Parasit yang menyerang akan mempengaruhi hidup ikan dengan menghambat pertumbuhan. Pengaruh yang muncul diawali dengan terganggunya sistem metabolisme tubuh inang sampai merusak organ. Pakan yang dikonsumsi ikan dan digunakan untuk pertumbuhan dimanfaatkan oleh parasit yang terdapat pada tubuh inang (ikan) sehingga tubuh inang kekurangan nutrien. Pengaruh tersebut terjadi mulai parasit menempel dan tumbuh pada organ inang sampai dengan yang merusak organ sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan bahkan kematian inang. Daur hidup parasit yang mengganggu ikan budidaya dapat diketahui melalui hubungan antara inang, yaitu ikan budidaya, parasit serta lingkungan tempat inang tersebut hidup sehingga para petani dapat mengantisipasi keadaan yang timbul akibat parasit tersebut (Hadiroseyani et al., 2006).

Menurut Silsilia (2000) menyebutkan ektoparasit menginveksi inangnya pada bagian yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan nutrien untuk kelangsungan hidupnya. Selanjutnya Alifuddin et al. (2002) menyatakan bahawa parasit dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan bahkan kematian, sehingga menyebabkan penurunan produksi dan kualitas ikan yang mengakibatkan kerugian ekonomi bagi pembudidayanya. Menurut Arnott et al. (2000)  bahwa umumnya ektoparasit pada ikan adalah golongan crustacea, cacing (trematoda, nematoda dan cestoda) dan protozoa. Ektoparasit ini menginfeksi sirip, sisik, operkulum dan insang ikan.

Penyakit ikan dapat disebabkan oleh agen infeksi seperti parasit, bakteri dan virus, serta agen non infeksi seperti kualitas pakan yang jelek, maupun kondisi lingkungan yang kurang menunjang bagi kehidupan ikan (Purwaningsih, 2013). Organisme penyebab penyakit sangatlah beragam, salah satunya adalah ektoparasit (Bhakti et al., 2011). Beberapa faktor yang berperan terhadap serangan penyakit pada ikan adalah kepadatan ikan yang dibudidayakan, budidaya secara monokultur dan stress, selanjutnya faktor biotik dan abiotik yaitu, faktor fisika dan kimia air serta berbagai organisme patogen (Winaruddin dan Eliawardani, 2007).

Dogiel et al. (1970) menyatakan, bahwa meningkatnya keberadaan beberapa ektoparasit misalnya Trichodina sp. dan Cylodonella cyprini tidak ditentukan oleh umur. Sementara Nobel et al. (1989), menyebutkan bahwa pada beberapa spesies ikan, semakin meningkat umur ikan maka intensitas ektoparasitnya cenderung semakin berkurang. Namun menurut Kennedy (1975), semakin tua ikan, berarti semakin lama waktu yang dimiliki ikan untuk kontak dengan ektoparasit, sehingga prevalensi dan intensitas ektoparasit meningkat sesuai dengan umur ikan. Tubuh inang merupakan tempat untuk kolonisasi ektoparasit. Semakin luas permukaan tubuh ikan, maka koloni ektoparasit juga bertambah, sehingga nilai intensitas dan prevalensi ektoparasit meningkat.

Beberapa parasit memiliki inang spesifik tertentu. Hal ini dapat ditunjukan dengan adanya beberapa jenis ikan yang hanya terinfeksi oleh satu jenis ektoparasit saja (species spesifik), atau hanya satu organ saja yang terinfeksi oleh ektoparasit tersebut (organ spesifik), selain itu masih ada beberapa spesifitas lainnya seperti spesifitas geografi dan spesifitas ekologi (Grabda 1981). Hubungan spesifik antara inang dengan ektoparasit tersebut ditentukan oleh keberhasilan ektoparasit dalam menginfeksi, menempati dan berkembang biak pada habitat tertentu pada bagian tubuh inang (Olsen 1974). Pengelolaan kesehatan yang dilakukan melalui tindak sanitain dan desinfeksi akan menurunkan tingkat dan kejadian infeksi (Alifuddin 2000). Menurut Kabata (1985) ektoparasit ini banyak menyerang insang dan kulit ikan yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan.

Grabda (1991) mendefenisikan, parasitisme sebagai hubungan antara satu species ektoparasit yang menggunakan organisme lain sebagai inang habitatnya dan sumber makanan. Setiap jenis ektoparasit mempunyai habitat tertentu pada inang sebagai tempat hidupnya (Noga, 1996). Lom (1995) menyatakan bahwa penyakit pada ikan dapat terjadi karena adanya interaksi yang tidak serasi, antara lain agen penyakit dan lingkungan. Interaksi tersebut dapat menyebabkan ikan menjadi stres sehingga mekanisme pertahanan dirinya menjadi lemah dan mudah untuk diserang penyakit (Afrianto, 1992).

  • Protozoa

a. Trichordina sp

Menurut Lom (1995) ektoparasit ini dimasukkan ke filum Ciliophora, kelas Olygohymenophorea, subkelas Peritricha, sub ordo Mobilina, Famili Trichodinidae dari genus Trichodina. Sebagian besar dari genus Trichodina merupakan ektoparasit. Genus ini biasanya menyerang pada bagian kulit, sirip, dan insang inangnya (Safutra, 2006).

Trichodina sp. mempunyai variasi bentuk dari yang datar sampai menyerupai lonceng. Bagian dalam tubuhnya terdiri dari inti besar (makronukleus) bebrbentuk seperti tapal kuda, bagian inti kecil yang bentuknya bundar (oval), dan beberapa vakuola untuk proses pencernaan, di bagian anterior bentuknya cembung merupakan tempat cilia menempel untuk pergerakan. Sedangkan pada bagian posterior berbentuk cekung dilengkapi dengan cakram penempel untuk menempelkan diri pada inang (Lom, 1995).

b. Ichthyophthirius multifilis

Ektoparasit ini termasuk filum protozoa, subfilum Ciliophara, kelas Ciliata, kelas Holotrichia, ordo Hymenustomatida, famili Ophryoglenidae dan genus Ichthyophthirius multifilis (Noga, 1996). Ichthyophthirius multifilis merupakan ektoparasit yang sering menyerang ikan hias air tawar, pada bagian kulit, sirip, dan insang (Paperna, 1996).

Hampir diseluruh permukaan tubuh Ichthyophthirius multifilis tertutup oleh cilia, kecuali pada bagian anterior yang berbentuk cincin (cyrostom)  yang berfungsi untuk pergerakan (Rosmikayana, 1994). Bagian dalam sitoplasmanya terdapat makronukleus yang terbentuk seperti tapal kuda, mikronukleus yang menempel pada makronukleus, dan jumlah vakuola kontraktir (Kriswinarto, 2002). Individu muda ektoparasit ini memiliki diameter antara 30-50 µm dan individu dewasanya dapat mencapai ukuran diameter 50-1.000 µm (Lom, 1995)..

c. Chilodonella

Lom (1995) menyatakan bahwa, ektoparasit ini termasuk filum Chiliophora, famili Chlamydodontidae dan genus Chilodonella termasuk ektoparasit yang sering menyerang kulit, sirip, insang ikan dan sering ditemukan dalam jumlah yang banyak.

Ektoparasit ini memiliki tubuh yang pipih dorsoventral, kaku, oval, dengan bagian permukaan dorsal yang cekung dan bagian ventralnya berbentuk pipih. Di daerah tropis mereka dapat bertahan hidup pada kondisi lingkungan bersuhu tinggi dan konstan, chilodonella memiliki bentuk yang hampir sama dengan Ichthyopthirius yang mempunyai barisan cilia yang teratur pada bagian sisi tubuhnya serta semacam corong yang dapat berkontraksi. Cilia pada bagian ventral tersebut digunakan chilodonella yang bergerak pada permukaan tubuh inang (Lom, 1995). Menurut (Ratentondok, 1994) reproduksi aseksualnya terjadi melalui pembelahan biner secara transversal. Chilodonella bereproduksi pada kisaran suhu 0,5-20 0C pada suhu kondisi yang ekstrim. Biasanya chilodonella ditemukan dalam bentuk kista.

d. Oodinium

Jenis ektoparasit ini digolongkan dalam filum Sarcomastigophora, subfilum mastigophora, famili Blastodiniidae, genus Oodinium (Noeraini, 1994). Diameter tubuhnya 12-96 µm, bertangkai pendek dan memiliki nucleus yang besar (Lom, 1995).

Ektoparasit ini sering dijumpai menempel pada bagian kulit, insang, rongga pencernaan dan rongga mata ikan (Lom, 1995). Dapat dibedakan dengan Ichthyopthirius melalui bentuk nukleusnya yang oval dan dari cangkang chitinnya. Mereka biasanya bergerak dalam air dengan berenang, jika tidak menemukannya setelah 24 jam mereka akan mati, namun bila dalam waktu 24 jam tersebut mereka dapat menemukan inang baru, mereka akan menempel pada inang tersebut dengan mengeluarkan flagelnya dan dengan cepat akan tumbuh menjadi ektoparasit dewasa (Kriswinarto, 2002).

  • Platyhelminthes

a. Dactylogyrus sp.

Hampir sama dengan Gyrodactylus, ektoparasit ini termasuk filum Platyhelminthes, kelas Monogenea, subkelas Polyorichoinea, ordo Dactylogyridea, famili Dactylogyrideadan genus Dactylogyrus (Cone, 1995). Ciri utama yang dapat membedakan antara genus Gyrodactylus dan Dactylogyrus ialah adanya dua pasang mata dan empat tonjolan ada bagian anteriornya (Safutra, 2006).

b. Gyrodactylus sp.

Gyrodactylus sp. merupakan ektoparasit yang sering menyerang kulit dan insang ikan laut maupun perairan tawar. Ektoparasit ini bersifat vivipar dimana telur berkembang dan menetas didalam uterusnya (Levy, 1995). Menurut Noeraini (1994), pada ujung anterior ektoparasit ini terdapat dua tonjolan yang menyerupai kuping. Cone (1995) menyatakan, Gyrodactylus memiliki tubuh yang kecil memanjang dan terdapat ophisthaptor dengan 16 kait marginal pada bagian posteriornya.

c. Nematoda

Semua nematoda yang terdapat di Asia Tenggara itu berbentuk selindris filiform dan tertutup oleh lapisan kutikel yang kuat, fleksibel, tetapi tidak dapat digerakan (Cone, 1995) umumnya, cacing dari kelas ini berbentuk memanjang dengan tubuh selindris, meruncing pada kedua ujungnya, dari mulut terletak pada bagian ujung anterior. (Noga, 1996) menyatakan, nematoda dalam bentuk kista bersifat lebih merusak, dibandingkan dengan nematoda yang dewasa. Hal ini terjadi dalam menginfeksi jaringan kista tersebut dapat menimbulkan perubahan degeneratif dan nogrosis yang meluas dalam saluran pencernaan ikan.

Crustacea.

a. Argulus sp

Menurut noga (1996), Argulus sp. termasuk filum arthropoda, kelas Crustacea, subkelas Branchiura dan famili Argulidae. Tubuh argulus terdiri dari tiga bagian yaitu thoraks, ceplothoraks, dan abdomen. Selain bentuknya yang oval dan transparan argulus juga memiliki 2 pasang antena dan 2 pasang maxilla yang berfungsi sebagai alat penghisap (Noga, 1996 ). Kecepatan siklus hidup dari argulus tergantung kepada jenis dan besarnya suhu lingkungan (Kriswinarto, 2002).

b. Lernaeasp.

Lernaea sp. tergolong ke dalam filum Arthopoda, kelas Crustacean, sub kelas Copepoda, ordo Caligidea dan famili Lernaedae (Lom, 1995). Ektoparasit ini lebih dikenal dengan sebutan cacing jangkar (Noga, 1996). Lernaea sp. memiliki tubuh yang tidak bersegmen, silindris memanjang, dan dilengkapi dengan jangkar yang besar untuk pelekatnya pada inang (Noeraini, 1994).

Siklus hidup dari Lenaea sp. meliputi stadia naplius, copepodid dan cyclopoid. Dalam stadia cyclopoid, individu jantannya akan mati sesaat setelah melakukan kopulasi. Sedangkan individu betinanya akan menusukkan kepalanya pada jaringan kulit atau urat daging ikan dan berkembang menjadi individu dewasa (Noga, 1996).

Referensi / Daftar Pustaka

Afrianto, E. dan E. Liviawaty. 1992. Pengantar Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius,Yogyakarta.

Akbar, J. 2011. Identifikasi Parasit Pada Ikan Betok (Anabas testudieus). Jurnal Bioscientiae, Vol 8(2): 36-45.

Alamanda, I. E., S. H. Noor dan B. Agung. 2006. Penggunaan Metode Hematologi dan Pengamatan Endoparasit Darah untuk Penetapan Kesehatan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) di Kolam Budidaya Desa Mangkubumen Boyolali. Jurnal Biodiversitas, Vol 8(1): 34-38.

Alifuddi, M., A. Priyono dan A. Nurfatimah. Inventarisasi Parasit Pada Ikan Hias yang Dilalulintaskan Di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. Jurnal akuakultur indonesia, Vol 1(3): 123-127.

Alifuddin, M. 1999. Tehnik Preservasi dan Koleksi Spesimen Parasit Ikan. Laboratorium Kesehatan Ikan, Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB, Bogor. 22 hal.

Arnott, S.A., I. Barber and F.A. Huntingford. 2000. Parasiteassociated growth enhancement in a fish-cestode system. Proc. Roy. Soc. B. 267:657-663.

Bhakti, S., Arimbi dan Kusnoto. 2011. Prevalensi dan Identifikasi Ektoparasit Pada Ikan Koi (Cyprinus carpio) Di Beberapa Lokasi Budidaya Ikan Hias Di Jawa Timur. Fakultas Kedoteran Hewan, Universitas Airlanggga. Surabaya.

Bastiawan, D., Taukhid, M. Alifudin, dan T. S. Dermawati. 1995. Perubahan Hematologi dan Jaringan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi Cendawan Aphanomyces sp. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Vol 1(2): 106-115.

Dogiel, V.A.G., G.K. Petrushevski dan I. Polyanski. 1970. Parasitology of Fishes. T.F.H. Publisher, Hongkong. 384 p.

Grabda, J. 1981. Marine Fish Parasitology. VHC and PWN-Polish Scientific Publishers, New York. 266 p.

Grabda, J. 1991. Marine Fish Parasitology. Polish Scientific Publishers. Poland.

Gufran, M., dan H. Kordik. 2010. Budidaya Lele di Kolam Terpal. Gramedia. Jakarta.

Hadiroseyani, Y., P. Hariyadi dan S. Nuryati. 2006. Inventarisasi Parasit lele dumbo Clarias sp. di daerah Bogor. Jurnal Akuakultur Indonesia. 5(2): 167-177.

Kabata, Z. 1985. Parasites and Diseases of Fish Cultured in The Tropics. Taylor and Francis, London and Philadelphia. 318 p.

Kriswinarto, F. 2002. Inventarisasi Parasit Pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) di Stasiun Karantina Ikan Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kennedy, C.R. 1975. Ecological Animal Parasitology. Blackwell Scientific Publications, Oxford.

Lom, J. 1995. Trichodinidae and ther Ciliates. P : 22-262 In P. T. K. Woo (Ed), Deseases and Disorder. Volume 1. Protozoan and Metazoan infection. University Press. Cambridge.

Lom, J. 1970. Trichodinid ciliates (Peritrichida: Urceolariidae) from some marine fishes. Folia Parasitolology, 17: 113-125.

Lestari Y. 2004. Status Perkembangan Penyakit pada Udang di Indonesia dan Strategi Makalah Disampaikan Pada Penelitian Teknis Pembenihan Multi Spesies. BBAP Situbondo.

Noble, E.R., G.A. Noble, G.A Schad and A.J. McInnes 1989. Parasitology. The Biology of Animal Parasites. 6th Edition. Lea and Febiger, Philadelphia London.

Noeraini, W. 1994. Inventarisasi parasit Pada Ikan Maanvis (Pphetropylum sp) di Stasiun Karantina ikan Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta. Skripsi. Fakultas Pertanian Bogor. Bogor.

Noga, E. J. 1996. Dinoflagellata (Phylum Sorcomastigophora), p : 229-262 In  P. T. KWoo (Ed), Deseases and Disorder. Volume 1. Protozoan and Metazoan Infection. University Pres. Cambridge.

Olsen, O.W. 1974. Animal Parasites, Their Life Cycles and Ecology. Univ. Park Press, Baltimore, London, Tokyo.

Paperna, I. 1996. Parasites infection and Deseases of Fish In Africa. Food Agriculture Organization for the United Nations. Roma.

Purwaningsih, I. 2013. Identifikasi Ektoparasit Protozoa Pada Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linnaeus, 1758) Di Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Cangkringan Sleman DIY. Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Ratentondok, R. 1994. Inventarisasi Parasit pada Ikan Gurami (Osphronemsgouramy) dan Ikan Mas koki (Carassius auratus) di Stasiun Karantina Bandar Udara Soekarno-Hatta. Jakarta. Skripsi Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Rosmikayana, A. R. 1994. Inventarisasi Parasit Pada Ikan Mas Koki (Carassius auratus) di Stasiun Karantina Ikan Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta. Skripsi. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Roza, D., dan J. Fris. 2006. Infeksi Parasit Hirudinea Pada Induk Ikan Kerapu Lumpur, Epinephelus bleekeri dan Kerapu Batik, Epinephelus polyphekadion Serta Upaya Penanggulangannya. Seminar Nasional Tahunan III Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan 27 Juli, 2006.

Rukmono, D., Sumardiana, P. Perdana, G. R. Kusmayadi, Srinoto, D. Azizah, A. Kholiz, Samsuddin, Indirawati, F. Haryanto dan Nurhayati. 1998. Berbagai Jenis Parasit yang Menyerang Ikan Hias.Pemeriksaan Laboratorium Karantina Ikan Ngurah Rai-Denpasar, Bali.

Safutra, E. 2006. Identifikasi Parasit Pada Redclaw (Cherax quadricarinatus) dan Albertisi  (Cherax altertisi) di Provinsi Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Perikanan Universitas Abulyatama Aceh. Banda Aceh.

Silsilia, N. S. 2000. Parasit Pada Ikan Neon Tetra (Paracheirodon innesi Myers) yang Diekspor Melalui Badan Karantina Ikan Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Skripsi, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Untergasser, D. 1989. Handbook of Fish Disease. TFH Publication. Hongkong.

Usman, R. 2007. Parasit dan Penyakit Ikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta.

Williams E. H., Jr. and L. B. Williams. 1996. Parasites Offshore big game fishes of             Puerto Rico and the Western Atlantic. Puerto Rico. Department of Natural           Environmental Risourses and University of Puerto Rico, Rio Piedras.

Winaruddin dan Eliawardani. 2007. Inventarisasi Ektoparasit yang Menyerang Ikan Mas yang Dibudidayakan Dalam Jaring Apung Di Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah. Jurnal Kedokteran Hewan, Vol 1(2): 127-130.

Zafran, Roza dan D. Koesharyani. 2005. Penyakit Bacterial pada Ikan Laut. Balai Riser Perikanan Budidaya Laut. Gondol.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *