Tulisan/Artikel ini adalah kiriman dari saudara:

M. Yusdin*

*Adalah Pemilik Blog www.perskapolitani.blogspot.com

*Adalah Jurnalis pena biru UKM PERSKA

Sebuah Tulisan terinspirasi dari “kesalahan & kekurangan”. Kesalahan & kekurangan yang wajar dilakukan oleh seorang mahasiswa pada sebuah perkuliahan rutin.”Mahasiswa diusir dari ruang kuliah”. Apa yang terjadi selanjutnya adalah mahasiswa tersebut hanya diam seribu bahasa hal yang tidak seharusnya dilakukan.Mau tidak mau atau suka tidak suka mahasiswa tersebut menurut seperti sapi karna menurutnya melawan ataupun membela bukanlah sebuah pilihan tepat yang harus dilakukan. (sangat disayangkan)

Hanya karena terlambat dari aturan yang telah ditetapkan oleh otoritas sang guru besar  atau hanya karena tidak memfoto kopi mata  kuliah dengan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan, sang guru besar mengamuk dan mengeluarkan sang pencari ilmu dari ruang kuliah bagaikan seorang majikan yang marah terhadap pembantunya (budak). Sangat sulit ditebak penyebab ketersinggungan sang guru besar. Bagaimana bisa seorang pendidik yang lumrah dipandang bijak bisa melakukan sikap seperti itu? Bukankah “kesalahan & kekurangan” seperti itu lumrah dari seorang penimba ilmu ??? Sebagai insan akademik pengajar mungkin semestinya bisa menganggapnya sebagai sebuah celah untuk dicarikan perekat dan penutupnya,bukan malah sebaliknya mencari celah bagi lubang besar yang di hadapannya.

Sebuah cerminan sikap mutualisme akademisi bagi seorang mahasiswa !!! 
kisah singkat diatas adalah sebuah cermin. Sebuah cermin bahwa kurikulum pengajaran yang kita pergunakan memang patut dipertanyakan lebih dalam lagi ….. (insan pencari kebenaran bernama mahasiswa). Satu hal yang perlu terpahamkan selama menjadi mahasiswa adalah kita selalu hidup di sebuah jaman dimana berlaku polarisasi sosial yang sangat tegas antara insan penimba ilmu (mahasiswa) dan insan pengajar (dosen,pegawai,asisten,) antara si cerdas dan si kurang cerdas, antara anak keluarga dosen dan anak bukan siapa-siapa (mahasiswa rantauji). Itulah realitas sosial yang didapati di lingkungan akademik bernama kampus. Penilaian dosen sekarang banyak dibatasi dengan label intelektualitas yang kita sandang, IPK yang tinggi sampai warna-warni kulit dan kecerdasan yang memang sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika Tuhan memang telah menciptakan manusia itu berbeda-beda, lalu kenapa kita sebagai pelajar dipaksa untuk sejajar,ingin semuanya disamakan sesuai dengan kehendak sang guru besar ????

Argumen yang sangat benar bahwa seorang pengajar memang mempunyai intelektualitas yang lebih dari mahasiswa. Tapi satu hal yang sering kita lupakan adalah intelektualitas itu sendiri merupakan buah dari kemampuan mengasah daya kerja pikiran. Sementara otak memiliki sifat memilih-milih, mengkategorikan serta mengobyeksikan sesuatu yang utuh menjadi bagian-bagian yang terhegemonik. Ini pula yang sering terjadi,apa memang intelektualitas yang dimilikinya seringkali melihat perbedaan serta kekuarangan pada orang lain ketimbang persamaan dan kelebihan ???? Dalam lingkungan akademik bernama kampus, disadari atau tidak, pikiranlah yang memisahkan kita dengan orang lain, meskipun pada hakikatnya kita sama. Otaklah yang merespon kita untuk bergaul dengan orang yang berintelektualitas yang sama dengan kita, otak pulalah yang memberi istilah si-pandai dan si-kurang pandai bahkan si-licik. Pikiran pulalah yang menghilangkan sifat kesahajaan sebagai insan intelektual.

Inilah kehidupan yang berlaku bagi kaum yang juga berpredikat intelektualitas bernama mahasiswa. Dosen seringkali dan ingin (sekali) dihargai berdasarkan atribut akademik yang mereka sandang. Dan karena itulah mereka merasa pantas memperlakukan yang lain dengan semena-mena. Lebih ironisnya lagi, hanya dengan atribut tersebut mereka  merasa paling bisa dan paling mampu, merasa harus dan wajib dituruti serta tidak wajar bila ada pendapat yang berbeda dengannya.

Mereka seorang guru besar, insan pengajar, haus akan penghargaan, Barangkali (benar) mereka memang telah banyak membaca buku-buku orang hebat dalam sejarah, berupa karya intelektualitas Nur Cholis Majid sampai karya sufistik Ibnu Al-Rabi atau karya monumental dari mistikus kontemporer selevel Khalil Gibran dan karya filosofis sehebat Nietzhe, serta buku-buku berat seperti Charles Darwin dengan teori evoluisinya yang fenomenal.

Lihatlah dalam diri kita masing-masing, apakah dengan belajar ilmu, beragam konsep dan teori serta menghapal rumus-rumus perhitungan matematis disertai dengan gelar kesarjanaan membuat kita semakin sadar atau justru ego kita yang muncul ???? Kalau benar demikian, itu artinya hanya peniruan buah pikiran orang lain tanpa adanya transformasi dalam diri. Lalu apa yang bisa diajarkan kepada mahasiswa yang dibimbing ???? Begitu banyak guru besar dan sarjana bergelar sarjana,Master & doctor yang bisa kita temui di dunia akademik intelektual bernama kampus. Sayangnya, seringkali hanya datang untuk memperkuat ego,masih kenal sistem kekerabatan dalam banyak hal, masih melepas tanggung jawabnya sebagai pengajar hanya dengan selembar fotocopy yang berdebu.

Banyaknya Muncul dosen fotocopy,dosen pemindah jadwal serta iklim belajar-mengajar kelas yang tidak kondusif adalah penyebab hilangnya minat berkompetensi mahasiswa,dan timbulnya sifat kekakuan pada mahasiswa.Ada dosen yang hanya mengajar 1-3 kali selama masa perkuliahan dan setelahnya mengeluarkan nilai yang bervariasi sesuai dengan kehendak pribadi.

Menciptakan dunia akademik yang bernama kampus adalah tanggung jawab kita bersama,tanggung jawab semua pihak yang terlibat. Mahasiswa sebagai insan pembelajar, & dosen sebagai pengajar. Hanya saja kaum pengajarlah yang harus memulainya. Kalau bukan mereka siapa lagi? Bukankah mereka lebih intelek dari mahasiswa ?????

Nietzhe Sang filosof nyentrik ini pernah berkata bahwa satu-satunya hal yang menghalangi manusia untuk maju dan melangkah kedepan  adalah “Tuhan”, jadi, kalau kita mau menjadi manusia yang sesungguhnya, maka kita terlebih dahulu harus membunuh tuhan-tuhan (orang berlagak kayak tuhan) tersebut. Dan tuhan-tuhan itu adalah hal-hal yang menghalangi kita untuk menemukan jati diri, yang bisa saja berbentuk kurikulum yang kaku, dosen fotocopy,dosen pemindah jadwal,atau dosen pelepas tanggung jawab dengan hanya secarik kertas berdebu atau mereka-mereka yang merasa egois dan ingin sekali dihargai karena strata intelektual yang sedikit lebih dari orang kebanyakan.

Kata kuncinya hanya sebuah kata sederhana: MENYENANGKAN, dan inilah yang tidak bisa kebanyakan mahasiswa peroleh di dunia akademik bernama kampus.