BATASAN
Ulkus mole adalah penyakit karena hubungan seksual (PMS) yang bersifat akut, disebabkan oleh bacillus H. ducreyi yang bersifat gram negatif. Gejala klinik di tandai dengan terbentuknya ulkus yang mengalami nekrosis pada tempat inokulasi dan dapat diikuti oleh keradangan kelenjar limfa regional yang bersifat supuratip.

PATOFISIOLOGI
Penyakit ini ditularkan secara langsung melalui hubungan seksual, selain di daerah enitalia dapat juga terjadi inokulasi H. ducreyi di jari mulut dan dada. Pada tempat masuknya mikro organisme terbentuk ulkus yang khas.

GEJALA KLINIS
Masa inkubasi 1 – 5 hari.
Lesi pertama berupa makula atau papula yang segera berubah menjadi pustula yang pecah dan menimbulkan ulkus yang bersifat.
– multipel
– lunak
– sangat nyeri tekan
– dasarnya kotor dan mudah berdarah
– tepu ulkus menggaung
– kulit sekitar ulkus berwarna merah.

Lokalisasi ulkus pada : preputium, glans, penis korpus penis, frenulum (pada penderita pria) vulva, clitoris, cervix, anus (pada penderita wanita).
Pembesaran kelenjar limfa inguinal tidak multipel, terjadi pada 30% kasus yang disertai radang akut. Kelanjar kemudian melunak dan pecah dengan membentuk sinus yang nyeri disertai badan panas.

Variasi bentuk klinik :
1. Giant chancroid : ulkus hanya satu dan meluas dengan cepat serta bersifat destruktip.
2. Transient chancroid : ulkus kecil sembuh sendiri setelah 4 – 6 hari, disusul perlunakan kelenjar limfa inguinal 10 – 20 hari kemudian.
3. Ulkus molle serpinginosum : terjadi inokulasi atau penyebaran pada preputium, scrotum, paha dari lesi yang pertama. Ulkus ini dapat berlangsung bertahun-tahun.

LABORATORIUM
1. Bahan yang diperiksa diambil dengan mengorek tepi ulkus dan dioleskan pada kaca sediaan dengan satu kali hapusan (tidak boleh dioles berkali-kali) agar susunan yang khas dari mikro organisme tidak berubah. Kemudian sediaan dicat dengan cara Gram. Pada sediaan yang positif didapatkan kelompok basil yang tersusun seperti barisan ikan.
2. Pembiakan dengan menggunakan media yang mengandung darah kelinci, sistin, dekstrose dan agar beef infusion dalam suhu 320C selama 48 jam.
3. Tes serologi Ito-Reenstierna, yaitu 0,1 ml antigen disuntikkan intradermal pada kulit lengan bawah. Bila setelah 24 jam atau lebih timbul indurasi dengan diameter 5 mm tes dikatakan positip.
Hasi mulai positif setelah infeksi berlangsung 2 minggu dan akan terus positip selama hidup.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
Diagnosa terutama berdasar adanya gejala klinik yang khas.
Diagnosa pasti berdasar diketemukannya basil H. ducreyi.

DIAGNOSIS BANDING
1. Sifilis I
2. Ulkus mixtum
3. Herpes progenitalis
4. Apthae
5. Scabies
6. Pyoderma
7. Puduculosis pubis
8. Tuberculosis putis
9. Amoebiasis cutis
10. Dermatitis
11. E.E.M.
12. Epidermoid Ca

PENYULIT
1. Infeksi sekunder
2. Keradangan akut dan pembesaran kelenjar limfa regional yang bersifat tunggal.

PENATALAKSANAAN
1. Kombinasi Sulfametoksasol dan Trimetoprim 2 x 2 tablet sehari selama 5-7 hari.
2. Tetrasiklin 4 x 500 mg sehari selama 7 hari.
3. Eritromisin 4 x 500 mg sehari selama 10 hari.
4. Streptomisin 1 gram sehari selama 10 hari.

DAFTAR PUSTAKA
1. Felman YM, PHILM. Sexually Transmitted Diseases, Churchil Livingstone, 1986.
2. Holmes KK, Mardh PA, Sparling PF, Wiesner PJ. Sexually Transmitted Diseases, Mc Graw Hill, First Edition, 1989, 263 – 272.
3. King A, Nicol C, Veneral Diseases 3 rd ed. The English Language Book Society Baillere Tindak, 1980, 251 – 257.
4. Standarisasi Diagnostik dan Penatalaksanaan Beberapa Penyakit Menular Seksual (PMS), FKUI, 1990, 119 – 128.
5. Thin N. R. Lecture Notes on Sexually Transmitted Diseases Blackwell Scientivic Publications, 1982, 195 – 211.