BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Pasang surut (pasut) pada umumnya dikaitkan dengan proses naik turunnya permukaan laut (sea level) yang ditimbulkan oleh adanya gaya tarik menarik dari benda-benda angkasa terutama Matahari dan Bulan (Pariwono, 1989). Wibisono (2005), menyebutkan bahwa pasang surut adalah gerakan vertikal dari seluruh partikel massa air laut dari permukaan sampai bagian paling dalam dari dasar laut yang disebabkan oleh pengaruh dari gaya tarik antara Bumi dan benda-benda angkasa terutama Matahari dan Bulan. Meskipun massa bulan jauh lebih kecil dari massa Matahari, tetapi karena jaraknya ke Bumi jauh lebih dekat, maka pengaruh gaya tarik Bulan terhadap Bumi jauh lebih besar daripada pengaruh gaya tarik Matahari (Triatmodjo, 1996).
Ada tiga gaya yang berperan dalam pembentukan pasang surut yaitu :
1. Gaya tarik gravitasi
2. Gaya sentrifugal
3. Gaya pembangkit pasang surut (tide generating force).

2.1.1 Tipe Pasang Surut
Pasang surut suatu perairan sebenarnya hanya tiga jenis (type) pokok, yakni sebagai berikut :
1. Pasang surut tipe Harian Tunggal : yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat satu kali pasang dan satu kali surut. Tipe ini sering disebut sebagai diurnal type.
2. Pasang surut tipe Harian Ganda : yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat dua kali pasang dan dua kali surut. Tipe ini sering disebut sebagai semi-diurnal type.
3. Pasang surut tipe campuran : yakni bila dalam waktu dalam 24 jam terdapat bentuk campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau condong ke tipe harian ganda. Tipe ini sering disebut sebagai (mixed) (Wibisono, 2005).

2.1.2 Gaya Pembangkit Pasang Surut :
Dari semua benda angkasa yang mempengaruhi proses pembentukan pasang surut air laut, hanya matahari dan bulan yang sangat berpengaruh melalui tiga (3) gerakan utama yang menentukan “denyut” paras laut di bumi ini. Ketiga gerakan tersebut adalah:
1. Revolusi bulan terhadap bumi, dimana orbitnya berbentuk ellips dan memerlukan waktu 29,5 hari untuk menyelesaikan revolusinya.
2. Revolusi bumi terhadap matahari, dengan orbitnya berbentuk ellips juga dan periode yang diperlukan untuk revolusi ini adalah 365,25 hari.
3. Perputaran bumi terhadap sumbunya sendiri dan waktu yang diperlukan adalah 24 jam (one solar day).
Secara keseluruhan gaya tarik bulan diimbangi oleh gaya sentrifugal. Keseimbangan kedua gaya inilah yang membuat bumi dan bulan tetap berada posisinya masing-masing. Namun disetiap titik tidak selalu gaya tarik bulan diimbangi oleh gaya sentrifugal. Resultan dari gaya tarik bulan dan gaya sentrifugal menghasilkan suatu gaya yang disebut gaya pembangkit pasang surut. Gambar 2.1 berikut menjelaskan gaya pembangkit pasang surut inilah yang bertanggung jawab terhadap pembentukan pasang surut (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).
Gerakan air laut berdasarkan penyebabnya digolongkan dalam beberapa kelompok yaitu :
1. Termohaline : Gerakan air laut yang terjadi karena adanya perbedaan densitas air laut. Efek ini dinamakan juga efek Baroklinik.
2. Gerakan angin sangat berpengaruh pada lapisan atas, gelombang pendek dan upwelling.
3. Arus Pasang surut, gerakan utama adalah horizontal dan sangat periodik yang disebabkan oleh gaya gravitasi bulan dan matahari.
4. Tsunami seismik dihasilkan ketika terjadi pergerakan di dasar laut selama gempa bumi. Tsunami kecil kontribusinya terhadap energi laut. Namun karena munculnya dalam waktu singkat sehingga kerapatan energinya sangat tinggi.
5. Gerakan turbulensi dihasilkan dari gerakan melingkar air laut pada arah yang berlawanan dan sangat berperan pada kehilangan energi gerak air laut.
6. Ada bermacam-macam gerakan lainnya seperti aktifitas biologi, hujan, dan aktifitas lainya yang relatif kecil (Pond and Pickard, 1983).
Sesuai dengan teori kesetimbangan, secara teoritis pasang surut dapat diprediksi di setiap lokasi di atas permukaan bumi ini sebagai beberapa istilah yang mengandung komponen harmonik dalam pengembangan polynomial yang mewakili gaya pembangkit pasang surut (Irwandi, 2000). Bagaimanapun juga, pasang surut yang sesunguhnya tidak sesuai dengan nilai teoritis ini karena dari friksi dan inersia sangat berbeda pada kedalaman dan distribusi massa dari planet bumi (Schureman,1924).

Comments