Aktivitas nelayan tradisional tidak pernah lepas dari perburuan di kegelapan malam. Dengan membawa peralatan tangkap seadanya, hasil tangkap yang didapat sering kali kurang maksimal. Para nelayan yang terbiasa menggunakan metode konvensional itu juga kerap kalah  cepat nelayan dari negara lain yang menggunakan teknologi lebih modern. Di tengah kesulitan mencari ikan dengan cara tradisional, sebenarnya telah dikembangkan teknik penangkapan ikan berbasiskan teknologi modern. Sebut saja salah satunya adalah teknologi penginderaan jauh (inderaja). Teknologi inderaja atau remote sensing di dalam laut dinamakan acoustic instrument atau perangkat akustik.
Teknologi inderaja berfungsi mendeteksi objek tanpa harus bersentuhan langsung dengan objek tersebut. Jarak objek yang mampu dideteksi lebih dari 20 meter. Teknologi itu sangat berguna untuk memberikan informasi mengenai kondisi perairan kepada nelayan. Teknologi inderaja kebanyakan digunakan di permukaan laut. Oleh karena itu, untuk kebutuhan pencarian ikan, diperlukan teknologi penginderaan yang dapat mencapai dasar laut yang disebut underwater acoustic (akustik bawah laut) atau hydroacoustic. Teknik akustik bawah laut tidak menggunakan medium udara sebagai jalur perambatan gelombang suaranya, melainkan memanfaatkan air. Sebagaimana diketahui, kecepatan suara di air mencapai tiga kali lipat dari perambatan di udara. Apabila di udara kecepatan suara hanya mencapai 340 meter per detik, di air kecepatannya bisa mencapai 1.500 meter per detik. Berdasarkan hal itulah, teknik akustik efektif diterapkan untuk mendeteksi kondisi di bawah permukaan laut. Hydroacoustic sebenarnya teknik yang lazim digunakan oleh angkatan laut untuk kepentingan militer. Seiring perkembangan waktu, teknik akustik juga banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan nonmiliter. Dengan konsep serupa seperti yang diterapkan pada sonar (sound navigation and ranging), teknologi akustik kini digunakan pula untuk kegiatan penelitian, survei kelautan, dan perikanan. Wilayah pendeteksian mencakup pesisir hingga laut lepas. Teknologi itu juga efektif difungsikan pada kedalaman 6.000 meter. Untuk perikanan, metode akustik berguna untuk mendeteksi jumlah populasi dan pergerakan sumber daya hayati secara akurat dan cepat. Menurut ahli teknologi akustik Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Agus Cahyadi, dalam setiap pergerakan ikan selalu menimbulkan gelombang renang. Gelombang renang ini adalah kunci dari pemantulan efek suara yang dipancarkan oleh transducer.      Transducer adalah sebuah alat untuk mengubah satu bentuk daya menjadi bentuk daya lainnya. Instrumen teknologi akustik terdiri dari sebuah transmitter (pemancar) dan transducer. Saat pemancar membangkitkan listrik dalam frekuensi tertentu, hasil pancarannya kemudian disalurkan ke transducer. Frekuensi yang dihasilkan pemancar terbagi atas dua, yaitu frekuensi tinggi (200 kilohertz) dan rendah (38kilohertz).
Frekuensi tinggi hanya digunakan untuk menganalisis pergerakan  ikan di perairan dangkal sedangkan frekuensi rendah dapat digunakan untuk mendeteksi ikan di laut dalam. Apabila frekuensi tinggi digunakan pada perairan dalam, gangguan akan semakin banyak, seperti pantulan dari dasar laut,. Di dalam transducer, pancaran energi listrik diubah menjadi suara. Selanjutnya, suara yang telah berbentuk pulsa tersebut akan dipancarkan. Pulsa suara yang terpancar dari transducer itu menjalar di medium air dan menembus gelombang renang dari ikan-ikan tersebut. Agus menjelaskan jika diasumsikan seperti bola, gelombang renang bulat yang berjumlah banyak itu akan terkena pancaran suara. Pancaran suara itu kemudian akan dipantulkan kembali dalam bentuk echo (gema).dan disambut oleh transducer. Setelah diterima kembali oleh transducer, frekuensi suara tersebut diperkuat oleh receiver amplifier (penguat penerima). Penguat penerima itu kemudian akan menentukan intensitas pancaran suara dalam satuan desibel. Andaikan desibelnya rendah, dalam layar akan terjadi representasi warna biru dan bila desibelnya tinggi akan berwarna merah. Semakin tinggi decibel dipastikan ikan berenang secara berkelompok di perairan dangkal,
Agar pendeteksian lebih akurat, perangkat akustik ditambahkan sebuah scientific recording. Perangkat itu seperti sebuah bank data yang menyimpan segala informasi yang masuk dari hasil pancaran suara transducer. Data yang masuk dalam scientific recording akan dianggap sebagai data acuan pengenalan karakteristik makhluk laut. Presisi yang didapatkan oleh scientific recording sangat tinggi dan sanggup menghimpun data lebih banyak dari metode penginderaan biasanya. Bahkan, kata Agus, data mengenai golongan spesies dari objek yang terdeteksi juga bisa dimunculkan. Scientific recording menilai karakteristik seekor ikan merujuk pada gelombang renang yang terekam. Ada empat jenis ikan yang terbaca oleh alat itu, yaitu ikan karang, ikan demersal, pelagis besar, dan pelagis kecil. Pada ikan karang yang tidak melakukan pergerakan sama sekali, pantulannya tidak lagi bergantung pada gelombang renang, namun terpusat pada tulangnya.
Di Indonesia, saat ini scientific recording hanya dimiliki oleh lembaga-lembaga penelitian. Dari lembaga penelitian itulah para nelayan memperoleh informasi letak persebaran spesies tertentu, seperti ikan tuna. Sayangnya, harga alat-alat akustik itu masih terbilang mahal. Harga seperangkat instrumen akustik tanpa scientific recording saja sekitar 1 juta hingga 3 juta rupiah, sedangkan seperangkat alat akustik lengkap dengan scientific recording harganya dapat mencapai 1,5 miliar rupiah. Saat ini, perangkat akustik baru diproduksi oleh Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, dan Norwegia. Polusi Suara Kemudahan yang dihadirkan teknologi kelautan sering kali berbarengan dengan risiko yang mengancam ekosistem laut. Seperti halnya teknologi akustik walaupun hanya berbentuk suara, penggunaannya yang berlebihan bisa berdampak negatif pada kehidupan hewan mamalia laut, misalnya saja pada lumba-lumba dan paus. Kedua jenis ikan itu sangat sensitif pada mekanisme pemancaran suara. Saat ini, polusi suara di laut telah mencapai taraf memprihatinkan. Laut menjadi berisik akibat penggunaan suara akustik yang berlebihan. Tidak hanya teknologi militer, kelautan, dan perikanan saja yang menggunakan suara akustik, tapi juga aktivitas pengeboran minyak dan penelitian. Saat berada dalam air, suara akustik buatan susah bahkan tidak bisa dihilangkan. Akibatnya, fungsi lingkungan pun dapat berubah. Lumba-lumba akan sulit untuk menemukan mangsanya, sedangkan paus sulit bermigrasi. Saat suara akustik kedua hewan mamalia tersebut bertemu dengan keramaian suara akustik lainnya, akan terjadi bend akustik. Efek dominonya, terjadi disorientasi yang menyebabkan hewan-hewan itu hilang kendali. Apabila tidak kuat menghadapi tekanan suara akustik yang berisik itu, dapat dipastikan mereka akan mati. Sedikitnya ini telah terbukti dari banyaknya hewan mamalia yang terdampar lalu mati di berbagai belahan pantai di dunia.