Pengertian Nyeri

Menurut Smeltzer & Bare (2001) nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Nyeri adalah alasan utama sese­orang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobat­an. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun.

Jordan, Sue, (2003) menguraikan definisi nyeri yang ditelaah dari berbagai pakar yaitu suatu perasaan sensorik yang tidak menyenangkan dengan disertai kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.

Fisiologi Nyeri

Nyeri dianggap nyata meskipun tidak ada penyebab fisik atau sumber yang dapat didentifikasi. Meskipun beberapa sensasi nyeri dihubungkan dengan status mental atau sta­tus psikologis, pasien secara nyata merasakan sensasi nyeri dalam banyak hal dan tidak hanya membayangkan­nya saja. Kebanyakan sensasi nyeri adalah akibat dari stimuli fisik dan mental atau stimuli emosional. Oleh karena, itu, mengkaji nyeri individu mencakup pengum­pulan informasi tentang penyebab fisik dari nyeri juga faktor mental atau emosional yang mempengaruhi per­sepsi individu terhadap nyeri. Intervensi keperawatan diarahkan kepada kedua komponen tersebut (Smeltzer & Bare, 2001).

Pokok penting yang harus selalu diingat adalah, apa yang “dikatakan” pasien tentang nyeri adalah tidak pada pernyataan verbal. Beberapa pasien tidak dapat atau tidak akan melaporkan secara verbal bahwa mereka mengalami nyeri. Karenanya, perawat juga bertanggung jawab terha­dap pengamatan perilaku nonverbal yang dapat terjadi bersama dengan nyeri (Smeltzer & Bare, 2001).

Meskipun penting artinya untuk mempercayai pasien yang melaporkan nyeri, yang juga sama pentingnya adalah untuk waspada terhadap pasien yang mengabaikan nyeri saat nyeri terjadi. Seorang perawat yang menduga nyeri pada pasien yang menyangkal nyeri harus menggali bersama pasien penalaran terhadap, dugaan nyeri, seperti kenyataan bahwa gangguan atau prosedur biasanya me­nimbulkan nyeri, atau bahwa pasien meringis saat berge­rak atau menghindari gerakan. Menggali kemungkinan alasan mengapa pasien mengabaikan rasa nyeri adalah juga sangat membantu. Banyak orang yang menyangkal nyeri yang dialaminya karena mereka takut dengan peng­obatan/tindakan yang mungkin terjadi jika mereka me­ngeluh nyeri atau takut menjadi ketergantungan terhadap opioid (narkotik) jika obat-obat ini diberikan untuk meng­atasi nyerinya (Smeltzer & Bare, 2001).

Metode Pengurangan Rasa Nyeri

Terdapat beberapa metode dalam mengurangi rasa nyeri saat persalinan:

  1. Metode farmakologik, meliputi pemberian obat-obatan tertentu pada ibu bersalin diantaranya:
    • Obat-obatan Narkotika dan penenang

Obat-obatan ini dapat menembus sawar plasenta sehingga dapat menyebabkan depresi pernafasan neonatus. Pethidin merupakan preparat analgetik narkotik yang paling sering digunakan dalam kebidanan, dan prometazin serta diazepam merupakan obat penenang yang paling sering dipakai. Penggunaan obat ini harus secara hati-hati.

 

    • Analgestik Inhalasi

Gas dan udara (paling sering berupa campuran nitrous oksida dan oksigen) yang digunakan lewat masker, umumnya dipakai setelah proses persalinan berlangsung dan kontraksi rahim menyiksa ibu hamil tersebut.

 

    • Blok Epidural

Jika tidak digunakan dalam waktu yang lama, bentuk analgesik ini tidak menimbulkan efek pada janin. Pemakaiannya merupakan indikasi kalau stress fisik itu dapat membawa bahaya (misalnya:keadaan pre-eklamasia, hipertensi essensiil, penyakit jantung) ini umumnya dilakukan pada sectio secaria.

    • Blok Pudendal dan Paraservikal

Blok pudendal meliputi penyuntikan larutan anastesi lokal ke dalam jaringan di dekat nevus pudendus. Blok paraservikal disuntikkan ke dalam jaringan serviks eksterna.

  1. Metode Non Farmakologik, diantaranya
    • Stimulasi elektrik saraf transkutaneus (TENS/Transcutanecus Electrical Nerve Stimulation)

Biasanya digunakan untuk mengatasi nyeri yang kronis. Alat ini cara kerjanya dengan aliran listrik pada daerah lambat/sakral. Implus listrik ini akan memutuskan lintasan saraf sensorik ke otak sehingga stimulus nyeri dapat dikurangi.

    • Relaksasi

Menurut Steer (1993), relaksasi adalah metode pengendalian nyeri non farmakologik yang paling sering digunakan di Inggris. Metode ini menggunakan pendidikan dan latihan pernafasan dengan prinsip wanita dapat mengurangi nyeri dengan cara mengurangi sensasi nyeri dan mengontrol intensitas reaksi terhadap nyeri (Edgar & Smith-Hanrahan, 1992) dalam Smeltzer & Bare (2001) Relaksasi dapat dilakukan dengan cara ciptakan lingkungan yang tenang, tentukan posisi yang nyaman, konsentrasi pada suatu obyek atau bayangan visual, lepaskan ketegangan.

    • Hipnoterapi

Hypnosis merupakan cara lain dalam mencapai relaksasi (Wide-man & Singer, 1984:Orner, dkk, 1986) dalam Smeltzer & Bare (2001). Menurut teori gerbang kendali, hypnosis menutup ”gerbang” yang terdiri dari penghambatan interneuron dalam substansia gelatinosa kamu dorsalis (Melzack & Wall, 1965) dalam Smeltzer & Bare (2001). Selama persalinan, hypnosis dianggap memungkinkan wanita untuk menginterpretasikan ulang nyeri kontaksi uterus sebagai sensasi lemah. Dengan cera ini ”gerbang” pada substansia gelatinosa dicegah oleh implus yang turun untuk membuka dan menyebabkan persepsi nyeri. Seiring dengan relaksasi, respon stress otonom berkurang dan hormon stress. Yang biasanya meningkat persepsi nyeri dalam persalinan, tidak disekresi (Simkin, 1989) dalam Smeltzer & Bare (2001).

    • Imajinasi

Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan bayangan yang mengurangi kaparahan nyeri atau yang terdiri dari pengganti yang lebih dapat diterima dan tidaknya (Mc Caffery & Beebe, 1989) dalam Smeltzer & Bare (2001).

    • Umpan Balik Biologis

Teknik relaksasi dengan prinsip membantu individu untuk mengendalikan fungsi atonom khususnya tentang nyeri.

    • Psikoprofilaksis

Lamazo (1970) mengikuti karya awal Dick-Read (1993) dalam Smeltzer & Bare (2001) dengan menerapkan konsep Pavlovian pada relaksasi dalam persalinan dan mengenalkan istilah ”psikoprofilaksis”, yang berarti mencegah rasa nyeri dengan metode psikologis, (menghilangkan kesan negatif terhadap persalinan).

    • Terapi Manual

Pada beberapa intervensi ini penggunaan tangan sangat penting sehingga termasuk dalam terapi manual (Haldeman, 1994) dalam Smeltzer & Bare (2001).

Meliputi:

1)   Masase/Terapi nyeri yang paling primitif (Lee, dkk, 1990) dalam Smeltzer & Bare (2001)

2)  Sentuhan Terapeutik:Intervensi keperawatan, seperti bentuk masase yang lebih khusus, yang dapat digunakan untuk meredakan nyeri dan mengadopsi kerangka kerja teorinya dari timur adalah sentuhan terapeutik (TT:Delay, 1997) dalam Smeltzer & Bare (2001). Walaupun dilakukan penelitian dengan berbagai kualitas mengenai pengaruh sentuhan terapeutik, penelitian pada wanita bersalin masih kurang (Mander, 2001).

3)  Akupresur:Terdiri dari masase ujung jari di atas titik akupuntur (Jungman, 1988: Arthurs, 1994) dalam Smeltzer & Bare (2001).

4) Akupuntur:Akupuntur klasik mendapat dasar teori dari pengobatan Cina Tradisional (TCM, Bond, 1979) dalam Smeltzer & Bare (2001) yang berusia 3000 tahun.

  1. Musik

Efek dari penggunaan musik masih belum jelas hingga kini terdapat pengurangan nyeri.

  1. Hidroterapi

Menurut Garland & Jones (1994) dalam Smeltzer & Bare (2001) keuntungan hidroterapi dikaitkan pada 2 Fenomena pertama, hidroterapi merupakan hasil dari air sebagai konduktor panas, melemaskan spasme otot rahim dan kemudian meredakan nyeri. Kedua, hidrokinesis meniadakan pengaruh gravitasi, bersama dengan ketidaknyamanan yang berkaitan dengan tekanan pada panggul dan struktur lain. Hidrotermia dan hidrokinesis digabungkan untuk membantu relaksasi sehingga mengurangi kecemasan dan kelelahan.

  1. Homeopati:

Obat yang merangsang tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri (Kaplan, 1994).

  1. Posisi, Postur, dan Ambulasi

Pavlik (1988) dalam Smeltzer & Bare (2001) berpendapat bahwa posisi duduk bersila dapat meredakan nyeri punggung. Ia berpendapat bahwa posisi ini serta ambulasi, memungkinkan kesegarisan yang lebih baik pada tulang belakang ibu dan janin, dan kepala janin dengan panggul wanita. Strategi ini tepat (Banks, 1992) dalam Smeltzer & Bare (2001) bila wanita merasakan nyeri akibat posisi oksipito posterior; kemudian postur tegak wanita mempermudah rotasi oksiput janin kearah depan. Dengan demikian, menjadi lebih nyata bahwa perubahan postur yang mendorong kemajuan persalinan dapat juga meredakan nyeri.

  1. Lingkungan Persalinan meliputi lingkungan fisik dan emosional

Mengenai dukungan emosional, Niven (1994) menyoroti dukungan profesional. Dilaporkan fase retropektif dari penelitiaannya yang terdiri dari 51 wanita Skotlandia yang menghadapi nyeri persalinannya. Ia mengidentifikasi peranan penting ”mempercayai staf”. Kepercayaan ini muncul pada wanita yang merasa bahwa staf (kebidanan) mengontrol keadaan dan merasa gembira akan hal ini. Mungkin kepercayaan Niven berhubungan dengan persepsi bahwa mereka didukung. Niven menemukan bahwa ”kepercayaan dikaitkan dengan tingkat nyeri yang secara signitifikan lebih rendah pada 7 penelitian.

Pengkajian Nyeri

Pengkajian keperawatan pada individu dengan nyeri ter­masuk deskripsi nyeri juga faktor-faktor lain yang mung­kin yang dapat mempengaruhi nyeri (yaitu pengalaman) lalu tentang, ansietas, dan usia) dan respons individu terhadap strategi pereda nyeri.

  1. Mengkaji Persepsi Nyeri

Alat-alat pengkajian nyeri dapat digunakan untuk meng­kaji persepsi nyeri seseorang. Agar alas-alas pengkajian nyeri dapat bermanfaat, alas tersebut harus memenuhi kriteria berikut: (1) mudah dimengerti dan digunakan, (2) memerlukan sedikit upaya pada pihak pasien, (3) mudah dinilai, dan (4) sensitif terhadap perubahan kecil dalam intensitas nyeri. Alat-alat pengkajian nyeri dapat digunakan untuk mendokumentasikan kebutuhan intervensi, untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan untuk mengidentifikasi kebutuhan akan intervensi alternatif atau tambahan jika intervensi sebelumnya tidak efektif dalam meredakan nyeri individu.

  1. Deskripsi Verbal tentangNyeri

Individu merupakan penilai terbaik dari nyeri yang dialaminya dan karenanya harus diminta untuk menggambarkan dan membuat ting­katnya. Informasi yang diperlukan harus menggambarkan nyeri individual dalam beberapa cara yang berikut:

  1. Intensitas nyeri.

Individu dapat diminta untuk membuat tingkatan nyeri pada Skala verbal (misalnya tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri hebat, atau sangat hebat; atau 0 sampai 10: 0 = tidak ada nyeri, 10 nyeri sangat hebat).

Untuk kepentingan penelitian ini, maka peneliti menggunakan skala intensitas nyeri numerik yaitu 0-10.

  1. Karakteristik nyeri

Termasuk letak (untuk area dimana nyeri pada berbagai organ mungkin merupakan alih), durasi (menit, jam, hari, bulan, dan sebagainya), irama (misalnya terus-menerus, hilang timbul, periode bertambah dan berkurangnya inten­sitas atau keberadaan dari nyeri) dan kualitas (misalnya nyeri seperti ditusuk, seperti terbakar, sakit, nyeri seperti ditekan).

  1. Faktor-faktor yang meredakan nyeri (misanya ge­rakan, kurang bergerak, pengerahan tenaga, istira­hat, obat-obat bebas, dan sebagainya) dan apa yang dipercaya pasien dapat membantu mengatasi nyerinya. Banyak orang yang mempunyai ide-ide tertentu tentang apa yang akan menghilangkan nyerinya. Perilaku ini sering didasarkan pada pengalaman atau trial and error.
  2. Efek nyeri terhadap aktivitas kehidupan sehari­-hari (misalnya tidur, nafsu makan, konsentrasi, inter­aksi dengan orang lain, gerakan fisik, bekerja dan aktivitas-aktivitas santai). Nyeri akut sering berkait­an dengan ansietas dan nyeri kronis dengan depresi.
  3. Kekhawatiran individu tentang nyeri. Dapat me­liputi berbagai masalah yang luas, seperti beban ekonomi, prognosis, pengaruh terhadap peran dan perubahan citra diri.
  4. Skala Analogi Visual

Skala analogi visual sangat berguna dalam mengkaji Intensitas nyeri. Skala tersebut adalah berbentuk garis horisontal sepanjang 10 cm, dan ujungnya mengindikasikan nyeri yang berat. Pasien diminta untuk menunjuk titik pada garis yang menunjukkan letak nyeri terjadi di sepanjang rentang tersebut. Ujung kiri biasanya menandakan “tidak ada” atau “tidak nyeri,” sedangkan ujung kanan biasanya menandakan “berat” atau “nyeri yang paling buruk.” Untuk menilai hasil, sebuah penggaris diletakan sepan­jang garis dan jarak yang dibuat pasien pada garis dari “tidak ada nyeri” diukur dan ditulis dalam centimeter.

  1. Pedoman untuk Menggunakan Skala Pengkajian Nyeri

Menggunakan skala tertulis untuk mengkaji nyeri tidak mungkin dilakukan jika pasien sakit serius atau dalam nyeri yang hebat atau baru saja mengalami pembedahan.

Dalam kasus ini pasien dapat ditanya: “Pada skala dari nol sampai dengan sepuluh, nol ‘tidak ada nyeri’ dan sepuluh ‘nyeri paling buruk yang dapat terjadi,’ seberapa berat nyeri yang anda rasakan saat ini?” Pasien biasanya dapat berespons tanpa kesulitan. Jika mungkin, perawat dapat menunjukkan kepada pasien bagaimana skala nyeri bekerja sebelum nyeri terjadi (yaitu saat praoperasi). Tingkat angka individu dicatat dan digunakan untuk mengkaji efektivitas dari intervensi pereda nyeri.

Jika pasien tidak dapat berbahasa Indonesia atau tidak mampu mengkomunikasikan dengan jelas informasi yang dibutuhkan untuk mengatasi nyeri, seorang interpreter, penerjemah, atau anggota keluarga yang terbiasa dengan metode komunikasi pasien harus dikonsulkan dan metode untuk pengkajian nyeri dibuat. Apabila seseorang dengan nyeri dirawat di rumah oleh keluarga atau perawat, skala nyeri mungkin membantu dalam mengkaji efektivitas intervensi yang diterapkan, jika skala digunakan sebelum dan sesudah intervensi diberikan. Skala yang menunjukkan letak dan pola nyeri dapat berguna bagi perawat rumah dalam mengidentifika­si sumber atau tempat nyeri bare pada pasien yang sakit kronis atau pasien sakit terminal dan dalam memantau perubahan tingkat nyeri pasien. Pasien dan keluarga yang memberi perawatan dapat diajari cara menggunakan skala pengkajian nyeri untuk mengkaji dan mengatasi nyeri pasien. Perawat rumah yang mengunjungi pasien hanya pada interval waktu tertentu dapat menggunakan catatan tertulis nilai nyeri dalam mengevaluasi seberapa efektif strategi penatalaksanaan nyeri yang telah dijalani.

Pada suatu kesempatan, seseorang akan menyangkal merasakan nyeri ketika kebanyakan orang dalam keadaan yang sama akan melaporkan nyeri yang signifikan. Seba­gai contoh, bukanlah hal yang tidak biasa pasien yang pulih dari penggantian sendi total untuk menyangkal rasa nyeri tetapi pada pertanyaan selanjutnya akan dengan mudah mengakui, mengalami “sakit yang sangat hebat, tetapi saya tidak akan menyebutnya nyeri.” Selanjutnya, saat mengevaluasi nyeri pasien ini, perawat akan meng­gunakan kata-kata pasien dari pada kata “nyeri. “

  1. Mengkaji Respons Fisiologik dan Perilaku Terhadap Nyeri

Mengkaji indikasi fisiologis dan perilaku dari nyeri terka­dang sulit, jika tidak mungkin. Indikator fisiologis dan perilaku nyeri yang dapat diamati dapat saja minimal atau tidak ada; namun demikian, hal ini bukan berarti bahwa pasien tidak mengalami nyeri.

Banyak pemberi perawatan kesehatan lebih mengenal nyeri akut dibanding nyeri kronis. Akibatnya, pemberi perawatan kesehatan yang tidak mengenal respons fisiolo­gik dan perilaku nyeri dapat menanyakan keberadaan nyeri pasien yang dengan tenang melaporkan nyeri berat atau pada pasien yang tidur nyenyak dengan cepat sebe­lum atau setelah melaporkan nyeri berat. Bagaimana pun, tidak semua, pasien dengan nyeri berat menampakkan tanda-tanda fisiologis atau perilaku dari nyeri. Tidak adanya tanda-tanda ini tidak harus membuat perawat menyimpulkan bahwa nyeri tidak ada; keberadaan dari tanda-tanda ini tidak selalu berarti bahwa pasien meng­alami nyeri. Indikator Fisiologis Nyeri. Perubahan fisiologis invo­lunter dianggap sebagai indikator nyeri yang lebih akurat dibanding laporan verbal pasien. Bagaimana pun, respons involunter ini seperti meningkatnya frekuensi nadi dan pernapasan, pucat dan berkeringat adalah indikator rangsangan sistem saraf otonom, bukan nyeri.

Frekuensi jantung pasien dapat menurun dalam beres­pons terhadap nyeri akut dan meningkat hanya setelah nyerinya hilang (Moltner, Holel dan Strain, 1990). Pasien yang mengalami nyeri akut yang hebat mungkin tidak menunjukkan frekuensi pernapasan yang meningkat, teta­pi akan menahan napasnya. Sembarang respons fisiologis terhadap nyeri akut yang mungkin pasien tunjukkan dapat berlangsung hanya beberapa menit, bahkan bila nyeri berlanjut. Respons fisiologik harus digunakan sebagai pengganti untuk laporan verbal dari nyeri pada pasien tidak sadar dan jangan digunakan untuk mencoba memva­lidasi laporan verbal dari nyeri individu.

Karena reaksi fisiologik yang dalam terhadap nyeri tidak dapat dipertahankan selama berminggu-minggu atau bertahun-tahun atau bahkan beberapa jam, pasien biasa­nya berespons secara berbeda terhadap nyeri akut dan nyeri kronis. Pasien dengan nyeri kronis yang sangat dalam dapat tidak menunjukkan perubahan fisiologik. Meskipun perubahan fisiologik yang berkaitan dengan respons stres dapat terjadi pada beberapa orang dengan nyeri akut, perubahan seperti itu tidak selalu terjadi; labih jauh lagi, perubahan tersebut kurang mungkin terjadi de­ngan nyeri kronis.

  1. Respons Perilaku terhadap Nyeri.

Respons perilaku terhadap nyeri dapat mencakup pernyataan verbal, perila­ku vokal, ekspresi wajah, gerakan tubuh, kontak fisik de­ngan orang lain, atau perubahan respons terhadap lingkung­an. Individu yang mengalami nyeri akut dapat menangis, merintih, merengut, tidak menggerakkan bagian tubuh, mengepal, atau menarik diri. Orang dapat menjadi marah atau mudah tersinggung dan meminta maaf saat nyerinya hilang. Suara dari radio atau televisi dapat sangat men­jengkelkan bagi orang sedang nyeri. Perilaku ini sangat beragam dari waktu ke waktu. Meskipun respons perilaku pasien dapat menjadi indikasi pertama bahwa ada sesuatu yang tidak beres, respons perilaku seharusnya tidak boleh digunakan sebagai pengganti untuk mengukur nyeri kecuali dalam situasi yang tidak lazim dimana pengukuran tidak memungkinkan (misalnya orang tersebut menderita retardasi mental yang berat atau tidak sadar). Individu yang mengalami nyeri dengan awitan menda­dak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat indivi­du terlalu letih untuk merintih atau menangis jika perilaku demikian merupakan respons normal terhadap nyeri. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri. Indivi­du yang telah berhasil dalam meminimalkan efek nyeri kronik pada kehidupannya harus didorong ketimbang dipa­tahkan semangatnya dari koping dengan cara ini.

 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respons Nyeri

    1. Pengalaman masa lalu dengan nyeri

Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri.  Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menerima nyeri dengan lebih mudah pada masa yang akan datang.  Apabila individu sejak lama sering mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah sembuh atau menderita nyeri yang berat, maka ansietas atau bahkan rasa takut dapat muncul.  Sebaliknya apabila individu mengalami nyeri dengan jenis yang sama berulang-ulang, tetapi kemudian nyeri tersebut dengan berhasil dihilangkan, akan lebih mudah bagi individu tersebut untuk menginterpreasikan sensasi nyeri,

  1. Ansietas dan nyeri

Potter & Perry (2005) hubungan antara ansietas nyeri dan ansietas bersifat kompleks.  Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas.  Pola bangkitan otonom adalah sama dalam nyeri dan ansietas (Gil, 1990).  Sulit untuk memisahkan dua sensasi.  Paice (1991) melaporkan suatu bukti bahwa stimulus nyeri mengaktifkan bagian sistem limbik yang diyakini mengendalikan emosi seseorang, khususnya ansietas.  Sistem limbik dapat memproses reaksi emosi terhadap nyeri, yakni memperburuk atau menghilangkan nyeri.

Individu yang sehat secara emosional, biasanya lebih mampu mentoleransi nyeri sedang hingga berat daripada individu yang memiliki status emosional yang kurang stabil.  Klien yang mengalami cidera atau menderita penyakit kritis, seringkali mengalami kesulitan mengontrol lingkungan dan perawatan diri dapat menimbulkan tingkat ansietas yang tinggi.  Apabila rasa cemas tidak mendapat perhatian di dalam suatu lingkungan berteknologi tinggi, misalnya di unit perawatan intensif (ICU), maka rasa cemas tersebut dapat menimbulkan suatu masalah penatalaksanaan nyeri yang sering serius.  Nyeri yang tidak kunjung hilang seringkali menyebabkan psikosis dan ganggu kepribadian. Potter & Perry (2005).

  1. Budaya dan nyeri

Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka.  Hal ini meliputi bagaimana bereaksi terhadap nyeri.

  1. Usia dan nyeri

Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri, khususnya pada anak-anak dan lansia.  Perbedaan perkembangan, yang ditemukan diantara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana anak-anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri. Anak yang masih kecil mempunyai kesulitan memahami nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang menyebabkan nyeri.  Anak-anak kecil yang belum dapat mengucapkan kata-kata juga mengalami kesulitan untuk mengungkapkan secara verbal dan mengekpsresikan nyeri kepada orang tua atau petugas kesehatan.

  1. Perhatian

Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri.  Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri meningkat, sedangkan upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun.

  1. Keletihan

Keletihan meningkatkan persepsi nyeri.  Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping.  Hal ini dapat menjadi masalah umum pada setiap individu yang menderita penyakit dengan jangka lama.

Butuh Daftar pustaka lihat disini klik