial menyebabkan kerusakan sel. Fase inisiasi dan propagasi dapat dinetralisir oleh antioksidan yang berasal dari endogen maupun eksogen.
Radikal bebas dapat dirusak oleh enzim protektif yang dibentuk tubuh yaitu superoksid dismutase, katalase dan glutation peroxidase yang disebut sebagai antioksidan endogen. Bila terdapat sebagian radikal radikal bebas yang tidak terdestruksi maka radikal bebas tersebut akan merusak membrane organel subselular seperti membrane mitokondria dan mikrosom.
Sumber produksi radikal bebas yaitu berasal dari transport electron mitokondria, metabolisme peroksidasi asam lemak, reaksi enzim sitokrom P-450 mikrosom, sel fagosit, deaminasi dopamine oleh monoamine oksidase, katalitik pembentukan NO.

A. Radikal bebas dan fungsinya
 Radikal hidroksil ( OH )
Oksidan paling kuat, masa paruh pendeknya, bereaksi ditempat terbentuknya, menyerang kebanyakan molekul biologi, menyebabkan reaksi berantai radikal bebas.
 Anion superoksid ( O2 )
Tidak reaktif, oksidan lemah, lebih kuat sebagai reduktan kompleks Fe, penting sebagai sumber OH dan H2O2.
 Nitrogen monoksid ( NO )
Radikal fisiologis , mediator tonus pembuluh darah.
 Peroksinitrit ( NO3 )
Oksidan kuat, dihasilkan NO + O2
 Asam hipoklorit ( HOCL )
Diproduksi fagosit aktif dari H2O2.
 Logam transisi ( Fe, Cu )
Valensi variable, penting dalam reaksi biologi.

B. Pengolongan radikal bebas
1. Radikal bebas endogen
Merupakan hasil samping reaksi biokimia dalam tubuh. Makhluk hidup akan selalu memproduksi radikal bebas sebagai produk samping dari proses pembentukan energi. Energi itu diperoleh dari proses metabolisme dengan mengoksidasi ( membakar ) zat-zat makanan seperti karbohidrat, lemak dan protein. Dalam proses oksidasi ini terbentuk radikal bebas dan ROS ( Reaktif Oxidative Species ), yaitu anion superoksid dan hidroksil radikal yang turut terproduksi. Radikal bebas dan ROS mudah menempel pada sel-sel tubuh dan merusak dengan mengambil satu electron dari sel-sel tubuh.
2. Radikal bebas eksogen
Terbentuk karena pengaruh diluar tubuh. Bahan dasar radikal bebas masuk ke dalam tubuh antara lain obat-obatan ( kemoterapeutika ), udara ( pestisida, polusi udara, asap rokok, minum alkohol ). Sinar ultraviolet yang menerpa suatu benda terus menerus menyebabkan electron atom benda tersebut akan melompat dari orbitnya dan terciptalah radikal bebas.

Beberapa faktor pemicu radikal bebas adalah
1. Asap rokok
Radikal asap masuk dalam tubuh melalui sistem pernafasan. Molekul oksigen yang tidak stabil dapat langsung merusak jaringan paru-paru atau memicu lepasnya spesies oksigen reaktif dalam sel-sel tubuh termasuk sel darah putih.
2. Pencemaran udara
Sebagian radikal bebas menyusup dalam tubuh dan terbentuknya pada saat udara yang tercemar mulai menembus membrane sel.
3. Obat-obatan
Termasuk obat antikanker seperti doxorubicin ( andriamycin ). Obat ini selain menyerang sel kanker juga dapat menimbulkan efek damping pada otot jantung melalui pelepasan radikal bebas.
4. Sinar Ultraviolet
Sinar yang kuat ini dipancarkan matahari dan dapat merusak sel.
5. Pestisida dan zat kimia pencemaran lain
Masuk kedalam tubuh melalui makanan dan minuman dan terus menerus dicerna.
6. Olahraga yang berlebihan
Latihan yang berlebihan dapat menghasilkan radikal bebas tambahan sesuai dengan bertambahnya kebutuhan energi dan pembakaran biolomia dalam tubuh. Biasanya kerusakan lebih parah terjadi pada olahraga yang berat dan berlebihan ( Contoh lari marathon yang menempuh jarak melebihi marathon biasa ).
7. Kelainan sendi dan jaringan ( otot tegang dan nyeri )
Radikal bebas dipancarkan pada tempat luka atau otot yang digunakan secara berlebihan.
8. Diabetes tak terkendali
Penderita diabetes bertahun- tahun terpapar kadar gula darah yang tinggi. Kondisi ini menghasilkan molekul oksigen yang tidak stabil.
9. Penyinaran
Produksi radikal bebas dapat timbul juga ketika tubuh terpapar sinar X atau radioisotop.
10. Stress
Produksi radikal bebas berlebihan bisa timbul ketika mengalami stress berat. Karena itu banyak studi yang mengaitkan stres dengan serangan jantung dan kanker.
11. Asbes
Bahan padat serbuk memasuki paru-paru melalui pernafasan kemudian merusak sel-sel darah putih. Pada akhirnya memicu pelepasan radikal bebas yang berlebihan.
12. Luka reperfusi
Reperfusi artinya kembalinya darah ke organ atau jaringan yang beberapa waktu sebelumnya tidak mendapat pasokan darah yang cukup. Reperfusi yang cepat dapat menganggu denyut jantung. Luka reperfusi juga dapat terjadi saat organ atau jaringan sementara waktu tidak mendapat pasokan darah.

C. Pertahanan Jaringan Terhadap Radikal Bebas
Tubuh telah menyiapkan pertahanan berupa antioksidan berupa serangan radikal bebas ini ditingkat sel, membrane, dan ekstrasel.
1. Pertahanan tingkat sel
Ada kerjasama yang baik antara superoksid dismutase, glutation peroxidase dan katalase. Produksi radikal bebas intrasel sangat berkurang karena oksidase sitokrom mitokondria membantu transport elektron tanpa menghasilkan ROS :
a. H2O2 ( hidrogen peroksid ) mudah melintasi membrane sel, lewat reaksi Fenton berubah menjadi radikal hidroksil.
b. H2O2 dapat dirusak oleh glutation peroksidase dalam sitosol dan mitokondria.
c. Katalase dalam peroksisom jaringan menghilangkan H2O2 jika kadarnya tinggi.
2. Pertahanan tingkat membrane
Pertahanan tingkat membrane contohnya adalah vitamin E ( alfa tokoferol ), beta karoten dan ko-enzim Q ( ubiquinone ). Vitamin E merupakan antioksidan pemutus rantai bila ada dalam inti lipid membrane sel. Radikal vitamin E reaktif ringan menjadi vitamin E lagi lewat vitamin C. Struktur membrane dengan perbandingan kolesterol dan fosfolipid tepat, bersama antioksidan bertahan terhadap serangan radikal bebas.
3. Pertahanan tingkat ekstrasel
Pertahanan tingkat ekstrasel berupa :
a. Logam bebas Fe dan Cu yang diikat oleh protein khusus seperti transferin, laktoferin, dan seruloplasmin.
b. Molekul dengan berat molekul rendah tertentu juga bersifat antioksidan seperti bilirubin dan vitamin C.
c. Ada glutation peroksidase dan superoksid dismutase ekstrasel.

IV. ANTIOKSIDAN
Antioksidan adalah zat yang dapat menetralisir radikal bebas sehingga atom dengan electron yang tidak berpasangan mendapat pasangan electron sehingga tidak liar lagi. Antioksidan melumpuhkan radikal bebas dengan memberikan electron kepadanya sehingga tidak lagi radikal terhadap terhadap bagian-bagian dari tubuh.
Antioksidan tubuh bisa dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
1. Primary antioksidan
Termasuk disini :
– SOD ( superokxide Dismutase ).
– GPx ( Glutation Peroxidase ).
– Metalbinding protein seperti Ferritin atau Ceruloplasmin.
Antioksidan primer ini bekerja untuk mencegah terbentuknya senyawa radikal bebas baru. Ia mengubah radikal bebas yang ada menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya, sebelum radikal bebas ini sempat bereaksi. Enzim SOD yang berfungsi sebagai pelindung hancurnya sel-sel dalam tubuh serta mencegah proses peradangan karena radikal bebas. Enzim SOD sebenarnya sudah ada dalam tubuh. Namun bekerjanya membutuhkan bantuan zat-zat gizi mineral seperti mangan, seng, dan tembaga. Selenium ( Se ) juga berperan sebagai antioksidan.
2. Secondary antioksidan
Antioksidan ini berfungsi menangkap senyawa serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Contoh antioksidan sekunder seperti vitamin C, vitamin E, betakaroten, asam urat, bilirubin dan albumin. Vitamin C berfungsi menangkap radikal superoksid dan hidroksi sedangkan tokoferol adalah free radikal scavenger terbaik pada suasana hidrofobik pada membrane sel. Tokoferol yang mudah larut dalam lipid memproteksi lipid dan protein darah. Molekul antioksidan sekunder lainnya adalah H2O, manitol, kolesterol, histidin, triptofan, tirosin, sistein, metionin, ubiquinon, L-karnitin, Kuersetin, dan selenium.
3. Tertiary antioksidan
Antioksidan jenis ini memperbaiki kerusakan biomolekul yang disebabkan radikal bebas. Termasuk disini adalah enzim yang memperbaiki DNA pada inti sel adalah metionin sulfoksidan reduktase. Adanya enzim-enzim perbaikan DNA ini berguna untuk mencegah penyakit misalnya kanker.

Antioksidan nutrient
Makanan pada umumnya mengandung antioksidan. Hasil penelitian ilmiah menunjukkan bahwa buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian adalah sumber antioksidan yang baik dan bias meredam reaksi berantai radikal bebas dalam tubuh, yang pada akhirnya dapat menekan proses penuaan dini.
American Heart Association ( AHA ) dalam petunjuk ilmiahnya yang dimuat dalam journal of the American Heart Association, merekomendasikan agar masyarakat meningkatkan konsumsi makanan antioksidan seperti sayuran, buah dan kacang-kacangan. Hal yang sama juga dilakukan Institute Kanker Nasional AS, terus menggampanyekan agar masyarakat mengkonsumsi 5 kali atau lebih buah atau sayur dalam sehari.
Macam-macam antioksidan nutrient :
1. Daun teh
Antioksidan terdapat pula di daun teh ( Camelia Sineasis )
Ada tiga jenis daun teh yaitu :
 Teh hijau, tidak melalui fermentasi.
 Teh oolong, semi fermentasi.
 Teh hitam, fermentasi penuh.
Ada perbedaan yang berarti dalam kandungan poliferolnya karena cara pengolahan. Kadar poliferol yang merupakan sejenis antioksidan yang tertinggi pada teh hijau, kemudian menyusul teh oolong dan terendah pada teh hitam.
Manfaat dari teh adalah mulai dari mempertahankan daya tahan tubuh dari berbagai penyakit, mengurangi resiko keracunan, memperkuat gigi, menyegarkan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi sampai dengan mencegah kanker. Tingginya kadar antioksidan yang tinggi pada teh melebihi yang terkandung dalam buah-buah segar
2. Coklat
Kadar antioksidan hampir dua kali lipat kadarnya daripada anggur merah. Kokoa dua sampai tiga kali lipat daripada teh hijau dan empat kali lipat daripada teh hitam. Serafini ( 2003 ) mendapat kesan bahwa susu yang diminum bersama-sama / dicampur dengan coklat menghambat penyerapan coklat kedalam usus.
3. Kopi
Mengandung antioksidan, terutama kopi hijau yang tidak dibakar sampai hitam.
4. Susu
Kadarnya lebih tinggi Baik susu sapi maupun susu kambing mengandung antioksidan sedangkan pada susu kambing. Air susu ibu mengandung lebih banyak antioksidan dari susu lain.
5. Flavonoids
Banyak terdapat dalam buah-buahan dan sayuran dan memberi warna pada sayuran dan buah. Kini diketahui hampir 80% dari total antioksidan dalam buah dan sayuran berasal dari flavonoid, yang dapat berfungsi sebagai penangkap anion superoksida, lipid peroksida radikal, oksigen singlet dan pengkelat logam.
Beberapa warna yang terdapat pada sayuran dan buah antara lain :
 Warna merah : Mengandung Lycopene, terdapat pada tomat, jambu bol dan semangka.
 Warna ungu : Mengandung Anthocyanin, terdapat pada terong ungu, stroberi, kol ungu, cabai merah, apel merah, pir merah, anggur merah dan ungu.
 Warna jingga : mengandung beta karoten, terdapat pada apricot, wortel, mangga, labu, ubi jalar.
 Warna kuning : mengandung Beta crytoxanthin, terdapat pada jeruk, papaya, peach ( persik ), dan nanas.
 Warna hijau : mengandung Isothiocyanate, Sulforaphane dan indole, terdapat pada brokoli, kol, kembang kol, lobak.
 Warna putih : mengandung Flavonoid, terdapat pada asparagus, seledri, daun bawang dan jamur lokio.
 Warna kuning :mengandung Lutein fan Zeaxanthin, terdapat banyak pada hijau alpukat, jagung, mentimun, buncis, kacang polong, cabai hijau, melon, kiwi, dan bayam.
6. Kuersetin
Merupakan senyawa flavonoid dari kelompok flavonol dan terdapat terutama pada tanaman teh, tomat, apel, kakao, anggur dan bawang. Flavonol utama pada daun teh adalah kuersetin, kaempferol dan mirisetin.
Kuersetin menunjukkan aktivitasnya untuk menghambat reaksi oksidasi LDL secara invitro. Kuersetin yang diekstrak dari anggur merah memiliki aktivitas antioksidan yang sebanding dengan alpha tokoferol dalam menghambat peroksidasi lipid. Produk oksidasi LDL dan lipid dapat menginduksi terjadinya luka pada pembuluh darah dalam waktu yang relative singkat dan selanjutnya dapat menimbulkan sumbatan ( plaque ) akibat penimbunan kolesterol.
Hal ini menunjukkan bila seseorang mengkonsumsi secara teratur kuersetin melalui pangan nabati seperti apel, teh dan bawang dapat melindungi LDL dari reaksi oksidasi yang pada gilirannya dapat mengurangi resiko penyakit jantung koroner dan stroke. Penelitian lebih lanjut melaporkan bahwa kuersetin yang berasal dari apel, tomat, teh, anggur merah, dan bawang merah tidak hanya dapat menurunkan resiko kematiaan akibat penyakit jantung dan stroke tetapi juga akibat kanker payudara.
Kuersetin oleh sejumlah ahli kesehatan dipertimbangkan sebagai fitoestrogen yang memiliki fungsi yang sama dengan estrogen yang diyakini memiliki efek estrogenic untuk mengurangi resiko kanker.
Mengonsumsi kuersetin dalam jumlah yang cukup ( 50 – 200 mg perhari ) dapat memberi perlindungan kerena berperan sebagai senjata pemusnah radikal bebas sehingga dapat mencegah penuaan dini.
7. L-karnitin
Juga merupakan antioksidan. L-karnitin dengan acyl esternya yaitu asetil L-karnitin dan propionil L-karnitin adalah free radical scavenger dan juga iron chelator ( pengikat besi ). Diproduksi di hati dan ginjal dengan bahan dasar L-lysine dan L-methionin. L-karnitin terdapat banyak dalam daging terutama domba.
8. Ubiquinone ( Ko Enzim Q 10 )
Adalah juga antioksidan yang dapat menangkap electron dan free radical scavengers dan pertama kali diisolasi pada tahun 1957. Banyak didapat di membrane dalam mitokondria terutama jantung, hati, ginjal dan pancreas. Ubiquinone didapatkan pada daging dan seafood.
Ubiquinone banyak dipakai di Amerika dan Jepang untuk mengobati penyakit jantung seperti gagal jantung, aritmia, hipertensi. Pada penyakit jantung ini, Folkers pada tahun 1970 an menemukan bahwa kadar ubiquinone nya rendah.
Pada proses menua jantung, mitokondria terganggu akibat radikal bebas, sehingga energi yang dihasilkan ikut berkurang. Dibutuhkan suplai energi yang lebih banyak, yang biasa diproduksi oleh mitokondria yang masih sehat. Karena itu perlu dijamin keberadaan L-karnitin dan ubiquinone yang cukup, sedangkan produksinya dihati dan ginjal sudah menurun. Karena itu perlu ditambah dari luar berbentuk suplemen makanan.
9. Vitamin C
Berbagai penelitian mengungkapkan peran vitamin C, misalnya pada peningkatan daya tahan tubuh, penanganan katarak, diabetes mellitus, keracunan timbale dan pencegahan penyakit kardiovaskular. Penelitian terbaru juga menunjukkan peran vitamin C pada pencegahan kanker ( kemopreventif ).
Pada tahun 1997, panel ahli pada Word Cancer Research Fund and the American Institute For Cancer Research memperkirakan vitamin C dapat mengurangi resiko kanker lambung, mulut, kerongkongan, paru, pankreas dan leher rahim.
Asupan vitamin C sebaiknya lebih dari 60 mg perhari, tapi jangan sampai melebihi 1000 mg perhari. Jika dikonsumsi terlalu banyak dikwatirkan dapat mempengaruhi atau merusak nutrien lain didalam tubuh.
Asupan vitamin C dan E yang rendah pada diet makanan disertai kadar vitamin C yang rendah dalam darah, akan mempermudah seseorang terkena katarak ( kekeruhan lensa mata ), apalagi ditambah dengan kebiasaan merokok.
Vitamin C terdapat pada buah-buahan seperti jeruk, apel, sirsak, lemon, stroberi, melon serta sayuran seperti tomat, sayuran berdaun hijau, brokoli, kembang kol, dan paprika.
10. Vitamin E
Terutama melindungi tubuh terhadap penyakit jantung. Hasil penelitian menunjukkan vitamin E yang larut dalam lemak memegang peran kunci dalam mencegah oksidasi serta menempelnya kolesterol LDL di dinding pembuluh arteri.
Sebuah studi di universitas New York juga menunjukkan wanita yang menerima asupan vitamin E cukup besar lebih kecil kemungkinannya terserang penyakit kanker ketimbang mereka yang hanya sedikit mengkonsumsi vitamin E.
Walaupun vitamin E cukup baik, kombinasi dengan vitamin C akan memberi nilai lebih. Jika vitamin E teroksidasi oleh radikal bebas , vitamin C akan datang dan meregenerasi vitamin E sehingga bisa bekerja kembali.
11. Betakaroten
Terdapat pada aprikot, wortel, dan mangga. Dengan mengkonsumsi 50 mg betakaroten setiap hari dalam menu makanan dapat jauh mengurangi resiko terkena penyakit jantung.
12. L-Carnosine
Adalah antioksidan untuk anti penuaan. Secara alamiah terdapat pada tubuh kita ( terutama diotot ) dan banyak terdapat juga pada makanan. Tetapi kadarnya berkurang seiring dengan pertambahan usia.
Otak sangat tergantung pada asam amino ini dalam jumlah tinggi untuk berfungsi secara optimal dan setelah diteliti ternyata berguna pencegahan penyakit Alzheimer.
13. Actin
Merupakan antioksidan terbaru yang ditemukan pada tahun 1997 oleh peneliti Creighton University, Omaha. Ditemukan terkandung dalam biji anggur merah maupun olahannya seperti anggur merah. Red wine lebih bermanfaat daripada white wine untuk mencegah penyakit jantung karena red wine harus difermentasikan dulu sedangkan white wine tidak. Setelah diteliti ternyata dapat melindungi tubuh kita dari kanker, penyakit jantung, rheumatoid arthritis, katarak dan banyak penyakit kronis degeneratif lainnya.
14. N-acetylcystein ( NAC )
Merupakan antioksidan yang baik untuk mempertahankan imunitas / kekebalan tubuh. NAC telah digunakan sejak tahun 1960-an sebagai mukolitik dan sebagai antidotum keracunan asetaminofen, detoksifikasi terhadap logam berat dan juga terhadap zat polutan pada udara yang terpolusi.
15. Alfa-Lipoid Acid
Dapat larut dalam lemak dan air artinya zat ini dapat masuk ke dalam semua bagian tubuh manusia yang terdiri dari cairan dan lemak. Ini bisa meningkatkan kemampuan untuk menghancurkan radikal bebas pada seluruh bagian tubuh kita dan dapat bekerjasama dengan antioksidan lainnya untuk menyerang radikal bebas.Dipercaya zat ini dapat melindungi tubuh dari serangan stroke, penyakit jantung, katarak, meningkatkan daya pikir dan mencegah komplikasi diabetes

16. Pycogenol
Suatu perusahaan Perancis dengan superteknologi yang dikembangkan berhasil “menyulap” kulit pohon cemara menjadi antioksidan dan cukup potent.
Dan dikemas dalam pelbagai kemasan, bias berbentuk obat yang diminum, pasta gigi, permen kunyah dank rim wajah. Semuanya sangat baik untuk mencegah oksidasi karena radikal bebas yang berlebihan.
17. Phyto-chemical / fitokimia
Fitokimia yang bersifat antioksidan aktif adalah karotenoid, polifenol, fito-estrogen, inhibitor protease dan sulfida.
Karotenoid seperti lycopene dan canthaxanthin, adalah jenis antioksidan yang punya kemampuan tinggi dalam memproteksi oksidasi yang disebabkan oleh radikal bebas.
Polifenol dari anggur merah dan flavanol kuersetin adalah fitokimia yang sukses mencegah oksidasi LDL dan kolesterol, sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit kronis.

18. Lycopene
Dalam sayur mayur berwarna merah seperti bit, tomat dan wortel ada senyawa lycopene yang baik untuk kesehatan tubuh terutama mata ( retina ).
Fitokimia utama yang ada dalam tomat adalah lycopene. Di atas 85% lycopene dalam hidangan diperoleh dari tomat dan penyerapan maksimal lycopene sdidapat setelah tomat diproses atau diolah. Lycopene merupakan antioksidan utama yang dalam kelenjar prostate dapat mencegah kanker prostate.
Dianjurkan untuk mengkonsumsi buah tomat setiap hari ( 85 gram ) sebagai jus, masakan atau dalam bentuk saus tomat. Mengkonsumsi lycopene diyakini ada hubungannya dengan penurunan resiko kanker perut, kolon dan dubur.

V. PERAN ANTIOKSIDAN PADA PENYAKIT KRONIK
1. Aterosklerosis
LDL kolesterol disirkulasi yang masuk ke lapisan subendotel namun tidak mengalami oksidasi akan kembali ke sirkulasi sedangkan yang mengalami oksidasi oleh radikal bebas akan difagositosis oleh makrofag. Selain itu, molekul LDL yang teroksidasi radikal bebas akan merangsang datangnya lebih banyak makrofag dari sirkulasi serta menyebabkan retensi. Hal ini bersifat sitotoksik untuk sel endotel dan menganggu faal vasodilatasi. Pada gilirannya terbentuklah plak aterosklerotik yang merupakan predisposisi berbagai gangguan seperti stroke dan infark miokard.
Penelitian menunjukkan bahwa suplementasi tokoferol, beta karoten dan ubiquinon mampu mengurangi kepekaan LDL kolesterol terhadap oksidasi radikal bebas.
2. Diabetes mellitus
Stress oksidatif adalah ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kerja antioksidan sehingga jaringan rusak. Pada diabetes mellitus gampang sekali terjadi stress oksidatif akibat pajanan yang tinggi terhadap glukosa.
Glukosa bersama dengan protein serum dan lipoprotein pada reaksi glikasi yang non enzimatik menyebabkan auto-oksidasi in situ dan membentuk radikal bebas yang pada gilirannya mengakibatkan kerusakan oksidatif local jaringan.
Antioksidan seperti asam askorbat dan tokoferol terbukti mampu mencegah auto-oksidasi glukosa dan menghambat terbentuknya ikatan antara glukosa dan protein serum in vitro serta mampu mencegah reaksi glikasi protein serum in vivo.

3. Penyakit susunan saraf pusat
Otak dan medulla spinalis merupakan organ yang rentan terhadap reaksi oksidasi, hipoksia dan trauma. Hal tersebut karena tingginya kadar lemak di otak dan medulla spinalis.
Peroksidasi lipid dan terbentuknya radikal bebas merupakan factor penting pada terjadinya degenerasi neuron. Tokoferol dikatakan mampu menghambat proses degenerasi tersebut namun karena uptake ke neuron yang lambat menjadikannya tidak efisien. Lazaroid seperti tirizilad mesylate ( termasuk 21-aminosteroid ) merupakan inhibitor poten peroksidase lipid yang bergantung zat besi.
4. Gangguan Parkinson
Para ahli telah sepakat bahwa salah satu factor etiologi gangguan Parkinson adalah adanya radikal bebas akibat stress oksidatif di jaringan saraf. Metabolisme oksidatif dopamine dikatakan bertanggung jawab terhadap munculnya gejala pada gangguan Parkinson. Adanya molekul peroksida ( akibat metabolisme oksidatif dopamine ), peningkatan ferum dan aluminium serta menurunnya glutation ditemukan pada jaringan otak pasien gangguan Parkinson. Kenyataan tersebut menunjukkan besarnya peran radikal bebas sebagai salah satu factor penyebab gangguan Parkinson.
5. Hipertensi
Banyak dihubungkan dengan rendahnya kadar antioksidan dalam tubuh. Beberapa Penelitian juga sudah membuktikan bahwa rasikal superoksid mampu menghambat efek vasodilatasi nitric axide dan berperan terhadap terjadinya hipertensi.
Beberapa obat antihipertensi seperti captopril, beta blocker, antagonis kalsium dikenal merupakan antioksidan invitro.
Karena kadarnya di dalam tubuh yang amat rendah ( nanomolar ) dibandingkan dengan kadar antioksidan endogen ( mikromolar ) maka keberadaanya menjadi kurang bermakna.
6. Rhematoid Artritis
Pada arthritis rematoid di duga radikal bebas berperan terhadap kerusakan jaringan yang terjadi. Antigen penyebab arthritis rematoid akan berikatan dengan antibody membentuk kompleks imun yang akan berdifusi ke dalam ruang sendi.
Fagositosis kompleks imun oleh sel radang akan disertai oleh pembentukan dan pembebasan radikal oksigen bebas, leukotrien dan prostaglandin yang akan menyebabkan erosi rawan sendi dan tulang. Radikal oksigen akan memecah dan merusak asam hialuronat cairan sinovium serta kartilago.
7. Alzheimer Disease
Pada Alzheimer disease, neurotoxisitas dari beta-peptida dapat bermanifestasi sebagai kerusakan / kematiaan sel ( nekrosis ). Toksisitas tersebut dapat meningkatkan Ca bebas intraseluler, menghambat fungsi mitokondria dan pembentukan ROS. Beberapa ilmuan menunjukkan bahwa penambahan beta-peptida pada saraf mengakibatkan kerusakan yang dapat dicegah dengan antioksidan.
Pengobatan neuronal yang diberikan TNF-alpha lebih resisten terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh beta-peptida dengan cara meningkatkan pertahanan antioksidan. Pemberian vitamin E dosis tinggi ( 2000 u/hari ) telah dilaporkan menghambat progresivitas Alzheimer disease.

VI. KESIMPULAN
Proses tua tidak dapat dielakkan dalam kehidupan setiap insan di muka bumi ini. Banyak hal yang diupayakan oleh manusia untuk mencegah terjadinya proses proses tua, tetapi semuanya itu tidak dapat menghentikannya namun bersifat memperlambat. Bila perubahan / kerusakan sel ( jaringan ) dianggap ciri dari proses menua, teori radikal bebas menjelaskan adanya keseimbangan antara serangan bebas dan pertahanan oleh anti oksidan. Akan tetapi stress oksidatif menganggu keseimbangan ini. Upaya yang dapat mengendalikan stress oksidatif seperti pembatasan kalori makanan maupun minuman, pemasokan anti oksidan, secara tidak langsung memperlambat proses menua.
Salah satu teori proses menua yang banyak dianut adalah teori radikal bebas. Radikal bebas yang dihasilkan secara endogen ataupun eksogen ( didapat ) merusak sel mulai membrane sel sampai semua organel, termasuk mitokondria dan nucleus, mengakibatkan energi yang dihasilkan berkurang, penumpukan hasil akhir di dalam sel yang toksik, gangguan pada genetika, gangguan produksi protein dan dapat mematikan sel. Sebagai counternya adalah berbagai jenis antioksidan, endogen fan eksogen.
Untuk mengatasinya adalah menjaga keseimbang supaya lebih positif untuk antioksidan. Khusus untuk jantung, masalah energi juga harus diperhatikan mengingat fungsi pompa jantung yang berat. Cara hidup yang dianjurkan untuk memperlambat proses penuaan termasuk olaraga, hidup damai, pola makan teratur, tidak merokok, terapkan pola hidup sehat, hindari hal yang dapat memicu radikal bebas dan menjaga keseimbangan dalam hidup yang meliputi aspek mental, spiritual, fisik dan social. Banyak hal yang diupayakan setiap orang untuk menghadapi kemungkinan akibat dari proses tua.

Berikut beberapa kiat antara lain :
 Berpikir positif, tetap gembira dan semangat falam menjalani hidup. Hadapilah semua hal dan proses tua secara optimis, berbuat yang terbaik dan senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 Sadari bahwa proses tua bukanlah suatu hal yang harus dihindari melainkan harus tetap dihadapi dengan bahagia.
 Terapkan pola hidup sehat, hindari hal-hal yang dapat memicu radikal bebas ( contohnya polusi, merokok, minuman alcohol, stress, makanan dengan gula sederhana, makan berlebihan, dan lain-lain )
 Perbanyak konsumsi makanan alami maupun suplemen yang mengandung antioksidan ( contohnya sayur-sayuran, buah-buahan, vitamin E, beta-karoten, dan lain-lain ).
 Menjaga keseimbangan falam hidup yang meliputi aspek mental, spiritual, fisik dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Hardywinoto, Setiabudhi T. (1999). Menjaga keseimbangan Hidup Para Lanjut Usia. P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Prosiding Temu ilmiah Geriatri 2002 “Penatalaksanaan Pasien Geriatri / Usia Lanjut Secara Terpadu dan Paripurna”
Posman Sibuea, “Senjata Pemusnah Radikal Bebas-Kuersetin”. Kompas-10 February 2004.
http://www.HealthCheckSystem.com
Halliwell, B and Gutteridge, JMC (1998), Free Radicals in Biology and Medicine. Oxford : Clarendon Press.
Ziobro A and Bartosz G, A Comparison of total antioksidan capacity of some human Body fluids, Cellular & Moleculer biology letters. Vol*, (2003) pp 415-419.
Asuhan Berkesinambungan Pada Usia Lanjut dan Pasien Geriatri ( Continuum of Care of Healthy Elderly and Geriatric Patient ), Bagian Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, Jakarta, Mei 2004
Kosasih N.E, Heryanto H., Setiabudhi T. (2004) Peran Antioksidan Pada Lanjut Usia. Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia

http://www.chiroweb.com/archieves/22/01/01.htm (2004)

http://www.safeindo.com/article/view/14/14 (2004)

http://www.mkionline.net/prg/view.php?id=000135 (2004)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *