Menurut Dahuri et.al. (1996) secara umum kerusakan terumbu karang dapat disebabkan oleh dua hal yaitu (1) aktifitas manusia, dan (2) Faktor Alami.

1). Kerusakan ekosistem terumbu karang yang diakibatkan aktifitas manusia adalah:

  • Siltasi dan sedimentasi yang diakibatkan pengerukan, reklamasi, erosi dari sungai dan kegiatan pembangunan konstruksi.
  • Penurunan kualitas air akibat perubahan salinitas dan suhu, pencemaran seperti tumpahan minyak, limbah industri dan limbah domestik.
  • Pemasukan air tawar yang sangat besar sebagai akibat pemindahan aliran sungai, dan pembuangan limbah cair dan banjir.
  • Penangkapan ikan yang bersifat merusak seperti penggunaan bahan peledak, racun dan alat tangkap yang non selektif seperti trawl dan muroami.
  • Eksploitasi yang berlebihan terhadap suatu jenis karang yang digunakan untuk hiasan dan cindera mata, atau bahkan sebagai material bangunan.
  • Pengambilan karang yang khas untuk hiasan pada akuarium.
  • Kerusakan karang akibat penurunan jangkar kapal wisata yang sembarangan atau terijak-injak oleh wisatawan yang berkunjung kedaerah terumbu karang, termasuk kegiatan selam yang tidak bertanggung jawab.

2). Kerusakan yang disebabkan oleh faktor alami misalnya adalah kenaikan suhu dan badai. Kenaikan suhu 4-60 C karena pengaruh elnino pada tahun 1982-1983 disinyalir telah merusak terumbu karang dihabitatnya. Di Indonesia suhu air laut mencapai lebih dari 300 C. Karang-karang dikepulauan seribu banyak yang mengalami bleaching dan diikuti kematiannya. Badai (storm dan hurricane) cukup berbahaya terhadap kehidupan terumbu karang. Badai ini dapat merusak dan memporakporandakan baik didaerah reef flat, reef edge maupun reef slope. Selain kenaikan suhu dan badai predator karang juga dikenal sebagai perusak terumbu karang. Acanthaster planci merupakan predator karang yang terkenal sebagai perusak karang terutama di daerah Indo-Pasifik. Kondisi terumbu Karang Indonesia mengalami penurunan drastis hingga 90% dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Menurut Dr Jan Henning Steffen, luas total terumbu karang Indonesia mencapai 85 200 Km persegi, terluas ke dua di dunia setelah Great Barrier Reef. Kondisi terumbu karang Indonesia tercatat 40 persen diantaranya berada dalam kondisi rusak, rusak sedang 24 persen dan sangat baik hanya enam persen. (Mawardi, 2003).

menurut data CITES, Indonesia merupakan eksportir karang hidup terbesar di dunia, tercatat 200 ribu buah selama tahun 1992 dan 800 ribu buah selama tahun 1999. Sumbangan produksi terumbu karang Indonesia di sektor perikanan tercatat 2,7 miliar dolar AS per tahun dan sektor pariwisata sebesar 600 juta dolar AS per tahun (mawardi, 2002). Mengantisipasi kerusakan karang yang sudah sedemikian serius tersebut maka perlu dilakukan rehabilitasi terumbu karang, salah satunya dengan melakukan transplantasi terumbu buatan.

Daftar pustaka lihat klik disni