Pengertian Tenorm

Kegiatan di bidang energi dan sumber daya mineral yang meliputi penambangan, pengolahan, pemurnian mineral dan batubara, eksploitasi dan pengilangan minyak, gas bumi serta pembangkitan tenaga listrik menggunakan bahan baku batubara akan menghasilkan TENORM (Technologically Enhanced Naturally Occurring Radioactive Material). TENORM adalah zat radioaktif alam yang karena kegiatan manusia atau proses teknologi mengalami peningkatan paparan radiasi potensial jika dibandingkan dengan keadaan awal. Kegiatan tersebut menyebabkan terkonsentrasinya unsur radioaktif alamiah pada limbah yang dihasilkan oleh industri atau bahkan pada produk utamanya. Berbeda dengan NORM (Naturally Occuring Radioactive Material) yang merupakan bahan radioaktif yang sudah ada di alam yang secara sadar / tidak sadar merupakan bagian dari kehidupan manusia. TENORM dan NORM merupakan bahan radioaktif yang bukan berasal dari kegiatan nuklir.

TENORM yang dihasilkan dari limbah industri mempunyai volume yang besar tetapi dengan aktivitas rendah. Kegiatan pembuangan, penggunaan serta daur ulang TENORM mempunyai potensi kontaminasi dan paparan radiasi terhadap masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang menghasilkan TENORM antara lain adalah :

  • Pembangkit Listrik Tenaga Batubara
  • Produksi Pupuk
  • Produk Konsumsi
  • Industri Minyak dan Gas
  • Industri Pertambangan Logam dan Mineral

Keberadaan TENORMpada pertambangan/industri dapat tebentuk sebagai bahan radioaktif yang terkonsentrasi melalui suatu proses produksi. Kerak­air (scale) yang melekat pada pipa (pengerasan garam pada permukaan pipa penyalur minyak dan gas), residu, dan sludge merupakan obyek di mana TENORM dapat dijumpai. TENORM terbawa ke permukaan pada air produksi sebagai radionuklida terlarut, dan merupakan anak luruh dari uranium­238 dan torium­232.

1. Aspek Radiologi TENORM

Dampak radiologi TENORM terhadap pekerja bergantung pada berbagai faktor, seperti tipe radiasi, penerimaan dosis, dan sensitivitas dari jaringan yang terkena radiasi. Selama kegiatan operasi berjalan normal, potensi bahaya radiasi hanya berasal dari paparan radiasi eksterna dari radionuklida pemancar gamma yang terdapat di dalam TENORM yang mengendap pada fasilitas industri seperti pipa, tangki atau vessel. Akan tetapi pada waktu sistem peralatan dibuka selama produksi tidak berjalan (shutdown) atau pada waktu penggantian atau perbaikan (maintenance), pada waktu pencucian fasilitas, pekerja akan berhubungan langsung dengan TENORM, sehingga potensi bahaya radiasi bukan hanya eksternal tetapi juga internal. Potensi bahaya radiasi pada industri penghasil TENORM dapat diterima manusia melalui beberapa jalur berikut :

  • Eksternal oleh radionuklida – radionuklida pemancar gamma dari fasilitas produksi yang terkontaminasi TENORM.
  • Internal oleh partikel TENORM yang tersuspensi dan terbawa masuk ke dalam tubuh pada waktu bernafas (inhalasi).
  • Internal melalui rantai makanan dari kontaminasi TENORM ke air tanah dan air permukaan.

Melihat dampak buruk yang mungkin dapat mengenai para pekerja dan masyarakat serta lingkungan, maka keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting bagi unjuk kerja suatu industri. Untuk memperkirakan dampak radiologi TENORM yang dihasilkan oleh industri terhadap pekerja, masyarakat serta lingkungan, perlu diketahui terlebih dahulu seberapa tinggi radioaktivitas di dalam TENORM tersebut dan fasilitas atau daerah kerja mana saja yang terkontaminasi TENORM.

2. Prinsip Pengelolaan TENORM

Dalam operasi rutin ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu :

  • Penyelenggaraan pelatihan proteksi radiasi bagi pekerja
  • Survei radiasi eksternal di fasilitas yang mengandung TENORM
  • Perkirakan dosis radiasi tahunan rata-rata dari kelompok pekerja yang paling besar mendapat penyinaran TENORM
  • Identifikasi komponen fasilitas yang terkontaminasi TENORM

Selama shutdown dan maintenance ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu :

  • Survei radiasi di daerah kerja sebelum pekerjaan dimulai
  • Rencana kerja harus disesuaikan dengan prosedur atau instruksi kerja yang telah ditetapkan
  • Monitoring personal disesuaikan dengan tugas, peralatan proteksi dan medan radiasi
  • Vessel diberi ventilasi untuk meminimalkan penambahan gas radon
  • Selama kerja agar diusahakan TENORM dalam kondisi basah, hal ini untuk meminimalkan timbulnya debu.
  • Penyediaan peralatan proteksi personal, seperti : sarung tangan dan sepatu karet, baju kerja, masker.

3. Pengangkutan TENORM

Pengangkutan bahan yang mengandung TENORM dibedakan atas dua kriteria yang berdasar pada konsentrasinya.

  • Jika konsentrasinya > 70 Bq/gr, maka diberlakukan persyaratan pengangkutan zat radioaktif. Mengenai persyaratan pengangkutan radioaktif sendiri telah diatur dalam PP No. 26 Tahun 2002, Keputusan Ka. BAPETEN No. 01 dan No. 04 Tahun 1999 serta Keputusan Kepala BAPETEN No. 05-P/Ka-BAPETEN/VII-00.
  • Jika konsentrasinya < 70 Bq/gr, maka tidak diberlakukan persyaratan pengangkutan zat radioaktif. Namun, harus ada tata cara yang tersendiri yang diberlakukan guna menghindari dan mengurangi ceceran TENORM dalam pengangkutan.

4. Pembuangan & Penyimpanan TENORM

Secara prinsip tidak ada perbedaan persyaratan dalam pembuangan limbah NORM/TENORM dengan limbah radioaktif. Untuk TENORM yang masuk kategori aktivitas rendah dan sedang harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  • Lokasi pembuangan TENORM tidak dekat dengan lokasi pensuplai air minum masyarakat;
  • Lokasi pembuangan TENORM dilengkapi dengan system saluran air sehingga tidak akan menimbulkan genangan air;
  • Tanah lokasi mempunyai kapasitas yang cukup seperti halnya kapasitas pertukaran ion;
  • Kedalaman pembuangan TENORM harus selalu memperhatikan water table;
  • Aliran air tanah pada lokasi TENORM bergerak lambat, sekitar beberapa centimeter perhari

Metode dump and fill dapat diaplikasikan untuk TENORM dengan persyaratan lokasi antara lain :

  • Adanya vault (dinding pembatas) yang didesain untuk melindungi manusia dan lingkungan dari efek radiasi
  • Faktor keselamatan pekerja dan masyarakat harus diperhatikan selama periode sebelum penutupan
  • Periode sebelum penutupan lokasi pembuangan mampu memberikan keuntungan sebesar-besarnya dan kerugian seminimal mungkin bagi lingkungan sekitar
  • Dilakukan estimasi pelepasan radionuklida dari lokasi TENORM melewati geosphere ke biosphere dan akhirnya ke manusia.

Beberapa metode pengelolaan TENORM yang digunakan di beberapa negara adalah sebagai berikut :

  • Landspreading : penyebaran sludge, slag dan scale ke permukaan tanah terbuka
  • Pembauran dan pengenceran : TENORM dicampur tanah dengan menggunakan peralatan berat
  • Penguburan di lokasi yang tidak terlarang
  • Fasilitas pembuangan limbah komersial
  • Injeksi ke dalam sumur secara hidrolik ke dalam formasi yang diisolasi secara geologi dan mekanik dari reservoir air minum
  • Pembuangan scale ke laut..

5. Regulasi TENORM

Pengelolaan TENORM diatur dalam Perka BAPETEN No. 9 Tahun 2009 tentang Intervensi terhadap paparan yang berasal dari TENORM. Penghasil TENORM harus melakukan analisis keselamatan radiasi untuk TENORM untuk setiap lokasi TENORM yang dimiliki atau berada di dalam penguasaannya. Analisis keselamatan radiasi untuk TENORM meliputi :

  • Jenis dan proses kegiatan yang dilaksanakan
  • Jumlah atau kuantitas TENORM
  • Jenis dan tingkat konsentrasi radionuklida, dan
  • Paparan radiasi dan/atau kontaminasi tertinggi di permukaan TENORM
Tagged:

Comments

  1. Pingback: Mineral Monazite Pada Penambangan Biji Timah | Karya Tulis Ilmiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *