Jagung adalah komoditas yang sangat penting disamping padi terutama di negara-negara agraris seperti Indonesia. Proses pengeringan memegang peranan penting dalam pengawetan bahan, baik di industri pertanian, obat-obatan, dan makanan, kaitannya dengan pengawetan bahan khususnya butiran jagung. Tujuan utama pengeringan butiran adalah untuk mengurangi kadar airnya sehingga kerusakan tidak terjadi sebelum digunakan. Jika butiran jagung yang akan disimpan tidak dikeringkan, maka bahan akan berubah sifat atau rusak akibat terjadinya pembusukan atau aktivitas mikroorganisme. 
Pengeringan butiran berkadar air tinggi, dapat dilakukan baik dalam waktu lama pada suhu udara pengering yang rendah (misalnya pengeringan dengan memanfaatkan tenaga matahari) atau dalam waktu yang lebih pendek pada suhu yang lebih tinggi. Jika waktu yang dilakukan untuk pengeringan terlalu lama, dapat menyebabkan penjamuran dan pembusukan, apalagi jika dilakukan pada musim penghujan. Sebaliknya, temperatur yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kerusakan baik secara fisik maupun kimia terhadap butiran tersebut, khususnya untuk bahan-bahan yang sangat sensitif terhadap temperatur.
Penyimpanan produk-produk pertanian harus memenuhi beberapa persyaratan khusus kaitannya dengan proses penyimpanan dalam rangka mempertahankan kualitasnya, terutama persyaratan kandungan air, kelembaban udara (aktivitas air) dan temperatur penyimpanan. Butiran jagung dengankandungan air maksimal 15,5 % (bk) dapat disimpan paling lama 6 bulan, sedangkan butiran jagung dengan kandungan air bahan maksimal 13 % (bk) dapat disimpan lebih dari 6 bulan. Data-data tentang batas-batas penyimpanan bahan ini dapat dilihat di literatur.
Pada umumnya, ada dua mode pengering yaitu pengering batch dan pengering kontinu. Salah satu metode pengeringan adalah pengeringan butiran dengan pengering unggun diam (deep bed). Pada pengering jenis ini, proses pengeringan dianggap merupakan proses batch, dengan kadar air butiran, kelembaban udara pengering, temperatur udara dan butiran, berubah secara simultan terhadap waktu pengeringan.
Makalah ini menjelaskan tentang pemodelan dinamik dan simulasi proses pengeringan butiran khususnya butiran jagung dalam pengering unggun diam. Selanjutnya, akan ditunjukkan beberapa karakteristik dinamika pengeringan butiran jagung seperti: profil temperatur dan kelembaban absolut udara keluar pengering, temperatur dan kandungan air rerata butiran sebagai fungsi waktu maupun posisi sepanjang unggun. Dari beberapa profil yang diperoleh dapat diperkirakan waktu pengeringan yang diperlukan untuk mencapai kandungan air butiran tertentu pada kondisi pengeringan tertentu.
1. PROSES PERPINDAHAN DALAM PENGERINGAN BUTIRAN
Bila butiran basah dikeringkan secara termal, maka akan terjadi dua proses simultan yang utama terjadi, yaitu: perpindahan panas dari udara pengering ke butiran untuk menguapkan air di permukaan butiran, yang selanjutnya terjadi konduksi panas ke dalam butiran, dan perpindahan internal air dari dalam ke permukaan butiran (difusi) yang selanjutnya terjadi penguapan ke udara pengering. 
Proses perpindahan ini pada kenyataannya lebih kompleks. Perpindahan cairan dalam bahan dapat disebabkan oleh tegangan permukaan (aliran kapiler), beda konsentrasi air (difusi cairan) dan difusi air di permukaan pori (difusi permukaan). Perpindahan uap dapat disebabkan oleh beda konsentrasi air (difusi uap) dan beda temperatur (difusi termal). Perpindahan cairan dan uap ini dapat juga disebabkan oleh beda tekanan total (aliran hidrodinamika).
Perpindahan momentum juga terlibat dalam jenis pengering ini disebabkan adanya penurunan tekanan sepanjang aksial unggun akibat terjadinya friksi dengan butiran terjejal. Proses pengeringan ini memerlukan udara pengering dengan kelembaban yang lebih rendah daripada kelembaban udara kesetimbangan (water activity) di permukaan butiran. Dalam hal ini udara pengering dengan kelembaban yang lebih rendah daripada harga aktivitas airnya dialirkan atau dihembuskan melewati permukaan butiran didalam unggun butiran. 
Perpindahan panas terjadi secara konveksi dari udara ke permukaan butiran dan selanjutnya secara konduksi di dalam butiran. Berkurangnya kandungan air dalam bahan ini disebabkan oleh perpindahan air dari dalam ke permukaan butiran secara difusi karena adanya perbedaan konsentrasi antara permukaan dan bagian dalam butiran yang selanjutnya terjadi penguapan air dari permukan butiran ke udara pengering. Di lapisan batas permukaan butiran tersebut diasumsikan selalu terjadi kesetimbangan antara kandungan air butiran dan kelembaban udara.
2. PENGEMBANGAN MODEL PENGERINGAN BUTIRAN DALAM UNGGUN DIAM
Beberapa peneliti terdahulu telah menggambarkan proses pengeringan butiran di dalam unggun diam, dimana unggun dibagi menjadi beberapa lapisan tipis yang mengalami perubahan secara berurutan terhadap perubahan waktu, yang selanjutnya disebut model pengeringan lapisan tipis (thin layer model), baik secara eksperimen maupun teori. Dalam hal ini, pengurangan kandungan air dalam unggun butiran dihitung rata-rata dalam satu unggun.
Model-model matematik yang telah dikembangkan oleh beberapa peneliti terdahulu menjelaskan proses perpindahan panas dan massa dalam pengeringan butiran tipe konvektif (convective drying). Thompson (1968) mensimulasikan profil temperatur dan kandungan air butiran jagung pada pengering jenis unggun diam yang berdasarkan model lapisan tipis untuk satu dimensi dan tidak ada gradien konsentrasi di dalam butiran. Gupta (1973) juga mempelajari karakteristik pengeringan dengan meninjau gradien interfase dan tidak ada gradien di dalam butiran pada pengering jenis yang sama. 
Palancz (1985) mempelajari proses-proses perpindahan panas dan massa simultan antara fase gas dan padatan butiran yang dilakukan pada pengering jenis unggun tetap (fixed bed dryer), untuk partikel-partikel atau butiran-butiran yang mempunyai ukuran tidak terlalu besar, tetapi mempunyai tahanan difusi yang tinggi. Untuk menggambarkan tahanan perpindahan massa dan panas di butiran, dipakai model parameter terdistribusi Luikov yang diimplementasikan pada sebuah sel sederhana (simple cell model). Lopez (1998) mengembangkan model pengeringan butiran hazelnut dalam pengering jenis unggun diam, dengan menganggap unggun tersebut sebagai lapisan-lapisan tipis yang saling berurutan. Model-model tersebut dapat menggambarkan proses-proses pengeringan butiran yang ditinjau.
Laju perpindahan panas dan massa eksternal dikendalikan oleh konveksi antara permukaan butiran dengan udara. Dalam hal ini ditinjau jika bilangan Biot (Bi) kecil, misalnya untuk butiran yang relatif kecil. Jika bilangan Biot mempunyai harga yang besar dan/atau ukuran partikel relatif besar, koefisien difusi dan konduksi yang rendah, maka tahanan perpindahan massa dan panas di bagian butiran tidak dapat diabaikan begitu saja untuk proses-proses yang transien. Dalam hal ini laju perpindahan massa dan panas dikendalikan oleh difusi di dalam butiran. Perpindahan massa dan panas di dalam butiran dapat ditinjau berdasarkan pada model Luikov untuk menggambarkan proses difusi yang terjadi di dalam butiran.
Dalam penelitian ini dikembangkan model pengeringan butiran tipe unggun diam model dua fasa (Two Phase Model) atau biasa dinamakan Model Heterogen yaitu fasa udara pengering dan fasa butiran, dengan mempertimbangkan adanya dispersi (massa dan panas) aksial di unggun dan gradien konsentrasi (kandungan air dan temperatur) di dalam butiran.
Dalam pemodelan ini dilakukan beberapa asumsi antara lain: tidak ada pengkerutan partikel selama pengeringan, butiran dianggap memiliki ukuran dan sifat-sifat fisik yang serbasama (isotropik), perpindahan air di dalam butiran hanya ke arah radial saja secara difusi, dinding pengering dianggap adiabatis, di permukaan butiran selalu terjadi kesetimbangan, densitas dan panas jenis tetap selama pengeringan, tidak ada perpindahan panas konduksi antar butiran, koefisien dispersi aksial dan difusivitas air di dalam butiran dianggap konstan terhadap kadar air dan temperatur butiran, konduktivitas termal di butiran dan di udara konstan.
KESIMPULAN
Model heterogen pengeringan butiran yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat dipakai untuk mensimulasikan karakteristik pengeringan butiran jagung dalam unggun diam. Model yang diperoleh diharapkan dapat melengkapi model-model pengeringan sebelumnya, dalam hal pengembangan teknologi pengeringan butiran khususnya pengeringan butiran-butiran hasil pertanian dan perkebunan. Dengan model ini, untuk menurunkan kadar air butiran jagung dari kadar air mula-mula 0,58 kg air/kg butiran kering hingga 0,15 kg air/kg butiran kering, diperlukan waktu pengeringan 2 sampai 3 jam.