Seperti yang telah dikemukakan dalam bab satu, instrumen investasi pada reksa dana saham sebagian besar (>80%) berupa saham, oleh karena itu akan dibahas mengenai pengaruh variabel-variabel makroekonomi terhadap saham.

Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI terhadap Saham[1]

Suku bunga adalah harga yang menghubungkan masa kini dan masa depan. Tingkat bunga sebagai variabel yang paling penting diantara variabel-variabel makroekonomi, khususnya dalam melakukan pertimbangan berinvestasi, baik investasi di pasar uang ataupun di pasar modal. Sebagian besar sumber pembiayaan perusahaan berasal dari perbankan dan sebagian lainnya dari pasar modal. Tingkat suku bunga yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat suku bunga SBI.

Adanya kenaikan bunga SBI berarti bank-bank dan lembaga keuangan lainnya akan terdorong untuk membeli SBI. Bunga yang tinggi dalam SBI membuat bank dan lembaga keuangan yang menikmatinya ini otomatis akan memberikan tingkat bunga yang lebih tinggi untuk produk-produknya. Tujuannya agar mampu menarik sebanyak mungkin dana masyarakat yang akan dipergunakan untuk membeli SBI lagi.

Bunga yang tinggi ini tentunya akan berdampak pada alokasi dana investasi para investor. Investasi produk bank seperti deposito jelas lebih kecil resikonya dibanding investasi dalam bentuk saham sehingga investor akan menjual sahamnya dan penjualan saham secara serentak ini akan berdampak pada penurunan harga saham secara signifikan.

Selain itu dampak dari tingkat suku bunga bank yang tinggi adalah tingkat bunga yang tinggi juga untuk para debitur. Bank tidak mau rugi. Jika mereka memberikan bunga yang tinggi untuk mereka yang menyimpan uangnya maka mereka akan menuntut bunga yang lebih tinggi lagi bagi mereka yang meminjam dana dari bank. Selisih antara keduanya adalah keuntungan bank dan inilah salah satu sumber penghasilan bank. Karena hampir semua perusahaan besar, termasuk yang mencatatkan sahamnya di bursa juga menikmati pinjaman bank, otomatis mereka terkena dampak dari kenaikan bunga pinjaman. Ini artinya penambahan pengeluaran perusahaan (hutang). Kalau pos hutang bertambah maka dampaknya adalah pengurangan pos laba bersih yang akhirnya berdampak pada pembagian dividen. Jika ini terjadi maka kondisi fundamental perusahaan tersebut akan kurang menguntungkan. Dampaknya akan banyak investor yang melepas sahamnya dan terjadilah penurunan harga.

Penurunan pada suku bunga SBI berarti bahwa instrumen tersebut memberikan tingkat pengembalian yang kurang menarik sehingga masyarakat lebih memilih berinvestasi di pasar saham. Akibatnya permintaan terhadap saham akan meningkat dan akan berpengaruh terhadap peningkatan harga saham. Hal ini sesuai dengan teori pemilihan portofolio yaitu bahwa seseorang akan menginvestasikan uangnya di aset finansial yang memberikan expected return yang lebih besar.

Dengan demikian, SBI sebagai instrumen investasi alternatif memiliki pengaruh yang berbanding terbalik terhadap permintaan saham.

Pengaruh Jumlah Uang Beredar terhadap Saham

Uang adalah jantung dari banyak analisis ekonomi makro. Model-model penawaran uang dan permintaan uang dapat membantu mempelajari determinan tingkat harga jangka panjang dan sebab-sebab fluktuasi ekonomi jangka pendek. Jumlah uang beredar (money supply) ditentukan dan ditetapkan oleh Bank Sentral.

Persamaan teori kuantitas menyatakan bahwa pada setiap negara, penawaran terhadap uang (jumlah uang beredar) disamakan dengan permintaan terhadap uang yang secara langsung mempengaruhi permintaan terhadap barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara.

Peningkatan jumlah uang beredar dikaitkan dengan business cycle expansion. Adanya peningkatan jumlah uang beredar akan mendorong bertambahnya sumber pembiayaan bagi perusahaan sehingga perusahaan dapat melebarkan ekspansi usahanya lebih luas yang akhirnya meningkatkan kinerja perusahaan. Meningkatnya kinerja perusahaan akan merangsang para investor melirik saham perusahaan tersebut sehingga berdampak positif terhadap harga saham.[2]

Ketika jumlah uang beredar dimasyarakat semakin bertambah sehingga ekspektasi harga-harga barang dan jasa akan naik (inflasi) mengakibatkan tingkat suku bunga deposito dalam perekonomian menurun. Penurunan tingkat suku bunga deposito menyebabkan masyarakat lebih memilih untuk menginvestasikan dananya di pasar saham dengan harapan akan memperoleh keuntungan yang lebih besar, sehingga akan berdampak pada peningkatan permintaan saham di pasar modal.[3]

Pengaruh Inflasi terhadap Saham

Salah satu indikator ekonomi yang penting dalam mendukung kondisi perekonomian suatu negara adalah perkembangan tingkat harga, dimana dalam suatu perekonomian diasumsikan senantiasa terjadi inflasi. Inflasi adalah suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu perekonomian yang berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu. Inflasi dianggap sebagai sesuatu yang tidak diinginkan karena memberi pengaruh yang tidak baik terhadap distribusi pendapatan, kegiatan pinjam meminjam, spekulasi dan perdagangan internasional. Seperti negara berkembang lainnya, Indonesia juga menggunakan indeks harga konsumen (consumer price index) sebagai indikator perhitungan inflasi. IHK digunakan sebagai indikator inflasi di Indonesia secara resmi terhitung sejak bulan April 1979.

Kenaikan tingkat harga yang terlalu cepat atau terlalu tinggi dapat menimbulkan masalah bagi perekonomian suatu negara. Menurut T. Nakamaru[4],dampak negatif baik dari sisi sosial maupun ekonomi yang dapat ditimbulkan inflasi antara lain:

  1. Inflasi memperburuk distribusi pendapatan, golongan masyarakat yang mempunyai penghasilan tetap mengalami kemorosotan pendapatan riil, sementara pemilik modal dan pemilik harta tetap semakin kaya, karena nilai kekayaan mereka semakin meningkat.
  2. Dapat menyebabkan berkurangnya tabungan domestik. Berkurangnya pendapatan riil mendorong masyarakat untuk menarik tabungannya untuk memenuhi kebutuhan hidup hingga tabungan domestik berkurang.
  3. Mengakibatkan terjadinya defisit neraca perdagangan serta mengakibatkan peningkatan utang luar negeri. Kenaikan tingkat harga dalam negeri menyebabkan harga barang impor relatif lebih murah dibandingkan harga barang dalam negeri sehingga meningkatkan permintaan impor dan memperburuk neraca perdagangan.
  4. Dapat menimbulkan ketidakstabilan politik. Ketidakpastian perekonomian akibat inflasi menyebabkan kacaunya kontrak kerja, perupahan dan meningkatkan pengangguran sehingga membahayakan stabilitas keamanan dan politik dalam negeri.

Dengan demikian, salah satu dampak inflasi terhadap perekonomian adalah bahwa inflasi memperburuk distribusi pendapatan. Golongan masyarakat yang mempunyai penghasilan tetap mengalami penurunan pendapatan riil, sementara pemilik modal akan semakin kaya. Karena sebagian besar dari pemilik sertifikat reksa dana saham adalah investor institusi dan investor golongan menengah ke atas, maka dengan meningkatnya inflasi akan berpengaruh terhadap peningkatan harga-harga saham.[5]

Pengaruh Nilai Tukar Rupiah terhadap Saham

Konsep nilai tukar/kurs pada dasarnya terbagi dua, yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Nilai tukar nominal merupakan harga relatif dari dua mata uang berbeda, sedangkan Nilai tukar riil merupakan harga relatif dari output komoditi yang sama dari dua negara yang berbeda. Secara persamaan:[6]

                         Nilai Tukar Riil = q Rp/$ = (E Rp/$ x P1)/PA          ……..(2.2)

Nilai tukar riil menyatakan bahwa nilai Rp/Dollar yang terjadi merupakan perbaikan kurs Rp/Dollar dengan tingkat harga agregat di Indonesia dibagi dengan harga agregat dunia. Dari nilai tukar riil ini dibentuk nilai tukar nominal dengan persamaan sebagai berikut:

                               Nilai Tukar Nominal = E Rp/$ = q Rp/$ x (PA/PI)      ……..(2.3)

Yang berarti bahwa nilai tukar nominal merupakan nilai tukar riil dikalikan dengan nisbah tingkat harga agregat dunia dengan tingkat harga agregat Indonesia.

Pengertian mengenai nilai tukar dalam penelitian ini menggunakan pengertian nilai tukar nominal.

Nilai tukar merupakan salah satu variabel terpenting dalam suatu perekonomian terbuka karena variabel ini berpengaruh terhadap variabel-variabel ekonomi lainnya seperti harga produk, tingkat bunga, ekspor, impor dan variabel lainnya.

Apresiasi rupiah akan berdampak positif pada perusahaan berbasis pasar domestik yang bahan bakunya dari luar negeri (impor) karena akan mengurangi biaya input produksi perusahaan sehingga meningkatkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba, akibatnya saham perusahaan tersebut akan semakin menarik di dunia investasi yang berpengaruh pada peningkatan harga saham perusahaan.

Apresiasi rupiah akan berdampak negatif pada perusahaan berbasis ekspor yang bahan bakunya dari dalam negeri karena perusahaan akan kesulitan (tidak menjadi kompetitif) dalam hal persaingan harga yang berdampak pada pemasaran produknya di luar negeri (penerimaan devisa ekspor akan menurun) sehingga menurunkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba, akibatnya saham perusahaan tersebut akan kurang menarik di dunia investasi yang berpengaruh pada penurunan harga saham perusahaan.

Jadi fluktuasi nilai tukar turut mempengaruhi kondisi cadangan devisa dan neraca pembayaran dimana keduanya merupakan indikator tingkat resiko dalam berinvestasi di suatu negara. Semakin besar surplus neraca pembayaran dan jumlah cadangan devisa suatu negara maka akan memotivasi minat untuk berinvestasi di negara itu.[7]

Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa apresiasi rupiah akan berdampak positif pada industri berbasis pasar domestik yang menggunakan bahan baku impor, sebaliknya akan menghambat industri yang berorientasi ekspor. Sedangkan depresiasi rupiah akan berdampak positif bagi industri yang berorientasi ekspor dengan menggunakan bahan baku domestik, sebaliknya akan menghambat industri yang berbasis pasar domestik yang menggunakan bahan baku impor.[8]

[1] Ali Arifin, Membaca Saham, ANDI, Yogyakarta, 2004, Hal. 118

 [2] Adler Manurung, Pengaruh Variabel Makro Ekonomi, Investor, dan Bursa yang Telah Maju Terhadap Indeks Bursa Efek Jakarta, Tesis Magister Ekonomi, UI, 1996

[3] Ibid

[4] Anton Hermanto Gunawan, Anggaran Pemerintah dan Inflasi di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991.

[5] I Putu Gede Ary Suta, Pengaruh Ekonomi Makro Terhadap Pasar Modal, Jakarta, 1997

[6] Krugman, Paul & Obstfeld, Maurice, EkonomiInternasional: TeoridanKebijakan; Buku Kedua: Moneter, Edisi Kedua, Cetakan Ketiga, Terjemahan: Haris Munandar & Faisal Basri, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, Hal. 149

[7] Ibid

[8] Eduardus Tandelilin, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio; Edisi Pertama, Cetakan Pertama, BPFE, Yogyakarta, 2001, Hal. 211

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *