PENDAHULUAN

Sebagai seorang dokter, kita telah memutuskan untuk menjadi seorang pelayan kesehatan di masyarakat meliputi semua lapisan masyarakat dengan beraneka ragam usia dan latar belakang.

Masyarakat yang didalamnya termasuk para lanjut usia, mencari kita untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang dapat kita berikan.

Pada mulanya, mungkin pasien hanya memiliki sedikit pilihan dan terpaksa menerima begitu saja kehadiran kita disamping sisi tempat tidurnya. Kemudian mereka dapat memilih, dan akan memilih dokter tempat mereka dapat mencurahkan perasaan, mendengarkan mereka dan yang membuat mereka merasa lebih baik dengan kehadirannya.

Mengingat hal-hal yang telah dipaparkan diatas, maka tindak tanduk dan sikap kita akan memperbesar atau mengurangi kesempatan kita untuk menjadi seorang dokter yang berhasil.

Setelah memahami kenyataan ini, kita semestinya dapat bertindak dan bersikap dengan bijaksana terhadap pasien terutama para lanjut usia supaya hubungan baik Dokter-Pasien akan terbina sehingga usaha medis akan maksimal.

 Adapun kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam melakukan pemeriksaan serta menegakkan diagnosa dan prognosa dalam penanganan kasus geriatri telah menjadi suatu problem klinis yang sangat kompleks, karena ini merupakan modal awal suatu manajemen terapi bagi seorang dokter dalam kasus geriatri.

Penurunan fungsi organ yang terjadi baik sebagai proses fisiologis yang senilis maupun akibat dari suatu penyakit degeneratif yang diderita oleh lansia perlu diketahui secara baik agar dalam melakukan pemeriksaan terjadi suatu interaksi yang harmonis antara pemeriksa dan pasien. Pemeriksa juga dituntut menerapkan pendekatan biopsikososial, memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemauan untuk mengevaluasi setiap individu dengan seksama serta menyusun rencana pelaksanaan yang bersifat individual serta dirancang khusus.

Tiga hal yang mempengaruhi penampilan klinis pada lansia adalah pertama, acapkali lansia tidak mengeluh tentang rasa sakit yang dideritanya atau tidak adequate dalam mengekspresikan rasa sakitnya. Kedua, adanya perubahan pola penyakit. Ketiga, perubahan respon terhadap penyakit.

Untuk meyajikan sebuah pendekatan sistematis, maka penanganan pasien lanjut usia itu berbeda dari pemeriksaan pasien muda. Formulir dan catatan medis sebelumnya harus diperoleh untuk mendapatkan informasi yang mungkin saja berkaitan dengan penyakit sekarang, sejalan dengan banyaknya pasien lain yang telah di evaluasi dan dirawat dimasa lalu yang selalu berharga untuk diperoleh.

Instrumen pemeriksaan klinis pada lansia tidak jauh berbeda seperti pemeriksaan pada orang dewasa., namun yang berbeda adalah pendekatan dan interpretasi apakah suatu tanda (sign) yang ditemukan adalah proses fisiologis atau patologis. Teknik anamnesa khusus yang diterapkan harus memperhatikan aspek perubahan yang terjadi, apakah pasien mengalami gangguan pendengaran, gangguan penglihatan atau gangguan memori yang dapat mengubah suatu pendekatan anamnestik. Dalam melakukan anamnesa pemeriksa disarankan untuk mengutarakan pertanyaan dengan suara yang lebih keras namun dengan nada yang rendah, juga menatap pasien secara berkelanjutan. Tema pertanyaan diharapkan tidak cepat berubah sebelum suatu tema selesai secara menyeluruh, mengingat gangguan kognitif yang mungkin terdapat pada seorang lansia.

Identifikasi kondisi yang reversible maupun irreversibel pada pasien lansia dengan penyakit kronik seyogyanya dilakukan. Namun perlu diingat bahwa tujuan pengobatan bukan semata-mata menyembuhkan penyakit akut namun memberikan perhatian yang luas pada penyakit kronik. Perhatian terhadap penyakit yang mendasari kondisi kronik lansia seringkali membuat seorang dokter lupa akan tujuan pengelolaan pasien lansia. Tujuan pengobatan seharusnya berorientasi kepada peningkatan kualitas hidup seperti optimalisasi status fungsional, keadaan umum, memulihkan produktivitas, kreativitas dan perasaan bahagia seorang lansia.

Untuk mengetahui adanya kelemahan organik pada seorang lansia diperlukan waktu pemeriksaan yang lebih lama akibat penurunan fungsi dalam berkomunikasi. Setiap gejala (symptom) yang muncul pada pasien baik itu dengan atau tanpa keluhan harus dipertimbangkan sebagai suatu proses yang harus di evaluasi, apakah merupakan tanda-tanda penyakit degeneratif atau merupakan suatu akibat komplikasi. Pemeriksaan internis harus lebih ditujukan kepada evaluasi tanda vital. Banyak pasien lansia menderita hipertensi sehingga evaluasi tekanan darah merupakan pemeriksaan rutin yang dilakukan dan membutuhkan evaluasi terhadap perubahan tekanan darah, pengobatan serta komplikasinya.

  1. HUBUNGAN BAIK ANTARA DOKTER DAN PASIEN

           Sebelum kita memulai kepada pemeriksaan klinis yang akan kita lakukan kepada pasien, terutama pasien Lanjut Usia maka ada hal-hal yang mesti kita perhatikan dan pahami sehingga akan terjalin hubungan yang baik antara Dokter-Pasien yang tentunya nanti akan sangat mendukung keberhasilan dan kelancaran tindakan pemeriksaan klinis kita.

  1. Persiapan untuk pemeriksaan
  • Tunjukkan perhatian anda.

Ini merupakan kunci untuk menjalin hubungan. Perhatian kita kepada pasien akan segera diketahui jika melakukan kebiasaan baik yakni mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada pasien mulai kita memasuki kamarnya sampai kita meninggalkan kamarnya setelah pemeriksaan.

  • Pelajari teknik melakukan anamnesa.

Teknik anamnesa yang baik harus kita kuasai, hal ini dapat dipelajari dengan banyak membaca, menyaksikan dengan seksama cara wawancara yang baik dari dokter pembimbing dan teknik ini akan terus berkembang dengan meningkatnya jam kontak kita dengan pasien.

  • Pelajari rekaman medis dan persiapkan peralatan.

Periksalah semua catatan dan informasi sebelum anda mendatangi pasien, dan bawalah perlengkapan yang anda butuhkan.

  • Jangan mengizinkan terjadinya interupsi.

Jika perlu bersikaplah tegas dan sopan untuk mendapatkan wawancara yang efisien. Jangan biarkan terjadinya interupsi yang mengganggu hubungan anda dengan pasien.

  • Dengarkan pasien dengan seksama.

Dengarkanlah setiap respon dari pasien, pikirkanlah dan bersiaplah untuk mengikuti petunjuk pasien tentang keprihatinan mereka dan prioritas mereka.

  1. Perkenalan dengan pasien

Memperkenalkan diri anda kepada pasien mempunyai banyak arti. Anda menjelaskan peranan anda, meminta ijin untuk berpartisipasi dalam perawatan pasien, mengadakan suatu suasana emosional, menyatakan peranan profesioanal anda, dan ingatlah bahwa hubungan anda dengan pasien adalah hubungan yang tidak seimbang yang menguntungkan anda serta menimbulkan stress pada pasien. Sehingga ada beberapa hal yang mesti anda lakukan yaitu bersikaplah peka terhadap penderitaan pasien, masuklah dengan tenang dan tersenyum, jabatan tangan yang erat, kontak mata yang segera, perkenalkan diri anda dan orang lain yang bersama anda jika ada, kemudian jelaskanlah peran dan tujuan anda.

  1. Meningkatkan hubungan dengan bertindak secara profesional.

Anda telah  memulai suatu hubungan profesional dan mengadakan suatu hubungan emosional yang baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan :

  • Pasien diberi waktu untuk berpakaian secara pantas.

Wawancara atau pemeriksaan dilakukan hanya setelah pasien diberi waktu untuk berpakaian secara pantas sesuai dengan kondisi penyakit pasien tentunya.

  • Duduklah tepat diluar wilayah pribadi pasien.

Duduklah kira-kira 1 meter dari pasien dan mintalah ijin untuk memasuki wilayah ini nanti pada akhir wawancara untuk melalukukan pemeriksaan. Berhati-hatilah untuk tidak menyentuh barang-barang pribadi pasien, dengan demikian anda menunjukkan penghargaan terhadap integritas pasien.

  • Nilailah tempat duduk dan kenyamanan Anda.

Pastikanlah bahwa pencahayaan, tempat menulis dan tempat duduk anda memadai untuk melakukan wawancara yang santai dan nyaman, jika anda perlu mengubah posisi tempat duduk anda, mintalah ijin terlebih dahulu kepada pasien.

  • Ketinggian mata sama atau dibawah ketinggian mata pasien.

Kalau mungkin, duduklah sedemikian rupa sehingga ketinggian mata anda sejajar atau dibawah ketinggian mata pasien. Jika memungkinkan minta pasien untuk duduk dengan tegak.

  1. Mengadakan Wawancara
  • Perhatikanlah petunjuk verbal maupun non verbal.

Anda sekarang siap untuk mewawancarai pasien. Perhatikanlah petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal, beritahukanlah kepada pasien bahwa anda akan mencatat bagian-bagian yang penting sementara pasien menceritakan secara merinci riwayat penyakitnya.

  • Semua komunikasi harus dijaga kerahasiaannya.

Kondisi kesehatan pasien merupakan suatu komunikasi yang memiliki hak istimewa. Pasien berharap dan hukum mengharuskannya bahwa setiap dialog harus dijaga kerahasiaanya. Rekaman medis adalah suatu dokumen rahasia dan mempunyai status hukum. Kalau dibicarakan dengan orang lain maka identitas pasien harus dirahasiakan. Jika ingin membicarakan perawatan dengan keluarga pasien maka harus meminta ijin pasien terlebih dahulu. Pasien akan menjadi berterus terang jika kita menghargai informasi yang mereka berikan.

  • Jangan memberikan pertimbangan moral.

Pertimbangan moral terhadap perilaku pasien tidak mempunyai tempat dalam dunia kedokteran. Tidak ada penyakit, pola tingkah laku maupun gaya hidup yang perlu mendapat komentar benar atau salah, anda harus dapat memisahkan perasaan anda terhadap tingkah laku pasien dari hubungan anda dengannya. Pertanyaan tentang moralitas mengganggu penilaian medis yang logis.

  • Bersikaplah jujur dan bertindaklah sebagaimana mestinya.

Kejujuran dalam dunia kedokteran harus menang, meskipun kita tergoda untuk melakukan pengecualiaan. Penyimpangan terhadap kebenaran sering kali terlihat tepat dengan berkedok ” Untuk kebaikan pasien”. Anggota keluarga seringkali menganjurkan kebohongan atau menyembunyikan penyakit yang diderita pasien dalam usaha melindungi pasien dari persoalan yang sulit. Kita tidak boleh menghindari untuk memberikan informasi yang sebenarnya hanya untuk menghndarkan diri kita dari situasi sulit untuk menghadapi pasien.

  • Hargailah sikap pasien terhadap penyakit.

Tidak ada gunanya memperlihatkan optimisme yang berlebihan dalam menghadapi penyakit yang berat atau menyembunyikan keadaan sulit. Bersikaplah untuk selalu siap membantu pasien, tanyakan kebutuhan-kebutuhannya dan bersikaplah positif dalam melakukan tindakan-tindakan yang sering meringankan penderitaan mereka.

  1. Pengendalian Diri Pasien
  • Keinginan pasien menentukan tujuan terapi.

Sampai batas tertentu, pasien mengatur perawatannya dan besarnya rahasia yang akan diceritakan selama wawancara. Nanti, ia mungkin melarang hal-hal yang dianggapnya merugikannya. Akhirnya mungkin ia memutuskan untuk tidak mengkonsumsi obat atau tidak melakukan operasi. Anda juga mungkin menentang suatu cara pengobatan kalau terlihat ada pengobatan yang lebih baik. Pasien dapat menerima, menolak atau merundingkannya selama perawatan. Anda dapat mempengaruhi pengendalian diri pasien selama wawancara dengan memperlihatkan sikap menerima dan memahami. Kalau pasien melihat bahwa ceritanya dirahasiakan, bebas dari pertimbangan moral didengarkan dengan penuh simpatik, sikap membungkamnya biasanya hilang.

  • Hindarilah kesembronoaan tentang penyakit.

Pasien seringkali menghubungkan penyakit dideritanya sebagai ganjaran atas apa yang telah dilakukan olehnya dimasa muda, atau oleh keluarganya. Sikap kita yang sembrono terdapat penyakit tidak dapat diterima, dan menganggap remeh usaha pasien untuk menjelaskan penyakitnya tidak dapat ditolerir. Kita harus hati-hati dalam memberikan wawasan mendalam kepada pasien tentang penyakitnya, sehingga pasien mungkin menjadi berkurang rasa takutnya, kurang mencela diri dan biasanya menjadi lebih kooperatif.

  • Berikanlah penjelasan sebelum anda bertindak.

Pasien mungkin melarang untuk dilakukan suatu pemeriksaan fisik. Keberhasilan atau ketidakberhasilan untuk mendapatkan riwayat penyakit menentukan kemudahan untuk dilakukannya pemeriksaan fisik. Kontak fisik menakutkan untuk sebagian pasien terlebih dengan orang asing. Penjelasan yang cukup tentang apa yang akan anda lakukan akan mengurangi ketakutan mereka dan mengajak mereka untuk melihat tindakan pemeriksaan yang akan dilakukan akan menghilangkan keengganan mereka.

  • Beresponlah terhadap emosi

Emosi yang kuat pada dokter dapat segera dirasakan oleh pasien dan diinterpelasikan secara negatif. Jika anda menjadi marah dan banyak menuntut maka pasien akan menarik diri atau memberikan respon dengan cara yang sama. Jika pasien menangis, anggaplah itu respon yang dapat diterima. Jika pasien marah carilah penyebabnya. Emosi merupakan bagian dari penyakit.

  1. Pengendalian diri dokter

     Sebagian besar faktor penentu hubungan antara Dokter-Pasien berada di pihak anda. Ini sudah jelas dan tidak terbantahkan lagi. Sebagian pengendalian diri dokter perlu diberi komentar, sebagian sulit dipelajari. Pasien berharap pertanyaan anda hanya dipusatkan pada perawatan mereka. Hindarilah pembicaraan lama tentang persoalan yang kurang penting dan topik-topik lain yang dapat mengurangi perhatian terhadap rincian perawatan pasien. Kadang-kadang pasien mengingatkan anda tentang besarnya pengendalian yang diperlukan. Secara ringkas dapat diberikan pertimbangan-pertimbangan untuk meningkatkan pengendalian diri dokter untuk mencapai wawancara yang maksimal dengan pasien berupa;

  • Hindarilah percakapan yang kurang penting dan menyimpang
  • Kendalikan pertanyaan dan jawaban
  • Mulailah dengan pertanyaan yang terbuka dan singkat
  • Perjelaslah rincian spesifik dengan pertanyaan yang tertutup dan terarah
  • Batasilah jumlah pertanyaan langsung
  • Pakailah lebih banyak pertanyaan tidak langsung
  • Perhatikanlah respons yang tegas dan sering-seringlah memakai pertanyaan terbuka
  1. Mengendalikan suatu wawancara
  • Pakailah pertanyaan-pertanyaan peralihan untuk mengendalikan pasien yang berbicara bertele-tele. Pasien-pasien yang memberikan terlalu banyak keterangan rinci dan terlalu sedikit informasi dapat dikendalikan dengan pertanyaan-pertanyaan peralihan. Pertanyaan-pertanyaan ini mencakup interupsi yang diberikan dengan hati-hati dan tepat pada waktunya, pertanyaan yang memperjelas dan terarah yang mengubah topik pembicaraan dan menunjukkan perhatian pewawancara.
  • Mintalah ijin pasien untuk menyelidikan persoalan sensitif.

Hal seperti riwayat seksual, masalah percekcokkan pribadi, perlu dimintakan ijin sebelum kita menyelidiki mendalam. Perlihatkanlah perhatian anda dan jelaskanlah pentingnya informasi ini agar anda dapat memahami masalah yang ada.

  • Berikanlah Respon singkat jika pasien mengungkapkan emosinya.

Pasien berespon terhadap penyakit dengan emosi-emosi seperti takut, penyangkalan, depresi, gelisah atau bahkan panik. Jangan biarkan pasien menunjukkan emosi yang tidak terarah. Anda harus menentukan keseimbangan antara mempertahankan jarak yang tepat, menghindari perangkap moral, ketidakpekaan, atau menjauhi pasien.

  • Hindari memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi.

Berikanlah kesempatan kepada pasien untuk menjawab pertanyaan yang anda berikan dalam suasana yang santai . Jangan memberikan tekanan mental kepada pasien dengan pertanyaan bertubi-tubi yang seringkali menyebabkan pasien kewalahan untuk menjawab dan merasa tersudutkan.

  • Selidikilah semua petunjuk.

Semua petunjuk yang mampu kita peroleh dari pasien harus kita analisa secara mendalam. Seperti Emosi pasien, haruslah anda tentukan apakah anda menghadapi sikap watak tertentu ataukah ungkapan perasaan yang kuat tapi bersifat sementara waktu saja. Jika timbul kemarahan pasien, haruslah dihadapi segera karena bisa mengganggu hubungan Dokter-Pasien, Tanyakanlah mengapa pasien marah dan doronglah pasien untuk mengungkapkannya melalui kata-kata.

 

III. PEMERIKSAAN – PEMERIKSAAN

           Setelah kita memahami cara mempersiapkan diri kita untuk membentuk hubungan Dokter-Pasien yang baik, untuk mencapai pemeriksaan yang maksimal yang bermuara pada hasil perawatan yang maksimal pula. Maka perlulah kita memahami jenis-jenis pemeriksaan yang dikenal dalam Gerontologi klinik, yaitu :

  1. PEMERIKSAAN KLINIS
    • Riwayat

Karena banyak pasien tua menjadi tua mempunyai riwayat yang panjang dan rumit, dokter memerlukan teknik- teknik khusus untuk memperoleh semua informasi yang sesuai. Bila catatan medik sebelumnya tersedia pada saat kunjungan pertama, keseluruhannya dapat meningkatkan evaluasinya.

  • Keluhan Utama

Keluhan utama pada pasien–pasien geriatri adalah bagian utama daripada wawancara seperti pada setiap  pasien lain. Dengan pasien geriatri, ada sejumlah kompleksitas tambahan. Pertama harus ditentukan siapa yang mempunyai keluhan utama, pasien atau pemberi perawatan. Sebuah sasaran penting kedua adalah menetapkan secara tepat mengapa pasien datang pada waktu khusus ini. Keluhan-keluhan utama dapat diperoleh dari pasien maupun keluarga.

  • Riwayat Medis Masa Lalu

Beberapa aspek riwayat medis masa lalu mempunyai kepentingan khusus bagi lansia. Penyakit masa kanak-kanak mempunyai hubungan seperti riwayat cacar ( herpes zoster) dan penyakit jantung rematik. Riwayat makan harus mencakup kelompok-kelompok makanan, asupan kalori, konsumsi garam, kalsium dan kolesterol. Selain itu, pola-pola makan harus diketahui , sejalan banyak orang tua tidak makan tiga kali sehari. Sebuah riwayat pengobatan yang baik merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah penilaian geriatri. Banyak orang tua tidak hanya mempunyai banyak resep obat, tetapi juga sekumpulan obat yang sebelumnya diresepkan yang sebetulnya tidak diperlukan.

  • Riwayat Penyakit Sekarang

Bila riwayat penyakit masa lalu diperoleh, riwayat penyakit sekarang yang membingungkan dapat diperjelas diperjelas. Sesak napas dengan suatu riwayat miokard infark dan terapi betabloker dapat membantu memfokuskan pertanyaan-pertanyaan tambahan.

Ada banyak kelemahan umum dalam mewawancarai seorang pasien geriatri. Banyak dokter memulai wawancara dengan pendapat sebelumnya bahwa mereka tidak akan mampu memperoleh sebuah  riwayat yang jelas. Bila pasien dapat mendengar dan memahami pertanyaan-pertanyaan, dan diberikan waktu untuk mejawab, dan informasinya dapat dibenarkan oleh seorang anggota keluarga, sebuah riwayat akurat biasanya dapat diperoleh. Kelemahan lainnya terjadi ketika dokter mencoba untuk menghubungkan gejala–gejala dengan sebuah proses penyakit tunggal. Banyak masalah geriatri adalah masalah  yang multifaktorial.

  • Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga pasien penting dalam wawancara geriatri. Dalam banyak keadaan, informasi ini memberikan data tentang status kesehatan saudara- saudara kandung dan anak-anak yang

kemungkinan merupakan orang-orang pendukung potensial. Ini juga memberikan informasi tentang riwayat penyakit sebelumnya.             Sejumlah penyakit dimana riwayat keluarga bisa jadi berguna meliputi penyakit dementia, depresi, atau alkoholisme, kanker, diabetes, dan osteoporosis. Bila ada riwayat dementia dalam keluarga itu, banyak pasien akan memperhatikan peluang-peluang mereka menyangkut berkembangnya penyakit ini.

  • Riwayat Sosial

Pengetahuan tentang lingkungan sosial dan fisik pasien-pasien tua adalah penting dalam menetapkan tingkat kemandirian mereka. Sebuah penilaian latar belakang harus menyatakan tempat kelahiran, pendidikan, riwayat pekerjaan, riwayat perkawinan, dan anak-anak. Kelompok terkini lansia tidak selalu mempunyai pendidikan wajib dan banyak orangtua tidak dapat membaca atau menulis. Mereka akan enggan untuk menyebutkan hal ini bila tidak ditanya. Seorang dokter juga seringkali salah mengasumsikan bahwa sebuah perkawinan panjang merupakan perkawinan yang bahagia, atau anak- anak yang hidup disekitar memperhatikan kesejahteraan orangtua mereka.

Orang-orang yang mendukung adalah penting untuk dikenali, dan informasi tentang kesehatan mereka adalah juga penting, utamanya pada kasus pasangan atau saudara kandung. Meskipun anggota keluarga biasanya memberikan perawatan yang baik, penyalahgunaan fisik, finansial, atau psikologis dapat terjadi.

Terakhir, sebuah penilaian tentang aktivitas-aktivitas adalah penting. Apakah pasien pergi keluar untuk berjalan-jalan, menuju sebuah panti jompo, gereja, atau restoran? Memiliki teman-teman untuk diajak bicara lewat telepon? Menonton TV atau surat kabar atau buku-buku? Menikmati aktivitas – aktivitas lain misalnya berkebun, bermain golf, atau bertukang kayu?

  • Riwayat Seksual

      Perlu ditanyakan karena sebagian besar impotensi disebabkan bukan karena efek psikologis melainkan karena penyakit organik.

      Pengumpulan data yang akurat dapat menyediakan informasi penting untuk diagnosa dan penatalaksanaan. Keinginan untuk mendapatkan informasi secara lengkap merupakan ciri ahli geriatri yang baik.

  1. PEMERIKSAAN FISIK

      Dengan banyaknya penyakit yang diderita lansia maka dengan sendirinya akan diperlukan banyak waktu untuk melakukan pemeriksaan fisik yang adekuat, namun seringkali hanya sedikit waktu yang disediakan dokter untuk melayani lansia.

      Ada beberapa aspek dalam pemeriksaan fisik yang membutuhkan perhatian khusus pada lansia, tapi prinsip pemeriksaan tetap sama pada setiap individu dari berbagai usia. Hanya beberapa manuver yang memerlukan perhatian khusus dan beberapa penemuan penting yang dianggap cukup berharga untuk menilai kondisi lansia.

      Perhatian lebih harus ditujukan pada evaluasi tanda vital. Misalnya pada pengukuran tekanan darah, sebaiknya dilakukan pada saat pasien berbaring tenang selama kurang lebih 10 menit, dan pada saat berdiri selama kurang lebih 3 menit, hal ini bertujuan untuk menyingkirkan adanya hipotensi postural. Catatan harus dibuat, baik pada saat pasien mengalami gejala atau tidak selama berdiri, dan setiap perubahan tekanan darah dan nadi sebaiknya dicatat pula.

           Denyut nadi secara rutin dicatat pada setiap individu tapi kelemahan baroreflek pada lansia bermanfaat untuk mengetahui adanya takikardi dan tingkatannya pada saat tekanan darah jatuh bila pasien berdiri.

           Pengukuran tinggi badan penting dilakukan untuk mengukur Indeks Massa Tubuh, tapi lansia harus tetap ditimbang setiap kali akan melakukan evaluasi medik pada berbagai kondisi. Pengukuran berat badan penting dalam menentukan status gizi dan menghitung angka kebutuhan cairan, selain itu kehilangan berat badan pada lansia tanpa disadari merupakan hal yang berbahaya.

           Kulit pada lansia seringkali menampilkan banyak abnormalitas. Penilaian turgor kulit cenderung sulit dilakukan karena dengan bertambahnya usia terjadi pengurangan jumlah lemak subkutan dan kulit lansia menjadi keriput. Maka untuk menilai turgor sebaiknya dilakukan di daerah pipi.

           Beberapa area kulit yang mengalami ruam akibat penekanan perlu juga dievaluasi, termasuk adanya hiperpigmentasi dan hyperkeratosis. Area penekanan yang kecil sekalipun dapat mencetuskan timbulnya luka dan harus mendapat perhatian untuk 2 alasan. Pertama, adanya satu luka kecil akibat penekanan akan memicu timbulnya luka baru di tempat lainnya dan kedua, kebanyakan luka akibat penekanan berbentuk kerucut dengan puncak di kulit dan melebar pada bagian dalamnya hingga mengenai jaringan subkutan bahkan otot.

            Beberapa aspek dari leher dan kepala juga mendapat perhatian lebih pada lansia. Dahulu adanya arcus senilis pada mata dikatakan merupakan tanda dari penyakit kardiovaskular yang dini, akan tetapi untuk saat ini depigmentasi pada iris dikatakan hanya sebagai akibat proses penuaan saja. Walaupun glaucoma merupakan kebutaan yang cukup banyak dan cenderung jumlahnya meningkat seiring pertambahan usia, hasil pengukuran tekanan intraokuler yang normal dari Tonometer Schiotz belum tentu menyingkirkan diagnosa glaucoma karena bisa saja pengukuran terjadi pada saat variasi diurnal. Oleh karena itu untuk screening sebaiknya dilakukan funduskopi dan uji lapangan pandang secara sederhana dengan memakai tes konfrontasi, terutama pada pasien yang beresiko tinggi.

           Palpasi arteri temporalis harus dilakukan untuk mengetahui apakah telah terjadi penebalan maupun penipisan arteri pada pasien walaupun tidak memberikan gejala, karena artritis temporalis biasanya memberi gejala yang tersamar bahkan tidak lazim. Demikian hal dengan bising Arteri Karotis yang harus dicatat dan diikuti setiap saat, karena bila bising ini terdengar keras maka telah terjadi proses arterosklerosis yang bersifat menyeluruh yang dapat berakibat insufisiensi koroner dan juga gejala cerebrovaskuler.

 Penilaian terhadap rongga mulut tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan penilaian yang lain. Harus diperiksa adanya lesi kanker rongga mulut atau gigi yang berlubang, serta kecukupan saliva karena berhubungan status gizi lansia.

            Pemeriksaan terhadap cor dan pulmo sama halnya dengan pemeriksaan pada individu muda lainnya. Tapi beberapa penemuan klinis memiliki makna yang berbeda dan membutuhkan interpretasi yang berbeda pula. Misalnya murmur sistolik sering terjadi pada usia lebih dari 70 tahun dan merupakan  tanda dari sclerosis katup aorta. Murmur ini bersifat crescendo dan decrescendo dalam grade 2 dari 6. Murmur dengan grade 3 atau lebih bahkan dengan adanya gejala pingsan setelah beraktivitas atau serangan angina memerlukan pemeriksaan pada dokter Spesialis Jantung.

Sebaliknya tanda penting pada aorta stenosis yaitu absennya suara 2 jantung dikatakan sebagai hal yang normal pada lansia karena terjadi peningkatan tekanan darah arteri yang kaku.

            Pemeriksaan mamae dan pelvis pada lansia wanita perlu dilakukan secara rutin. Karena seringkali keganasan timbul dikedua tempat ini. Ovarium yang teraba 10 tahun setelah menopause harus dicurigai sebagai tumor. Pemeriksaan daerah genital dan rectal baik pada lansia wanita maupun pria membuka kesempatan untuk menilai fungsi berkemih dan fungsi dari usus besar serta lesi yang terdapat didaerah anus. Vaginitis atroficans, uretritis, rectocele, prolaps uteri dan adanya inkontinensia dapat dideteksi secara mudah.

  1. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

Pemeriksaan neurologis harus dilakukan secara teliti, karena pada lansia sering terjadi kelainan neurologis secara primer dan sekunder sebagai manifestasi dari penyakit lainnya yang mengakibatkan disfungsi pada sistem saraf. Demikian halnya pada status mental pasien lansia sebagai alat screening standard dan sensitive dalam menilai lansia baik dengan keluhan maupun tanpa keluhan, keduanya diperlukan untuk menentukan standar keperawatan dan mengetahui adanya abnormalitas yang membutuhkan penangganan lebih lanjut. Pemeriksaan neurologis yang dinilai adalah keadaan umum, tanda-tanda perangsangan meningeal, tanda peningkatan TIK, pupil, Nn.craniales, sistem motorik dan sensorik, fungsi cerebellum dan koordinasi, fungsi luhur, refleks fisiologis dan refleks patologis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *