Antopometri adalah salah satu disiplin ilmu ergonomik yang mempelajari tentang pengukuran dimensi tubuh manusia. Istilah “Ergonomi” berasal dari bahasa latin yaitu ERGON (Kerja) dan NOMOS (Hukum Alam) dan dapat didefenisikan sebagai studi tentang aspek – aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan. Ergonomi berkenaan pula dengan optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di tempat kerja, dirumah, ditempat rekreasi. Didalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia. Fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya. Ergonomi. Sekarang ini semua produk – produk permesinan yang dihasilkan oleh perusahan – perusahan besar  dieropa sudah  cukup canggih sehingga perusahan sekarang melakukan peningkatan mutu produk di bidang ergonomi cukup pesat.
Pengetahuan mengenai ukuran tubu merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam perancangan peralatan dan mesin – mesin, pengaturan ruang kerja, dan pengaturan tata letak secara fisik agar diperoleh kenyamanan, kesehatan dan efektivitas kerja maksimum (saha, 1987). Pengukuran tubuh manusia meliputi dimensi tubuh, pengukuran aspek mekanik kerja yang dilakukan, dan juga pengukuran jangkauan dan frekuensi gerak dari masing – masing anggota tubuh yang terlibat. Pengukuran aspek antropometri terdiri dari dua tipe yaitu pengukuran statik dan dinamik. Pengukuran tipe statik menghasilkan data dimensi tubuh dalam keadaan diam. Sedangkan tipe dinamik merupakan pengukuran antopometri dengan memperhatikan kemampuan gerak dalam melakukan aktivitas (Mc. Cormic dan Zanders, 1987).
Secara umum data antopomerti yang diterapkan untuk hal – hal khusus, cukup diambil dari persentil ke–5, ke–50, ke-95 atau antara persentil ke-5 sampai 95. Dalam keteknikan untuk merancang mesin umumnya dipakai persentil 50. Persentil 100 diterapkan pada rancangan yang dapat digunakan oleh semua orang, misalnya perlengkapan rumah sakit, sedangkan alat yang dapat diatur sesuai dengan operatornya seperti posisi pegangan kendali, tempat duduk dan lain – lain dirancang agar dapat memenuhi selang persentil ke – 5 sampai 95.
Perkembangan ergonomi sangat pesat baik dari segi filsafat, maupun teknik – tekniknya. Secara falsafah kalau dulu TTCK ( Teknik Tata Cara Kerja) merancang sistem kerja, dimana semua mempunyai peran yang serupa, baik manusia, mesin, dan sebagainya, sekarang sistem kerja harus dirancang dengan manusia sebagai pusat rancangan dan komponen lain harus disesuaikan sejauh mungkin dengan manusia, bukan sebaliknya. Di dalam tatanan baru, pembahasan ergonomika harus cukup luas, karena ergonomika itulah yang membahas manusia tadi ke arah mana segala sesuatu itu difokuskan. Dengan mempelajari manusia sebagai salah satu komponen dari sistem kerja, diharapkan kita bisa mempelajari fungsi manusia dengan segala kemampuan dan keterbatasannya dalam merancang sistem kerja tersebut. Dengan pemahaman dengan adanya keterbatasan dan kemampuan manusia dalam sistem kerja, kita dituntun untuk dapat memberikan tugas – tugas, kewajiban – kewajiban dan tanggung jawab pada suatu pekerjaan secara “layak” bagi seorang pekerja.
Proses mengendalikan mesin dilakukan manusia biasanya berupa pekerjaan menekan, menarik dan memutar. Semua pekerjaan ini arus diatur sedemikian rupa sehingga dalam melakukan pekerjaan tersebut, manusia tidak melewati batas kemampuannya yang bisa mengakibatkan kelelahan yang cepat dan akhirnya berujung kepada terganggunya kesehatan atau malah menimbulkan kecelakaan. Pengetahuan tentang batas kekuatan yang dimiliki manusia dalam melakukan kerja menekan, menarik dan memutar menjadi studi menarik yang harus dilakukan. Anthopometri adalah suatu bidang ergonomika yang menyangkut masalah pengukuran statik manusia. Berasal dari kata dalam bahasa yunani yaitu anthropos (manusia) dan metron (pengukuran) data anthopometri dapat digunakan untuk optimasi dimensi sebagai macam benda yang sering digunakan manusia.
Anthopometer adalah suatu alat untuk mengukur jarak. Ketinggian dan sudut suatu titik dari suatu titk acuan tertentu. Realisasi alat ini berguna sebagai alat bantu untuk mendesain atau mengetahui posisi alat – alat atau instrumen pengendali dari suatu mesin atau sisten kerja terhadap posisi operatornya. Sesuai dengan kegunaannya alat ini terdiri dari pengukur jarak yang dapat digerakkan secara horizontal, vertikal dan berputar pada sumbu vertikal sehingga dapat digunakan untuk mengetahui posisi relatif dari suatu titik terhadap titik acuan tertentu. Alat yang seringkali digunakan dalam pengukuran anthopometri adalah tape, penggaris dan unting – unting.
Variabel anthpometri dalam populasi normal biasanya mngikuti sebaran normal. Untuk keperluan dsesain digunkan dua kunci parameter dari sebaran normal yaitu nilai tengah (mean) dan standar deviasi nilai tengah adalah jumlah keseluruhan pengukuran individu dibagi dengan kebanyakan pengukuran. Nilai tengah menunjukkan kecenderungan pusat data. Standar deviasi dihitung menggunakan beda antara tiap pengukuran individu dengan nilai tengah. Standar deviasi menunkukkan derajat sebaran. (Herodian sam. dkk). Aspek – aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun fasilitas kerja adalah merupakan suatu faktor penting dalam menunjang peningkatan pelayanan jasa produksi. Terutama dalam hal perancangan ruang dan fasilitas akomodasi.
Perlunya memperhatikan faktor ergonomi dalam proses rancang bangun fasilitas dalam dekade sekarang ini adalah merupakan sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi. Hal tersebut tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai ukuran anthopometri tubuh operator maupun penerapan data – data anthopometri. Dalam rangka untuk mendapatkan suatu perancangan yang optimum dari suatu ruang dan fasilitas akomodasi maka hal – hal yang harus diperhatikan adalah faktor – fakator seperti panjang dari suatu dimensi tubuh manusia baik dalam posisi statis maupun dinamis. (Nurmianto eko, 1992).
Dalam rangka untuk meminimumkan kelelahan dan resiko terhadap rusaknya tulang otot dalam kondisi kerja yang relative berulang – ulang, maka dalam penempatan dan pengoperasian posisi pengendali (control) harus seoergonomis mungkin sehingga pengoperasiannya dalam keadaan yang paling efisien. Dalam gerakan pada sistem kerangka otot, otot bereaksi terhadap tulangn untuk mengendalikan gerak rotasi disekitar sambungan tulang. Beberapa sistem pengungkit menjelaskan hal tersebut. Dalam sistem ini otot sebagai sistem mekanis yang berfungsi untuk suplai energi kinetik dan gerakan angular.
Biomekanik adalah suatu bidang ergonomi yang berhubungan dengan pengukuran dinamik tubuh manusia yang diantaranya menyangkut selang gerak anggota tubuh. Kecepatan gerak, kekuatan dan aspek gerak anggota tubuh lainnya. Peralatan biomekanik yang terdapat dilaboratorium ergonomika dan elektronika. Jurusan teknik pertanian,  Fateta – IPB berupa alat pengukur kekuatan tarik. Kekuatan genggam dan kelenturan tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

Ayoub, M.M, 1973. WORK PLACE DESIGN AND POSTURE. Human Factors, New York.

Herodian sam, Saulia Lenny, Organ Kusen, 1998. ERGOMIKA. IPB, Bogor.
Zulfahrizal, Dhafir muhammad, 2007. PENUNTUN PRAKTIKUM ERGONOMIKA .