BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Matematika sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari, dari hal-hal yang sangat sederhana sampai pada hal-hal yang sangat kompleks. Sementara itu, pada pemikiran ilmu pengetahuan dan teknologi, matematika merupakan salah satu ilmu dasar bagi ilmu-ilmu lainnya, sehingga dalam perkembangan pendidikan, matematika dijadikan sebagai barometer untuk mengukur tingkat kecerdasan dan daya pikir anak. Selain itu, matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi moderen, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Marks (1988:3) berpendapat bahwa matematika berperan sangat penting dalam persiapan untuk memberi bekal agar kita dapat berfungsi secara efektif dalam zaman teknologi.
Oleh karena itu matematika wajib dipelajari oleh siswa mulai dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas dan bahkan sampai perguruan tinggi. Namun, masalah yang biasanya muncul dalam dunia pendidikan matematika yaitu masih banyaknya siswa yang kurang memahami pelajaran matematika, bahkan diantara mereka ada yang kurang tertarik belajar matematika. Selain itu, sebagian siswa beranggapan bahwa pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang sulit dipahami atau dimengerti.
Dilain pihak matematika sebagai mata pelajaran wajib dan sebagai ilmu dasar, juga dapat dirasakan manfaat dan kegunaannya baik dalam bidang pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, materi yang dipelajari harus betul-betul dipahami. Misalnya pada materi operasi hitung bentuk aljabar pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. Pada pokok bahasan ini biasanya guru hanya menjelaskan materi disertai beberapa contoh, dengan pemantapannya melalui latihan soal sehingga konsep dasar penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar belum dikuasai siswa dengan baik. Akibatnya, sulit bagi siswa untuk mengembangkan materi-materi berikutnya dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan konsep dasar penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. Sehingga, materi ini sangat penting dipelajari karena menunjang penguasaan materi berikutnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hudojo (1988:3) bahwa mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar yang lalu.
Setiap kegiatan pembelajaran matematika, guru sering dihadapkan pada permasalahan bahwa hasil belajar siswa kurang memuaskan. Berdasarkan hasil dialog dengan guru matematika kelas VII di SMP Negeri 3 Palu diperoleh informasi bahwa sebagian besar siswa kurang aktif di kelas yang ditunjukkan oleh beberapa hal yaitu: siswa kurang aktif bertanya kepada guru, kurang berinteraksi dengan siswa lain, siswa sulit mengajukan pendapat, serta kurangnya minat dan perhatian siswa terhadap kegiatan pembelajaran. Keadaan tersebut menyebabkan sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah ataupun soal yang diberikan oleh guru. Sehingga hasil belajar yang siswa dapatkan relatif rendah.
Memperhatikan hal tersebut, betapa pentingnya mencari solusi yang memungkinkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. Salah satu solusi yang digunakan sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.
Model tersebut memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Pembelajarannya diawali dengan pengajuan suatu pertanyaan oleh guru, selanjutnya siswa memikirkan jawabannya dalam beberapa saat, kemudian mereka membagi jawabannya dengan pasangan atau dengan anggota tim lainnya tetapi dalam bentuk pasangan dialog (Jaeng, 2008:64).
Oleh karena itu, dengan menerapkan model pembelajaran tersebut siswa diharapkan dapat saling membantu dalam menyelesaikan masalah, saling menyampaikan pendapat, lebih aktif dalam berinteraksi, serta dapat meningkatkan penguasaan materi terhadap konsep operasi hitung bentuk aljabar.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Operasi Hitung Bentuk Aljabar di Kelas VII A SMP Negeri 3 Palu”.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar?”
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.

D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Siswa
a. Dapat membantu dalam meningkatkan hasil belajar pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.
b. Meningkatkan minat belajar pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.
c. Memungkinkan untuk belajar lebih aktif, berkembangnya daya kreatif, sifat ketekunan dan kecermatan dalam bekerja.
2. Bagi Guru
a. Kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif, terpadu dan menyenangkan.
b. Dapat termotivasi untuk selalu mencoba memperbaiki strategi atau pendekatan pembelajaran yang dilakukan di kelas, sehingga mencapai tujuan yang diharapkan.

3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang berarti pada SMP Negeri 3 Palu dalam usaha untuk memperbaiki proses kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan hasil belajar.
4. Bagi Peneliti
Dapat memberikan pengalaman langsung dalam mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.

E. BATASAN ISTILAH
Untuk memperjelas beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini, berikut di uraikan batasan-batasan istilah sebagai berikut:
a. Pembelajaran kooperatif adalah suatu metode pembelajaran dengan melibatkan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dan saling membantu menyelesaikan tugas akademik.
b. Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah suatu pembelajaran yang memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak berpikir dan menjawab serta saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan masalah yang diberikan.
c. Hasil Belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Kemampuan siswa ini diwujudkan dalam bentuk nilai hasil tes pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.
d. Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah materi tentang penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Kooperatif
“Pembelajaran kooperatif adalah suatu metode dengan melibatkan kelompok kecil siswa yang saling bekerja sama, saling memberikan atau menukar ide dan bertanggung jawab terhadap kelompok mereka disamping diri mereka sendiri”. Slavin (Arif, 2003:17)
Krismanto (Depdiknas, 2004b:25) menyatakan bahwa pada kegiatan ini sekelompok siswa belajar dengan porsi utamanya mendiskusikan tugas-tugas matematika, dalam arti saling membantu menyelesaikan tugas ataupun memecahkan masalah. Kegiatan kelompok kooperatif terkait dengan banyak pendekatan atau metode, seperti eksperimen, investigasi, eksplorasi dan pemecahan masalah.
Menurut Posamentier (Depdiknas, 2004c:26) secara sederhana menyebutkan cooperative learning atau belajar secara kooperatif adalah penempatan beberapa siswa dalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika siswa bekerja dalam kelompok adalah sebagai berikut:
a. setiap anggota dalam kelompok harus merasa bagian dari tim dalam pencapaian tujuan bersama.
b. setiap anggota dalam kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka pecahkan adalah masalah kelompok, berhasil atau gagal akan dirasakan oleh semua anggota kelompok.
c. untuk pencapaian tujuan kelompok, semua siswa harus bicara atau diskusi satu sama lain.
d. harus jelas bahwa setiap kerja individu dalam kelompok mempunyai efek langsung terhadap keberhasilan kelompok.
Demikian hal tersebut, bukanlah suatu cooperative environment meskipun beberapa siswa duduk bersama namun bekerja secara individu dalam menyelesaikan tugas, atau seorang anggota kelompok menyelesaikan sendiri tugas kelompoknya. Cooperative learning lebih merupakan upaya pemberdayaan teman sejawat, meningkatkan interaksi antar siswa, serta hubungan yang saling menguntungkan antar mereka. Siswa dalam kelompok akan belajar mendengar ide atau gagasan orang lain, berdiskusi setuju atau tidak setuju, menawarkan, atau menerima kritikan yang membangun, dan siswa merasa tidak terbebani ketika ternyata pekerjaannya salah.
Kelman (Depdiknas, 2004c:26) menyatakan bahwa di dalam kelompok terjadi saling pengaruh secara sosial. Pertama, pengaruh itu dapat diterima seseorang karena ia memang berharap untuk menerimanya. Kedua, ia memang ingin mengadopsi atau meniru tingkah laku atau keberhasilan orang lain atau kelompok tersebut karena sesuai dengan salah satu sudut pandang kelompoknya. Ketiga, karena pengaruh itu kongruen dengan sikap atau nilai yang ia miliki. Ketiganya mempengaruhi sejauh kerja kooperatif tersebut dapat dikembangkan.
Sementara itu, Lowe (Depdiknas, 2004c:27) menyatakan bahwa belajar kooperatif secara nyata semakin meningkatkan pengembangan sikap sosial dan belajar dari teman sekelompoknya dalam berbagai sikap positif. Keduanya memberikan gambaran bahwa belajar kooperatif meningkatkan sikap sosial yang positif dan kemampuan kognitif yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Menurut Nur (Widyantini, 2006:4), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Menurut Nur (Widyantini, 2006:4), ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.
Menurut Hill dan Hill (Arif, 2003:6-7) pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa kelebihan, antara lain: 1) meningkatkan prestasi siswa; 2) memperdalam pemahaman siswa; 3) menyenangkan siswa dalam belajar; 4) mengembangkan sikap kepemimpinan siswa; 5) mengembangkan sikap positif siswa; 6) mengembangkan rasa percaya diri siswa; 7) mengembangkan rasa saling memiliki diantara sesama siswa; dan 8) mengembangkan keterampilan untuk masa depan.

B. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share
Think-Pair-Share menantang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusi perlu diseting seluruh kelompok dalam kelas. Dalam pembelajaran, para siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4 sampai 6 orang siswa yang heterogen untuk saling bekerja sama dan saling membantu. Struktur ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.
Di kelas biasa, guru mengajukan pertanyaan, dan hanya beberapa siswa mengangkat tangan untuk menjawab. Pada Think-Pair-Share, guru mengajukan suatu pertanyaan, siswa memikirkan jawabannya dalam beberapa saat, kemudian mereka membagi jawabannya dengan pasangan atau dengan anggota tim lainnya tetapi dalam bentuk pasangan dialog (Jaeng, 2008:64). Para siswa membagi jawaban, tidak hanya dengan teman dalam tim, tetapi juga dengan anggota dari tim lain ke seluruh kelas.
Menurut Arends (Arif, 2003:26-27) langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share, sebagai berikut.
Langkah pertama : Think (berpikir), siswa diminta untuk berpikir secara individual terlebih dahulu beberapa saat terhadap masalah yang disajikan oleh guru.
Langkah kedua : Pair (berpasangan), siswa diminta untuk membentuk pasangan atau kelompok (4 – 6 orang), dan mendiskusikan hasil pikirannya secara individual tadi. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau masalah dan berbagi ide jika suatu persoalan itu telah diidentifikasi (Ibrahim, 2000).
Langkah ketiga : Share (saling berbagi ide), setelah tercapai kesepakatan tentang pikiran kelompok, maka salah seorang mempresentasikan hasil kesepakatan kelompoknya. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Tahapan Think-Pair-Share menurut Jaeng (2008:64) meliputi:
Tahap 1 : Guru menginformasikan masalah lisan atau tertulis (LKS) kepada seluruh kelas.
Tahap 2 : Guru meminta kepada seluruh siswa untuk berpikir sejenak tentang cara-cara menjawab/menyelesaikan masalah yang diajukan guru.
Tahap 3 : Guru meminta kepada siswa untuk saling berbagi cara-cara mengerjakan masalah menurut hasil pemikirannya kepada anggota lain. Cara berbagi ini dilakukan dalam dialog (berpasangan) dalam tim/kelompoknya.
Tahap 4 : Berbagi ke seluruh kelas. Dalam hal ini dapat dilakukan sebagai berikut:
(a) para siswa menulis jawabannya di papan tulis pada saat yang sama.
(b) para siswa memberikan jawaban dengan cepat dan siswa lain menanggapi dengan cepat.
(c) semua siswa berdiri, setelah memberikan jawabannya, siswa tersebut duduk. Setiap siswa yang memberikan jawaban sama juga ikut duduk. Proses ini dilanjutkan sampai semua siswa duduk.
(d) setiap siswa berbagi jawaban dengan siswa pada kelompok lain.
Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dibagi atas 5 fase, yakni: 1) penyajian materi; 2) berpikir bersama; 3) transisi ke pasangan/tim; 4) monitoring; dan 5) berbagi jawaban.
Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share antara lain:
a. kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Sedangkan pasangan dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi dipasangkan dengan rendah, tinggi dengan sedang, dan sedang dengan rendah berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru dan hasil tes awal.
b. Penghargaan lebih berorientasi perorangan dari pada kelompok atau pasangan.
Kelebihan dari pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah sebagai berikut:
1. meningkatkan daya pikir siswa, memperoleh kedalaman tingkat pengetahuan dan menciptakan kemampuan berpikir kritis siswa.
2. meningkatkan kemampuan bekerja dan menyelesaikan masalah secara bersama.
3. mendorong siswa untuk memperhatikan pendapat orang lain.
4. menyenangkan siswa dalam belajar.
5. mengembangkan sikap kepemimpinan siswa, dan
6. mengembangkan rasa percaya diri siswa.
Selain memiliki beberapa kelebihan, pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share ini tentu memiliki kelemahan. Kelemahan yang ada pada pembelajaran ini tidak lepas dari kelemahan yang ada pada pembelajaran kooperatif, yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama bagi siswa dan guru sehingga sulit mencapai target kurikulum, membutuhkan kemampuan khusus guru dalam melakukan atau menerapkan model pembelajaran kooperatif dan menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama.
Teknik belajar mengajar Berpikir-Berpasangan-Berbagi dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share) dan Spencer Kagan (Think-Pair-Square) sebagai struktur kegiatan pembelajaran gotong royong. Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, teknik Berpikir-Berpasangan-Berbagi ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. (Lie, 2004:56)

C. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah mempelajari materi yang diwujudkan melalui perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti terjadi perubahan pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek yang ada pada diri individu yang sedang belajar.
Ada beberapa pendapat tentang hasil belajar yang dikemukakan oleh para ahli antara lain menurut Surakhmad (1980:26) “Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mempelajari materi yang diwujudkan melalui pola tingkah laku yang terlihat pada perubahan reaksi dan sikap siswa secara fisik maupun mental”. Sementara Dick dan Reisen (Dahar, 1989:136) menyatakan bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran”. Sejalan dengan itu (Sudjana, 1991) “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.
Benyamin S. Bloom (Usman U, 2001:54) menyebutkan bahwa perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar meliputi 3 aspek yaitu aspek kognitif berkenaan dengan perilaku yang berhubungan dengan berpikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Aspek ini mempunyai enam tingkatan yaitu: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Aspek afektif berkaitan dengan nilai-nilai, sikap, apresiasi, dan penyesuaian perasaan sosial. Aspek ini mempunyai klasifikasi dari tingkat sederhana ketingkat yang lebih kompleks, yaitu: kemauan menerima, kemauan menanggapi berkeyakinan, penerapan karya, ketekunan dan ketelitian. Sedangkan aspek psikomotor berkenaan dengan hasil belajar yang berkaitan dengan keterampilan yang bersifat manual dan motorik. Aspek ini meliputi tingkatan yaitu: persepsi, kesiapan, mekanisme, respon, terbimbing, kemahiran dan adaptasi.
Dari pendapat tersebut di samping dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap keberhasilan rencana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain hasil belajar adalah hasil yang diraih seseorang setelah melaksanakan kegiatan belajar atau tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa yang diwujudkan melalui perubahan pada diri siswa yang dapat diukur dengan alat ukur tertentu.

D. Tinjauan Materi
1. Operasi Bentuk Aljabar
Operasi adalah pengerjaan hitung; penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Sedangkan aljabar merupakan bahasa simbol dari relasi. Aljabar digunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari, dengan bahasa simbol, dari relasi yang muncul, masalah-masalah dipecahkan sederhana. Bahkan untuk hal-hal tertentu ada algoritma-algoritma yang mudah diikuti dalam rangka memecahkan masalah simbolik itu yang pada saatnya nanti dikembalikan pada masalah sehari-hari (Depdiknas, 2004a:4). Jadi belajar aljabar bukan semata-mata belajar tentang masalah sehari-hari.
Bentuk aljabar adalah bentuk matematika yang menggunakan tanda-tanda dan huruf-huruf untuk menggambarkan atau mewakili angka-angka (Sudarto, 2000:19). Operasi bentuk aljabar adalah pengerjaan hitung dalam bentuk simbol-simbol.
2. Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar
a). Penjumlahan dan pengurangan suku sejenis dan tidak sejenis
Dalam penjumlahan dan pengurangan, berlaku sifat-sifat berikut ini:
1. ab + ac = a (b + c) atau a (b + c) = ab + ac
2. ab – ac = a (b – c) atau a (b – c) = ab – ac
Yang disebut sifat distributif.
Sifat-sifat di atas dapat digunakan untuk menjumlahkan atau mengurangkan suku-suku sejenis pada bentuk aljabar sehingga bentuknya menjadi lebih sederhana seperti contoh berikut ini.
Sederhanakanlah bentuk-bentuk aljabar berikut ini.
a. 4a + 2a
b. 7b – 9b
Jawab:
a. 4a + 2a = (4 + 2)a
= 6a
b. 7b – 9b = (7 – 9)b
= -2b
(Sugijono, 2002:89)
b). Penjumlahan dan pengurangan dapat dilakukan pada bentuk aljabar yang sejenis.
Contoh: 1
Bentuk (4x + 6) dan (2x – 3) adalah sejenis sehingga
(4x + 6) + (2x – 3) = (4x + 2x) + (6 – 3) = 6x + 3
(4x + 6) – (2x – 3) = (4x – 2x) + (6 – (-3)) = 2x + 9
Contoh: 2
Bentuk (5x + 7) dan (3y + 3), mempunyai suku tunggal yang tidak sejenis yaitu 5x dan 3y sehingga 5x dan 3y tidak bisa dijumlahkan dan tidak bisa diperkurangkan. Dengan demikian
5x + 3y = 8xy (salah)
5x – 3y = 2xy (salah)
Yang benar
(5x + 7) + (3y + 3) = 5x + 3y + 10, dalam hal ini yang bisa dijumlahkan 7 dan 3. Untuk 5x dan 3y jika dijumlahkan tidak bisa disederhanakan.
(5x + 7) – (3y + 3) = 5x – 3y + 4, dalam hal ini yang bisa dikurangkan 7 dan 3. Untuk 5x dan 3y jika dikurangkan tidak bisa disederhanakan.
(Sumardi, 2004:41)
Dalam penjumlahan dan pengurangan yang perlu diperhatikan adalah sifat-sifat operasi aljabar untuk a, b dan c  R berlaku:
1. Sifat komutatif : a + b = b + a
2. Sifat asosiatif : (a + b) + c = a + (b + c)
3. Sifat distributif : a (b + c) = ab + ac
(a + b) c = ac + bc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *