Salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan sering dijumpai dihampir semua negara adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan harga-harga barang naik secara umum dan terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali jika kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain, (Rahardja, 1997 : 32).
            Definisi diatas hampir sama seperti yang diberikan oleh Boediono (1992 : 155) inflasi adalah kecenderungan harga-harga untuk menaik secara umum dan terus-menerus. Kenaikan harga-harga karena misalnya, musiman, menjelang hari-hari besar, atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi. Kenaikan harga semacam ini tidak dianggap sebagai masalah atau penyakit ekonomi dan tidak diperlukan kebijaksanaan khusus untuk menanggulanginya.
            Inflasi adalah suatu kenaikan yang relatif dan disproporsional besar dalam tingkat harga umum yang timbul sebagai akibat jumlah uang dalam peredaran lebih banyak dibandingkan dengan barang dan jasa yang ditawarkan, definisi ini diutarakan oleh Sloan dan Zurcher (Winardi, 1992 : 32). Sedangkan menurut Nopirin  (1997 : 25) yang dimaksud dengan inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus. Ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan persentase yang sama. Mungkin dapat terjadi kenaikan tersebut tidaklah bersamaan, yang penting terdapat kenaikan harga umum barang secara terus-menerus selama satu periode. Kenaikan yang terjadi sekali saja (meskipun dengan persentase yang cukup besar) bukanlah disebut inflasi. Adapun menurut BPS ( 2006 : 115), inflasi adalah kenaikan harga secara umum dari barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pada suatu periode.
Ada beberapa cara yang dikemukakan untuk menggolongkan jenis-jenis inflasi. Penggolongan pertama didasarkan pada parah atau tidaknya inflasi tersebut. Sukirno (2005 :  11) membedakan beberapa macam inflasi yaitu sebagai berikut :
1.      Inflasi Merayap yaitu inflasi yang terjadi sekitar 2-3 persen per tahun.
2.      Inflasi Sederhana yaitu inflasi yang terjadi sekitar 5-8 persen per tahun.
3.      Hiperinflasi yaitu inflasi yang tingkatnya sangat tinggi yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua kali lipat atau lebih dalam tempo satu tahun.
Sedangkan menurut Nanga (2005 : 247) dilihat dari tingkat keparahannya, inflasi dapat dibagi dalam tiga kategori:
a.       Inflasi sedang (moderate inflation)
Yaitu inflasi yang ditandai dengan harga-harga yang meningkat secara lambat, dan tidak terlalu menimbulkan distorsi pada pendapatan dan harga relatif.
b.      Inflasi ganas (galloping inflation)
Yaitu inflasi yang mencapai antara dua atau tiga digit seperti 20, 100 atau 200 persen per tahun dan dapat menimbulkan gangguan-gangguan serius dalam perekonomian.
c.       Hyperinflasi (Hyperinflation)
Yaitu tingkat inflasi yang sangat parah, bisa mencapai ribuan bahkan milyar persen per tahun, merupakan jenis yang mematikan.
Adapun jenis inflasi dilihat dari faktor-faktor penyebab timbulnya (Nanga, 2005 : 245):
a.       Inflasi tarikan permintaan
      Inflasi yang terjadi sebagai akibat dari adanya kenaikan permintaan agregat (AD) yang terlalu besar atau pesat dibandingkan dengan penawaran atau produksi agregat.
b.      Inflasi dorongan biaya
      Inflasi yang terjadi sebagai akibat adanya kenaikan biaya produksi yang pesat dibandingkan dengan produktivitas dan efisiensi perusahaan.
c.       Inflasi struktural
Inflasi yang terjadi akibat dari berbagai kendala atau kekakuan struktural yang menyebabkan penawaran menjadi tidak responsif terhadap permintaan yang meningkat.

            Diantara berbagai perumusan yang telah dikemukakan, dapat dimengerti bahwa meskipun pengertian yang diberikan berbeda namun tetap memiliki persamaan. Oleh karena itu secara umum dapat dikatakan bahwa inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga secara terus-menerus sedangkan nilai uang mengalami kemerosotan. Dan adapun inflasi yang terjadi pada suatu negara sangat berpengaruh terhadap keinginan investor untuk menanamkan modalnya pada pasar modal karena akan mengurangi investasi portofolio yang akan dilakukan oleh para investor
daftra pustkanya klik disni