1. Pengertian Membaca

Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Membaca merupakan suatu proses aktif yang bertujuan dan memerlukan strategi. Hal ini didukung oleh beberapa definisi berikut ini. Hodgson (dalam Tarigan, 1985:7) mengemukakan bahwa membaca ialah suatu proses yanPg dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis. Dalam hal ini, membaca selain sebagai suatu proses, juga bertujuan.




Depdikbud (1985:11) menuliskan bahwa membaca ialah proses pengolahan bacaan secara kritis, kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu. Definisi ini sesuai dengan membaca pada tingkat lanjut, yakni membaca kritis dan membaca kreatif.

Selanjutnya, Anderson dalam Tarigan (1985:7) berpendapat bahwa membaca adalah suatu proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambanglambang bahasa tulis. Hal ini sesuai dengan membaca pada level rendah. Finochiaro dan Bonono (1973:119) menyatakan bahwa membaca adalah proses memetik serta memahami arti/makna yang terkandung dalam bahasa tulis. Batasan ini tepat dikenakan pada membaca literal. Di pihak lain, Thorndike (1967:127) berpendapat bahwa membaca merupakan proses berpikir atau bernalar.

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses pengucapan tulisan untuk mendapatkan isinya. Pengucapan tidak selalu dapat didengar, misalnya membaca dalam hati. Selanjutnya, membaca merupakan aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari menyimak, berbicara, dan menulis. Sewaktu membaca, pembaca yang baik akan memahami bahan yang dibacanya. Selain itu, dia bisa mengkomunikasikan hasil membacanya secara lisan atau tertulis. Dengan demikian, membaca merupakan keterampilan berbahasa yang berkaitan dengan keterampilan berbahasa lainnya. Jadi, membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa, proses aktif, bertujuan, serta memerlukan strategi tertentu sesuai dengan tujuan dan jenis membaca.

Syafi’ie (1999:6–7) menyebutkan, hakikat membaca adalah: (1) Pengembangan keterampilan, mulai dari keterampilan memahami kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan memahami secara kritis dan evaluatif keseluruhan isi bacaan. (2) Kegiatan visual, berupa serangkaian

Membaca merupakan kegiatan mencermati tulisan, menelaah isi atau maksudnya untuk menyerap informasi tertentu. Membaca berkaitan dengan sebuah tulisan atau simbol-simbol. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa membaca ialah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis. WJS Poerwadarminta (1986:62) mengartikan bahwa membaca ialah melihat serta menilai isi dari apa yang tertulis (dengan melaksanakan atau hanya dalam hati). Hal ini selaras dengan pendapat Ibrahim Bafadal (1996:193) yang menyatakan bahwa membaca merupakan kegiata melisankan kata-kata atau paparan tertulis.

  1. Tujuan Pembelajaran Membaca

Membaca memiliki berbagai tujuan, di antaranya untuk memahami suatu teori, untuk bersenang-senang atau menghibur, atau untuk mempelajari sesuatu. Seiring dengan tujuan membaca itu, maka tujuan pengajaran membaca pada hakikatnya ialah untuk memberikan bekal pengetahuan dan kemampuan siswa untuk menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan sebaik-baiknya.

Sebagai sebuah keterampilan, membaca memang perlu dipelajari sehingga kita bisa membaca secara efektif, efisien dan mudah memahami sebuah wacana atau bacaan. Keterampilan atau skill akan semakin baik, apabila terus ditajamkan atau dilatih.

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1984:19) secara rinci menjelaskan mengenai tujuan membaca di Sekolah Dasar sebagai berikut. (1) Memupuk dan mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami dan melaksanakan cara membaca dan menulis dengan baik dan lancer; (2) Melatih dan mengembangkan kemampuan siswa untuk mengenal dan menuliskan huruf-huruf (abjad) sebagai tanda bunyi atau suara; (3) Melatih dan mengembangkan siswa agar terampil mengubah tulisan menjadi suara dan terampil menuliskan bunyi/suara yang didengarnya; (4) Mengenalkan dan melatih siswa mampu membaca dan menulis dengan teknik-teknik tertentu; (5) Melatih keterampilan siswa untuk memahami kata-kata yang dibaca atau ditulis dan mengingat artinya dengan baik; (6) Melatih keterampilan siswa untuk dapat menetapkan arti tertentu dari sebuah kata dalam konteks kalimat; (7) Memupuk dan mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami, menuliskan, menggunakan dan menikmati keindahan cerita bahasa Indonesia yang sederhana.

  1. Jenis Pembelajaran Membaca

Secara garis besar jenis pengajaran membaca ada dua, yaitu pengajaran membaca permulaan dan pengajaran membaca lanjutan (pemahaman).

Pengajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan kelas II SD, sesuai dengan kemampuan dan perkembangan kejiwaan siswa. Pengajaran membaca permulaan di kelas I bertujuan agar siswa terampil membaca, sedangkan pengetahuan bahasa dan keterampilan berbahasa yang diperlukan siswa untuk menghadapi pelajaran bahasa di kelas III, IV, V dan VI dan mata pelajaran lainnya. Adanya tambahan jumlah dan jenis mata pelajaran itu membawa konsekuensi munculnya istilah dan ungkapan baru. Untuk memahami istilah dan ungkapan baru. Untuk memahami istilah dan ungkapan baru tersebut diperlukan pengetahuan bahasa dan keterampilan berbahasa memadai.

Pengajaran membaca permulaan di kelas I dibagi menjadi dua tahap yaitu membaca tanpa buku dan membaca permulaan dengan buku. Membaca permulaan tanpa buku diberikan dengan pertimbangan agar siswa yang baru masuk sekolah tidak langsung dibebani dengan masalah-masalah yang memberikan dirinya.

Kegiatan-kegiatan dalam membaca lanjutan lebih ditekankan pada kegiatan-kegiatan pikiran atau penalaran, termasuk ingatan. Dalam kegiatan penalaran tersebut, pembaca berusaha menemukan dan memahami informasi yang dikemukakan oleh pengarang melalui karangan bersangkutan. Dalam proses memahami informasi dimaksud, pembaca juga mempelajari cara-cara pengarang menyajikan pikirannya.

Dalam hal ini Tampubolon (1990:60) menyatakan bahwa, dalam membaca lanjutan, pembaca dapat memperoleh dua jenis pengetahuan, yaitu informasi-informasi baru dari bacaan dan cara-cara penyajian pikiran dalam karangan. Jadi, selain memperkaya pengetahuan, membaca lanjutan juga meningkatkan daya nalar.

  1. Pembelajaran Membaca di Kelas II

Pengajaran membaca di kelas II pada dasarnya merupakan lanjutan dari pengajaran membaca permulaan kelas I. Untuk itu perlu diperhatikan dalam pengajaran kelas II masih sama dengan kelas I. Dengan kata lain pengajaran membaca di kelas II merupakan perbaikan pengajaran membaca permulaan di kelas I.

Berhubung pengajaran di kelas II merupakan lanjutan pengajaran di kelas I, maka pada awal tahun ajaran baru diharapkan guru untuk mengulangi pelajaran semester ke-2 di kelas I dengan langkah-langkah sebagai berikut.

  1. mula-mula guru membaca kalimat, baris demi baris, dan kemudian para siswa disuruh mengulanginya.
  2. Guru membacakan sebuah bacaan, para siswa disuruh melanjutkan membaca isi cerita selanjutnya, dengan diberi aba-aba, untuk menjaga kekompakan mereka.

Pemberian aba-aba ini tidak terus-menerus (tergantung keperluan). Kekompakan dalam membaca diperlukan, guna:

  • menyeragamkan ucapan.
  • Untuk mengetahui sampai sejauhmana para siswa dapat mengikuti bacaan yang dibacanya.
  1. Setelah guru merasa yakin bahwa para siswa sudah dapat menguasai membaca dan menulis, barulah guru menyuruh para siswa untuk membuka/membaca buku pelajaran kelas II.

Untuk itu guru diharuskan lebih banyak memberikan pertanyaan bacaan, pekerjaan rumah, maupun latihan-latihan.

Pengajaran membaca permulaan di kelas II ditekankan pada penguasaan:

  1. Lagu kalimat (intonasi)

 Guru hendaknya banyak memberikan latihan intonasi kalimat benda,  kalimatnya hanya dan kalimat perintah atau seru. Untuk itu guru dapat menyuruh seorang anak melakukannya tanya jawab dengan siswa yang lain.

  1. Pemantapan penguasaan pelafan fonem (huruf) yang telah diajarkan di kelas I.

Guru hendaknya banyak memberikan latihan pengucapan beberapa huruf tertentu.

1) Huruf sama, pelafalannya berbeda.

 Beras                       pena                 ember

 emas                        enak                 kaleng

 senang                     beda                kelereng

Karena itu guru diharapkan dapat memberikan tanda-tanda baca misalnya:

e pada kata emas                  tidak diberi tanda

e pada kata enak                   diberi tanda e

e pada kata ember                diberi tanda e

Demikian juga huruf-huruf lain yang sama tetapi pelafalannya berbeda, guru hendaknya dapat memberikan tanda-tanda baca seperti di atas dengan berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh Poerwadarminta.

2) Huruf yang agak sulit pelafalannya.

    Contoh:   v ; f ; z ; sy dan sebagainya

  1. Strategi Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) dalam Pembelajaran Membaca di SD

Cooperative Learning adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam suatu kelompok yang biasa terdiri atas 3 sampai 5 orang siswa untuk mempelajari suatu materi akademik yang spesifik sampai tuntas. Strategi pembelajaran Cooperative Learning mulai populer akhir-akhir ini. Melalui Cooperative Learning siswa didorong untuk bekerja sama secara maksimal sesuai dengan keadaan kelompoknya. Kerja sama di sini dimaksudkan setiap anggota kelompok harus saling bantu. Yang cepat harus membantu yang lambat karena penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Kegagalan individu adalah kegagalan kelompok, dan sebaliknya keberhasilan individu adalah keberhasilan kelompok. Oleh karena itu, setiap anggota harus memiliki tanggung jawab penuh terhadap kelompoknya.

Beberapa penulis seperti Slavin, Johnson, & Johnson, mengatakan ada komponen yang sangat penting dalam strategi pembelajaran cooperative yaitu kooperatif dalam mengerjakan tugas-tugas dan kooperatif dalam memberikan dorongan atau motivasi.

Slavin, Abrani, dan Chambers (1996) berpendapat bahwa belajar melalui kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa perspektif, yaitu perspektif sosial, perspektif perkembangan kognitif dan perspektif elaborasi kognitif. Perspektif motivasi, artinya bahwa penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu. Dengan demikian keberhasilan setiap indivindu pada dasarnya adalah keberhasilan kelompok. Hal semacam ini akan mendorong setiap anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya.

Perspektif sosial artinya bahwa melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan. Bekerja secara tim dengan mengevaluasi keberhasilan sendiri oleh kelompok, merupakan iklim yang bagus, di mana setiap anggota kelompok menginginkan semuanya memperoleh keberhasilan.

Perspektif perkembangan kognitif artinya bahwa dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi. Elaborasi kognitif, artinya bahwa setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan menimba informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *