TUGAS MATA KULIAH PENYAKIT TROPIK
WATER BORNE DISEASE
“SCHISTOSOMIASIS”

Disusun Oleh :
Agung Prabowo Kusumo 25010113120044
Agustina Prima Popylaya 25010113120080
Elfa Yesi Giovani 25010113120133
Syarifah Hidayatullah 25010113140309
Wana Wandhana Putri 25010113130424
Supatmi Dewi 25010115183015

KELOMPOK 10
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGOGO
SEMARANG
2016
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GAMBAR iii
BAB 1. PENDAHULUAN 1
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Schistosomiasis 3
2.2 Agen Penyakit 3
2.3. Epidemiologi 4
2.4 Phatogenesis 6
2.5. Diagnosis Schistosomiasis 8
2.6 Manifestasi dan Gejala Klinik Schistosomiasis 9
2.7.Pencegahan dan Pengendalian 12
BAB 4. PENUTUP
4.1. Kesimpulan 16
4.2. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 17
LAMPIRAN 19

BAB I
PENDAHULUAN

Air sangat penting bagi kehidupan di bumi. Indonesia memiliki beberapa sumber air bersih, setiap tahun ribuan orang memperoleh penyakit yang ditularkan melalui air. Penyakit yang ditularkan melalui air disebabkan oleh menelan atau datang ke dalam kontak dengan dan sumber air yang terinfeksi atau terkontaminasi. Sementara siapa pun dapat memperoleh penyakit yang ditularkan melalui air, orang dengan sistem kekebalan tubuh berkompromi berada pada risiko yang lebih tinggi tertular bentuk yang lebih parah dari penyakit yang ditularkan melalui air.
Kebersihan adalah salah satu cara drastis mengurangi kemungkinan tertular atau menyebarkan penyakit yang ditularkan melalui air. Dalam hal pengobatan, kebanyakan orang sembuh dari penyakit yang ditularkan melalui air mereka sendiri dan hanya membutuhkan perawatan suportif. Beberapa orang mungkin memerlukan antibiotik atau pengobatan lainnya tergantung pada jenis patogen atau kontaminan dalam air dan kemampuan mereka untuk melawan infeksi.
Schistosomiasis adalah penyakit infeksi parasit kronis yang disebabkan oleh cacing darah (Trematoda) dari genus Schistosoma. Schistosoma berbeda dari Trematoda jenis lainnya karena mereka hidup di dalam sistem pembuluh darah dan memiliki jenis kelamin jantan dan betina yang terpisah. Ada lima spesies Schistosoma yang ditemukan pada manusia, tetapi > 90 % dari semua infeksi ini hanya disebabkan oleh 3 spesies penting yaitu: Schistosoma mansoni, Schistosoma japonicum, dan Schistosoma haematobium. Dua spesies lainnya yang jarang ditemukan adalah Schistosoma intercalatum dan Schistosoma mekongi.
Schistosomiasis lazim terjadi pada daerah tropis dan sub-tropis, khususnya pada masyarakat miskin tanpa akses air minum yang aman, sanitasi buruk, serta infrastruktur kesehatan publik yang tidak memadai. Setelah malaria dan penyakit cacing, schistosomiasis adalah penyakit tropis yang paling dahsyat ketiga di dunia. Schistosomiasis menjadi sumber utama morbiditas dan mortalitas bagi negara-negara berkembang di Afrika, Amerika Selatan, Karibia, Timur Tengah, dan Asia. Schistosomiasis endemik di 76 negara dengan pendapatan rendah, di mana terjadi di daerah-daerah pedesaan dan pinggiran-pinggiran kota. Lebih dari 700 juta orang di dunia berisiko terkena infeksi schistosomiasis, dimana 207 juta orang yang terinfeksi, 85% nya tinggal di Afrika.
Berdasarkan laporan WHO tahun 2011, ada 243 juta orang memerlukan pengobatan untuk schistosomiasis dan 28,1 juta orang dirawat karena schistosomiasis. Secara global, ditemukan 200.000 kematian yang dikaitkan dengan schistosomiasis per tahun. Variasi dalam perkiraan prevalensi tergantung pada karakter fokus dari epidemiologi. Distribusi umum mencakup wilayah yang sangat besar, terutama di Afrika, tetapi juga di Timur Tengah, Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang gambaran penyakit Schistosomiasis di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Schistosomiasis
Schistosomiasis adalah penyakit infeksi parasit kronis yang disebabkan oleh cacing darah (Trematoda) dari genus Schistosoma. Schistosomiasis merupakan parasit yang biasa ditularkan melalui kontak dengan air. Schistosoma berkembang biak di dalam keong dengan jenis khusus yang menetap di air, dimana mereka dilepaskan untuk berenang bebas di dalam air. Jika mereka mengenai kulit seseorang, mereka masuk ke dalam dan bergerak melalui aliran darah menuju paru-paru, dimana mereka menjadi dewasa menjadi cacing pita dewasa. ((Miyazaki, 1991; Barodji dkk, 1983)
Penyakit ini endemis bagi lebih dari 70% negara berkembang di dunia. Lebih dari 650 juta orang memiliki risiko terinfeksi, dengan lebih dari 200 juta orang positif terinfeksi. Dari data tersebut, 120 juta orang menampakkan gejala klinis dengan 20 juta orang terinfeksi dengan parah. Schistosomiasis menimbulkan dampak kesehatan dan ekonomi yang besar. Penyakit ini kebanyakan menyerang anak-anak usia 14 tahun.
2.2 Agen Penyebab Schistosomiasis
Schistosomiasis adalah penyakit parasit akut dan kronis yang disebabkan oleh cacing darah (trematoda cacing) dari genus Schistosoma. Estimasi menunjukkan bahwa setidaknya 258 juta orang diperlukan pengobatan pencegahan pada 2014. Pengobatan pencegahan, yang harus diulang selama beberapa tahun, akan mengurangi dan mencegah morbiditas. Transmisi schistosomiasis telah dilaporkan dari 78 negara. Namun, kemoterapi preventif untuk schistosomiasis, di mana orang-orang dan masyarakat yang ditargetkan untuk pengobatan skala besar, hanya diperlukan di 52 negara endemik dengan moderat untuk transmisi tinggi.(1)

Tabel 1. Spesies parasit dan distribusi geografis schistosomiasis
Species Geographical distribution
Intetinal Schistosomiasis Schistosoma mansoni Africa, the Middle East, the Caribbean, Brazil, Venezuela and Suriname
Schistosoma japonicum China, Indonesia, the Philippines
Schistosoma mekongi Several districts of Cambodia and the Lao People’s Democratic Republic
Schistosoma guineensis and related S. intercalatum Rain forest areas of central Africa
Urogenital schistosomiasis Schistosoma haematobium Africa, the Middle East, Corsica (France)
Sumber http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs115/en/
2.3 Epidemiologi dan Penyebaran Penyakit
Schistosomiasis merupakan salah satu penyakit infeksi parasit pada manusia yang menyebar luas di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan Schistosomiasis menempati 40% dari keseluruhan penyakit di daerah tropis. Penyebaran Schistosomiasis sangat luas di daerah tropis maupun subtropis. Diperkirakan penyakit ini menginfeksi 200 sampai 300 juta orang pada 79 negara dan sebanyak 600 juta orang mempunyai risiko terinfeksi.
Pada awalnya di tahun 1904, seorang berkenegaraan Jepang, Katsudara, menemukan parasit pada vena porta kucing yang juga sejenis dengan parasit yang menyerang manusia. Setelah itu disadari bahwa parasit tersebut merupakan penyebab penyakit pada hewan dan manusia yang telah lama dikenal di Jepang. Kemudian para peneliti Jepang menemukan bahwa siput merupakan induk semang antara dari Schistosoma. Pada tahun 1914 daur hidup dari Schistosoma berhasil dipelajari.(2)
S. Mansoni (hepatik/intestinal) menyebar di daerah Sahara Afrika dan Timur Tengah, tetapi juga terdapat di pulau Karibia, Brazil, Venezuela, dan pantai Suriname. S. Haematobium (urinari) berisiko pada lebih dari 50% negara di Afrika (prevalensi tinggi pada daerah Afrika Timur, lebih tepatnya di danau Malawi. Kepulauan Madagascar dan Mauritus, daerah Timur Tengah, dan beberapa daerah di India. S. Japonicum (hepatik/intestinal) menyebar di daerah Asia Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat, dan banyak di temukan di Cina, Indonesia, dan Filipina. S. Intercalatum (hepatik/intestinal) di temukan di daerah hutan pada Afrika bagian tengah dan barat.
S. Haematobium dan S. Mansoni tersebar dari hulu sungai Nil di Afrika Tengah sampai ke hilirnya yaitu Mesir. Sedangkan S. Japonicum ditemukan di negara Asia Timur dan Asia Tenggara seperti Jepang, Cina, Filipina, Thailand, dan Indonesia. Infeksi campur dengan spesies hewan dan manusia sering muncul di Asia dan Afrika. Hibridisasi secara alamiah telah terjadi antara S. Mattheei dan S. Haematobium di Afrika Selatan dan S. Haematobium dengan S. Intercalatum di Kamerun.
S. Mansoni memiliki penyebaran yang paling luas meliputi 52 negara di Afrika, mediterania timur, Karibia, dan Amerika Selatan. S. Mansoni merupakan satu-satunya spesies yang dikenal di benua Amerika. Infeksi oleh spesies ini menyebar di daerah Brazil, Venezuela, Suriname, Puerto Rico, Dominika, dan pulau-pulau Antilla. Diduga Schistosoma dibawa ke Amerika karena perdagangan budak belian dari benua Afrika.
Schistosomiasis menyebar dan merupakan penyakit penting di Cina, Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara. Di Asia, penyakit ini disebut Schistosomiasis japonica atau dinamakan juga Oriental Schistosomiasis atau penyakit Katayama atau penyakit demam keong yang disebabkan oleh cacing Schistosoma japonicum.
Di Indonesia Schistosomiasis pada manusia hanya ditemukan di daerah dataran tinggi Lembah Napu (desa Wuasa, Maholo, Winowanga, Alitupu, dan Watumaeta) dan Danau Lindu (desa Anca, Langko, Tomado, dan Puroo), Sulawesi Tengah yang disebabkan oleh cacing Schistosoma japonicum dengan induk semang antara Oncomelania hupensis lindonensis. Di Jakarta pernah dilaporkan seseorang terinfeksi oleh parasit ini dan diduga mendapatkan infeksinya dari Kalimantan Tengah.(3)
Pada tahun 1971, dari pemeriksaan tinja terdapat infeksi Schistosoma japanicum Sp 53% dari 126 orang penduduk pada usia 7 sampai 70 tahun. Dan di Lembah Napu dilaporkan infection rate 8 dan 12% pada rattus exulans, tikus liar. Pada tahun 1972, dari hasil survei Departemen Kesehatan, Sub-direktorat Schistosomiasis dari beberapa desa di sekitar Danau Lindu, Lembah Napu, dan Daerah Besoa Provinsi Sulawesi Tengah, terdapat prevalensi Schistosoma japanicum Sp antara 1-67%. Setelah melalui program pemberantasan secara terpadu di sekitar Danau Lindu dan Lembah Napu, terlihat sekali penurunan prevalensi di Danau Lindu menjadi 1,9% dan di Lembah Napu menjadi 1,5%. Adapun faktor risiko Schistosomiasis adalah sanitasi yang buruk, dan kebiasaan mandi atau berenang di air yang terkontaminasi serkaria infeksius (3)
2.4 Pathogenesis
Siklus hidup lima spesies schistosome pada manusia adalah sama dan melibatkan hospes perantara siput. Manusia atau hewan berperan sebagai host (seperti dengan S. japonicum) terinfeksi ketika mereka melakukan kontak dengan air tawar yang terkontaminasi oleh serkaria, tahap infektif dari parasit. Setelah sampai pada host, serkaria menempel dan menembus kulit host melalui sekresi kelenjar. Parasit kehilangan ekor mereka saat mereka menembus kulit, dan berubah menjadi schistosomes muda bernama schistosomula. Setelah menghabiskan setidaknya dua hari di kulit, parasit menggali melalui dermis, menembus dinding pembuluh darah, dan mendapatkan akses ke dalam sistem peredaran darah. Parasit bermigrasi ke paru-paru dan tetap di sana selama beberapa hari sebelum melakukan perjalanan ke hati dimana mereka akan memakan darah pada sel-sel darah merah, matang dan kawin di dalam pembuluh hati. Setelah itu, mereka muncul sebagai pasangan worm pria-wanita, dan tinggal di portal atau pembuluh panggul. Hal ini terjadi pada empat spesies schistosome kecuali S. hematobium yang lebih suka tinggal kandung kemih pleksus vena. Betina mulai bertelur dalam mesenterika atau pembuluh panggul. Sebagian besar telur dialirkan ke hati melalui vena portal dan cabang lalu terjebak dalam pre-sinusoidal venula Portal. Beberapa telur bermigrasi dan menembus usus dan mencurahkan dalam tinja. Telur diletakkan di pleksus vena panggul bermigrasi ke arah kandung kemih, melewati dinding kandung kemih, dan diekskresikan dalam urin. Ketika telur melakukan kontak dengan air, mereka menetas menjadi bentuk larva bersilia yang disebut miracidia yang bisa merasakan siput host intermediate kompatibel. Miracidia menembus bekicot oleh aktivitas proteolitik dan gerakan mekanis. Di dalam host siput, miracidia mengalami perkembangan aseksual dan berubah menjadi serkaria yang muncul dari siput dan mencari host definitif.

Sumber : Olvada et al., 2013
2.5 Diagnosis Schistosomiasis
Deteksi telur parasit dalam tinja dan urin merupakan standar yang dilakukan dalam diagnosis penyakit schistosomiasis. Bagi orang-orang tinggal di daerah non-endemik atau di daerah transmisi rendah, serologi dan tes imunologi mungkin berguna dalam menunjukkan paparan infeksi dan perlunya pemeriksaan menyeluruh serta pengobatan. Untuk diagnosis infeksi S. mansoni, S. japonicum, S. mekongi dan S. intercalatum, sampel tinja perlu diperiksa untuk melihat keberadaan telur parasite dengan menggunan Kato-Katz thick smear atau teknik rapid Kato. Contoh dari tes ini adalah teknik Merthiolate-Iodine Concentration (MIFC), teknik Merthiolate Formaldehyde concentration (MFCT) dan Formaldehyde Ether. Namun, tes ini memakan waktu, melelahkan untuk dilakukan, dan tidak praktis untuk dilakukan skrining berbasis lapangan.
Untuk schistosomiasis urogenital, pemeriksaan urin menggunakan teknik filtrasi dan mikroskop dilakukan untuk mendeteksi telur S. haematobium merupakan studi awal pada spesies schistosom ini. Adapun teknik konsentrasi untuk pemeriksaan tinja, teknik penyaringan urine telah dimodifikasi untuk meningkatkan sensitivitas tes. Diagnosis infeksi Schistosoma oleh Miracidia Hatching Technique (MHT) juga diperkenalkan di China. Studi di Cina, membandingkan tes ini untuk Kato-Katz, yang menunjukkan bahwa Kato-Katz masih lebih disukai daripada MHT untuk skrining infeksi S. japonicum dalam skala besar. MHT jauh lebih membosankan, menyediakan konsisten dan hanya hasil kualitatif, dan kurang sensitif dibandingkan Kato-Katz.
Dalam upaya meningkatkan diagnosis infeksi schistosome, tes serologi (mis. Circumoval Precipitin test [COPT] dan Indirect Hemaglutination Assay [IHA]) dikembangkan untuk mendeteksi keberadaan antibodi terhadap tahapan schistosome berbeda. Meskipun tes ini lebih sensitif, namun infeksi akut tidak dapat dibedakan dari infeksi kronis. Contoh dari metode ini adalah antibodi monoklonal yang digunakan untuk mendeteksi antigen schistosome yang beredar dalam darah dan diekskresikan dalam urin. Yang paling menjanjikan dan ekstensif dipelajari adalah tes yang dapat mendeteksi antigen utama yang beredar seperti Circulating Anodic Antigen (CAA) and Circulating Cathodic Antigen (CCA).
Infeksi spesies schistosome pada manusia, termasuk S. haematobium juga dapat didiagnosis melalui pemeriksaan mikroskopis dari jaringan yang diperoleh dengan biopsi mukosa dubur. Prosedur ini, merupakan hal yang invasif dan hanya dapat dilakukan di fasilitas kesehatan di mana ada dokter yang berpengalaman dan microscopists. Untuk deteksi patologi organ, metode pencitraan canggih, seperti USG, computed tomography scan (CT scan), dan Magnetic Resonance Imaging (MRI), dapat menunjukkan bukti fibrosis hati dan hipertensi portal, dan dapat memvisualisasikan saluran kemih fibrosis, polip, dan bisul.

2.6. Manifestasi dan Gejala Klinik Schistosomiasis
a. Masa Tunas Biologi
Dimulai ketika serkaria menembus kulit yang dapat menimbulkan pruritus dan kemerahan yang bersifat sementara. Selama invasi hati dan organ lain oleh cacing belum dewasa , timbul perdarahan berupa petechie dan sarang infiltrasi ke eosinofil dan leukosit. Reaksi toksik dan alergi dapat menyebabkan urtikaria, edema subkutan , serangan asma , leukositas dan eosinofilia.
Pada waktu berakhir masa tunas, hati menjadi besar dan nyeri.Terdapat pula rasa tidak nyaman dibagian perut, demam berkeringat menggigil dan kadang-kadang diare. Kemudian cacing muda ber migrasi melawan aliran darah ke vena mesenterika dan cabang-cabangnya dan telur pun mulai menyerbu ke dindidng usus. Dengan terjadinya perletakan telur, stadium akut dimulai.
Pada lingkaran hidup normal, telur mencari jalan melewati dinding usus dan masuk ke feases. Apabila terdapat banyak telur disertai darah dan sel jaringan nekrosis, sejumlah besar telur akan terbawa kembali kealiran darah menuju hati.
b. Stadium Akut
Staium yang menunjukan permulaan masuknya telur kedalam usus, hati dan paru. Stadium ini ditanadai oleh demam, malaise, urtikaria, eosinofilia, sakit perut, diare, berat badan turun, hati mulai membesar, hepatomegali timbul lebih dini disusul dengan splenomegali dapat terjadi dalam waktu 5-8 bulan.
Telur schistosoma diletakan dikelenjar limfe mesenterium dan dinding usus. Telur yang masuk menimbulkan infeksi yang hebat dalam dinding usus dengan poliferasi jaringan ika yang luas, pembentukan papiloma dan thrombosis pembuluh darah kecil.
Perubahan ini bersifat kongesti, mukosa menjadi bergranula atau mengadakan hipertrofi, papil yang kekuning-kuningan dan pemebentukan ulkus .Lesi yang berat disebabkan oleh schistosoma japonicum Sp karena menghasilkan 10 kali banyak telur dibandingkan dengan schistosoma mansoni Sp. Telur ditemukan dalam apendik pada 75 % kasus infeksi usus, kadang disertai dengan infeksi bakteri skunder, tetapi telur ini jarang menimbulkan sindrom apendiks.
Telur yang menjadi emboli terutama menyebabkan poliferasi progresif dan fibroblastic, fibrosis periduktulus dan sirosis interstisial dengan hipertensi portal yang semakin tinggi. Fibrosis hati yang mengarah ke sirosis merupakan hal yang dapat pua terjadi pada infeksi schistosoma japonicum Sp. Infeksi otak yang jarang sekali terjadi, terutama disebabkan oleh telur schistosoma japonicum Sp yang menjadi emboli, dan bereaksi secara mekanis sebagai protein asing, sebagai bahan toksik dan menimbulkan reaksi yang hebat dengan edema infiltrasi sel pada susunan saraf, sel-sel raksasa, perubahan pada vena dan degenarasi jaringan sekitanya.
Sakit daerah perut, hepatitis, anoreksia, demam mialgia, disentri dan berat badan turun sampai empat bulan dan dapat lebih hebat pada infeksi berat dan ini disebabkan oleh schistosoma japonicum Sp karena jumlah telur yang dihasilkan spesies ini lebih besar.(4)
c. Stadium menahun
Terjadi penyembuhan jaringan dengan pembetukan jaringan ikat atau fibrosis. Hati yang semula membesar karena peradangan kemudian mengecil karena terjadi fibrosis yang disebut sirosis. Pada schistosomiasis, sirosis yang terjadi adalah sirosis periportal yang mengakibatkan terjadinya hipertensi portal karena adanya bendungan dalam jaringan hati. Gejala yang timbul adalah splenomegali dan edema, yang biasanya ditemukan pada tungkai bawah dapat pula pada alat kelamin. Dapat ditemukan asites dan ikterus. Pada stadium lanjut dapat sekali terjadi hematemesis karena pecahnya varises eosophagus.
Bertahun-tahun kemudian gejala dan tanda yang terjadi disebabkan oleh reaksi fibrotik terhadap telur; contohnya di hati (fibrosis hati dan hipertensi portal), paru (fibrosis paru), dan kandung kemih (dalam kasus S. haematobium). Lesi yang mendesak ruang (space-occupying lesion) di otak dan korda spinalis dapat menyebabkan kejang.(5)
Dengan kata lain gejala yang ditimbulkan bergantung dengan organ yang terkena seperti :
1. Jika pembuluh darah pada usus terinfeksi secara kronis : perut tidak nyaman, nyeri dan pendarahan (terlihat pada kotoran), yang bisa mengakibatkan anemia.
2. Jika otak atau tulang belakang terinfeksi secara kronis (jarang terjadi) : Kejang atau kelemahan otot.
3. Jika hati terkena dan tekanan pada pembuluh darah adalah tinggi : pembesaran hati dan limpa atau muntah darah dalam jumlah banyak..
4. Jika kandung kemih terinfeksi secara kronis : sangat nyeri, sering berkemih, kemih berdarah dan meningkatnya resiko kanker kandung kemih
5. Jika saluran kemih terinfeksi dengan kronis :terjadi peradangan dan akhirnya luka parut yang bisa menyumbat saluran kencing.
2.7 Pencegahan dan Pengendalian
Berbagai upaya pemberantasan telah dilakukan sejak tahun 1982 dengan berbagai macam bentuk kegiatan seperti pengobatan penduduk, penyuluhan, dan perbaikan lingkungan. Pemberantasan ditujukan pada cacing schistosoma japonicum (host), keong Oncomelania hupensis lindoensis (hospes perantara), manusia dan hewan mamalia (hospes definitif), dan lingkungan baik fisik dan maupun biologis.
Infeksi dicegah dengan mengenakan pakaian yang tepat saat bekerja di lapangan dan menghindari air yang terkontaminasi. Program pengendalian dengan membasmi siput, atau pengobatan massal, dapat mengendalikan penyakit ini jika tersedia sumber daya yang mencukupi, seperti yang telah dilakukan di Cina dan Jepang. Strategi pemberantasan schistosimiasis di Indonesia, yakni
1. Meningkatkan pemberantasan penyakit untuk mencegah kemungkinan penyebaran ke daerah lain
2. Metode intervensi, dengan kombinasi pengobatan penderita, pemberantasan keong, perbaikan sanitasi lingkungan, dan agroengineering yaitu mengeringkan daerah-daerah rawa yang merupakan fokus keong
3. mengadakan kerja sama lintas sektoral.
Secara singkat pengendalian Schistosomiasis dilakukan dengan berdasarkan terapi obat, kontrol siput, sanitasi yang baik dan pendidikan kesehatan. Program pengendalian Skistosomiasis menurut Ditjen PP dan PL Kemenkes RI tahun 2010 antara lain(6) :
1. Hindari mandi dan mencuci dengan air yang mengandung serkaria/ hindari kontak dengan air di daerah endemis
2. Menggunakan jamban yang memenuhi standar kesehatan
3. Hindari tempat habitat keong menular atau jika beraktivitas di sekitar habitat keong penular sebaiknya memakai sepatu boot
4. Menggunakan air dari sumber air yang terjamin kualitas kebersihannya sebagai kebutuhan sehari-hari
Pemutusan rantai penularan penyakit ini dapat dilakukan dengan :
1. Penemuan dini penderita dengan pemeriksaan tinja penduduk dan pengobatan
2. Pemberantasan keong penular baik melali upaya lintas sektor maupun swadaya
Menurut CDC tahun 2012 belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit schistosomiasis ini. Cara terbaik untuk mencegah schistosomiasis adalah dengan langkah-langkah berikut jika kita berkunjung atau tinggal di daerah endemik schistosomiasis(7):
1. Hindari berenang atau berendam di air tawar ketika berada di daerah endemik.
2. Minum air yang aman. Meskipun schistosomiasis tidak ditularkan karena menelan air yang terkontaminasi, jika mulut atau bibir bersentuhan dengan air yang mengandung parasit, bisa terjadi terinfeksi. Karena air datang langsung dari kanal, danau, sungai, sungai, atau mata air mungkin terkontaminasi dengan berbagai organisme menular, lebih baik rebus air hingga mendidih selama 1 menit atau menyaring air sebelum diminum.
3. Air yang digunakan untuk mandi harus direbus mendidih selama 1 menit untuk membunuh serkaria apapun, dan kemudian didinginkan sebelum mandi untuk menghindari panas. Air yang disimpan di tangki penyimpanan untuk setidaknya 1 – 2 hari harus aman untuk mandi.
Kontrol terhadap penyakit schistosomiasis dapat dilakukan dengan upaya pengendalian yang biasanya terfokus pada:
1. mengurangi jumlah infeksi pada orang dan / atau menghilangkan siput yang diperlukan untuk mempertahankan siklus hidup parasit.
2. Untuk semua spesies yang menyebabkan schistosomiasis, perbaikan sanitasi dapat mengurangi atau menghilangkan penularan penyakit ini.
Langkah-langkah pengendalian termasuk pengobatan massal seluruh komunitas dan pengobatan yang ditargetkan untuk anak-anak usia sekolah. Beberapa masalah dengan kontrol dari schistosomiasis meliputi:
• Bahan kimia yang digunakan untuk menghilangkan siput di sumber air tawar dapat membahayakan spesies lain di dalam air dan, jika pengobatan tidak berkelanjutan, siput dapat kembali lagi ke tempat tersebut.
• Untuk spesies parasit tertentu seperti S. japonicum, sapi atau kerbau juga bisa terinfeksi.
Menurut WHO pengendalian schistosomiasis didasarkan pada pengobatan skala besar pada kelompok penduduk berisiko, akses terhadap air bersih, peningkatan sanitasi, pendidikan kebersihan dan kontrol siput. Strategi WHO untuk pengendalian schistosomiasis berfokus pada mengurangi penyakit secara periodik, pengobatan dengan praziquantel melalui pengobatan skala besar (kemoterapi preventif) dari populasi yang terkena dampak. Ini melibatkan perawatan rutin dari semua kelompok berisiko. Di beberapa negara, di mana ada transmisi rendah, pengobatan harus ditujukan untuk penghapusan penyakit. Kelompok sasaran untuk pengobatan adalah:
1. anak usia sekolah di daerah endemis,
2. orang dewasa dianggap beresiko di daerah endemis, dan orang-orang dengan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan air yang terinfeksi, seperti nelayan, petani, pekerja irigasi, dan wanita yang tugas domestik membawa mereka dalam kontak dengan air terinfestasi,
3. Seluruh masyarakat yang tinggal di daerah endemis.
Frekuensi perawatan ditentukan oleh prevalensi infeksi pada anak-anak usia sekolah. Di daerah-transmisi tinggi, pengobatan mungkin harus diulang setiap tahun selama beberapa tahun. Pemantauan sangat penting untuk menentukan dampak dari intervensi kontrol. Tujuannya adalah untuk mengurangi penyakit: pengobatan periodik populasi berisiko akan menyembuhkan gejala ringan dan mencegah orang terinfeksi dari pengembangan tahap akhir penyakit berat, kronis. Namun, keterbatasan utama untuk kontrol schistosomiasis telah terbatasnya ketersediaan praziquantel. Data untuk 2014 menunjukkan bahwa 20,7% orang yang membutuhkan pengobatan tercapai. Praziquantel adalah pengobatan yang dianjurkan melawan segala bentuk schistosomiasis. Hal ini efektif, aman dan murah. Pengendalian schistosomiasis telah berhasil diterapkan selama 40 tahun terakhir di beberapa negara, termasuk Brasil, Kamboja, Cina, Mesir, Mauritius, Republik Islam Iran dan Arab Saudi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Schistosomiasis adalah penyakit infeksi parasit kronis yang disebabkan oleh cacing darah (Trematoda) dari genus Schistosoma. Schistosoma berbeda dari Trematoda jenis lainnya karena mereka hidup di dalam sistem pembuluh darah dan memiliki jenis kelamin jantan dan betina yang terpisah. Ada lima spesies Schistosoma yang ditemukan pada manusia, 3 spesies penting yaitu: Schistosoma mansoni, Schistosoma japonicum, dan Schistosoma haematobium. Dua spesies lainnya yang jarang ditemukan adalah Schistosoma intercalatum dan Schistosoma mekongi. Siklus hidup lima spesies schistosome pada manusia adalah sama dan melibatkan hospes perantara siput Di dalam host siput, miracidia mengalami perkembangan aseksual dan berubah menjadi serkaria yang muncul dari siput dan mencari host definitif.

DAFTAR PUSTAKA
1. Schistosomiasis [Internet]. WHO Media centre. 2016 [cited 2016 Apr 4]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs115/en/
2. Sutarno. Schistosomiasis (Trematoda Darah) Dan Pencegahannya [Internet]. Fakultas ilmu Kesehatan Universitas Nasional Jakarta; Available from: http://adln.lib.unair.ac.id/files/disk1/733/gdlhub-gdl-s2-2014-kotofirdau-36642-8.bab-2–a.pdf
3. Soeharsono. Penyakit dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta: Kanisius.; 2005.
4. Pengajar S. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. 4th ed. jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2011.
5. Sitti Chadijah, Phetisya Pamela Frederika Sumolang NN. Balai Litbang P2B2 Donggala. Bul Dis [Internet]. 2015; Available from: ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/download/…/3449
6. Profil Pengendalian penyakit dan Penyehatan Lingkuhan Tahun 2012. Jakarta; 2012.
7. M PD dan W. Weinberg M. 2005. Recommendations for presumptive treatment of schistosomiasis and strongyloidiasis among the Somali Bantu refugees. Department of Health and Human Service: Cender for Disease Control and Prevention; 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *