Proses penyembuhan luka

Proses penyembuhan luka menurut Dhirgo Adjie (2008) di kategorikal menjadi dua, yaitu penyembuhan luka primer dan penyembuhan luka sekunder.

  1. Penyembuhan Luka Primer (First Intention healing)

Dikatakan Penyembuhan luka Primer apabila fase penyembuhan luka berjalan cepat, disebabkan tidak adanya benda asing, tidak terjadi infeksi pada luka tersebut.

  1. Penyembuhan Luka Sekunder (Second Intention healing)

Dikatakan Penyembuhan luka Sekunder apabila fase kesembuhan berjalan lama karena luka terlalu lebar, ada benda asing atau infeksi, sehingga luka akan ditutup dengan jaringan granulasi.

Prinsip penyembuhan luka

Prinsip penyembuhan luka menurut Ismail, 2007 :

  1. Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang
  2. Respon tubuh  pada  luka  lebih  efektif  jika  nutrisi yang tepat tetap dijaga
  3. Respon tubuh secara sistemikpada trauma
  4. Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka
  5. Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme
  6. Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh termasuk bakteri.
  • Komponen penyembuhan luka

Komponen penyembuhan luka menurut Black. JM & Jacob’s,. EM (1997):

  1. Kolagen

Kolagen secara normal ditemukan menghubungkan jaringan, melintasi luka dengan bermacam sel mediator. Kolagen adalah sel paling penting pada fase penyembuhan karena sintesisnya, kolagen sisa, elastin dan proteoglikan. Substansi ini membangun kembali jaringan. Pada awalnya kolagen seperti gel  tetapi dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan, kolagen membentuk garis yang akan mengeringkan dan meningkatkan kekuatan luka. Beberapa substansi diperlukan untuk membentuk kolagen termasuk vitamin C, zinc, oksigen,dan besi.

  1. Angiogenesis

Perkembangan dari pembuluh darah baru pada luka kotor dapat diidentifikasi selama pengkajian klinik. Awalnya tepi luka berwarna merah terang dan mudah berdarah. Selanjutnya selama beberapa hari berubah dari merah terang menjadi merah gelap. Secara mikroskopis angiogenesis dimulai beberapa jam setelah perlukaan.

  1. Granulasi jaringan

Sebuah matrik kolagen, kapilarisasi, dan sel mulai mengisi daerah luka dengan kolagen baru membentuk sebuah scar. Jaringan ini tumbuh dari tepi luka ke dasar luka. Granulasi jaringan diisi dengan kapilarisasi baru yang memberi warna merah, tidak rata atau granulasi jaringan. Luka  dikelilingi oleh fibroblast dan makrofag. Makrofag melanjutkan untuk merawat  luka dan merangsang fibroblast dan proses angiogenesis. Sebuah granulasi jaringan mulai dibentuk dan proses epitelisasi dimulai.

  1. Kontraksi luka

Kontraksi luka adalah mekanisme dimana tepi luka menyatu sebagai akibat  kekuatan dalam luka. Kontraksi adalah kerja dari miofibroblast. Jembatan miofibroblast melintasi luka dan menarik tepi luka untuk menutup luka. Jika luka dari sebuah luka akut tidak kontraksi, infeksi menjadi komplikasi pada semua luka akut. Kontraksi tidak diharapkan pada beberapa luka karena perubahan bentuk kosmetik yang diakibatkan dari kontraktur.

  1. Epitelisasi

Epitelisasi adalah migrasi dari epitelisasi sel dari sekeliling kulit. Epitelisasi juga melintasi folikel rambut di dermis dari luka yang sembuh dengan secondary intention. Besarnya luka atau kedalaman luka memerlukan skin graft, karena epidermal migrasi secara normal dibatasi kira-kira 3 cm.

Epitelisasi dapat di lihat pada granulasi luka bersih. Epitelisasi sel terbagi dan akhirnya migrasi epitelisasi sel bertemu dengan sel yang sama dari  tepi luka yang lain dan migrasi berhenti. Pada saat ini mereka mulai berdifferensiasi menjadi bermacam lapis epidermis. Epitelisasi dapat ditingkatkan jika luka pada kondisi lembab. Tanda scar dibentuk pada fase ini adalah  merah terang, tipis dan rawan  terhadap tekanan.

  • Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka

Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka menurut Ismail (2007)

  1. Umur

Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah.

  1. Nutrisi

Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh. Klien memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A, dan mineral seperti Fe, Zn. Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan. Klien yang gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena suplai darah jaringan adipose yang tidak adekuat.

  1. Infeksi

Infeksi sistemik atau lokal dapat menghambat penyembuhan luka. Infeksi kronis juga mengakibatkan katabolisme dan habisnya timbunan protein, yang merupakan sumber-sumber endogen infeksi luka yang pernah ada.

  1. Sirkulasi dan Oksigenasi

Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan  lama untuk sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus. Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan  pernapasan kronik pada perokok.

  1. Keadaan Luka

Keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas penyembuhan luka. Luka yang dalam, tepi luka yang lebih dari 3 cm, luka yang mengandung benda asing maupun luka yang terkontaminasi oleh kuman khususnya golongan coccus, jika tidak ditangani akan mengakibatkan terhambatnya penyembuhan luka.

  1. Obat

Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.

  • Komplikasi penyembuhan luka

Komplikasi penyembuhan luka menurut Ismail (2007)

  1. Infeksi

Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2-7 hari setelah pembedahan. Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih. Jenis infeksi yang mungkin timbul antara lain :

  1. Cellulitis merupakan infeksi bakteri pada jaringan.
  2. Abses merupakan infeksi bakteri terlokalisasi yang ditandai oleh : terkumpulnya pus (bakteri, jaringan nekrotik, sel darah putih).
  3. Lymphangitis yaitu infeksi lanjutan dari selulitis atau abses yang menuju ke sistem limphatik. Hal ini dapat diatasi dengan istirahat dan antibiotik.
  1. Perdarahan

Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan, sulit membeku pada garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti drain). Hipovolemia mungkin tidak cepat ada tanda sehingga balutan dan luka di bawah balutan jika mungkin harus dilihat pada 48 jam pertama setelah pembedahan dan observasi selanjutnya setiap 24 jam. Jika perdarahan berlebihan terjadi, penambahan tekanan balutan luka steril, pemberian cairan dan intervensi pembedahan mungkin diperlukan.

  1. Dehiscence dan Eviscerasi

Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius. Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. Sejumlah faktor meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, multiple trauma, gagal untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan dehidrasi, mempertinggi resiko klien mengalami dehiscence luka. Dehiscence luka dapat terjadi 4 – 5 hari setelah operasi sebelum kolagen meluas didaerah luka. Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi pada luka, luka harus segera ditutup dengan balutan steril yang lebar dan dikompres dengan normal saline, kemudian segera dilakukan perbaikan pada daerah luka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *