Osmoregulasi merupakan upaya yang dilakukan organisme dalam mengatur tekanan internal dalam tubuh untuk menyesuaikan diri dengan tekanan eksternal di lingkungan perairan. Sugiri (1999) menyatakan bahwa adaptasi fisiologis  adalah kemampuan organisme hewan air untuk menyesuaikan fungsi organ tubuh merupakan. Kemampuan adaptasi fisiologis yang dapat dilakukan oleh ikan nila merah adalah menyesuaikan diri terhadap rentang salinitas yang lebar (eurihaline) (Perschbacher, 1992).

Ikan air tawar (contoh: ikan nila), kondisi cairan internal tubuhnya bersifat hipertonis terhadap lingkungan. Cairan internal pada vertebrata air tawar mencapai 10 ppt, hal ini bisa mengakibatkan cairan internal di dalam tubuh keluar dengan cara difusi melalui sel permeabel atau alat eksresi, seperti insang, kulit dan ginjal. Selain itu, ikan air tawar bisa mengalami pemasukan air yang berlebihan (Sugiri, 1999).

Laju aliran urin pada vertebrata air tawar jauh lebih tinggi daripada yang dialami oleh hewan laut. Akan tetapi, pengeluaran urin juga menyebabkan pengeluaran ion. Ikan air tawar memiliki peluang yang besar untuk memasukkan air ke dalam tubuhnya, terutama melalui insang. Sebagai pengganti garam yang hilang, hewan tersebut akan mengambil garam melalui insang dengan cara transpor aktif. Dalam hal ini, insang berfungsi sebagai alat untuk memasukkan garam ke dalam tubuh dengan cara transpor aktif, sekaligus untuk membuang kelebihan garam secara difusi. Penggantian ion yang terlepas ke dalam air dapat dilakukan dengan makan, namun sumber masukan ion yang utama adalah transpor aktif melalui insang (Isnaini, 2000).

Bagian insang yang berperan dalam proses transpor aktif dan osmoregulasi adalah sel chloride yang terletak pada dasar lembaran-lembaran insang. Sel chloride sebagai regulator ion pada epitel insang berfungsi  mengambil NaCl, Na2+ dan menyeimbangkan asam basa pada proses adaptasi air laut pada ikan nila (Sharaf, 2004). Takashima (1995) menyatakan bahwa sidat air tawar yang diadaptasikan dari perairan tawar menuju perairan laut membutuhkan waktu 2 – 4 hari untuk penyesuaian sel chloride pada insang atau 7 – 10 hari untuk meningkatkan sel chloride. Insang berkembang menjadi tipe insang yang sesuai untuk air laut dalam waktu satu bulan setelah proses aklimatisasi.

Semakin jauh perbedaan tekanan osmotik antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energi metabolisme yang dibutuhkan untuk melakukan osmoregulasi sebagai upaya adaptasi, hingga batas toleransi yang dimilikinya. Dengan kata lain salinitas air sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup hewan air (Isnaini, 2000).

REFERENSI 

Sugiri, Nawangsari (Ed.) 1999. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.

Perschbacher, W. Peter. 1992, A Review of Seawater Acclimation Procedures for Commercially Importanr Euryhaline Tilapias, Asian Fisheries Sciene 5, 241 – 248.

Isnaini, Wiwid, 2000. Fisiologi Hewan. Kanisius, Yogyakarta.

Sharaf, M. Mariam dkk, 2004, The Effect of Aclimatization of Fresh Water Red Hybrid Tilapia in Marine Water, Pakistan Journal of Biological Sciences, 7(4) 628 – 632.

Takashima, Fumiyo, 1995. Fish Histology. Kodansha LTD, Jepang.