Komponen dalam pendekatan kontekstual

Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual dikelas. Ketujuh komponen tersebut adalah konstruktivisme (contructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment), dalam sebuah kelas bisa dikatakan telah menggunakan pendekatan kontekstual jika ketujuh komponen tersebut diterapkan dalam pembelajarannya. Dan untuk melaksanakannya hal itu tidak sulit. Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Jadi pembelajaran kontekstual tidak terikat ruang dan waktu.

Penjelasan lebih lanjut tentang penerapan ketujuh komponen pembelajaran kontekstual dikelas sebagai berikut:[1]

  1. Konstruktivisme (contructivism), sebagai filosofi yaitu kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksikan sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
  2. Bertanya (questioning), sebagai keahlian dasar yang dikembangkan, yaitu bertanya sebagai alat belajar, kembangkan rasa ingin tahu siswa dengan bertanya.
  3. Menemukan (inquiry), sebagai strategi belajar, yaitu melaksanakan kegiatan inquiri untuk mencapai kompetensi yang diinginkan di semua bidang studi.
  4. Masyarakat belajar (learning community), penciptaan lingkungan belajar, yaitu ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
  5. Pemodelan (modeling), sebagai acuan pencapaian kompetensi, yaitu tunjukkan model sebagai contoh pembelajaran (benda-benda, guru, karya inovasi, Koran, dll).
  6. Refleksi (Reflection), sebagai langkah akhir dari belajar, yaitu melakukan refleksi diakhir pertemuan. Agar siswa merasa bahwa hari ini mereka belajar sesuatu.
  7. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment), yaitu lakukan penilaian yang sebenarnya, dari berbagai sumber dan dengan berbagai cara

Ciri-ciri kelas yang menggunakan metode CTL

Ciri-ciri kelas yang menggunakan pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut:

  1. Adanya kerja sama dilingkungan kelas baik antara guru dengan siswa, guru dengan guru, siswa dengan siswa, sehingga suasana kelas akan menjadi hidup dan bermakna.
  2. Saling menunjang. Artinya, dalam proses pembelajaran dikelas akan berlangsung dengan efektif apabila adanya saling menunjang disemua komponen yang ada dikelas, misalnya tata ruang kelas yang baik, bersih, menarik, maupun antar guru dengan siswanya.
  3. Gembira. Diusahakan sedemikian rupa agar siswa senang dalam mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung. Sehingga siswa tidak merasa bosan, jenuh, dan tidak betah di kelas.
  4. Belajar dengan bergairah. Dengan didukung oleh kelas yang kondusif dan profesionalisme guru yang dapat menumbuhkan motivasi belajar, siswa akan bergairah dan giat dalam belajarnya.
  5. Pembelajaran terintegrasi. Artinya dalam pembelajaran kontekstual di harapkan guru bisa mengintegrasikan materi yang diajarkannya dengan materi lain yang sekiranya ada kaitannya, agar proses belajar mengajar tidak terkesan parsial.
  6. Menggunakan berbagai sumber. Dalam pembelajaran kontekstual sumber belajar bukan hanya buku paket dan guru saja. Akan tetapi buku penunjang, Koran, benda-benda, pohon, masyarakat, tempat rekreasi, ini semua menjadi sumber belajar.
  7. Siswa aktif. Dengan pembelajaran kontekstual di harapkan siswa aktif dalam mengikuti pelajaran (student centre), bukan guru saja (teacher centre), sehingga suasana kelas menjadi hidup dan tidak membosankan. Karena bukan zamannya lagi siswa hanya mendengarkan apa kata guru.
  8. Menyenangkan, tidak membosankan artinya ketika proses belajar mengajar berlangsung suasana kelas menarik, misalnya penyusunan meja dan penataan kursi belajar yang tidak monoton, dan guru juga harus mengetahui apa yang diinginkan oleh siswanya, agar siswa dalam mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung merasa senang.
  9. Sharing dengan teman. Diharapkan dalam kelas yang menerapkan pembelajaran kontekstual adanya tukar pendapat antar siswa dan guru, supaya siswa dalam kelas tidak merasa tertekan. Sehingga siswa yang kurang mampu dalam memahami mata pelajaran tertentu bisa bertukar pikiran dengan temannya yang lebih mampu.
  10. Siswa kritis. Pada zaman sekarang ini siswa bukan lagi sebagai penerima apa kata guru, tetapi siswa diharapkan bisa mengkritisi apa yang dikatakan guru yang sekiranya tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi pada masa sekarang. Jadi antara guru dan siswa terjadi komunikasi yang dialogis.
  11. Guru kreatif. Akan berpengaruh pada proses kegiatan belajar mengajar (KBM), kreatifitas guru termasuk faktor penting dalam melaksanakan KBM. Dalam pembelajaran kontekstual menuntut seorang guru yang kreatif dalam menggunakan media, sarana, sumber, dan metode pembelajaran agar guru dalam mengajarnya tidak terkesan monoton.[2]

Sedangkan ciri fisik kelas yang menggunakan CTL adalah dinding kelas penuh dengan tempelan hasil karya siswa (tidak hanya gambar presiden dan wapres saja). Dinding kelas penuh dengan gambar hasil karya siswa, peta (baik cetak maupun buatan siswa sendiri), artikel, gambar tokoh idola, puisi, komentar, diagram-diagram, dan lain-lain, Yang setiap saat berubah. Bahkan lorong-lorong sekolahpun dapat di manfaatkan. Akibatnya, kemampuan siswa pergi dikepung oleh informasi. Ciri kedua, adalah siswa selalu ramai dan gembira dalam belajar, kelas yang aktif bukan kelas yang sepi.

Langkah-langkah pengelolaan pembelajaran kontekstual

Pada tataran praksisnya pembelajaran kontekstual memiliki langkah-langkah yang harus dilakukan oleh seorang guru. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kontekstual didalam kelas dapat di gambarkan secara garis besar sebagai berikut:[3]

  1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya. Menurut faham konstrukstivism, bahwa manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi arti pada pengetahuan sesuai pengalamannya.
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inqiri untuk semua topik. Pada dasarnya inquiri adalah suatu ide kompleks yang berarti banyak hal, bagi banyak orang, dan dalam banyak konteks. Inquiri adalah bertanya. Bertanya yang baik, bukan asal bertanya, pertanyaan harus berhubungan dengan apa yang dibicarakan. Pertanyaan harus dapat dijawab sebagian atau keseluruhannya. Pertanyaan harus dapat diuji dan diselidiki secara bermakna. Jadi, bagaimana guru membimbing siswanya agar termotivasi untuk bertanya dengan bahasa yang baik. Karena dengan bertanya mengindikasikan bahwa siswa itu faham dengan materi yang disampaikan oleh guru.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Pada dasarnya bertanya merupakan induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan aspek penting dari pembelajaran. Keinginan untuk mengetahui suatu informasi, maka harus bertanya pada orang yang mengerti tentang hal tersebut.
  4. Ciptakan “masyarakat belajar” (belajar dalam kelompok-kelompok). Maksudnya adalah bahwa hasil belajar dapat diperoleh dari adanya kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar mereka yang tahu dan yang belum mengetahuinya. Dalam kelas kontekstual proses pembelajaran dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok belajar, siswa yang pandai mengajari siswa yang belum bisa atau lemah.
  5. Hadirkan “model” sebagai contoh pembelajaran. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran ketrampilan dan pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaiman guru menginginkan siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa dapat melakukan. Bisa berupa cara mengekpresikan sesuatu, cara melafalkan bahasa inggris, cara menendang bola yang baik, dan sebagainya.
  6. Lakukan refleksi diakhir pertemuan. Refleksi adalah cara berfikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterimanya. Siswa mengedepankan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.
  7. Lakukan penilaian yng sebenarnya dengan berbagai cara. Hakekat dari penilaian autentik (penilaian yang sebenarnya) adalah manilai apa yang seharusnya dinilai. Adapun prinsip yang dipakai dalam penilaian serta ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
    1. Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja, dan produk.
    2. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
    3. Menggunakan berbagai cara dan sumber.
    4. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian.
    5. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
    6. Penilaian harus menekankan pada kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasannya (kuantitas).[4]

Kalau kita fahami maka dalam pembelajaran kontekstual menuntut guru yang profesional artinya seorang guru memiliki multi fungsi yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, kamunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator, dan administrator.[5]

Media yang digunakan dalam pembelajaran kontekstual

Proses belajar mengajar atau proses pengajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku baik yang intelektual, moral maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk sosial.[6]

Dilihat dari segi etimologi kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jama’ dari kata medium. Yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Maksudnya adalah sebagai perantara atau alat untuk menyampaikan sesuatu. Sedang dalam kepustakaan asing yang ada sementara ahli yang menggunakan istilah Audio Visual Aids (AVA), untuk pengertian yang sama. Banyak pula para ahli yang menggunakan istilah teaching material atau instruksional material yang artinya identik dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata “raga” artinya suatu benda dapat di raba, dilihat, didengar dan dapat diamati melalui panca indra kita. [7]

Ada beberapa pendapat mengenai pengertian media tersebut, diantaranya adalah:

  1. Gerlach & Ely menyatakan bahwa media kalau difahami secara garis besarnya adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap.
  2. Menurut Asnawir dan Basyiruddin Usman dalam bukunya mendefinisikan media adalah sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audiens (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
  3. Asnawir mengutip pendapat NEA (National Education Assosiation)

Dalam mendefinisikan media adalah suatu benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar.

  1. Zakiyah Darajat mengutip pendapat Rostiyah dkk. Media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran disekolah.
  2. Muhaimin dalam bukunya mendefinisikan media pembelajaran pendidikan agama adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan pendidikan agama dari pengirim atau guru kepada penerima (siswa) dan dapat merangsang perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar pendidikan agama.

Dari beberapa paparan para ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan media pembelajaran pendidikan agama adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau materi pelajaran yang disampaikan guru (pendidik) kepada siswa (peserta didik) yang dapat merangsang pikiran siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar disekolah untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Mengacu pada definisi-definisi media diatas dapat difahami bahwa media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, kemauan audiens sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar mengajar pada dirinya. Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan audiens untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performen mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Teori pembelajaran kontekstual berfokus pada multi aspek, adapun lingkungan belajarnya antara lain: ruang kelas, labolatorium sains, laboratorium komputer, tempat bekerja, maupun tempat-tempat lainnya (misalnya ladang, sungai, dan sebagainya). Pembelajaran kontekstual mendorong guru untuk memilih dan mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan untuk mengaitkan berbagai bentuk pengalaman sosial, budaya, fisik, dan psikologi dalam mencapai hasil belajar. Di dalam suatu lingkungan yang demikian, siswa menemui hubungan yang sangat bermakna antara ide-ide abstrak dan penerapan praktis di dalam konteks dunia nyata, sedangkan konsep dapat difahami melalui proses penemuan, pemberdayaan, dan hubungan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pengajaran untuk mempertinggi kualitas pengajaran. Pertama, guru perlu memiliki pemahaman media pengajaran antara lain jenis dan manfaat media pengajaran, kriteria memilih dan menggunakan media pengajaran, menggunakan media sebagai alat Bantu mengajar dan tindak lanjut penggunaan media dalam pross belajar siswa. Kedua, guru terampil membuat media pengajaran sederhana untuk keperluan pengajaran, terutama media dua dimensi atau media grafis, dan beberapa media tiga dimensi, dan media proyeksi. Ketiga, pengetahuan dan ketrampilan dalam menilai keefektifan penggunaan media dalam proses pengajaran. Menilai keefektifan media pengajaran penting bagi guru agar ia bisa menentukan apakah penggunaan media mutlak diperlukan atau tidak selalu diperlukan dalam pengajaran, sebaiknya guru tidak memaksakan penggunaannya dan perlu mencari usaha lain dari luar media pengajaran.[8]

Berbagai cara dapat dipergunakan untuk mengidentifikasikan media. Asnawir dan Basyirudin Usman mengutip pendapat Rudi Bretz dalam mengklasifikasikan ciri utama media pada tiga unsur pokok yaitu suara, visual dan gerak. Bentuk visual itu sendiri dibedakan lagi pada tiga bentuk yaitu gambar visual, garis (linier graphic) dan simbol. Disamping itu dia juga membedakan media siar (transmisi) dan media rekam (recording) sehingga terdapat beberapa bentuk media yaitu:

  1. Media audio visual gerak, merupakan media yang paling lengkap, karena menggunakan kemampuan audio visual dan gerak.
  2. Media audio visual diam, adalah sebagai media kedua dari segi kelengkapan kemampuannya karena ia memiliki semua kemampuan yang ada pada golongan sebelumnya kecuali penampilan gerak.
  3. Media audio semi gerak, adalah sejenis media yang memiliki kemampuan menampilkan suara disertai gerakan titik secara linier, jadi tidak dapat menampilkan gerakan nyata secara utuh
  4. Media visual gerak adalah jenis media yang juga memiliki kemampuan seperti golongan pertama kecuali penampilan suara.
  5. Media visual diam adalah merupakan jenis media yang mempunyai kemampuan menyampaikan informasi secara visual, tetapi tidak dapat menampilkan suara maupun gerak
  6. Media audio, adalah jenis media yang hanya memanipulasikan kemampun-kemampuan suara semata.
  7. Media cetak, adalah merupakan media yang hanya mampu menampilkan informasi berupa huruf angka dan simbol-simbol verbal tertentu saja.

Syaiful Bahri dan Aswan Zain dalam bukunya strategi belajar mengajar mengklasifikasikan media dari segi jenisnya, daya liputnya, dan dari bahan serta cara pembuatannya dari klasifikasi diatas akan kami uraikan dibawah ini yaitu:

A. Dilihat dari jenisnya, media ini dibagi kedalam:

  • Media auditif adalah, media yng hanya mengandalkan suara saja, seperti radio, kaset recorder, piringan hitam
  • Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media ini hanya menampilkan gambar diam seperti: film, foto, gambar atau lukisan.
  • Media audio visual adalah, media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua media yang pertama dan yang kedua.

B. Dilihat dari daya liputnya, media ini dibagi kedalam:

  • Media yang daya liput luas dan serentak

Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jauh anak didik yang banyak dalam jangka waktu yang sama. Contoh televisi dan radio.

  • Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu

Media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film, sound slide, film rangkai, yang harus menggunakan tempat yang tertutup dan gelap.

  • Media untuk pengajaran individu

Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri. Yang termasuk media ini adalah media berprogram dan pengajaran melalui computer.

C. Dilihat dari bahan pembuatannya, media ini dibagi menjadi:

  • Media sederhana

Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara penggunaannya tidak sulit. Misalnya penggunaan papan tulis.

  • Media kompleks

Media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yang memadai. Misalnya OHP.

Dari jenis-jenis dan karakteristik media sebagaimana disebutkan diatas, kiranya patut menjadi perhatian dan pertimbangan dari guru ketika akan memilih dan mempergunakan media dalam pengajaran, itulah media yang seharusnya di pakai.[9]

Di dalam pendidikan kita mengenal berbagai istilah peragaan dan keperagaan. Ada yang lebih senang menggunakan peragaan, tetapi ada pula yang menggunakan istilah komunikasi peragaan. Dewasa ini telah dipopulerkan istilah baru yakni “media pendidikan”. Sedangkan dalam kepustakaan asing ada sementara Audio Visual Aids. Oleh karena beragamnya istilah tersebut, yang mempunyai tekanannya sendiri-sendiri, maka akan lebih baik jika mengambil salah satu diantaranya, dalam hal ini “media pendidikan”. Ciri-ciri umum dari media pendidikan yang efektif adalah sebagai berikut:

  1. Media pendidikan identik artinya dengan pengertian keperagaan yang artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar dan diamati melalui panca indra
  2. Tekanan utama terletak pada benda atau hal-hal yang bisa dilihat dan didengar.
  3. Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dalam pengajaran antara guru dan siswa.
  4. Media pendidikan adalah semacam alat Bantu belajar mengajar, baik diluar kelas maupun didalam kelas.
  5. Media pendidikan mengandung aspek; sebagai alat dan sebagai teknik, yang sangat erat pertaliannya dengan metode mengajar.[10]

Sejalan dengan masuknya teknologi audio dan video dalam sistem pendidikan lahirlah alat audio visual yang terutama menekankan penggunaan pengalaman langsung/ konkrit untuk menghindari verbalisme. Hingga pada saat ini media pengajaran mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Membantu memudahkan belajar bagi siswa dalam proses belajar mengajar.
  2. Memberikan pengalaman lebih nyata.
  3. Menarik perhatian siswa lebih besar.
  4. Semua indra murid dapat diaktifkan, kelemahan satu indra dapat diimbangi oleh kekuatan indra lainnya.
  5. Lebih menarik perhatiandan minat murid dalam belajar.
  6. Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.[11]

Sementara itu Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain mengutip pendapat Nana Sudjana mengenai fungsi media sebagai alat Bantu dalam proses belajar mengajar, diantaranya adalah:

  1. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan. Tetapi mempunyai fungsi sendiri sebgai alat Bantu untuk mewujudkan situasi belajar yang efektif.
  2. Penggunaan media pengajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar.
  3. Media belajar dalam pengajaran, penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran.
  4. Penggunaan media bukan semata-mata sebagai alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses supaya lebih menarik perhatian siswa.
  5. Media digunakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa menangkap pengertian yang diberikan guru.
  6. Penggunaan media diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.

Berangkat dari pemahaman tentang definisi pembelajaran kontekstul, dimana guru harus menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, maka guru dalam menyampikan materi membutuhkan media yang memadai. Misalnya tentang bab nikah, guru tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana pernikahan, apa saja syaratnya, atau siapa pelakunya. Guru bisa membawa siswanya ke kantor urusan agama terdekat, lalu disana siswa bisa bertanya dan mengamati proses pernikahan yang ada pada petugas yang ada disana. Mungkin dari sana siswa akan lebih bisa  memahami tentang pelajaran yang sedang dipelajarinya. Demikian juga tentang bab haji, dan seterusnya.

Madia merupakan alat untuk menyampaikan pesan guru pada muridnya ketika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung khususnya pada pembelajarn kontekstual. Adapun media yang digunakan dalam pembelajaran kontekstual adalah memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran, setting belajar tidak selalu dikelas, dan media apapun dapat digunakan sebagai sumber belajar seperti televisi, majalah, buku-buku bidang studi lain, telepon, Koran dan lain sebagainya.[12]

[1] Nur Hadi, op.cit., hlm. 32

[2] Ani M. Hasan, Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad Pengetahuan (http://pendidikan.net/includepicture\d\z”judul.gif, 2003)

[3] Nur Hadi, op.cit., hlm. 10

[4] Nur Hadi, Op cit., hlm. 52

[5] Ani M. Hasan, Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad Pengetahuan (http://pendidikan.net/includepicture\d\z”judul.gif, 2003)

[6] Nana sudjana, Media Pengajaran (Bandung: Sinar Baru, 1990), hlm. 1

[7] Oemar Hamalik, Media Pendidikan  (Bandung: Alumni, 1994), hlm. 11

[8] Nana Sudjana, op. cit., hlm. 4

[9] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 140-143

[10] Oemar Hamalik, op.cit., hlm.11-12

[11] Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pendidikan (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 24-25

[12] Ibid., hlm. 29

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *