PEMERHATIAN PENUH MENUJU IBU SEHATDALAM UPAYA PREVENTIF MENGURANGI MORTALITAS ANAK

Munfada Maulidiya Agustin

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa. Sekretaris utama BKKBN, Sudibyo Alimoeso menjelaskan bahwa berdasarkan sensus tahun 2010 diketahui bahwa pertumbuhan penduduk melebihi proyeksi nasional yaitu sebesar 237,6 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) 1,49 per tahun. (republika.co.id, 05/06/2011) Dengan jumlah ini, bukan lantas mempersoalkan bagaimana cara penekanan perkembangan penduduk. Seharusnya pemerintah segera merealisasikan program keluarga berencana yang sepertinya kurang berjalan agar dapat dipikirkan bagaimana  meningkatkan kualitas penduduk dengan menekan angka kematian ibu dan bayi dengan program KB.

Laporan SDKI pada survei tahun 2007 menyebutkan, angka kematian ibu 307 per 100.000 kelahiran bayi hidup sedangkan di tahun yang sama, UNICEF, WHO, dan World Bank memperkirakan lebih tinggi yakni 420 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi dan balita di Indonesia juga mencapai titik yang menghawatirkan AKB atau Angka Kematian Bayi tidak jauh berbeda dengan AKI ( Angka Kematian Ibu). Survey Demografi Kesehatan Indonesia menyebutkan bahwa AKB di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 228 per 100.000 kelahiran bayi.(Kemenkes RI,2009)

Angka Kematian Bayi

Angka Kematian Bayi Sumber : Kemenkes RI 2010

 

Penyebab Kematin Ibu Melahirkan

Angka kematian ibu dan anak tidak jauh dari peran ibu itu sendiri ketika masa sebelum kehamilan, kehamilan, kelahiran maupun pasca kelahiran. Kesehatan ibu harus senantiasa diperhatikan terutama ketika masa kehamilan dan kelahiran. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian, meskipun masih banyak faktor yang harus  diperhatikan untuk  menangani masalah ini.

Penyebab kematian ibu melahirkan terdapat tiga faktor utama, yaitu pendarahan, hipertensi saat hamil atau pre eklamasi dan infeksi. Ketiga faktor ini masih belum dapat tertangani dengan baik dengan bukti persentase kematian akibat perdarahan masih mencapai 28%, sedangkan 24% pada hipertensi saat hamil atau eklamasi. Eklamasi biasanya terjadi ketika kehamilan dan berakhir setelah kehamilan itu selesai. Namun terdapat juga beberapa yang berlanjut setelah melahirkan bayinya.(Kemenkes RI,2010)

 Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. Dari hasil survei yang dilakukan AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus.(Kemenkes RI,2010)

Solusi Pemerintah

Untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, pemerintah telah mencanangkan beberapa tawaran untuk meningkatkan kualitas persalinan. Pada dasarnya seorang ibu harus memiliki akses dengan tenaga kesehatan. Namun, pada kenyataannya akses menjadi persoalan yang berat di beberapa kawasan Indonesia. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi, terutama pada daerah-daerah tertinggal seperti masalah transportasi, kondisi cuaca, serta jumlah tenaga kesehatan yang masih kurang. Hal ini tentu menyulitkan rujukan ke fayankes (fasilitas pelayanan kesehatan) terutama bagi ibu dengan komplikasi.

Pada daerah-daerah yang memiliki kasus resiko tinggi, jelas membutuhkan fayankes yang memadai. Maka ibu hamil diupayakan harus sudah berada di dekat fasyankes beberapa hari sebelum bersalin. Rumah tunggu kelahiran merupakan solusi bagi ibu hamil sebagai tempat tinggal sementara beserta pendamping baik keluarga atau suami sebelum persalinan tiba dan beberapa hari setelah bersalin. Sasaran utama rumah tunggu ini adalah daerah-daerah yang tertinggal yang memiliki akses kesehatan sulit serta resiko tinggi. Rumah Tunggu Kelahiran dapat berupa rumah atau ruangan yang merupakan bagian dari rumah atau bangunan lain. Rumah Tunggu Kelahiran dapat juga dipilih dari rumah keluarga atau kerabat ibu hamil, asalkan jaraknya dekat dengan fasyankes serta memiliki akses dan transportasi mudah. (Admin, 2011)

Pada buku Pedoman Rumah Tunggu Kelahiran dijelaskan, berdasarkan lokasi dan fungsinya, Rumah Tunggu Kelahiran dapat dibedakan menjadi:

  1. Rumah Tunggu Poskesdes, yaitu rumah tunggu yang berada dekat Poskesdes, digunakan bagi ibu hamil yang non-risiko.
  2. Rumah Tunggu Puskesmas, yaitu rumah tunggu yang berada dekat Puskesmas, digunakan bagi ibu hamil yang non-risiko atau yang memiliki risiko yang dapat ditangani sesuai kemampuan Puskesmas.

Rumah Tunggu Rumah Sakit, yaitu rumah tunggu yang berada dekat rumah sakit, digunakan bagi ibu hamil dengan risiko tinggi.

Kematian ibu juga masih banyak diakibatkan faktor resiko tidak langsung berupa keterlambatan (tiga terlambat), yaitu terlambat mengambil keputusan dan mengenali tanda bahaya, terlambat dirujuk, dan terlambat mendapat penanganan medis. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong  oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. (Bagus,1998) Namun, menurut hasil Riskesdas 2010, persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin baru mencapai sekitar 69,3%. Sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4%.Keadaan ini banyak disebabkan oleh kendala biaya sehingga diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Dalam upaya menjamin akses pelayanan  persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB, maka pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan upaya terobosan berupa Jaminan Persalinan (Jampersal). (Admin,2011)

Jampersal dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan, yang di dalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir. Dengan demikian, kehadiran Jampersal diharapkan dapat mengurangi terjadinya Tiga Terlambat tersebut sehingga dapat mengakselerasi tujuan pencapaian MDGs, khususnya MDGs 4 dan 5.

Korelasi antara ibu sehat dan pencegahan mortalitas anak

Permasalahan AKB sebenarnya dapat ditangani oleh secara mandiri oleh ibu jika ibu dapat memperhatikan kesehatan bayinya sendiri. Cara memperhatikan janin mulai dari awal kehamilan hingga melahirkan merupakan tanggungjawab dari tenaga kesehatan untuk memberikan solusi dan penyuluhan. Setiap poskesdes harusnya memberikan penyuluhan secara rutin bagi ibu hamil, baik secara indoor maupun outdoor mengingat kesadaran masyarakat terutama di kalangan menengah ke bawah masih rendah untuk memeriksakan kandungannya.

Suami istri seharusnya dapat merencanakan secara matang kehamilan, sehingga kelahiran yang diharapkan akan berkualitas. Salah satu upayanya adalah mejalani program KB (Keluarga Berencana). Ada dua jenis KB yang ditawarkan, yakni KB alami dan KB dengan menggunakan alat. KB alami (abstinensi yakni berhenti melakukan hubungan suami istri dan senggama terputus) cenderung dapat menyebabkan gangguan jiwa pada salah satu pasangan. Dengan demikian, solusi KB yang lain adalah dengan menggunakan kondom, pil kontrasepsi,atau juga dengan suntikan. (Suraj,2004)

Seorang ibu harus mengetahui bagaimana tanda-tanda kehamilan. Sehingga ketika gejala-gejala muncul segera dapat dikenali dan memeriksakan dugaan kehamilan tersebut. Setelah positif hamil, ibu harus rutin memeriksakan kandungannya setiap bulan sampai bulan ke tujuh. Setelah bulan ke tujuh, ibu mulai memeriksakan kandungannya dua minggu sekali hingga bulan ke sembilan. Selain itu, ibu hamil juga harus memperhatikan perawatan dirinya mulai dari hal yang paling sederhana dan tidak memerlukan biaya banyak. Mulai dari baju yang dikenakan, tidak boleh terlalu ketat sehingga tidak menekan perut. Makanan yang dikonsumsi juga harus diperhatikan. Pola diet yang baik bagi ibu hamil adalah dengan menambah 300kalori perhari. Tidak harus dengan makanan mahal, namun dengan makanan pemberi energi misalnya nasi, gandum,tepung dan kentang. Lalu dengan makanan yang membangun tubuh seperti kacang-kacangan,serta makanan pelindung yakni buah dan sayur. (Admin, 2010)

Seorang ibu harus meninjau kembali 4T ketika dia merencanakan hamil, yaitu terlalu banyak anak, terlalu pendek jarak antara hamil dan bersalin,terlalu muda hamil dan melahirkan, terlalu tua untuk hamil kembali. Jika keempat halini sudah ditinjau kembali, maka bukan tidak mungkin jika kehamilan dan kelahiran yang akan dijalani memiliki kualitas yang baik. Suraj Gupte menjelaskan, selama masa kehamilan, seorang ibu akan mengalami beberapa permasalahan yang rentan akan berpengaruh kepada dirinya maupun bayi yang dikandungnya. Antara lain sebagai berikut :

  1. Anemia. Wanita hamil mengalami peningkatan Hb antara 10-11 dan menghemat 25mg zat besi karena setiap bulan tidak mengalami menstruasi, namun janin memerlukan 400mg zat besi dan plasenta 150mg. Oleh karena itu, wanita hamil ekstra membutuhkan tambahan zat besi.
  2. Diabetes mellitus. Ibu dengan DM dpat beresiko kematian janin di dalam kandungan sehingga harus mendapat perawatan.
  3. Toksimia kehamilan. pre-eklampsia merupakan bentuk dari toksimia kehamilan yang paling umum. Gejala awalnya adlaah tekanan darah tinggi dan bengkak pada mata dan kaki serta berat badan naik. Pre eklamasi haru ssegera ditangani karena menjadi penyebab kedua kematian ibu.

            Selain itu, tedapat penyebab lain yang perlu diwaspadai yaitu malaria. Salah satu kelompok yang rentang terhadap malaria adalah ibu hamil. Malaria dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif terhadap ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Malaria dapat mengakibatkan kematian ibu dan kematian bayi, atau menyebabkan berbagai komplikasi pada ibu, janin, dan bayi baru lahir. Komplikasi malaria pada ibu hamil meliputi anemia, demam, hipoglikemia, malaria serebral, edema paru, dan sepsis. Terhadap janin dalam kandungan, malaria dapat mengakibatkan berat lahir rendah, abortus/keguguran, kelahiran prematur, kematian janin dalam kandungan (intra-uterine fetal death, IUFD), gangguan/hambatan pertumbuhan janin (intra-uterine growth retardation, IUGR), dan malaria bawaan. (Kemenkes RI, 2011)

Memperhatikan penuh pre, intra dan post kelahiran menjadi suatu ‘kewajiban’ untuk ibu. Ketika bayi lahir dengan selamat, maka ibu juga harus mempersiapkan dan tahu kebutuhan bayinya. WHO dan UNICEF merekomendasikan langkah-langkah berikut untuk memulai dan mencapai ASI eksklusif :

  • Menyusui dalam satu jam setelah kelahiran
  • Menyusui secara eksklusif: hanya ASI tanpa ditambahkan makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun.
  • Menyusui kapanpun bayi meminta (on-demand), sesering yang bayi mau, siang dan malam
  • Tidak menggunakan botol susu maupun empeng
  • Mengeluarkan ASI dengan memompa atau memerah dengan tangan, disaat tidak bersama anak.
  • Mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang
  • Menyusui selama 6 bulan tanpa diselangi dengan apapun.

Jika ASI tidak dapat diberikan,  maka dapat digantikan dengan susu formula secara eksklusif hingga enam bulan, kemudian dilanjutkan dengan MPASI sampai umur setahun. (Depkes RI, 2004)

Cerdasnya ibu dalam mengatur kehamilannya berbuah juga kepada janinnya. Memperhatikan hal-hal terkait dengan kehamilan dapat meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayinya. Penekanan angka kematian ibu dan anak sebenarnya tidak terlalu rumit jika tenaga kesehatan mampu memberikan penyuluhan kepada ibu hamil tentang perawatan kehamilan dan membantu mereka melaksanakan program tersebut. Background itu semua adalah pemerintah yang memiliki kewajiban untuk ‘memelihara’ rakyatnya. Pengaruh pemerintah dalam menekan angka kematian ibu dan bayi sangat diperlukan. Namun, perlu ditinjau kembali apakah rencana dari pemerintah sudah cukup mampu untuk dilaksanakan dan diterima semua orang. Terutama di daerah yang memiliki resiko AKI dan AKB tinggi seperti daerah miskin dan tertinggal. Apakah sudah merata upaya yang dilakukan? Atau hanya dikawasan ‘berduit’ saja yang tertangani baik? Sekali lagi, perlu adanya kerjasama antara semua pihak,  baik dari pemerintah maupun dari masyarakat untuk mewujudkan MDGs 4 dan 5. Jika ibu hamil sehat dan dapat memperhatikan kualitas bayinya, maka bayi yang lahirpun akan sehat sehingga dapat mengurang jumlah AKB.

Daftar Pustaka

Admin, 2011.Rumah Tunggu Kelahiran Sebagai Salah Satu Upaya Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu. Diakses melalui http://kebijakankesehatanindonesia.net.

Bagus, Ida Gde Manuaba. 1998. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan

Depkes RI. 2004. Ibu Berikan ASI Eksklusif Baru Dua Persen. Jakarta.

Gupte, Suraj. 2004. Panduan Perawatan Anak. Jakarta : Pustaka Populer Obor

Kementrian Kesehatan RI. 2010. Buku Acuan Pelayanan pada Ibu Hamil. Jakarta

Kementerian Kesehatan RI. 2010. Buku Acuan Pelayanan Antenatal dalam Pencegahan dan Penanganan Malaria pada Ibu Hamil. Jakarta

Kementrian Kesehatan RI. 2009. Pedoman Pelayanan Rumah Tunggu Kelahiran. Jakarta.

Prediksi BKKBN: 2011, Penduduk Indonesia 241 Juta Jiwa. 2011. Diakses melalui http://republika.co.id pada tanggal 20 September 2011.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *