Pengertian Asfiksia

Asfiksia merupakan penyebab utama lahir mati dan kematian neonatus. Selain itu asfiksia menyebabkan mortalitas yang tinggi dan sering menimbulkan gejala sisa berupa kelainan neurologi. Asfiksia adalah keadaan hipoksia yang progresif, karena akumulasi CO2 dan asidosis (Hajjah, 2012). Asfiksia paling sering terjadi pada periode segera setelah lahir dan menimbulkan sebuah kebutuhan resusitasi dan intervensi segera untuk meminimalkan mortalitas dan morbiditas (Maryunani, 2009).

Asfiksia Neonatorum merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir yang mengalami gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga bayi tidak dapat memasukkan oksigen dan tidak dapat mengeluarkan zat asam arang dari tubuhnya (Dewi, 2011).

Klasifikasi Asfiksia

Derajat ringan beratnya bebang bayi (asfiksia neonatorum) lebih tepat dinilai dengan cara penilaian menurut APGAR meliputi appearance (warna kulit), pulse (denyut jantung), grimace (refleks atau respon terhadap rangsangan), activity (tonus otot) and respiratory effort (usaha bernafas). Skor Apgar ini biasanya dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap, yaitu pada saat bayi telah diberi lingkungan yang baik serta telah dilakukan pengisapan lendir dengan sempurna. Skor Apgar 1 menit ini menunjukkan beratnya asfiksia yang diderita dan baik sekali sebagai pedoman untuk menentukan cara resusitasi. Skor Apgar perlu pula dinilai setelah 5 menit bayi lahir, karena hal ini mempunyai korelasi yang erat dengan morbiditas dan mortalitas neonatal (Drage, 1966).

Tabel 2.1 Nilai APGAR

Skor 0 1 2 Angka
A : Appearence color (warna kulit) Pucat Badan merah, ekstremitas biru Seluruh tubuh kemerah- merahan di atas 100
P : Pulse (heart rate) (frekuensi jantung) Tidak ada Di bawah 100 Di atas 100
G : Grimance (reaksi terhadap rangsangan) Tidak ada Sedikit gerakan mimic Menangis, batuk/ bersin
A : Activity (tonus otot) Lumpuh Ekstremitas dalam fleksi sedikit Gerakan aktif
R : Respiration (usaha nafas) Tidak ada Lemah, tidak teratur Menangis kuat

Sumber: Mochtar, 1998

Nilai 7- 10: bayi normal

Nilai 4- 6: bayi asfiksia ringan- sedang

Nilai 0- 3: bayi asfiksia berat

Dalam menghadapi bayi dengan asfiksia berat, penilaian cara ini kadang- kadang membuang waktu dan dalam hal ini dianjurkan untuk menilai secara cepat (Pediatric’s Staff, 1967).

  • Menghitung frekuensi jantung dengan cara meraba xifisternum atau umbilikalis dan menentukan apakah jumlahnya lebih atau kurang dari 100/menit,
  • Menilai tonus otot apakah baik/ buruk,
  • Melihat warna kulit

Beberapa literatur mengklasifikasikan atau menggolongkan asfiksia neonatorum sebagai berikut (Maryunani, 2009):

Atas dasar pengalaman  klinis, Asfiksia Neonatorum dibagi dalam:

  • Vigerous baby”, nilai Apgar 7-10, dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
  • Mild- moderate asphyxia (Asfiksia Sedang)”, nilai Apgar 4-6, pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100 kali/ menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang- kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada.
  • Asfiksia berat, nilai Apgar 0- 3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 kali/ menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang- kadang pucat, refleksi iritabilitas tidak ada.

Asfiksia berat dengan henti jantung, yaitu keadaan:

  1. Bunyi jantung janin menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap.
  2. Bunyi jantung bayi menghilang setelah persalinan

Etiologi Asfiksia

Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit- menit pertama kelahiran dan kemudian disusul dengan pernafasan teratur. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin, akan terjadi asfiksia janin atau neonatus. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. Hampir sebagian besar asfiksia bayi baru lahir ini merupakan kelanjutan asfiksia janin, karena itu penilaian janin selama masa kehamilan, persalinan memegang peranan yang sangat penting untuk keselamatan bayi (Hassan, 2007).

Chamberlain (1970) mengemukakan bahwa asfiksia yang mungkin timbul dalam masa kehamilan dapat dibatasi atau dicegah dengan melakukan pengawasan antenatal yang adekuat dan melakukan koreksi sedini mungkin terhadap setiap kelainan yang terjadi. Selanjutnya dikemukakan bahwa penghentian kehamilan dapat dipikirkan bila kelainan yang timbul tidak dapat diatasi dan keadaan bayi telah mengijinkan. Gangguan yang timbul pada akhir kehamilan atau persalinan hampir selalu disertai anoksia/ hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia neonatus. Keadaan ini perlu mendapat perhatian utama agar persiapan dapat dilakukan dan bayi mendapat perawatan yang adekuat dan maksimal pada saat lahir. Dengan demikian dapat diharapkan kelangsungan hidup yang sempurna untuk bayi tanpa gejala sisa.

Towell (1966) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi yang terdiri dari:

Faktor Ibu

  • Hipoksia Ibu

Terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anesthesia dalam. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin.

  • Gangguan aliran darah uterus

Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan ke  janin.

Faktor Plasenta

Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta, dan lain- lain.

Faktor Fetus

Kompresi umbilicus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilicus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan: tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir dan lain- lain.

Faktor Neonatus

Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir  ini mencakup:

  1. Asfiksia intrauterin
  2. Bayi kurang bulan
  3. Obat- obatan yang diberikan atau diminum oleh ibu
  4. Penyakit neuromuscular bawaan (congenital)
  5. Cacat bawaan
  6. Hipoksia intrapartum

Berikut ini adalah beberapa faktor risiko asfiksia dengan kategori- kategori antara lain: faktor risiko antepartum, intrapartum, dan karakteristik janinnya.

Tabel 2.2 Faktor Risiko Asfiksia  Neonatorum

Faktor Risiko Antepartum Faktor Risiko

Intrapartum

Faktor Risiko

Janin

a)    Primipara

b)   Demam saat kehamilan

c)    Hipertensi dalam kehamilan

d)   Anemia

e)    Perdarahan antepartum

f)    Riwayat kematian Neonatus sebelumnya

a)       Malpresentasi

b)      Partus Lama

c)       Mekonium dalam air ketuban

d)      Ketuban pecah dini

e)       Induksi oksitosin

f)       Prolaps tali pusat

a)  Prematuritas

b)  BBLR

c)  Pertumbuhan Janin Terhambat (IUGR)

Sumber: Maryunani, 2009

Komplikasi Pada Asfiksia

Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatorum antara lain (Maryunani, 2009):

  • Otak: hipoksia iskemik ensefalopati, edema serebri, kecacatan cerebral palsy (CP)
  • Jantung dan paru: hipertensi pulmonalis persisten pada neonatus, perdarahan paru, edema paru
  • Gastrointestinal: enterokolitis nekrotikans
  • Ginjal: tubular nekrosis akut, siadh
  • Hematologi: DIC

Patofisiologi Asfiksia

  • Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis.
  • Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang. Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu primer. Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun, tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera (Sarwono, 2009).

Manifestasi Klinik Asfiksia

Asfiksia biasanya merupakan akibat dari hipoksia janin yang menimbulkan tanda- tanda klinis pada janin atau bayi berikut ini (Maryunani, 2009):

  • DJJ lebih dari 100x/menit atau kurang dari 100x/menit tidak teratur
  • Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala
  • Tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot, dan organ lain
  • Depresi pernafasan karena otak kekurangan oksigen
  • Bradikardia (penurunan frekuensi jantung) karena kekurangan oksigen pada otot- otok jantung atau sel- sel otak
  • Tekanan darah rendah karena kekurangan oksigen pada otot jantung, kehilangan darah atau kekurangan aliran darah yang kembali ke plasenta sebelum dan selama proses persalinan
  • Takipnu (pernafasan cepat) karena kegagalan absorbs cairan paru- paru atau nafas tidak teratur/ megap- megap
  • Sianosis (warna kebiruan) karena kekurangan oksigen didalam darah
  • Penurunan terhadap spinkters
  • Pucat

Penatalaksanaan Asfiksia

Tindakan untuk mengatasi asfiksia disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi.

Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan yang disebut ABC resusitasi sebagai berikut :

Memfokuskan saluran nafas terbuka

  1. Meletakkan bayi dalam posisi kepala ekstensi
  2. Menghisap hidung dan mulut bila perlu trachea
  3. Bila perlu masukan endotrakhea untuk memastikan pernapasan terbuka.

Memulai pernafasan

  1. Melakukan rangsangan taktil untuk memulai pernafasan
  2. Memakai ventilasi tekanan positif seperti sungkup dan balon atau pipa endotrakhea dan balon.

Mempertahankan sirkulasi darah

Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan. (Sarwono, 2009)

Tindakan Resusitasi Neonatus ( Manuaba, 2007)

Asfiksia Sedang dengan nilai APGAR Skor 4- 6

  1. Tidak terlalu banyak memerlukan tindakan resusitasi.
  2. Saluran napas perlu dibersihkan sekaligus merupakan rangsangan sentuh terhadap dimulainya pernapasan.
  3. Evaluasi berikutnya 5 menit.
  4. Bila hasilnya baik dengan Skor APGAR meningkat maka bayi sudah dapat diselamatkan dari lingkaran setan asfiksia neonatorum.

Asfiksia Berat dengan nilai APGAR Skor 0- 3

  1. Memerlukan resusitasi penuh: Terutama bersihkan jalan napas, berikan O2 dengan aliran 2 liter per menit, dilakukan resusitasi dengan masker O2 sehingga secara langsung diharapkan dapat masuk langsung sebagai pertukaran dengan CO2 melalui paru, bila perlu dilakukan pemasangan endothracheal tube sehingga secara langsung diketahui masuk pada jalan nafas. Pemberian O2 dapat lebih tinggi sehingga dapat membantu perkembangan alveoli pada bayi, obat yang diberikan melalui umbilicus : bikarbonas natrikus 5 – 10cc, naloxone 0,01 mg/kg/infuse, sebagai antagonis terhadap: morphin, pethidin, omnopon. Nalaxon tidak menimbulkan komplikasi depresi terhadap SSP. Pada bayi berat badan kurang dari 1500 gram, bikarbonas natrikus tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan perdarahan ventrikuler, sebagai gantinya : plasma substan/darah 10cc/kg. Untuk mengatasi kemungkinan hipoglisemia diberikan larutan glukosa: Glukosa 10%, 20%, atau 50%, sesuai kebutuhan.
  2. Bila gagal dapat dilakukan pemijatan jantung eksternal, dengan kompresi dinding toraks depan atau belakang teratur secara interval.

Daftar Pustaka

Arikunto.2010. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Rineka Cipta. Jakarta.

Amri, R. 2009. Hubungan persalinan preterm dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Pariaman tahun 2008. Laporan penelitian kebidanan. Stikes Piala Sakti (Tidak dipublikasikan).

Budiarto, Eko. 2002. Biostatistikauntukkedokterandankesehatanmasyarakat.EGC. Jakarta.

Budiman, Riyanto A dkk.Faktoribu yang berhubungandenganberatbadanbayilahir di puskesmasgaruda. (On- line). Protocols.(http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/118/jtptunimus-gdl-riskaarmil-5869-2-babii.pdf. Diakses 14 Desember 2012.

Depkes RI, 2008. Profilkesehatanindonesia. Jakarta.

Deslidel, H. 2012. Buku ajar asuhanneonatus, bayi, danbalita. EGC. Jakarta.

Dewi VN. 2011. AsuhanNeonatusBayidanAnakBalita.SalembaMedika. Jakarta.

Fatimah, Siti. 2009. Hubunganantaraberatbadanlahirrendahdengankejadianasfiksianeonatorum di ruangneonatus RSUD Sidoarjotahun 2008. Laporanpenelitiankeperawatan.PoltekesDepkes Surabaya (Tidakdipublikasikan).

Hassan R, Husein A. 2007. Ilmukesehatananak 3.Infomedika. Jakarta.

Hidayah AA. 2008. Pengantarilmukesehatananakuntukpendidikankebidanan.SalembaMedika. Jakarta.

KementerianKesehatan RI BadanPenelitiandanPengembanganKesehatantentangPanduanPenyusunan Proposal, ProtokoldanlaporanAkhirPenelitian. 2012. BaktiHusada. Jakarta.

Manuaba, IBG. 2007. Pengantar kuliah obstetri. EGC. Jakarta.

Maryunani A, Nurhayati. 2009.Asuhankegawatdaruratandanpenyulitpadaneonatus. Trans Info Medika. Jakarta.

Mochtar, R. 1998. Sinopsisobstetrijilid 1.EGC. Jakarta.

Mukaromah, Umi. 2012. Hubunganantarajenispreeklamsiadengankejadianasfiksiapadabayibarulahir di RSUD Cilacaptahun 2011. Laporanpenelitiankebidanan.AkbidPaguwarmas (Tidakdipublikasikan).

Muslihatun WN. 2010. Asuhanneonatusbayidanbalita.Fitramaya.Yogyakarta.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologipenelitiankesehatan.RinekaCipta. Jakarta.

Nurgiyantoro B, Gunawan, Marzuki. 2002. Statistikterapanuntukpenelitianilmu- ilmusosial. Gajah Mada University.Yogyakarta.

Riwidikdo, Handoko. 2009. Statistikakesehatan. MitraCendikia Press.Yogyakarta.

Rujuliyanti, Wahid. 2008. Hubungan antara prematuritas dengan kejadian  asfiksia di BRSUD Banjarnegara periode januari- maret 2008. Laporan penelitiankebidanan. Akbid Paguwarmas (Tidak dipublikasikan).

Saifuddin AB, Adriaansz G, Wiknjosastro GH, Waspodo D. 2009.Bukuacuannasionalpelayanankesehatan maternal dan neonatal.BinaPustakaSarwonoPrawirohardjo. Jakarta.

_______ . 2002. Bukupanduanpraktispelayanankesehatan maternal dan neonatal. YayasanBinaPustakaSarwonoPrawirohardjo. Jakarta.

Saryono. 2008. Metodologipenelitian. MitraCendikia. Jogjakarta.

Sugiyono. 2010. Statistikuntukpenelitian. Alfabeta. Jakarta.

Surasmi A, Handayani S, Kusuma HN. 2003. Perawatanbayirisikotinggi.EGC. Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *