BAB I
PENDAHULUAN

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses kemunduran mutu dan pembusukan, dimana hal ini terjadi setelah ikan ditangkap. Oleh sebab itu pengawetan ikan perlu diketahui semua lapisan masyarakat. Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak (Suhartini dan Hidayat, 2005).
Untuk mendapatkan hasil awetan yang bermutu tinggi diperlukan perlakukan yang baik selama proses pengawetan seperti : menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan, menggunakan ikan yang masih segar, serta garam yang bersih. Ada bermacam-macam pengawetan ikan, antara lain dengan cara: penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan, peragian, dan pendinginan ikan.
Pengolahan ikan asin adalah cara pengawetan ikan yang telah kuno, tetapi saat kini masih banyak dilakukan orang di berbagai negara. Di Indonesia, bahkan ikan asin masih menempati posisi penting sebagai salah satu bahan pokok kebutuhan hidup rakyat banyak. Meskipun ikan asin sangat memasyarakat, ternyata pengetahuan masyarakat mengenai ikan asin yang aman dan baik untuk dikonsumsi masih kurang. Buktinya ikan asin yang mengandung formalin masih banyak beredar dan dikonsumsi, padahal dampaknya sangat merugikan kesehatan. Formalin digunakan karena dapat memperpanjang keawetan ikan asin.
Cara pengawetan ini merupakan usaha yang paling mudah dalam menyelamatkan hasil tangkapan nelayan. Dengan penggaraman proses pembusukan dapat dihambat sehingga ikan dapat disimpan lebih lama. Penggunaan garam sebagai bahan pengawet terutama diandalkan pada kemampuannya menghambat pertumbuhan bakteri dan kegiatan enzim penyebab pembusukan ikan yang terdapat dalam tubuh ikan (Afrianto dan Liviawaty, 1989).

BAB II
PENGOLAHAN IKAN ASIN

Salah satu cara untuk mengawetkan ikan adalah dengan pembuatan ikan asin. Sebelum membuat ikan asin ada baiknya kita menegtahui perbadaan ikan yang sudah busuk dengan ikan yang masih segar. Hal ini diperlukan untuk menghasilkan ikan asin yang berkualitas baik. Adapun tanda ikan yang sudah busuk adalah:
– mata suram dan tenggelam;
– sisik suram dan mudah lepas;
– warna kulit suram dengan lendir tebal;
– insang berwarna kelabu dengan lendir tebal;
– dinding perut lembek;
– warna keseluruhan suram dan berbau busuk.

Tanda ikan yang masih segar:
– daging kenyal;
– mata jernih menonjol;
– sisik kuat dan mengkilat;
– sirip kuat;
– warna keseluruhan termasuk kulit cemerlang;
– insang berwarna merah;
– dinding perut kuat;
– bau ikan segar.
Ikan asin adalah makanan awetan yang diolah dengan cara penggaraman dan pengeringan. Ada 3 cara pembuatan :
1) Penggaraman kering dengan pengeringan;
2) Penggaraman basah (perebusan dalam air garam) dengan pengeringan;
3) Penggaraman yang dikombinasikan dengan peragian (pembuatan ikan peda).

2.1 Cara Pembuatan Ikan Asin
• Buang isi perut ikan (jangan sampai empedunya pecah);
• Sayat-sayat (untuk ikan yang ukuran besar) dengan tebal 2~3 cm, belah dari
punggungnya (untuk ikan sedang atau kecil);
• Cuci dan masukkan ke dalam wadah (tong kayu) dan taburi garam;
• Susun dalam bak (tong kayu) yang diselang-silang dengan lapisan garam
kemudian tutup dengan kayu;
• Simpan dalam ruangan yang tidak mendapat sinar matahari langsung selama 3 hari;
• Jemur sampai kering kurang lebih selama 3 hari;
• Masukkan dalam keranjang bambu atau peti kayu.

Ada beberapa cara untuk mempercepat pengeringan ikan asin :
a. Menjemur ikan di atas para-para setinggi ± 1 m dari atas tanah, di halaman terbuka;
b. Menjemur ikan di dalam ruang pengering dari plastik (solar dryer);
c. Mengalir udara panas ke permukaan ikan dalam ruangan (mechanical dryer);
d. Mengatur cara penjemuran ikan, jangan sampai bertumbuk;
e. Membelah daging ikan;
f. Membuat sayatan pada daging ikan.
Persyaratan ikan asin yang bermutu baik adalah jika memenuhi syarat Standar Industri Indonesia (SII), yaitu :
a. Mempunyai bau, rasa, dan warna normal, serta bentuk yang baik;
b. Berkadar air paling tinggi 25 %
c. Berkadar garam (NaCl) antara 10 % ~ 20 %;
d. Tidak mengandung logam jamur, juga tidak terjadi pemerahan bakteri;
pada saat tertentu para produsen juga menggunakan formalin pada ikan asin. Pengawasan yang rendah terhadap produk perikanan menyebabkan para produsen nakal sangat leluasa memakai bahan pengawet berbahaya tersebut. Penggunaan formalin oleh para produsen ikan asin dikarenakan cara produksinya masih manual, pengeringan ikan masih sangat tergantung dari cuaca. Kalau musim hujan, pengeringan bisa berhari-hari. Begitu air hujan turun, para produsen menutupi ikan-ikan yang tengah dijemur itu dengan plastik agar tidak basah. Jika proses penjemuran kurang sempurna, bahan makanan akan mudah ditumbuhi jamur. Bahan makanan menjadi mudah penyok dan hancur, terutama apabila cara pengemasannya tidak rapi dan harus dikirim ke luar kota. Akibatnya, ikan asin itu pun tidak laku di pasaran. Dengan membubuhkan formalin, bahan pengawet bukan untuk makanan maka ikan tidak ditumbuhi jamur dan lebih awet. Pemakaian formalin juga dipercaya dapat mempercepat proses pengeringan dan membuat tampilan fisik tidak cepat rusak.
Ikan asin yang mengandung formalin dapat diketahui lewat ciri-ciri antara lain tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu 25 derajat celsius, bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin. Tidak dihinggapi lalat di area berlalat (Astuti, 2010). Selain itu dagingnya kenyal,utuh, lebih putih dan bersih dibandingkan ikan asin tanpa formalin agak berwarna coklat dan lebih tahan lama (Widyaningsih dan Murtini, 2006). Ikan asin berformalin ini juga masih banyak dibeli lantaran ketidaktahuan konsumen. Sebagian pembeli juga ingin mendapatkan produk yang awet dengan harga murah.
Selain itu, dengan proses penggaraman dan penjemuran pada pembuatan ikan asin, rendemen yang tersisa kurang dari separuh. Bila bahan bakunya seratus kilogram saat masih basah, setelah jadi ikan asin tinggal 40 persen atau 40 kg, kehilangan 60 kg itu sangat merugikan karena harga jual menggunakan satuan kilogram. Jika memakai formalin, rendemen bisa mencapai 75 persen (Rachmawati, 2006). Selisih 35 persen itu yang dikejar para pengolah.
Penggunaan formalin oleh para produsen ikan asin juga cukup mudah, cukup ditambahkan pada saat proses perendaman ikan asin. Hal ini dikarenakan formalin sangat mudah larut dalam air. Jika dicampurkan dengan ikan misalnya, formalin dengan mudah terserap oleh daging ikan. Formalin mempunyai sifat formaldehida mudah larut dalam air sampai kadar 55%, sangat reaktif dalam suasana alkalis serta bersifat sebagai zat pereduksi kuat, mudah menguap karena titik didihnya yaitu -21°C. secara alami formaldehida juga dapat ditemui dalam asap pada proses pembakaran makanan yang bercampur fenol, keton dan resin (Winarno, 2004).

2.2 Pemasaran
Dalam peningkatan pasar dan memenangkan persaingan, perusahaan harus mempunyai kemampuan dalam menjamin mutu suatu produk maupun jasa sehingga dapat mempertahankan kualitasnya. Perusahaan dalam menjamin mutu perlu menetapkan suatu system manajemen mutu yang efektif dan efisien sehingga menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi. Dengan manajemen yang terpadu diharapkan manajemen perusahaan mampu menyelenggarakan perusahaannya begerak kearah pertumbuhan yang lebih tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Suhartini, S dan N. Hidayat. 2005. Olahan Ikan Segar. Surabaya: Penerbit Trubus Agrisarana.

Afrianto E dan E. Liviawati. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Astuti LDP. 2010. Ciri-ciri 4 Zat Berbahaya pada Makanan. http://www.ahliwasir.com/news/1997/C
iri-ciri-4-Zat-Berbahaya-pada-Makanan. [diakses tanggal 5 Desember 2012]

Widyaningsih DT dan SM Erni. 2006 . Formalin. Surabaya : Penerbit Trubus Agrisarana.

Rachmawati E. 2006. Bahaya di Balik Gurihnya Ikan Asin. Kompas 17 Juni 2010.

Winarno FG . 2004. Keamanan Pangan Jilid 1. Bogor: M-Brio Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *