Faisal dan Musnadi (2004) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Efisiensi Pasar Modal Jakarta Periode 1997-1999” mengatakan bahwa pengujian terhadap efisiensi pasar modal bentuk lemah pada Bursa Efek Jakarta selama periode 1997 – 1999 menunjukkan bahwa rata-rata absolut setiap lag berpola random walk karena angka koefisien otokorelasi mendekati 0. Sehingga perubahan harga saham di waktu yang lalu dengan waktu sekarang memiliki hubungan yang sangat kecil atau lemah. Ini berarti informasi harga masa lalu tidak dapat dijadikan pedoman untuk keputusan – keputusan investasi pada masa yang akan datang.
Kartini dan Safuan (2007) berdasarkan hasil penelitiannya yang berjudul “ Determinan Investasi Portofolio Di Negara-Negara Asean, Amerika Dan Jepang “, didapatkan bahwa GDP negara asal (Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina) ternyata tidak signifikan mempengaruhi nilai investasi portofolio internasional di Indonesia. Pada variabel pertumbuhan GDP negara asal ternyata tidak ditemukan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan nilai investasi portofolio internasional di Indonesia yang dimiliki Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina, selain itu pada GDP negara asal (Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina) juga ditemukan arah yang berbeda antara hipotesa teori dengan hasil estimasi yang didapatkan. Hipotesa teori memiliki arah positif atau pertumbuhan GDP negara asal (Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina) yang naik akan meningkatkan pertumbuhan nilai investasi portofolio internasional di Indonesia yang dimiliki Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Sedangkan pada hasil estimasi ditemukan hal yang sebaliknya, pertumbuhan GDP negara asal (Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina) akan menurunkan pertumbuhan nilai investasi portofolio internasional di Indonesia yang dimiliki Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Sedangkan GDP tujuan (dalam hal ini berarti GDP INA atau GDP Indonesia) ternyata ditemukan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan nilai investasi porfolio internasional di Indonesia dari Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina, selain itu pada variabel GDP tujuan juga ditemukan arah sama antara hipotesa teori dengan hasil estimasi yang didapatkan. Hipotesa teori memiliki arah positif atau sedangkan pada hasil estimasi ditemukan hal yang sama.
Bakar (2003), berdasarkan hasil penelitiannya yang berjudul ” Analisis Investasi Di Indonesia ” dapat disimpulkan bahwa pendapatan nasional berpengaruh positif terhadap investasi. Artinya jika pendapatan nasional naik Rp.1000 maka investasi juga akan naik Rp.632. sedangkan suku bunga berpengaruh negatif terhadap investasi. Artinya jika suku bunga naik 1 persen maka investasi akan berkurang Rp.287  juta. Dan turunnya penanaman modal asing di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal seperti persepsi investor terhadap Indonesia yang masih negatif dan iklim investasi yang masih belum kondusif, masalah penegakan hukum, dan banyaknya pesaing Indonesia di tingkat Asia. Negara-negara pesaing itu memiliki iklim investasi yang lebih baik dibandingkan Indonesia dan memberikan insentif untuk investasi.
Haryanto dan Riyatno (2007), dalam hasil penelitiannya yang berjudul ” Pengaruh Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia Dan Nilai Kurs Terhadap Risiko Sistematik Saham Perusahaan Di BEJ ”, menyimpulkan bahwa risiko sistematis (risiko pasar) merupakan risiko dengan perubahan yang terjadi di pasar secara keseluruhan. Jadi perubahan pasar akan mempengaruhi variabilitas return suatu investasi (kondisi makro). Tingkat suku bunga SBI dan kurs terbukti mempengaruhi risiko sistematis saham namun hasilnya tidak konsisten pada dua karakteristik industri yang berbeda. Pada perusahaan manufaktur hanya kurs yang mempengaruhi risiko saham sedangkan pada perusahaan non manufaktur suku bunga SBI yang mempengaruhi risiko sistematis saham.
Suryantini (2007), dalam hasil penelitiannya yang berjudul “ Perbedaan Kinerja Portofolio Berdasarkan Strategi Portofolio Aktif Dan Pasif Pada Saham LQ 45 Di BEJ “, didapatkan bahwa antara kedua strategi, baik return maupun risiko strategi aktif lebih besar dibandingkan dengan return dan risiko portofolio dengan strategi pasif. Di samping itu, t-hitung antara kedua strategi menghasilkan t-hitung yang tidak signifikan yang berarti bahwa tidak ada perbedaan antara kinerja strategi aktif dengan strategi pasif. Ini berarti walaupun besar return dan risiko dari kedua strategi berbeda, peningkatan return dan risiko dari tiap-tiap strategi adalah sama. Hal ini berarti bahwa semakin besar return yang diinginkan maka semakin besar risiko yang harus ditanggung investor.
Sridadi (2005) dalam hasil penelitiannya yang berjudul “Analisis Fundamental Terhadap Volume Perdagangan Saham” mengatakan bahwa dalam model dinamis jangka panjang dan jangka pendek, variabel IHSG, right issue, maupun nilai tukar rupiah terhadap dolar memiliki pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap volume perdagangan saham, sedangkan SIBOR memiliki kecenderungan tidak memiliki pengaruh terhadap volume perdagangan saham. Dengan melakukan intervensi terhadap ketiga variabel tersebut, diharapkan ada perbaikan indeks yang benar-benar mencerminkan makin pulihnya kepercayaan investor terutama investor asing terhadap perekonomian Indonesia.
Ilhamsyah (2000) mengatakan bahwa tingginya volume total investasi selama lima tahun yaitu dari tahun 1991-1996 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan tempat yang baik untuk investasi dengan tendensi peningkatan pananaman modal asing, sehingga investasi di Indonesia mendatangkan keuntungan yang besar bagi para investor.
Ridwan dan Sari (2004), berdasarkan penelitiannya yang berjudul “reaksi pasar terhadap pengumuman pemecahan saham” menyimpulkan bahwa salah satu Pasar Modal Indonesia yaitu Bursa Efek Jakarta bereaksi terhadap peristiwa ini. Dari hasil pengamatan pada harga saham perusahaan sample, Stock Split yang selama ini dianggap mampu memberikan sinyal yang baik bagi perusahaan ternyata menghasilkan Abnormal Return yang positif pada hari sebelum dan pada saat Stock Split tersebut diumumkan sedangkan pada Abnormal Return cenderung turun menjadi negatif pada hari-hari setelah Stock Split diumumkan.
Butuh daftar pustaka klik disini