PERAN STRATEGIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DALAM INDUSTRI HULU MINYAK DAN GAS BUMI

Rifki Kurniawan dan Raymond H Rumambi

Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Mercu Buana

Jakarta

 

Abstrak : Supply Chain Management secara harfiah dapat diartikan sebagai seperangkat pendekatan untuk mengefisienkan integrasi supplier, manufaktur, gudang dan penyimpanan, sehingga barang diproduksi dan didistribusikan dalam jumlah yang tepat, lokasi yang tepat, waktu yang tepat, untuk meminimasi biaya dan memberikan kepuasan layanan terhadap konsumen. Pendekatan integrasi disini diartikan sebagai suatu sistem yang terhubung sehingga suatu kegiatan produksi tidak terganggu. Pada saat ini banyak perusahaan yang menerapkan Supply Chain Management untuk meningkatkan daya saing perusahaan dengan yang lainnya, salah satunya adalah industri hulu minyak dan gas bumi (migas). Supply Chain Management merupakan suatu alat bersaing strategik bagi perusahaan yang menjadikan masalah logistik sebagai strategi bersainganya untuk dapat memenangkan persaingan. Tujuan pembuatan jurnal ini adalah untuk mengetahui peran Supply Chain Management dalam industri hulu migas khususnya dalam sistem operasi dan produksi migas yang berguna untuk memberikan value kepada konsumen dalam hal availability dan kecepatan  layanan, sehingga konsumen akan merasakan suatu keunggulan dari hasil akhir.

Kata Kunci: supply chain managemet, sistem operasi dan produksi industri hulu migas

I.     PENDAHULUAN

Awal tahun 2015 ini, industri migas mengalami kelesuan dimana harga minyak turun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyak perusahaan migas yang terpaksa melakukan perencanaan ulang terhadap kegiatan operasi dan produksinya agar tetap memperoleh keuntungan. Dalam jurnal ini, penulis tidak melakukan analisa terhadap kegiatan operasi dan produksi industri migas itu sendiri, namun lebih kepada peran strategis Supply Chain Management sebagai bagian dari strategi korporasi dalam mendukung kegiatan operasi dan produksi industri migas.

Perlu dketahui juga bahwa saat ini produksi minyak nasional masih dibawah dari konsumsi minyak nasional. Hal ini membuat Indonesia menjadi nett importir untuk minyak. Pemerintah Indonesia pun ikut campur tangan dalam kegiatan eksplorasi, pengembangan dan produksi, baik di darat (onshore) maupun di lepas pantai (offshore) untuk meningkatkan produksi migas nasional melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan SKK Migas. Peraturan Pemerintah di sektor hulu maupun hilir dibuat untuk menata bisnis menjadi optimal untuk mengimbangi tingkat risiko bisnis yang tinggi terutama di bidang eksplorasi. Saat ini 85% lapangan produksi di Indonesia telah memasuki tahap kejenuhan, sementara produksi minyak mengalami penurunan rata-rata sebesar 15% per tahun sehingga dibutuhkan penemuan dan pengembangan baru untuk memenuhi permintaan.

Aktivitas eksplorasi, pengembangan serta produksi menuntut tersedianya produk-produk yang berteknologi tinggi secara tepat waktu. Kegiatan idustri migas saat ini juga masih menghadapi masalah lain yang menghambat seperti dalam hal perpajakan, lingkungan hidup, dan otonomi daerah. Aturan-aturan yang kurang jelas dalam bidang pengadaan dan kebijakan penggunaan fasilitas bebas bea masuk menimbulkan pelaksanaan yang beragam di lapangan. Proses persetujuan yang panjang dan melalui berbagai pintu, stabilitas politik dan keamanan, stabilitas makro ekonomi merupakan faktor-faktor lain yang juga mengganggu kegiatan industri migas.

Sementara, ketersediaan produk penunjang aktivitas-aktivitas di atas tidak senantiasa tersedia secara tepat waktu, kualitas dan harga yang kompetitif. Kebutuhan kapal survey untuk aktivitas seismik, sebagai contoh, seringkali harus didatangkan dari luar negeri yang bergantung pada ketersediaan di pasar regional dan tentunya memerlukan biaya mobilisasi dan demobilisasi yang tinggi. Lead time yang panjang untuk produk-produk strategis penunjang industri migas merupakan kendala yang juga sangat dirasakan bagi mereka yang tengah memacu penemuan cadangan dan peningkatan produksi minyak. Sebagai contoh produk pipa untuk jenis dan ukuran tertentu memiliki waktu pembuatan sampai dengan pengiriman hingga sekitar 6-8 bulan sejak dipesan. Demikian pula sebagian besar komoditi utama penunjang operasi perminyakan membutuhkan waktu dan proses yang panjang dalam pengadaannya, termasuk barang-barang fast moving seperti MRO (Maintenance, Repair, Operating supplies).

Hal-hal di atas menuntut manajemen supply chain yang handal untuk menjembatani  permintaan  dan penyediaan produk secara efisien, tepat waktu dan berkesinambungan. Ini meliputi aliran produk-produk berkualitas dari pemasok yang berada di bagian paling hulu hingga pengguna akhir di posisi paling hilir, aliran informasi yang timbal balik  antara pengguna, pemasok dan fungsi-fungsi di antaranya, dan juga aliran uang untuk mendanai aktivitas dan proses transaksi tersebut.

Jurnal ini ini membahas bagaimana manajemen supply chain memainkan peran yang besar untuk mendukung kegiatan operasi dan produksi industri migas yang sukses serta bagaimana manajemen suplai harus bergerak secara ‘real time’ menembus batas-batas regional. Cluster development sebagai kolaborasi mutual di antara sesama operator industri migas yang terkonsentrasi   dalam   area  geografi  yang   sama   serta penerapan manajemen supply chain yang stratejik (termasuk global sourcing dan global supply management) menjadi terobosan yang bukan hanya harus dilakukan tetapi juga tidak dapat dihindari. Bagaimana kita mengidentifikasi pemasok- pemasok kunci hingga ke belahan dunia lain dan bagaimana produk-produk mengalir memenuhi secara optimal kebutuhan dengan tetap mengikuti regulasi-regulasi lokal yang menjadi rambu-rambu yang dibuat oleh otoritas lokal.

II.       METODE PENELITIAN

Jurnal ini disusun menggunakan metode penelitian kepustakaan, yaitu metode penelitian yang mencari sumber dari beberapa buku dan artikel yang telah ada.

III.     PEMBAHASAN

Supply chain atau dapat diterjemahkan “rantai pasokan” adalah rangkaian hubungan antar perusahaan atau aktivitas yang melaksanakan penyaluran pasokan barang atau jasa dari tempat asal sampai ke pembeli atau pelanggan. Supply chain menyangkut hubungan yang terus-menerus mengenai barang, uang dan informasi. Barang umumnya mengalir dari hulu ke hilir, uang mengalir dari hilir ke hulu, sedangkan informasi mengalir baik dari hulu ke hilir maupun dari hilir ke hulu. Dilihat secara horizontal, ada lima komponen utama atau pelaku dalam supply chain, yaitu supplier (pemasok), manufacturer (pabrik pembuat barang), distributor (pedagang besar), retailer (pengecer), dan customer (pelanggan). Secara vertikal, ada beberapa komponen utama supply chain, yaitu buyer (pembeli), transporter (pengangkut), warehouse (penyimpan), seller (penjual), dan sebagainya. Hubungan mata rantai ini dapat dilukiskan seperti pada gambar 3.1.

Dengan demikian, manajemen supply chain pada hakikatnya adalah perluasan dan pengembangan konsep dan arti dari manajemen logistik. Kalau manajemen logistik mengurusi arus barang, termasuk pembelian, pengendalian tingkat persediaan, pengangkutan, penyimpanan dan distribusi dalam satu perusahaan, maka manajemen supply chain mengurusi hal yang sama tetapi meliputi dari bahan mentah sampai dengan barang jadi yang dibeli dan digunakan oleh pelanggan.

Hakikatnya manajemen supply chain adalah integrasi lebih lanjut dari manajemen logistik antar perusahaan yang terkait, dengan tujuan lebih meningkatkan kelancaran arus barang, meningkatkan efisiensi penggunaan ruangan, kendaraan, dan fasilitas lainnya, mengurangi tingkat persediaan barang, mengurangi biaya, dan lebih meningkatkan layanan lain yang diperlukan oleh pelanggan akhir.

Menurut Wikipedia (2008), seperti  yang dikutip dari halaman http://id.wikipedia.org/ , definisi dari supply chain management adalah sebagai berikut :

“Rantai suplai rantai pasokan, jaringan logistik, atau jaringan suplai adalah sebuah sistem terkoordinasi yang terdiri atas organisasi, sumber daya manusia, aktivitas, informasi, dan sumber-sumber daya lainnya yang terlibat secara bersama-sama dalam memindahkan suatu produk atau jasa baik dalam bentuk fisik maupun virtual dari suatu pemasok kepada pelanggan. Badan usaha yang melaksanakan  fungsi suplai pada umumnya terdiri dari manufaktur, penyedia layanan jasa, distributor, dan saluran penjualan (seperti: pedagang eceran, ecommerce, dan pelanggan (pengguna akhir). Aktivitas rantasi suplai (rantai nilai dan proses siklus hidup) mengubah bahan baku dan bahan pendukung menjadi sebuah barang jadi yang dapat dikirimkan kepada pelanggan pengguna akhir. Rantai suplai menghubungkan rantai nilai. Ada berbagai jenis model rantai suplai, yang masing-masing menghubungkan mulai dari sisi hulu hingga hilir”.

Tujuan utama supply chain management adalah untuk memenuhi permintaan pelanggan melalui penggunaan sumber daya yang pailng efisien, termasuk kapasitas distribusi, persediaan, dan sumber daya manusia.

Beberapa  perusahaan  memilih  untuk  mengalihdayakan  supply  chain  management mereka dengan bekerja sama dengan penyedia jasa logistik pihak ketiga.

Menurut  Schroeder  (2003),  Supply  Chain  Management  adalah  perencanaan, desain, dan control akan aliran informasi dan barang sepanjang supply chain yang bertujuan untuk memenuhi persyaratan kebutuhan dari pelanggan secara efisien untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.

Menurut Burt-Dobler-Starling (2003), definisi dari Supply Chain Management , adalah antara lain:

  • Suatu filosofi  untuk  mengatur  keseluruhan  aliran  dari  sebuah saluran distribusi mulai dari supplier hingga ke pelanggan,
  • Suatu pendekatan sistem untuk mengatur keseluruhan aliran informasi barang dan jasa mulai dari supplier bahan baku menuju ke pabrik produsen dan gudang penyimpanan hingga ke pelanggan,
  • Koordinasi yang sistematik dan strategik dari fungsi-fungsi bisnis tradisional dalam sebuah perusahaan dan antar bisnis dalam sebuah supply chain, untuk meningkatkan performa jangka panjang dari masing-masing perusahaan pada khususnya dan supply chain tersebut pada
  • Meliputi seluruh aktivitas yang berkaitan dengan aliran hulu dan hilir dan perubahan barang dan informasi mulai dari tahap pengambilan bahan baku (extraction), sampai ke    Supply  Chain  Management adalah integrasi dari seluruh aktivitas yang meliputi peningkatan hubungan di dalam rangkaian supply chain, untuk mencapai kemampuan bersaing yang dapat dipertahankan (sustainable).
  • Suatu usaha kolaborasi dari beberapa anggota supply chain untuk mendesain, mengimplementasikan, dan mengatur proses peningkatan nilai secara otomatis untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang sebenarnya. Pengembangan dan integrasi dari sumber daya manusia dan teknologi dan juga manajemen aliran barang, informasi, dan dana yang terkoordinasi akan menghasilkan integrasi supply chain yang

Menurut Chaffey (2007), pengertian supply chain management adalah sebagai berikut:

“Supply chain management (SCM), the coordination of all supply activities of an organization from its suppliers and partners to its customers. Upstream supply chain, transactions between an organization and its suppliers and intermediaries, equivalent to buy-side e-commerce. Downstream supply chain, transactions between an organization and its customers and intermediaries, equivalent to sell-side e- commerce”.

Upstream dan downstream supply chain dapat di lihat pada Gambar 3.2.

Menurut Turban, Rainer, Porter (2004), terdapat  3  macam  komponen  rantai  suplai, yaitu :

  1. Rantai Suplai Hulu (Upstream Supply Chain)

Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.

  1. Manajemen Rantai Suplai Internal (Internal Supply Chain Management)

Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.

  1. Segmen Rantai Suplai Hilir (Downstream Supply Chain Segment)

Downstream (arah muara) supply chain me liputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk  kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after sales service.

Menurut Jebarus (2001) Supply Chain Management merupakan pengembangan lebih lanjut dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep ini menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk dari supplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen. Dari sini aktivitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat pembatas yang besar, sehingga mekanisme informasi antara berbagai elemen tersebut berlangsung secara transparan. Supply Chain Management merupakan suatu konsep menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola pendistribusian produk secara optimal. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian, jadwal produksi, dan logistik.

Supply Chain Management masa kini sudah didukung oleh sistem informasi yang bersifat menyeluruh di penjuru  perusahaan.  Biasanya  sistem  demikian menggunakan database yang standar agar dapat menyediakan fasilitas penyebaran data dan informasi sepanjang rangkaian entitas yang berada di dalam supply chain.

Melalui fasilitas ini, aplikasi-aplikasi supply chain memiliki potensi untuk meningkatkan cepatnya waktu barang sampai ke tangan pelanggan, mengurangi biaya, dan mengijinkan entitas-entitas yang berada pada  supply  chain untuk mengatur sumber dayanya dan melakukan perencanaan untuk menghadapi kebutuhan di masa yang akan datang. Selanjutnya di masa depan, sistem supply chain akan dibuat berlandaskan teknologi internet dengan aplikasi berbasiskan web. Ini menggambarkan betapa eratnya hubungan antara e-commerce dan supply chain management.

Integrated  Supply  Chain.  Semua perusahaan memerlukan sesuatu yang sangat ekonomis guna melakukan kegiatan memproduksi untuk memperoleh keuntungan. Untuk mencapai keinginan tersebut, kelancaran arus material yang diperlukan pasti melibatkan lebih dari satu rantai pasokan. Faktor kritis dalam rantai pasokan yang efisien adalah pembelian, karena tugas pembeliaan untuk menyeleksi pemasok (berikut materialnya) dan kemudian membangun hubungan yang saling menguntungkan. Tanpa pemasok yang baik dan tanpa pembelian yang memadai, rantai pasokan tidak akan memiliki peran untuk kondisi pasar pada masa seperti sekarang ini. Supply Chain Management diperlukan oleh perusahaan yang sudah mengarah pada pengelolaan dengan sistem just in time, karena konsep just in time sangat menekankan ketepatan waktu kedatangan material dari pemasok sampai ke tangan konsumen sesuai dengan yang ditetapkan. Artinya, kedisiplinan dan komitmen seluruh mata rantai harus benar-benar dilaksanakan, karena sistem just in time tidak menekankan pada persediaan atau zero inventory. Sehingga apabila terjadi penyimpangan pada salah satu mata rantai saja, maka akan mengganggu pasokan material secara keseluruhan dan menghambat kelancaran tugas dari mata rantai yang lain, karena tidak adanya persediaan. Untuk kondisi di Indonesia sistem just in time akan berhasil kalau mata rantai terkait berada dalam satu  cluster.

Bagi perusahaan yang masih mementingkan persediaan karena karakteristik material atau sebagai langkah antisipatif untuk menyiasati lingkungan industri yang tidak stabil, Supply Chain Management juga diperlukan. Peran Supply Chain Management untuk jenis perusahaan ini adalah menekan biaya persediaan, karena persediaan yang tidak optimal akan menimbulkan dampak biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya backorder (apabila terjadi stockout).

Pelaksanaan Supply Chain Management akan lebih optimal apabila diterapkan secara terintegrasi oleh seluruh mata rantai pasokan yang terkait. Menerapkan konsep Supply Chain Management secara menyeluruh dan terintegrasi tentu bukan merupakan hal yang mudah dilakukan perusahaan. Kesulitan akan banyak dialami dalam kaitan dengan lingkungan eksternal yaitu hubungan dengan supplier dan distributor serta konsumen akhir. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan eksternal relatif berada di luar kendali perusahaan, sehingga perlu upaya kedua belah pihak untuk mencapai komitmen menjadi mata rantai yang saling berkoordinasi untuk menyalurkan seluruh kebutuhan material sesuai yang  dibutuhkan.

Perbedaan Supply Chain Management dengan manajemen logistic terletak pada orientasinya. Supply Chain Management mengusahakan hubungan dan koordinasi antar proses dari perusahaan-perusahaan lain dalam business pipelines, mulai dari suppliers sampai kepada pelanggan juga mengutamakan arus barang antar perusahaan, sejak paling hulu sampai paling hilir. Sedangkan manajemen logistik berorientasi pada perencanaan dan kerangka kerja yang menghasilkan rencana tunggal arus barang dan informasi di seluruh perusahaan, jadi lebih terfokus pada pengelolaan termasuk arus barang dalam perusahaan.

Dalam perkembangannya, Supply Chain Management telah banyak mengalami evolusi yang dapat digambarkan dalam 4 (empat) tahap sebagai berikut (Indrajit dan Djokopranoto, 2002) :

  1. Tahap 1

Dalam tahap 1 ada semacam kesendirian dan ketidaksalingtergantungan fungsi produksi dan fungsi logistik. Mereka menjalankan program-program sendiri yang terlepas satu sama lain (incomplete isolation). Contohnya adalah bagian produksi yang hanya memikirkan bagaimana membuat barang sesuai dengan mutu dan yang telah ditetapkan, dan sama sekali tidak mau ikut memikirkan penumpukan inventory dan penggunaan ruang gudang yang menimbulkan biaya persediaan yaitu biaya simpan.

  1. Tahap 2

Dalam tahap 2 perusahaan sudah mulai menyadari pentingnya integrasi perencanaan walaupun dalam bidang yang masih terbatas, yaitu di antara fungsi internal yang paling berdekatan, misalnya  produksi dengan inventory control dan functional integration  yang lain.

  1. Tahap 3

Dalam tahap 3 integrasi perencanaan dan pengawasan atas semua fungsi yang terkait dalam  satu  perusahan  (internal  integration).

  1. Tahap 4,

Pada tahap 4 menggambarkan tahap sebenarnya dari suplly chain integration, yaitu integrasi total dalam konsep perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan (manajemen) yang telah dicapai dalam tahap 3 dan diteruskan ke upstreams yaitu suppliers dan downsterams sampai ke  pelanggan.

Evolusi Supply Chain Management yang telah mencapai tahap keempat tersebut menunjukkan suatu integrasi yang menyeluruh diantara seluruh komponen terkait sehingga menuntut adanya transparansi arus informasi. Strategi kemitraan dapat digunakan untuk mewujudkan kelancaran arus pasokan material dari pemasok sampai distributor hingga ke tangan konsumen. Dengan startegi kemitraan maka perlu mengem- bangkan komunikasi di antara semua pihak terkait, sehingga komunikasi arus informasi maupun data yang dibutuhkan akan lebih  lancar.

Manfaat  Supply  Chain Management Untuk Industri Secara Umum

Secara umum penerapan konsep SCM dalam perusahaan akan memberikan manfaat yaitu (Jebarus, 2001) kepuasan pelanggan, meningkatkan pendapatan, menurunnya biaya, pemanfaatan asset yang semakin tinggi, peningkatan laba, dan perusahaan semakin besar.

  1. Kepuasan pelanggan. Konsumen atau pengguna produk merupakan target utama dari aktivitas proses produksi setiap produk yang dihasilkan Konsumen atau pengguna yang dimaksud dalam konteks ini tentunya konsumen yang setia dalam jangka waktu yang panjang. Untuk menjadikan konsumen setia, maka terlebih dahulu konsumen harus puas dengan pelayanan yang disampaikan oleh perusahaan.
  2. Meningkatkan pendapatan. Semakin banyak konsumen yang setia dan menjadi mitra perusahaan berarti akan turut pula meningkatkan pendapatan perusahaan, sehingga produk-produk yang dihasilkan perusahaan tidak akan ‘terbuang’ percuma, karena diminati
  3. Menurunnya biaya. Pengintegrasian aliran produk dari perusahan kepada konsumen akhir berarti pula mengurangi biaya-biaya pada jalur
  4. Pemanfaatan asset semakin tinggi. Aset terutama faktor manusia akan semakin terlatih dan terampil baik dari segi pengetahuan maupun Tenaga manusia akan mampu memberdayakan penggunaan teknologi tinggi sebagaimana yang dituntut dalam pelaksanaan Supply Chain Management.
  5. Peningkatan laba. Dengan semakin meningkatnya jumlah konsumen yang setia dan menjadi pengguna produk, pada gilirannya akan meningkatkan laba
  6. Perusahaan semakin Perusahaan yang mendapat keuntungan dari segi proses distribusi produknya lambat laun akan menjadi besar, dan tumbuh lebih kuat.

Keenam manfaat yang sudah dijelaskan seperti tersebut di atas merupakan manfaat tidak langsung. Secara umum, manfaat langsung dari penerapan Supply Chain Management bagi perusahaan adalah :

  1. Supply Chain Management secara fisik dapat mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi dan mengantarkannya kepada konsumen Manfaat ini menekankan pada fungsi produksi dan operasi dalam sebuah perusahaan. Dalam fungsi ini dilakukan penggunaan dari seluruh sumber daya yang dimilki dalam sebuah proses transformasi yang terkendali, untuk memberikan nilai pada produk yang dihasilkan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan dan mendistribusikannya kepada konsumen yang dibidik.
  2. Supply Chain Management berfungsi sebagai mediasi pasar, yaitu memastikan apa yang dipasok oleh rantai suplai mencerminkan aspirasi pelanggan atau konsumen akhir Dalam hal ini fungsi pemasaran yang akan berperan. Melalui pelaksanaan Supply Chain Management, pemasaran dapat mengidentifikasi produk dengan karakteristik yang diminati konsumen. Selanjutnya fungsi ini harus mampu mengidentifikasi seluruh atribut produk yang diharapkan konsumen tersebut dan mengkomunikasikan kepada perancang produk. Apabila seleksi rancangan produk sudah dilakukan dan dilakukan pengujian maka produk dapat diproduksi. Sehingga Supply Chain Management akan berperan dalam memberikan manfaat seperti point 1 tersebut.

Persyaratan Penerapan Supply Chain Management 

Sebagai suatu konsep yang melibatkan banyak pihak sebagai mata rantai, Supply Chain Management menuntut beberapa persyaratan yang tidak hanya terkait dengan material, tetapi juga informasi. Syarat utama dari penerapan Supply Chain Management tentunya dukungan manajemen. Manajemen semua level dari strategis sampai operasional harus memberikan dukungan mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, pelaksanaan, sampai pengendalian. Selain dukungan manajemen, syarat lain merupakan syarat yang melibatkan faktor eksternal yaitu pemasok dan distributor.

Sebelum membangun komitmen dan melaksanakan ‘kontrak kerja’ dengan para pemasok, maka perusahaan terlebih dahulu harus melaksanakan evaluasi pemasok. Sebagi catatan, melaksanakan evaluasi pemasok untuk pemasok yang ‘bermain’ dalam pasar yang monopoli tentunya sulit dan tidak bisa dilaksa- nakan, sehingga yang perlu dilakukan untuk kondisi ini adalah membangun kemitraan dalam suatu kesepakatan.

Evaluasi pemasok dilakukan apabila untuk material yang sama dapat diperoleh lebih dari satu alternatif pemasok. Setidaknya ada tiga kriteria dalam melakukan evaluasi pemasok, yaitu : keadaan umum pemasok, keadaan pelayanan, dan keadaan material. Beberapa contoh indikator dari setiap kriteria evaluasi pemasok adalah sebagai berikut (Gaspersz, 2002) :

  1. Keadaan umum pemasok
    • Ukuran atau kapasitas produksi
    • Kondisi finansial
    • Kondisi operasional
    • Fasilitas riset dan desain
    • Lokasi geografis
    • Hubungan dagang antar industri
  1. Keadaan pelayanan
    • Waktu penyerahan material
    • Kondisi kedatangan material
    • Kuantitas pemesanan yang ditolak
    • Penanganan keluhan dari pembeli
    • Bantuan teknik yang diberikan
    • Informasi harga yang diberikan
  2. Keadaan material
    • Kualitas material
    • Keseragaman material
    • Jaminan dari pemasok
    • Keadaan pengepakan (pembungkusan)

Dari ketiga kriteria tersebut, bobot (berdasarkan tingkat kepentingan) yang terbesar diberikan pada kriteria keadaan material, karena keadaan material akan mempengaruhi kinerja fungsi produksi dan operasi khususnya kualitas produk. Selanjutnya dilakukan penilaian untuk setiap indikator dan dihitung total skornya.

Syarat berikutnya adalah pemilihan distributor sebagai perantara produk perusahaan sampai ke tangan konsumen akhir. Intensitas saluran distribusi yang ideal bagi suatu perusahaan adalah bagaimana menyajikan jenis produk secara luas dalam pemuasan kebutuhan konsumen (Sitaniapessy, 2001). Penggunaan distributor yang terlalu sedkit dapat membatasi penyebaran jenis produk dalam aktivitas pemasaran. Sebaliknya, penggunaan distributor yang terlalu banyak dapat mengganggu brand image dalam posisinya berkompetisi. Satu kunci yang penting dalam mengelola saluran distribusi adalah menentukan berapa banyak saluran distribusi yang dikembangkan serta membentuk suatu pola kemitraan yang menunjang pemasaran suatu produk dalam area pemasaran tertentu.

Satu lagi persyaratan yang penting dalam penerapan Supply Chain Management adalah transparansi arus informasi. Untuk dapat mendukung arus informasi yang transparan dari seluruh mata rantai yang terlibat dalam Supply Chain Management diperlukan komitmen (dapat dicapai melalui kemitraan dan kesepakatan) disertai dengan ketersediaan database. Konsep database yang dimaksud dalam hal ini bukan hanya kumpulan data yang dikelola dan dikendalikan secara terpusat, melainkan data tersebut harus memenuhi lima kriteria sebagai berikut :

  1. Ketersediaan, kapanpun diperlukan harus tersedia disertai dengan kemudahan
  2. Kemampuan dipergunakan untuk berbagi kebutuhan
  3. Kemampuan data untuk selalu berkembang dalam konteks yang
  4. Jumlah data tidak tergantung kondisi fisik penyimpan data (penyimpan data yang harus menyesuaikan jumlah data).
  5. Konsistensi dan validitas

Tantangan Penerapan Supply Chain Management Dalam Industri Secara Umum

Meskipun Supply Chain Management memiliki banyak manfaat dalam menjalankan sistem produksi dan operasi di perusahaan, tetapi ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dan disikapi oleh perusahaan apabila akan menerapkannya. Tantangan yang pertama berasal dari lingkungan makro dan juga lingkungan eksternal. Misalnya saja trend  perekonomian global yang menunjukkan adanya kecenderungan inflasi, khususnya di Indonesia. Hal ini disebabkan karena persaingan di tingkat global memang sangat meningkat. Selain itu juga kecenderungan konsumen dimana perilaku konsumen yang menunjukkan sikap terlalu rumit dan ba-nyak menuntut. Faktor eksternal lain adalah perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang terkait dengan teknologi informasi sedapat mungkin diadaptasi oleh perusahaan-perusahaan yang menerapkan Supply Chain Management sehingga dapat mengelola informasi yang bergerak sangat cepat untuk menanggapi perpindahan produk. Sehingga sangat perlu bagi perusahaan yang menerapkan Supply Chain Management untuk memiliki peralatan fungsional seperti (Watanabe, 2001)  :

  1. Demand management/forecasting
  2. Advanced planning and scheduling
  3. Transportation management
  4. Distribution and deployment
  5. Production planning
  6. Available to promise
  7. Supply Chain Modeler
  8. Optimizer (Linier programming, non linier programming, heuristic, dan genetic algorithm)

Selain tantangan-tantangan tersebut, tantangan yang juga sering dihadapi khususnya negara berkembang adalah masalah infrastruktur termasuk birokrasi yang rumit. Masalah ini akan memberikan dampak yang signifikan terhadap tantangan Supply Chain Management yang lain,  yaitu teknologi informasi.

Di sisi lain, ada juga tantangan yang dapat digolongkan dalam lingkungan mikro atau di lingkungan perusahaan itu termasuk stakeholdernya. Misalnya saja pengukuran kinerja tidak didefinisikan dengan baik. Setiap channel menggunakan ukuran sendiri-sendiri, dan tidak ada perhatian untuk membuat keterkaitan dalam model matriks yang mengukur kinerja rantai secara keseluruhan.

Terkait dengan manajemen persediaan, kadang-kadang kebijakan persediaan terlalu sederhana, faktor-faktor ketidakpastian diperhitungkan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tersebut, kadang-kadang terlalu statis. Selain itu terkadang pemahaman terhadap konsep Supply Chain Management tidak lengkap, fokusnya sering berorientasi pada operasi internal saja, tidak dapat membedakan antara pelayanan terhadap intermediate consumers dengan end consumers. Untuk mengatasi tantangan tersebut, terlebih dahulu perusahaan harus melakukan perbaikan dan membangun komitmen di lingkungan internal perusahaan tersebut, baru kemudian membangun kemitraan dan komitmen dengan mata rantai lain di lingkungan eksternal. Satu hal yang juga penting dalam mengatasi tantangan untuk penerapan Supply Chain Management adalah mengelola informasi dalam sebuah sistem yang harus mendukung proses pengambilan keputusan di wilayah penerapan Supply   Chain Management.

Peran Supply Chain Dalam Industri Migas

Kegiatan ekplorasi, pengeboran dan berbagai proyek untuk meningkatkan produksi di sektor hulu migas menuntut dukungan pengelolaan sumberdaya perusahaan secara tepat guna. Tantangan utama yang dihadapi adalah untuk tetap beroperasi secara (lebih) efisien ketika biaya rata-rata pencarian dan produksi minyak semakin tinggi. Harga minyak yang tinggi hanya bisa dinikmati bilamana biaya modal dan operasional yang dikeluarkan masih menyumbangkan marjin yang dikehendaki melalui pendapatan minyak dalam volume produksi yang ekonomis. Ketika pendapatan dan kualitas produk minyak mentah bergantung pada kemampuan produksi sumur yang dieksploitasi dan kondisi reservoir di dalam bumi, maka strategi bisnis generik perusahaan minyak hulu adalah dengan meminimalkan biaya. Tuntutan beroperasi secara efisien ini memunculkan berbagai upaya terobosan dan kerjasama untuk menurunkan biaya bersama di beberapa komunitas perminyakan dunia, seperti CRINE (Cost Reduction in New Era) di kalangan pelaku operasi migas di North Sea, CORAL (Cost Reduction Alliance) di Malaysia, ataupun CRIS (Cost Reduction Indonesian Style) di Indonesia. Kisah sukses penerapan inisiatif CRINE telah kita dengar, namun tidak demikian halnya dengan upaya-upaya yang dilakukan di Indonesia. Begitu banyaknya stakeholder yang terlibat dalam penentuan kebijakan dan dalam operasi industri migas, yang seringkali tidak ’alligned’, merupakan salah satu sebab yang menciptakan kompleksitas untuk mengadakan perbaikan. Sedang faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah kondisi rantai suplai yang terkait dengan industri migas yang kurang terintegrasi, baik dalam kegiatan eksplorasi (seismic), pengeboran (drilling) maupun (eksploitasi).

Beberapa tahun lalu, supply chain belum dianggap sebagai strategic asset di sebagian besar perusahaan dalam industri migas, sehingga pengembangan strategi supply chain belum banyak dilakukan guna mendukung stretegi bisnis  organisasi  secara  keseluruhan.  Fungsi  purchasing  (lalu  berkembang  sebagai  procurement)  lebih   banyak dilakukan secara tradisional. Pembelian atau  pengadaan barang dan jasa lebih menekankan pada kriteria harga terendah dari hasil lelang di antara supplier atau kontraktor. Fungsi procurement juga merupakan aktivitas yang terpisah dari logistik (yang lebih dilihat sebagai pengganti fungsi distribusi).

Pemikiran untuk melakukan integrasi kemudian muncul ketika berbagai tantangan mengemuka seiring dengan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan customer secara lebih baik serta perkembangan pasar yang dinamik dan cepat berubah. Permasalahan dalam pengelolaan inventory yang menimbulkan barang persedian berlebih dan persediaan mati dalam jumlah yang sangat besar juga mendorong dilakukannya integrasi berbagai aktivitas yang terkait untuk membuat rencana dan koordinasi yang lebih baik dalam satu atap. Lead time barang-barang tertentu yang sangat panjang dan terkadang sulit diprediksi merupakan masalah lain yang membuat semakin pentingnya untuk menekankan fokus secara end-to-end. Transformasi ke arah pengelolaan supply chain secara stratejik menjadi kebutuhan agar perbaikan proses dapat dilakukan secara berkelanjutan dan kontribusi yang lebih besar dapat diwujudkan untuk memberikan nilai yang lebih besar kepada perusahaan. Peran supply chain menjadi penting karena sekitar ¾ dari total biaya operasi perusahaan dalam industri migas dibelanjakan untuk pengadaan barang dan jasa.

Dalam SCOR (Supply-Chain Operations Reference- model), pengelolaan arus produk, informasi dan keuangan dalam siklus supply chain didasarkan manajemen: Plan, Source, Make, Deliver dan Return serta satu proses Enable. Proses Plan (level 2) terdapat pada tiap-tiap bagian proses manajemen dan Plan (level 1) yang meliputi seluruh proses dalam supply chain dan juga collaborative plan yang menghubungkan SCOR di pihak Suppliers dan Customers.

Dari model value chain yang berorientasi pada proses, maka primary processes didasarkan pada dua proses utama, yaitu Orders dan Distribution. Model ini mewakili value chain dalam industri migas di mana menurut konfigurasi SCOR masing-masing merupakan kategori dari proses Source dan Deliver. Jika dilihat dari sudut pandang organisasi supply chain secara internal, maka Customer dari proses adalah internal custmers seperti fungsi Eksplorasi/Seismik (G&G), Drilling serta Produksi, dll. Sedangkan customers dari internal customers merupakan pihak-pihak di luar organisasi yang membeli produk perusahaan operator migas.

Aktivitas-aktivitas dalam primary processes mencakup seluruh peserta dari value chain yang terintegrasi, termasuk pertukaran informasi dan transaksi produk. Termasuk dalam Primary process Orders adalah arus informasi dari customer kepada produsen atau perusahaan stockist tentang permintaan barang/jasa, dan kapada perusahaan jasa angkutan serta kepada distributor tentang pengiriman. Fungsi Procurement/Logistics mengkoordinasikan informasi dengan mendapatkan input dari pemasok, produsen, perusahaan pengangkut dan customers. Aktivitas seperti Strategic Sourcing, Supplier Management & Development, Inventory Management serta Purchasing termasuk sebagai core  primary  processes Orders.  Distribusi  produk  dari  pabrikan  kepada  customer utamanya  terdiri penyimpanan barang dan transportasi ke tujuan akhir. Aktivitas-aktivitas seperti Formalities (customs clearance), Orders expediting, Transportation, Quality Control dan Warehousing terkait dengan primary processes Distribution dan  melibatkan  seluruh perusahaan / institusi dalam supply chain, termasuk: third party forwarder, inspector, storage base provider dan fleet controller untuk mengirimkan barang ke customers.

Analisa Industri

Industri hulu migas memiliki karakteristik yang unik di mana elemen-elemen dalam struktur industri memiliki tingkat kompetisi yang berbeda dengan industri pada umumnya. Dari lima kekuatan dalam Five Forces Framework Porter, hanya kekuatan suplier (dalam dimensi vertikal) yang memiliki pengaruh kuat terhadap daya saing atau kinerja perusahaan. Penjualan produk kepada pembeli di pasar cenderung bersifat captive di mana seluruh produksi migas secara teoritis akan diserap pasar karena permintaan yang secara agregasi lebih tinggi dibanding kemampuan atau kapasitas penawaran. Harga jual produk secara umum ditentukan melalui mekanisme pasar denagn kecenderungan yang terus meningkat  seiring dengan semakin berkurangnya pasokan dibanding kebutuhan secara total. Secara khusus, variasi harga lebih ditentukan oleh kondisi intrinsik produk yang dipengaruhi oleh karakteristik reservoir di dalam bumi di mana minyak itu diperoleh. Semakin tinggi viskositas minyak dan semakin ‘bersih’ kandungannya dari unsur-unsur yang tidak diinginkan (seperti belerang misalnya), maka semakin tinggi kualitas minyak tersebut dan harganya dibanding jenis minyak yang lebih ‘berat’.

Secara dimensi horizontal, persaingan antar sesama operator migas tidak terjadi secara langsung. Tingkat persaingan tidak terlampau ketat kecuali dalam hal mendapatkan produk-produk tertentu dari suplier atau kontraktor ketika kondisi pasokan sangat terbatas dari yang dibutuhkan oleh industri. Ancaman pendatang baru ke dalam industri tidak mempengaruhi dinamika industri secara langsung karena masing-masing perusahaan mendapatkan konsensi dengan area atau blok yang sudah ditentukan sebagai wilayah operasi masing-masing. Sekali lagi, pengaruh terhadap industri adalah dalam melakukan pengadaan produk-produk strategis penunjang operasi perminyakan yang secara kompetitif memberikan kekuatan tawar yang lebih besar di sisi suplier dan kontraktor. Ancaman dari produk substitusi belum merupakan hal yang serius terhadap daya saing dan kelangsungan industri. Produk substitusi belum secara tepat guna menggeser dominasi produk migas, paling tidak belum dapat menggantikan baik secara kuantitas maupun dalam skala ekonomi: tenaga panas bumi, air, angin, batubara, atau sumberdaya alam lain (baik yang dapat diperbarui ataupun tidak), tenaga sel matahari, hingga tenaga nuklir.

Industri migas yang capacity-driven ini memiliki kecenderungan persaingan yang relatif statis, kecenderungan ketidakstabilan pangsa pasar yang minimal dan harus lebih fokus pada strategi penurunan biaya secara internal. Dalam hal ini, peran manajemen supply chain menjadi sangat penting untuk mendukung pelaksanaan strategi tersebut untuk mencapai biaya operasional dan lifting cost yang rendah. Dengan mempertimbangkan kekuatan tawar pemasok dalam industri, pengelolaan supply chain secara strategis sangat diperlukan mengingat bahwa belanja  terbesar dalam struktur biaya operasi perminyakan adalah dalam pengadaan barang dan jasa.

Sebelum menetapkan langkah-langkah untuk menurunkan biaya, misalnya dengan memangkas  beberapa proses dalam supply chain, perusahaan harus mengidentifikasi elemen-elemen biaya utama dalam supply chain yang menyumbang pada Total Cost of Ownership (Total Life Cycle Cost). Identifikasi cost drivers tak jarang  harus melibatkan pihak supplier dan customer untuk berkomunikasi dan memahami biaya, kebutuhan, dan tujuan masing- masing bilamana biaya total hendak diturunkan. Ada common costs yang mudah untuk diidentifikasi dan dapat diturunkan tanpa menyebabkan kenaikan biaya-biaya yang lain. Namun, beberapa elemen biaya lebih sulit untuk diidentifikasi dan diturunkan kecuali dengan upaya khusus oleh kedua belah pihak dan bahkan melalui perikatan formal dengan tujuan bersama yang mutual seperti Aliansi Strategis yang memerlukan keterlibatan sumberdaya yang cukup signifikan. Pada umumnya, cost driver yang kasat mata mewakili hanya sekitar 30% dari potensi penurunan biaya, sementara 70% yang biasanya tersembunyi membutuhkan upaya lebih keras untuk menyerangnya. Beberapa contoh cost drivers yang tersembunyi itu misalnya: over engineering, under engineering, proses yang terstandardisasi, produk yang terstandardisasi, masalah safety, duplicated efforts, down time, kehilangan revenue,  penundaan produksi, masalah lingkungan, dan lain sebagainya.

Peran Pemerintah

Di industri migas Indonesia, peran badan-badan pemerintah masih sangat dominan dan menentukan. Pemerintah mendorong perkembangan ekonomi melalui berbagai kebijakan maupun insentif. SKK Migas, Ditjen Migas (Departemen ESDM), Ditjen Bea Cukai (Departemen Keuangan), Pemerintah Daerah merupakan beberapa agensi pemenrintah sebagai stakeholder yang berperan penting dalam mengatur jalannya operasi perminyakan melalui keputusan-keputusan yang dibuat termasuk dalam proses-proses supply chain.

Dalam presentasinya pada Half Day Seminar di Jakarta tahun lalu, Prof. Porter mengetengahkan perlunya menggeser peran dan tanggung jawab itu menuju model yang baru. Menurutnya, pengembangan ekonomi merupakan proses kolaboratif yang melibatkan pemerintah pada berbagai tingkatan, perusahaan-perusahaan, lembaga pengajaran dan penelitian, dan lembaga-lembaga untuk kerjasama. Daya saing haruslah menjadi proses dari bawah-ke atas (bottom- up) di mana individu-individu, perusahaan-perusahaan, cluster-cluster, dan lembaga-lembaga memegang tanggung jawab. Setiap wilayah dan cluster dapat mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing serta melakukan akses atas sumber-sumber keunggulan daya saing. Cluster dapat melibatkan perusahaan-perusahaan dengan beragam ukuran. Para pelaku dapat membuat forum untuk memfasilitasi dialog antara dunia usaha dan pemerintah. Ini dapat menjadi sarana untuk mengidentifikasi common opportunities, bukan hanya common problems. Cluster dapat pula menyumbangkan masukan pada kebijakan-kebijakan ekonomi maupun sosial.

Permasalahan Supply Chain Management dalam industri migas

Berikut adalah beberapa permasalahan pokok yang muncul dalam industri migas yang membutuhkan perhatian untuk mendapatkan pemecahan dengan tindakan nyata dalam implementasinya:

  • Tingkat perputaran inventory yang sangat rendah
  • Nilai inventory yang sangat tinggi dengan item-item yang tidak bergerak
  • Lead time yang panjang untuk pengiriman barang
  • Masalah kualitas barang
  • Masalah pengaturan dan peraturan
  • Masalah sumber daya manusia

Berdasarkan kutipan dari Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Suplai SKK Migas, Hery Margono (Mei 2014), tantangan tersbesar dalam menata pengelolaan rantai suplai industri hulu migas adalah membangun pemahaman yang sama tentang prinsip-prinsip dasar Production Sharring Contract (PSC) dan proses bisnis di industri hulu migas terkait kegiatan pengelolaan rantai suplai, sehingga tidak ada interpretasi yang salah dari masyarakat. Dalam pelaksanaannya, tantangan terbesar adalah adanya entry barrier bagi penyedia barang dan jasa baru, sehingga penyedia barang dan jasa hanya itu-itu saja. Hal ini mengakibatkan market price bisa terangkat karena tidak tercapainya keseimbangan supply and demand. Kami harus menyikapinya dengan memberikan kesempatan tumbuhnya penyedia barang dan jasa nasional namun tetap menjaga kualitas.

Secara garis besar ada dua hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kinerja supply chain di industri migas. Yang pertama adalah dengan melakukan kolaborasi dengan stakeholders melakukan cluster development/cluster activation. Yang kedua adalah dengan mengembangkan Strategic Supply Chain Management secara internal.

Strategic Supply Chain Management

Pengembangan proses supply chain internal harus terintegrasi tidak hanya dengan proses supply chain lain namun juga dengan proses-proses lain dalam perusahaan seperti drilling, technology, project dan production. Plan merupakan proses pertama yang menentukan pembuatan keputusan yang lebih baik dan memberikan arahan aktivitas-aktivitas supply chain yang terkait dalam proses eksekusi : make, deliver, dan return.

Setiap proses supply chain memiliki input dan output. Input dari plan adalah informasi tentang  permintaan, penawaran, dan sumber daya dalam supply chain. Plan yang baik harus memiliki sekurang-kurangnya beberapa hal berikut : menggunakan informasi yang relevan, terkini dan akurat, menitikberatkan pada prioritas bisnis dan keseimbangan antara tujuan internal (inventory cost, turnover ratio, asset utilization) dan tujuan eksternal (service level, fleksibilitas volume, dsb.), penyederhanaan proses, integrasi proses-proses terkait dari customer’s customer hingga supplier’s supplier untuk menghindari duplikasi dan excess (end-to-end focus), menetapkan action yang jelas dan dapat diukur serta mendapatkan ‘buy-in’ dari pihak-pihak internal (departemen terkait) maupun eksternal (key customers dan key suppliers).

Inti dari Supply Management adalah orientasi pada customer untuk secara berkelanjutan memenuhi atau melebihi kebutuhan dan keinginan customer. Hubungan partnership dengan internal customer harus dikembangkan karena keterlibatan customer dalam  proses  dan  keptusan  yang dibuat berperan penting pada keberhasilan implementasi dari strategi. Dua strategi utama dalam Strategic Supply Management adalah Commodity Strategy dan      Supply Strategy sebagai bagian dari Sourcing Plan dalam proses SCOR.

Commodity Team perlu dibentuk untuk mengoptimalkan pembuatan keputusan dalam pengembangan strategi tersebut. Team ini, walaupun tidak harus struktur yang independen, umumnya terdiri dari berbagai fungsi terkait dalam organisasi dan dikenal sebagai Cross Functional Commodity Team sebagai sinergi dari berbagai knowledge dan skill.

Keterlibatan Customer dalam proses pengambilan keputusan team sangat penting dalam mengenali kebutuhan yang akan dipenuhi serta untuk membuat rekomendasi tentang Commodities dan Suppliers. Commodity Strategy dikembangkan melalui pengolahan berbagai input dan statistik tentang kelompok barang dan jasa tertentu yang menjadi prioritas. Keputusan diambil misalnya berdasarkan matriks yang mengkombinasikan antara nilai strategis produk tersebut bagi perusahaan dalam hal criticality dan potensi penurunan biaya total dengan tingkat kompleksitas dalam Plan–Execution–Enable untuk menggarapnya. Penetapan prioritas commodity akan diikuti dengan rekomendasi suplier yang akan dilibatkan dalam pengembangan strategi. Early Supplier Involvement (ESI) ini penting bagi team untuk memulai dan mencapai hasil-hasil lebih awal dan komprehensif dengan adanya informasi yang lengkap dari hulu hingga hilir. Supplier Strategy yang dibuat harus bekerja seiring dengan strategi bisnis perusahaan secara keseluruhan (misalnya: strategi teknologi, program outsourcing, dan lain sebagainya). Penembangan Supplier Strategy dalam Strategic Supply Management terkait dengan proses strategik  lain  seperti  supply  base  rationalization  dan supply base characterization dengan fokus jangka panjang untuk menurunkan Total Cost of Ownership (TCO).

Berikut adalah proses Strategic Supply Management dari Plan hingga Operationalization:

  • Allignment: mengidentifikasi commodity serta membentuk Cross Functional Commodity Team.
  • Data Collection/Analysis: mengumpulkan data dan melakukan analisa atas TCO (preliminary), data benchmark eksternal, business unit operational plan, dan supplier capability
  • Streategy Design: menyusun Request for Business Solution, commodity strategy (preliminary), dan short list dari supplier.
  • Supplier Selection: melakukan proses sourcing sesuai dengan tata cara yang berlaku (melalui proses Direct Selection atau Tender) serta melakukan evaluasi/analisa atas proposal yang diterima. Penetapan supplier yang dipilih dilakukan menurut kriteria yang ditetapkan: evaluasi teknis dan komersial dengan dasar
  • Implementation: membuat Alliance Agreement dengan supplier yang terseleksi, menusun Key Performance Indicators (KPI) dan menetapkan tujuan atas apa yang ingin dicapai sebagai ukuran keberhasilan aliansi.
  • Operationalization (Continuous Improvement): melakukan proses formal pengukuran TCO secara dinamis dan KPI, komunikasi, penyelesaian masalah (corrective action), Pada tahap yang lebih lanjut, TCO yang diukur bisa di  sisi  internal  perusahaan  atau  eksternal  di sisi supplier. Bilamana disepakati, kedua TCO internal dan eksternal bisa dimasukkan dalam pengukuran secara formal untuk menghitung TCO secara total dalam Supply Chain untuk setiap komoditas yang digarap.

Dengan strategi dan operasionalisasi yang tepat, bukan hanya conscious costs saja yang  diturunkan tetapi juga biaya yang tersembunyi di balik gunung es bisa diturunkan secara signifikan untuk mencapai Total System Cost atau TCO yang terendah.

IV. Kesimpulan dan Saran

Secara umum dapat disimpulkan peran strategis Supply Chain Management bagi industri migas adalah adalah :

  1. Supply Chain Management secara fisik dapat mengelola kebutuhan material yang dibutuhkan industri migas dari hulu hingga hilir termasuk kegiatan inventorynya.
  2. Supply Chain Management berfungsi sebagai mediasi pasar, yaitu memastikan apa yang dipasok oleh rantai suplai mencerminkan aspirasi pelanggan atau konsumen akhir
  3. Supply Chain Management secara menyeluruh membantu industri migas untuk menciptakan sinkronisasi dan koordinasi aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan aliran material baik di dalam maupun di luar perusa-

Adapun saran yang dapat disampaikan dalam jurnal ini adalah :

  1. Pemerintah harus berperan aktif dalam membantu industri migas khususnya terkait dengan regulasi yang dikeluarkan untuk meningkatkan kinerja setiap tahap dalam supply chain management.
  2. Untuk dapat menerapkan Supply Chain Management secara efektif, perusahaan harus mampu menyediakan dan mengelola database terkait yang memadai (lengkap dan akurat) serta membangun partnership dengan supplier maupun distributor yang

 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber buku:

Gasperz, Vincent, Dr. (2001). Total Quality Management, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gunasekaran, A., Patel, C., Tirtiroglu, E., (2001), Performance Measurement and Metrics in a Supply Chain Environment, Inter- national Journal of Production and Operations Management, 21(2001),

Indrajit, Eko dan Richardus Djokopranoto. (2002). Konsep Manajemen Supply Chain. PT Grasindo.  Jakarta.

Turban, Rainer, Porter. (2004). Supply Chain Management. http://id.wikipedia.org/ wiki/  Manajemen_ rantai_suplai.

Sumber internet:

http://indonesianscm.web44.net/index.php?option=comcontent&task=view&id=18&Itemid=2

http://scm.phe-wmo.com/media/35f210f1-a1d4-4eee-825f-bad508b4b16d/Strategic%20Supply%20 Chain%20Management.pdf

http://4ef69f972526a2d0d0ca-179315b2fd10c686c84912f33917884a.r54.cf6.rackcdn.com/NEWS

/BUMI_2014_05_17_HM.pdf

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *