BATASAN
Lupus Eritematosus Diskoid (LED) adalah suatu Penyakit Kulit yang bersifat kronis, lebih sering mengenai wajah yang ditandai oleh bercak pada kulit yang eritematous, berbatas jelas dengan ukuran bervariasi, terdapat skuama, cenderung sembuh meninggalkan bekas berupa atrofi dan pigmentasi.

ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
1. Merupakan penyakit autoimun yang menyerang sistim konektif dan vaskuler.
2. Dihubungkan dengan adanya faktor genetik dan mutasi somatik.
Mutasi somatik mulai pada sel asal limfositik pada orang yang mempunyai predisposisi.
3. Presipitasi faktor antara lain : trauma, stres, sinar matamhari, infeksi, cuaca dingin dan kehamilan.
4. Dapat diinduksi oleh obat-obatan seperti : prokainamid, hidantoin, griseofulvin, fenilbutason, penisilin, streptomisin, tetrasiklin dan sulfonamid.
5. Wanita lebih sering dari pada pria.
6. 5% dapat menjadi LES.

GEJALA KLINIS
1. Lokasi tersering pada daerah kulit kepala, telinga, hidung, pipi, lengan dan dada.
2. Lesi berupa makula eritematous yang berbatas jelas dengan sumbatan keratin pada folikel rambut serta terdapat skuama.
3. Bila lesi-lesi di atas hidung dan pipi berkonfluens dapat berbentuk seperti kupu-kupu (butterfly eritema).
4. Dapat meninggalkan sikatriks, atrofik, kadang-kadang hipertropik, bahkan distorsi telinga atau hidung.
5. Lebih cepat residif bila kena sinar matahari.
6. Lesi dapat terjadi dimukosa : oral, vulva dan konjungtiva.

7. Beberapa tipe DLE / varian DLE :
a. DLE lokalisata
b. DLE generalisata
c. DLE verukosus
d. LE ‘lichen planus overlap syndrome”
e. LE “chilblain”
f. Le “profundus”
g. DLE “childhood”

DIAGNOSIS
1. Gejala klinis yang khas.
2. Kelainan laboratorium dan imunologik jarang :
a. Anemia, lekopeni & trombositopeni (1/3 kasu)
b. ANA positif (1/3 kasus)
c. LED meningkat (29%).
d. Serum globulin meningkat (1/3 kasus)
e. Test Coomb kadang-kadang positif.
f. Reaksi Wassermann kadang-kadang positif.
3. Pemeriksaan histopatologi :
a. Epidermis menipis dan rete ridge hilang bentuk, terdapat hiperkeratosis dan parakeratosis serta folikuler plug.
b. Terdapat perubahan degeneratif pada jaringan konektif berupa hialinisasi, edema dan perubahan fibrinoid.
c. Peradangan limfositik lokal pada lapisan dermis superfisial dengan sedikit sel plasma dan histiosit terutama pada sekitar folikel.

DIAGNOSIS BANDING
Dermatitis seboroik, rosasea, lupus vulgaris, sarkoidosis, erupsi obat, penyakit Bowen, likhen planus, sifilis tertier, aktinik keratosis, morfea, tinea fasialis, infiltrasi limfositik Jessners.

PENATALAKSANAAN
1. Penerangan pada penderita :
a. Sifat penyakit
b. Faktor-faktor pencetus
c. Menghindari sinar matahari dengan memakai topi, memakai tabir surya.
d. Menghindari trauma, dll.
2. Obat-obat tropikal :
a. Kortikosteroid topical seperti : krem fluosinolone 0,025%,
betametason 17 valerat 0,1%, triamsinolon asetonid 0,1%, fluosinolon 0,2% dan klobetasol propionat.
b. Kartikosteroid intra lesi :
Triamsinolon asetonid 5 – 10 mg/ml, diberikan 0,05 – 0,3 ml pada tiap lesi.
3. Obat-obat oral :
a. Obat anti malaria :
Klorokuin sulfat (Nivaquine) 200 mg 2 x/hari, diturunkan setelah 6 minggu sesuai perbaikan klinis.
Hidroksi klorokuin (Plaquenil) 400 – 800 mg, 2 x/hari.
b. Obat-obat lain :
B keraton 3 x 50 mg/hari, klofasimin 100 m, depsone 100 mg/hari, etretinat 1 mg/kg BB/hari, Isotretinoid 780 mg/hari, siklofosfamid 50 – 200 mg dan asatioprin.

DAFTAR PUSTAKA
1. Rowell NR, Goodfield MD. The Connective Tissue Disease. In : Rook, Wilkinson, Ebling, Textbook of Dermatology. 5th ed. Oxford : Blackwell Scientific Publication, 1993 : 3 : 2163 – 294.
2. Arnold, H.L. Odom, R.B., James, W.D. Connective Tissue Disease. Andrew Disease of the skin, 8th ed. Philadelphia : WB Saunders Co, 1990 : 159 – 193.
3. Suria Djuanda. Penyakit Jaringan Konektif. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Pertama. FKUI, 1987 : 211 – 13.