Pendahuluan

Permasalahan dalam dunia pendidikan tidak pernah berkurang dari hari ke hari, karena pendidikan menyangkut hajat hidup orang banyak dengan segala karakter individu masyarakatnya, serta infra struktur yang terkait di dalamnya. Persoalan paling banyak muncul di depan kelas, dan dihadapi langsung oleh para guru. Banyak jalan keluar yang bersifat penelitian akademik dihasilkan untuk memecahkan permasalahan yang ada, tetapi lebih banyak masalah pendidikan yang belum dapat ditemukan jalan keluarnya. Banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan berbagai teori yang ada karena penelitian-penelitian pendidikan kurang banyak bermanfaat, karena kurang dimengerti oleh guru, bersifat teoritis, dan tidak efektif dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul di lapangan (sekolah). Guru membutuhkan penelitian pendidikan yang dapat  memenuhi kebutuhan sehari-hari yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kinerjanya.

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantive, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan (Hopkins, 1993 : 44).

Menurut Rapoport (1970 dalam Hopkins, 1993) mengartikan penelitian tindakan kelas untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu social dengan kerjasama dalam kerangka etika yang disepakati bersama.

Kemmis (1983) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraaan mengenai situasi social tertentu(termasuk pendidikan) untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari  a) kegiatan praktek social atau pendidikan mereka  b) pemahaman mereka mengenai kegiatan-kegiatan praktek pendidikan ini  c) situasi yang memungkinkan terlaksananya kegiatan praktek ini.

Menurut Ebbutt (1985 dalam Hopkins, 1993) penelitian tidakan adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktik pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut.

Elliott (1991) berpendapat bahwa penelitian tindakan kelas sebagai kajian dari sebuah situasi social dengan kemungkinan tindakan untuk memperbaiki kualitas situasi social tersebut.

Penelitian kelas oleh guru dapat merupakan kegiatan reflektif dalam berpikir dan bertindak dari guru. Dewey (1933) mengartikan berpikir reflektif dalam pengalaman pendidikan sebagai selalu aktif, ulet, dan selalu mempertimbangkan segala bentuk pengetahuan yang akan diajarkan berdasarkan keyakinan adanya alas an-alasan yang mendukung dan memikirkan kesimpulan dan akibat-akibatnya ke mana pengetahuan itu akan membawa peserta didik (Dewey dalam Thornton, 1994: 5).

Suhadi (1997) menyatakan bahwa PTK adalah suatu penelitian ilmiah yang ditujukan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan keterampilan baru yang diaplikasikan langsung ke dalam situasi kelas.

Secara ringkas penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Pendekatan penelitiannya berupa tindakan-tindakan nyata yang berbasis kelas. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran merela dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu.

Sangatlah penting membudayakan penelitian di lingkungan sekolah yang melibatkan guru secara aktif. Guru tidak lagi dianggap hanya sebagai penerima pembaharuan, tetapi juga sebagai pelaku pembaharuan. Penelitian yang dilakukan oleh guru dapat terjadi secara terus menerus berkesinambungan karena tuntutan kebutuhan dari dalam diri guru itu sendiri, bukan karena diinstruksikan dari luar.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas

Setiap penelitian memiliki cirri-ciri tersendiri. Dari beberapa literature dapat diidentifikasi sejumlah karakteristik PTK.

  1. Aktual, bahwa masalah yang diangkat di dalam PTK berasal dari permasalahan praktek pembelajaran sehari-hari yang dihadapi guru.
  2. Kontekstual, bahwa pelaksanaan PTK bersamaan dengan keadaan pembelajaran yang sesungguhnya, tidak dibuat-buat.
  3. Kolaboratif, di mana PTK melibatkan pihak lain untuk mengamati dan/atau memberi komentar atas tindakan (pembelajaran) yang dilakukan. Keterlibatan ini terjadi pada semua langkah penelitian, mulai dari identifikasi masalah sampai dengan penyusunan laporan. Kolaborasi tersebut mempunyai makna kerjasama kesejawatan, berbagi kepakaran dan kesederajatan atas dasar pemahaman terhadap kelebihan masing-masing.
  4. Luwes dan adaptif, di mana guru ataupun siswa tidak merasakan bahwa mereka sedang menjadi objek pengamatan ataupun penelitian. Desain PTK dapat dikembangkan selama penelitian berlangsung disesuaikan dengan perkembangan di lapangan (kelas). Namun demikian desain ini harus tetap dalam kajian taat kaidah. Semua penyesuaian atau modifikasi dicatat dan dijelaskan sebab-sebab perubahannya, sementara pengumpulan dan analisis datanya tetap dilakukan secara objektif.
  5. Situasional dan spesifik, bahwa penelitian berlangsung dalam suasana yang sesungguhnya, dan hanya mengamati aspek-aspek yang telah disepakati bersama sebelumnya. Penelitian bertujuan untuk memperbaiki praksis secara langsung, “di sini dan sekarang”, sehingga bersifat up to date.
  6. Bersifat penelitian terapan dengan tindakan, yang melibatkan peneliti secara aktif dari mulai membuat desain penelitian, melakukan perencanaan tindakan, sampai pada penerapannya dengan modifikasi intervensi sesuai dengan perkembangan lapangan (kelas).
  7. Langkah-langkah berupa siklus yang sistematis, di mana pelaksanaan PTK berkembang melalui spiral refleksi partisipan sendiri, yaitu suatu daur ulang dengan urutan : perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).
  8. Berpegang pada prinsip a) tidak mengganggu komitmen mengajar, artinya dilakukan sebagaimana biasanya dalam proses pembelajaran b) tidak menuntut waktu khusus di luar yang telah disediakan sebagaimana biasanya  c) berorientasi pada pemecahan masalah yang dihadapi guru.
  9. Penelitian tindakan kelas juga bersifat emansipatoris dan liberating (membebaskan). Emansipasi dalam bahasa Indonesia sehari-hari bermakna perbaikan nasib, peningkatan status, dan perjuangan kesetaraan. Bersifat membebaskan karena PTK mendorong kebebasan berfikir dan berargumen pada pihak siswa, dan mendorong guru untuk bereksperimen, meneliti, dan menggunakan kearifan dalam mengambil keputusan atau judgement ( Hopkins dalam Wiriaatmadja, 2005 : 25).

Apabila guru mampu melakukan hal-hal tersebut, maka guru akan memiliki control terhadap kegiatan profesi mereka. Mereka akan mengembangkan kemampuan memutuskan atau mengambil kesimpulan secara professional, tidak serta merta memperhatikan kurikulum, instruksi kepala sekolah, para pengawas, bahkan buku teks yang ditentukan dari atas. Dengan demikian kegiatan yang dilakukan guru bergerak kea rah otonomi dan emansipasi., karena kebenaran yang terkandung dalam penelitian yang guru lakukan harus diterima oleh pihak manapun.

Tujuan Penelitian Tindakan kelas

  1. Perbaikan dan peningkatan layanan professional guru
  2. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru
  3. Menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru.
  4. Untuk perbaikan dan peningkatan kualifikasi guru, sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri guru.

Fungsi Penelitian Tindakan Kelas

Cohen dan Manion (Rochyadi, 2001) memberikan sedikitnya lima fungsi PTK yaitu  1) untuk memecahkan masalah yang dilakukan dalam situasi tertentu  2) pelatihan dalam jabatan sehingga membekali partisipasi guru dengan kemampuan dan keterampilan melaksanakan metode dan teknik mengajar yang baru, serta mempertinggi kesadaran atas kekurangan dan kelebihan pada dirinya.  3) untuk mengenal pendekatan tambahan pada pengajaran  4) untuk meningkatkan komunikasi antara guru dengan para akademisi di lapangan dalam penelitian kolaborasi  5)  untuk menyediakan alternative yang lebih baik dalam pemecahan masalah di dalam kelas.

Kode Etik bagi guru yang meneliti

Kebebasan guru dalam meneliti ada batasan-batasannya. Guru bekerja dan hidup dalam lembaga social yang meiliki norma-norma atau kaidah-kaidah yang harus diikuti. Karena itu ada baiknya memperhatikan seperangkat pedoman yang harus ditaati sebelum, selama, dan sesudah penelitian dilakukan, sebagai berikut :

  1. Meminta kepada orang-orang, panitia, atau yang berwenang persetujuan dan izin.
  2. Ajaklah kawan-kawan sejawat terlibat dan berpartisipasi dalam penelitian
  3. Terhadap yang tidak langsung terlibat, perhatikan pendapat mereka.
  4. Penelitian berlangsung terbuka dan transparan, saran-saran diperhatikan, dan kawan sejawat diperbolehkan mengajukan protes.
  5. Meminta izin eksplisit untuk mengobservasi dan mencatat kegiatan mitra peneliti, tidak termasuk izin dari siswa apabila penelitian bertujuan meningkatkan pembelajaran.
  6. Minta izin untuk membuka dan mempelajari catatan resmi, surat menyurat dan dokumen. Membuat fotokopi hanya bila diizinkan.
  7. Catatan dan deskripsi kegiatan hendaknya relevan, akurat dan adil.
  8. Rujukan langsung, rujukan observasi, rekaman, keputusan, kesimpulan, atau rekomendasi hendaknya mendapat izin atau otorisasi kutipan.
  9. Laporan disusun untuk kepentingan yang berbeda., seperti laporan verbal  pada pertemuan mitra, tertulis untuk orang tua murid, surat kabar, atasan, dan lain-lain.
  10. Semua mitra penelitian mengetahui dan menyetujui prinsip-prinsip kerja di atas, sebelum penelitian berlangsung.
  11. Hak melaporkan kegiatan dan dan hasil penelitian, apabila sudah disetujui oleh para mitra peneliti, dan laporan tidak bersifat melecehkan siapa pun yang terlibat, maka laporan tidak boleh diveto atau dilarang karena alas an kerahasiaan.

Tahapan Penelitian Tindakan kelas

Penelitian diawali dengan perumusan masalah yang dikenal sebagai pra refleksi. Masalah dapat berasal dari keadaan kelas secara umum, atau lebih khusus masalah kelas tempat kita mengajar. Perumusan masalah dilakukan dengan menggunakan beberapa pertanyaan yang mengarah pada dorongan melakukan penelitian, misalnya :

  • Apakah yang dapat dilakukan terhadap bahan ajar “ perbedaan tumbuhan dikotil dan tumbuhan monokotil” agar siswa lebih mudah memahaminya ?
  • Strategi belajar apa yang digunakan oleh siswa-siswa pandai dalam belajar IPS ?

Perencanaan (Planning)

Perencanaan adalah rincian operasional mengenai tindakan yang ingin dikerjakan atau perubahan yang akan dilakukan. Siapa akan mengerjakan apa, dan kapan ? Perlu menyediakan kuesioner atau alat pengumpul data. Misalnya diputuskan mengumpulkan keterangan dari 5 siswa pandai dalam belajar IPS dengan cara berikut :

  • Pengamatan di kelas selama 1 semester
  • Catatan harian anak
  • wawancara

Tindakan (action)

Tindakan merupakan tahap pelaksanaan dari perencanaan. Selama pelaksanaan berlangsung, mungkin saja terjadi perubahan-perubahan kecil. Jangan ragu untuk melakukannya, dan catat alas an mengapa terjadi perubahan.

Pengamatan (observing)

Observasi yaitu melakukan pengamatan secara teliti dan rinci. Kemudian melakukan pencatatan, bila perlu perekaman. Misalnya, kita mencatat bahwa siswa menggunakan berbagai strategi dalam belajar IPS dengan cara :

  • Membaca bahan ajar dengan cepat
  • Menuliskan konsep-konsep penting dengan kata-kata sendiri
  • Membaca berulang-ulang catatan konsep-konsep penting yang ditulisnya

Refleksi (reflecting)

Refleksi merupakan tahap akhir dari suatu siklus PTK, berupa kajian atau analisis mengenai hal-hal yang sudah dilakukan pada tahap sebelumnya. Dalam Refleksi ada banyak kegiatan penting seperti :

  • Merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang telah dilakukan.
  • Menjawab tentang penyebab situasi dan kondisi yang terjadi selama pelaksanaan tindakan.
  • Memperkirakan solusi atas keluhan yang muncul.
  • Mengidentifikasi kendala/ancaman yang mungkin dihadapi.
  • Memperkirakan akibat dan implikasi dari tindakan yang direncanakan.

Poin-poin tersebut dapat digambarkan dalam pertanyaan : Seberapa efektif perubahan yang terjadi ? Apa yang dipelajari ? Adakah yang menjadi penghambat perubahan ? Bagaimana memperbaiki perubahan-perubahan yang dibuat ? Jwaban-jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membawa kita pada daur PTK berikutnya.

Refleksi terdiri atas 4 komponen kegiatan : a) analisis data hasil observasi  b) pemaknaan data hasil analisa  c) penjelasan hasil analisa  d) penyimpulan apakah masalah itu selesai/teratasi atau tidak.

Setiap melakukan refleksi biasanya muncul permasalahan atau pemikiran baru, sehingga merasa perlu melakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang, dan refleksi ulang.

Prosedur Tahapan Penelitian Tindakan kelas

Prosedur PTK  dapat dilakukan denagn empat langkah penelitian, yaitu :

  1. Studi pendahuluan, yaitu eksplorasi permasalahan yang urgen untuk dipecahkan
  2. Penyusunan Desain Tindakan, yaitu perumusan masalah, tujuan penelitian, perspektif teori, setting penelitian, program tindakan, pengambilan dan analisis data.
  3. Pelaksanaan tindakan, siklus 1, siklus 2, siklus 3…dst. Di antara siklus ada refleksi, pemaknaan, kesimpulan temuan pengetahuan dan keterampilan baru.
  4. Laporan PTK.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kardiawarman. 2001. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas.Bandung : tidak diterbitkan.

Ridwan, Sa’adah . 2001. Langkah dan Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : tidak diterbitkan.

Rochyadi, Yadi. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : tidak diterbitkan.

Wiriaatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *