1.1 Pendahuluan
Miliaria adalah gangguan umum dari kelenjar keringat eccrine yang sering terjadi dalam kondisi hawa panas yang tinggi. Miliaria disebabkan oleh penyumbatan saluran keringat, yang menyebabkan kebocoran eccrine keringat ke dalam epidermis atau dermis.
Klasifikasi Miliaria ada 3 jenis menurut tingkat di mana terjadinya penyumbatan saluran keringat. Miliaria Crystallina, obstruksi duktus yang paling dangkal, terjadi di stratum corneum. Klinis, bentuk ini menghasilkan papul kecil, rapuh, jelas vesikula. Miliaria rubra, penyumbatan di dalam epidermis. Klinis, sangat gatal, dan papula erythematous. Miliaria profunda, obstruksi duktus terjadi pada dermal-epidermal junction. Retensi keringat ke papiler dermis dan menghasilkan papul asimtomatik papula berwarna. Ketika pustula berkembang dalam lesi Miliaria rubra, istilah Miliaria pustulosa digunakan

1.2 Definisi
Miliaria adalah suatu keadaan tertutupnya pori-pori keringat sehingga menimbulkan retensi keringat di dalam kulit. Berdasarkan lokasi tersembutnya, miliaria terbagi dalam beberapa tipe :
• Miliaria kristalina, sumbatan berada di dalam stratum korneum.
• Miliaria rubra, sumbatan terletak di dalam epidermis.
• Miliaria profunda, sumbatan ada di dalam dermo-epidermal junction.
Pada semua tipe, pecahnya saluran keringat di bawah sumbatan akan menghasilkan retensi, yang mengakibatkan gatal, papula, papula vesikula dan eritematus.

1.3 Insidensi
Miliaria rubra banyak terjadi di daerah panas kelembaban yang tinggi, tetapi dapat juga terjadi di daerah lain. Sekitar 30% orang yang tinggal di daearah tersebut bisa mengalami miliaria.
Sebetulnya semua bayi dapat mengalami miliaria pada kondisi yang ada. Anak-anak lebih banyak mengalami miliaria di bandingkan orang dewasa. Ini rupanya menggambarkan bahwa bertambahnya kekuatan struktur saluran keringat sesuai bertambahnya umur . tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

1.4 Penyebab
Biang keringat terjadi karena penyumbatan kelenjar atau saluran keringat oleh daki, debu, dan kosmetik. Tidak ada penyebab genetik. Biang keringat biasanya menyerang orang yang tinggal di daerah tropis, yang kelembapannya terlalu tinggi. Di Indonesia, tingkat kelembapannya mencapai 90 persen. Berbeda dengan negara lain, seperti Arab Saudi. Walaupun negara ini beriklim tropis, kelembapannya sangat rendah sehingga tidak keluar keringat, tidak terjadi biang keringat dan tidak ada bintik merah.
Menurut pakar, bintik merah biasanya terjadi pada daerah kulit yang banyak berkeringat, seperti dahi, leher, punggung, dan dada. Orang awam biasanya menyebut bintik-bintik merah yang gatal itu dengan biang keringat atau keringat buntet. Bahasa kedokterannya miliaria. Biang keringat disebabkan oleh panas dan kelembapan yang tinggi pada lapisan atas kulit. Ada beberapa faktor yang menyebabkan keringat keluar berlebihan dan tersumbatnya saluran keringat, yaitu udara panas dan lembap disertai ventilasi ruangan yang kurang baik, pakaian terlalu tebal, dan ketat, aktivitas yang berlebihan dan setelah demam.
1. Miliaria kristalina, sumbatan berada di dalam stratum korneum.
2. Miliaria rubra, sumbatan terletak di dalam epidermis.
3. Miliaria profunda, sumbatan ada di dalam dermo-epidermal junction

1.5 Patofisiologi
Rangsangan utama bagi pengembangan Miliaria adalah kondisi kelembaban panas yang tinggi dan menyebabkan berkeringat berlebihan. Terjadi occlusion kulit karena pakaian, perban, obat transdermal patch, atau lembaran plastik (dalam pengaturan percobaan) selanjutnya dapat berkontribusi untuk pengumpulan keringat pada permukaan kulit dan lapisan overhydration dari corneum. Orang yang rentan, termasuk bayi, yang relatif belum matang eccrine kelenjar, overhydration dari stratum corneum dianggap cukup untuk menyebabkan penyumbatan sementara dari acrosyringium.
Jika kondisi lembab panas bertahan, individu terus memproduksi keringat berlebihan, tetapi tidak dapat mengeluarkan keringat ke permukaan kulit karena penyumbatan duktus. Sumbatan ini menyebabkan kebocoran keringat ke permukaan kulit, baik di dalam dermis atau epidermis, dengan relatif anhidrosis.
Ketika titik kebocoran di lapisan corneum atau hanya di bawahnya, seperti dalam Miliaria crystallina, sedikit adanya peradangan, dan lesi tidak menunjukkan gejala. Sebaliknya, di Miliaria rubra, kebocoran keringat ke lapisan subcorneal menghasilkan spongiotic vesikula dan sel inflamasi kronis periductal menyusup pada papiler dermis dan epidermis bawah. Dalam Miliaria profunda, terbentuknya dari keringat ke dermis papiler menghasilkan substansial, masuk kedalam periductal limfositik spongiosis dari saluran intra-epidermis.
Residen bakteri kulit, seperti Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus, diperkirakan memainkan peran dalam patogenesis Miliaria. Pasien dengan Miliaria telah 3 kali lebih banyak bakteri per satuan luas kulit sebagai subyek kontrol sehat. Agen antimikroba efektif dalam menekan Miliaria akibat eksperimental. Acid-Schiff berkala-positif bahan tahan diastase telah ditemukan di plug intraductal yang konsisten dengan substansi polisakarida ekstraselular stafilokokal (EPS). Dalam pengaturan percobaan, hanya S epidermidis galur yang menghasilkan EPS dapat menimbulkan Miliaria.
Pada akhir tahap Miliaria, hyperkeratosis dan parakeratosis dari acrosyringium diamati. Sebuah plug hyperkeratotic mungkin muncul untuk menghalangi eccrine saluran, tetapi sekarang ini diyakini menjadi terlambat perubahan dan bukan penyebab menimbulkan penyumbatan keringat.

1.6 Gejala Klinik
Miliaria kristalina
Pada penyakit ini terlihat vesikel berukuran 1-2 mm terutama pada badan setelah banyak berkeringat, misalnya karena hawa panas. Vesikel bergerembol tanpa tanda radang pada bagian badan yang tertutup pakaian. Umumnya tidak memberi keluhan dan sembuh dengan sisik yang halus. Pada gambaran histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal.

Miliaria rubra
Penyakit ini lebih berat dari pada miliaria kristaliana, terdapat pada badan dan tempat-tempat tekanan atau gesekan pakaian. Terlihat papul merah atau papul vesikular ekstravesikular yang sangat gatal dan pedih. Miliaria jenis ini terdapat pada orang yang tidak biasa pada daerah tropik.
Patogenesisnya belum diketahui pasti, terdapat 2 pendapat. Pendapat pertama mengatakan primer, banyak keringat dan perubahan kualitatif, penyebabnya adanya penyumbatan keratin pada muara kelenjar keringat dan perforasi sekunder pada bendungan keringat di epidermis. Pendapat kedua mengatakan bahwa primer kadar garam yang tinggi pada kulit menyebabkan spongiosis dan sekunder terjadi pada muara kelenjar keringat (LOEWENIHOE 1961). Staphylococcus diduga juga mempunyai peranan.
Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis.

Miliaria profunda
Bentuk ini agak jarang kecuali di daerah tropis. Kelainan ini biasa timbul setelah miliaria rubra, ditandai dengan papul putih, keras berukuran 1-3 mm. Terutama terdapat di badan dan ekstremitas.
Karena letak retensi keringat lebih dalam maka secara klinis labih banyak berupa papul dari pada vesikel. Tidak gatal dan tidak terdapat eritema.
Pada gambaran histologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah pada dermis bagian atas dengan atau tanpa infiltrasi sel radang.

1.7 Histopatologi
Miliaria kristalina
Pada gambaran histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal.
Miliaria rubra
Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis.
Miliaria profunda
Pada gambaran histologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah pada dermis bagian atas dengan atau tanpa infiltrasi sel radang.

1.8 Diagnosis Banding
• Diagnosis miliaria kristalina dapat ditegakkan dengan cara memecah vesikula dengan jarum kecil; akan keluar cairan jernih.
• Miliaria rubra dapat dikelirukan dengan penyakit lain, misalnya reaksi irtitasi primer, eritema neonatorum, dan folikulitis. Dengan kaca pembesar akan tampak vesikula yang khas; puncak lesi yang eritematus adalah folikel rambut.
• Miliaria profunda. Ada persoslan dalam menegakkan diagnosis klinis miliaria profunda, karena papula putih atau warna cerah dapat dikelirukan dengan papular mucinosis dan amiloidosis.
Pemeriksaan laboratorium tidak di perlukan.
1.9 Penatalaksanaan
HINDARI BIANG KERINGAT
1. Mendorong terjadinya penguapan keringat. Salah satu caranya adalah selalu memakaikan baju-baju yang terbuat dari bahan katun tipis pada anak. Selain itu, upayakan agar sirkulasi udara di dalam rumah cukup baik.
2. Mempunyai pola hidup bersih, dengan cara :
– Menjaga selalu kebersihan di rumah, termasuk kebersihan kulit si kecil. Segeralah mengeringkan kulitnya ketika anak berkeringat.
– Memandikan anak secara teratur dan dua kali dalam sehari
– Gantilah baju si kecil begitu terlihat basah oleh keringat, khususnya setelah ia bermain dan pada waktu menjelang tidur.
3. Bila kulit anak memang cenderung mudah terserang biang keringat, hindari keadaan yang dapat merangsang keringat berlebihan. Lalu, jika anak sensitif terhadap suhu udara yang panas, ibu dapat mengadaptasikan (mengenalkan kondisi tersebut) secara bertahap, sejalan dengan perkembangan fungsi organ tubuhnya, termasuk kelenjar keringatnya pada jaringan kulit.
4. Memberikan obat penurun panas (antipiretik), seperti aspirin atau asetaminofen pada saat anak terserang demam. Dengan turunnya demam si kecil, biasanya secara otomatis keringat yang keluar berkurang.
– Selama si kecil terserang demam dan mengeluarkan banyak keringat, jagalah agar bajunya tidak dibiarkan terlalu lama dalam keadaan basah.
– Sesering mungkin keringkan tubuhnya dan gantilah bajunya agar penguapan keringat pada kulit dapat berlangsung baik.
5. Hindari mandi dengan air hangat, karena air hangat dapat menyebabkan terjadinya pelarutan minyak permukaan kulit, sehingga kulit kering dan gampang terjadi sumbatan. Meskipun masih bayi, jangan dibiasakan mandi pakai air hangat
6. Taburkan bedak ke sekujur tubuh anak setelah mandi, terutama di daerah-daerah yang sering terkena biang keringat. Bedak bayi bahkan baik digunakan untuk mencegah biang keringat.Bedak sebaiknya diberikan pada saat kulit tidak berkeringat.
OBATI BIANG KERINGAT
Biang keringat bukan penyakit berat. Bahkan, banyak orang menggolongkannya sebagai gangguan kulit yang sepele. Hanya saja, sengatan rasa gatal memang menimbulkan gangguan yang menjengkelkan.
Berikut ini beberapa cara menghilangkan biang keringat :
1. Dinginkan kulit anak dengan mengoleskan lotion calamin. Namun, sebelumnya pastikan dulu bahwa kulit anak benar-benar dalam keadaan kering, tidak lembap atau berkeringat.
2. Tidak memakaikan mantel terbuat dari bahan wol bila si biang keringat tetap menyerang pada musim hujan. Untuk menghangatkan tubuhnya, lebih baik pilihkan baju-baju dari bahan katun yang dikenakan berlapis-lapis.
3. Mandikan anak dengan air dingin, agar kulit tubuhnya sejuk dan segar. Kenalilah jenis kulit anak. Jika tergolong sensitif, hindari menyabuni bagian yang terkena gangguan, karena sabun bisa menimbulkan iritasi. Namun, kalau kulitnya cukup kuat, pakailah sabun khusus antibiang keringat.
4. Kompres bagian biang keringat dengan larutan soda bikarbonat (1 sendok teh soda bikarbonat dicampur dengan secangkir air bersih) secara teratur. Bila peradangan cukup banyak, gunakan salep atau bedak yang mengandung zinc oksida dan vaselin putih. Atau, sebagai penggantinya, kita dapat menggunakan bedak yang mengandung magnesium stearat. Kedua jenis bedak ini berfungsi mengurangi iritasi dan membantu penyerapan keringat.
1.10 Prognosis
Prognosis untuk pasien dengan miliaria adalah sangat baik.

BAB II
SENGAJA DI HILANGKAN
KARENA BERKENAAN DENGAN PASIEN

BAB III
DISKUSI

Miliaria rubra banyak terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa terutama pada daerah yang suhunya panas. Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan klinis, didapatkan lesi berupa papul milier (1-2 mm) vesikel, skuama halus,krusta, dan erosi di punggung, leher, kaki dan tangan. papul tersebut terasa gatal dan panas terutama pada saat pasien berkeringat dan cuaca panas, dan pasien menggaruknya. Hal ini sesuai dengan sumber referensi di mana terdapat papul merah atau papul vesikular ekstravesikular yang sangat gatal dan pedih pada badan dan tempat-tempat tekanan atau gesekan pakaian, biasanya timbul bersamaan dengan rangsangan yang menumbulkan keringat.
Pada folikulitis gejalanya mirip dengan miliaria rubra, dimana terdapat papul yang eritematosa, krusta tipis dan lesinya banyak akibat dari peradangan. Penyebabnya adalah infeksi yang di sebabkan oleh stafilokokus aureus.folikulitis mengenai anak-anak, remaja, dewasa, terutama penderita jerawat atau yang cenderungmenderita sebore. Faktor predis posisinya adalah keringat banyak, maserasi, dan higiene jelek. Kelainan kulit berupa papul eretematosa, pustul, krusta yang tipis. Tempat predileksinya adalah tungkai bawah, bibir atas, dan dagu. Pemeriksaan histopatologi memperlihatkan gambaran pustula subkorneal di muara folikel rambut, infiltrat peradangan yang terdiri dari netrofil yang mengelilingi bagian atas folikel, pada bentuk kronik terdapat abses folikuler yang segera berubah menjadi nekrosis.
Pada dermatitis kontak alergika gejala yang ditunjukkan hampir sama dengan miliaria rubra, yaitu penyakit alergi kulit yang dapat terjadi karena kulit terpajan/berkontak dengan bahan-bahan yang bersifat sensitizer (alergen). Etiologi adalah bahan-bahan yang dapt menyebabkan alergi. Tempat predileksi adalah daerah yang terpajan dengan alergen. Kelainan kulit akut berupa eritema, papul, vesikula, berair, krusta, dan gatal. Kelainan kulit kronik berupa kulit tebal/likenifikasi, kulit pecah-pecah, skuama, kulit kering, dan hiperpigmentasi.

BAB IV
PENUTUP

Tidak ada pemeriksaan khusus pada Miliaria Rubra dan pemeriksaan laboratorium tidak perlu dilakukan karena dari gejala klinik sudah dapat ditegakkan diagnosa. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menghindari tempat-tempat yang suhunya panas dan menempatkan penderita pada lingkungan yang dingin (AC/pendingin/ruangan yang teduh), sehingga keringat dapat berkurang. Memakai pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat. Pemberian obat-obatan yang dapat menghilangkan sumbatan dan bedak yang tujuannya mengurangi gesekan pada kulit serta mendinginkan kulit.

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda, adhi. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 2007. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Nikki A Levin, MD, PhD. Miliaria. http://emedicine.medscape.com/article/1070840-overview . Pada tanggal 9 Maret 2010.
3. Harahap Marwali. Ilmu Penyakit Kulit. 2000. Jakarta. EGC.
4. Puspa Dewi. Biang Keringat Dapat Menyebabkan Infeksi. Dikutip dari http://balicantique.com/biang-keringat-dapat-menyebabkan-infeksi.html. Pada tanggal 16 Januari 2009.
5. Wikipedia. MIliaria. http://en.wikipedia.org/wiki/Miliaria Pada tahun 2010.
6. Lestari Cyndi. http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/10/miliaria-penyakit-sepele-tapi-mengganggu.. Pada tahun 2007
7. Djuanda, adhi. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 2007. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.