BAB XXXII
OLAHRAGA PADA LANSIA

TUJUAN BELAJAR

TUJUAN KOGNITIF
Setelah membaca bab ini dengan seksama, maka Anda diharapkan:
1. Mengetahui gambaran jumlah lansia yang ada di dunia, khususnya yang ada Indonesia.
2. Memahami kehilangan fungsi multi-organ pada lansia.
2.1. Sistem Muskuloskeletal.
2.2. Sistem Saraf.
2.3. Sistem Kardiovaskuler.
2.4. Sistem Respirasi.
2.5. Sistem Indera.
2.6. Sistem Integumen.
3. Memahami tingkat kemandirian pada lansia.
4. Memahami latihan-latihan fisik yang dapat diterapkan pada lansia.
4.1. Penahapan.
4.2. Dosis Latihan.
4.3. Program Latihan.
5. Mampu mengetahui berbagai keuntungan yang dapat diperoleh dari berolahraga.

TUJUAN AFEKTIF
Setelah membaca bab ini dengan penuh perhatian, maka penulis mengharapkan Anda akan dapat:
1. Memahami pentingnya berolahraga pada lansia demi meningkatkan kualitas hidup dan tingkat kesehatan lansia secara umum.
2. Mampu menyebutkan berbagai jenis olahraga yang bisa dilakukan oleh lansia.

I. PENDAHULUAN
Pertumbuhan jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia tercatat sebagai paling pesat di dunia dalam kurun waktu tahun 1990-2025. Jumlah lanjut usia yang kini sekitar 16 juta orang, akan menjadi 25,5 juta pada tahun 2020, atau sebesar 11,37 persen dari jumlah penduduk. Itu berarti jumlah lanjut usia di Indonesia akan berada di peringkat empat dunia di bawah Cina, India, dan Amerika Serikat. Darmojo (73) mengutip data demografi internasional dari Bureau of the Census USA (1993), menyebutkan, kenaikan jumlah lanjut usia Indonesia antara tahun 1990-2025 mencapai 414 persen, tertinggi di dunia.
Kenaikan pesat itu berkait dengan usia harapan hidup penduduk Indonesia. Dalam sensus Badan Pusat Statistik (BPS) 1998, harapan hidup penduduk Indonesia rata-rata 63 tahun untuk kaum pria, dan wanita 67 tahun. Tetapi, menurut kajian WHO (1999), harapan hidup penduduk Indonesia rata-rata 59,7 tahun, menempati peringkat ke-103 dunia. Angka harapan hidup di Prov. Jabar terus naik dalam beberapa tahun terakhir. Angka harapan hidup dari rata-rata 60 tahun pada 1990 naik menjadi 64,10 tahun pada 2000 dan kemudian meningkat lagi menjadi rata-rata 64,90 tahun pada 2001.
Seiring dengan pertambahan usia, maka manusia akan mengalami kemunduran fisik dan intelektual secara fisiologis. Tak seorangpun dapat mencegah proses menua yang terjadi di dalam dirinya. Menua akan terjadi pada semua sistem tubuh manusia dan tidak semua sistem tubuh akan mengalami kemunduran secara bersamaan. Oleh karena itu pada lanjut usia diperlukan suatu kegiatan yang dapat mempertahankan kesehatan fisik dan intelektual dalam rangka menjaga kemandirian pribadi masing-masing individual.
Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh lanjut usia untuk mempertahankan fungsi fisik dan intelektual dalam rangka menjaga kemandirian adalah dengan melakukan olah raga. Dengan olah raga, seorang lanjut usia dapat melatih diri melalui gerakan-gerakan sehingga dapat menjaga fungsi tubuhnya. Dengan olah raga pula, dapat dilatih keseimbangan dan kekuatan otot sehingga dapat menghindari resiko jatuh pada lanjut usia, karena jatuh merupakan faktor yang menghambat kemandirian pada lanjut usia

II.1. KEHILANGAN FUNGSI PADA LANJUT USIA
Proses menua adalah suatu proses yang natural dan kadang-kadang tidak tampak mencolok. Proses menua akan terjadi pada semua sistem tubuh manusia dan tidak semua sistem akan mengalami kemunduran pada waktu yang sama. Meskipun proses menua merupakan gambaran yang universal, tidak seorangpun mengetahui dengan pasti penyebab penuaan atau mengapa manusia menjadi tua pada usia yang berbeda-beda. Teori proses menua sampai saat ini juga belum ada yang menerangkan secara keseluruhan fenomena ini.
Perubahan fisiologis proses menua mengenai sistem muskuloskeletal, saraf, kardio-vaskuler-respirasi, indra, dan integumen.
Sistem muskuloskeletal
a. Jaringan Penghubung (kolagen dan elastin)
Kolagen sebagai pendukung utama pada kulit, tendon, tulang, kartilago, dan jaringan pengikat mengalami perubahan menjadi bentangan cross linking yang tidak teratur. Bentangan yang tidak teratur dan penurunan hubungan tarikan linier pada jaringan kolagen merupakan salah satu alasan penurunan mobilitas pada jaringan tubuh. Setelah kolagen mencapai puncak fungsi atau daya mekaniknya karena penuaan, tensile strength dan kekakuan dari kolagen mulai menurun. Kolagen dan elastin yang merupakan jaringan ikat pada jaringan penghubung mengalami perubahan kualitatif dan kuantitatif sesuai penuaan.
Perubahan pada kolagen itu merupakan penyebab turunnya fleksibilitas pada lanjut usia sehingga menimbulkan dampak berupa nyeri, kekakuan otot, kesulitan bergerak dari duduk ke berdiri, jongkok, dan berjalan, dan hambatan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Upaya olah raga untuk mengurangi dampak tersebut adalah memberikan latihan untuk menjaga mobilitas.
b. Kartilago
Jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan mengalami granulasi dan akhirnya permukaan sendi menjadi rata. Selanjutnya, kemampuan kartilago untuk regenerasi berkurang dan degenerasi yang terjadi cenderung kearah progresif. Proteoglikans yang merupakan komponen dasar matriks kartilago berkurang atau hilang secara bertahap.
Perubahan itu sering terjadi pada sendi besar penumpu berat badan. Akibat perubahan itu sendi mudah mengalami peradangan, kekakuan, nyeri, keterbatasan gerak dan terganggunya aktivitas sehari-hari.
c. Tulang
Berkurangnya kepadatan tulang, setelah diobservasi adalah bagian dari penuaan fisiologis. Sebagai akibatnya, jumlah tulang spongiosa berkurang dan tulang kompakta menjadi tipis. Perubahan lain adalah terjadi penurunan estrogen, sehingga produksi osteoklas menjadi tidak terkendali, penurunan penyerapan kalsium diusus, peningkatan kanal Haversi sehingga tulang menjadi keropos. Berkurangnya jaringan dan ukuran tulang secara keseluruhan menyebabkan kekuatan dan kekakuan tulang menurun.
Dampak berkurangnya kepadatan akan mengakibatkan osteoporosis. Osteoporosis lebih lanjut mengakibatkan nyeri, deformitas, dan fraktur. Latihan fisik dapat diberikan sebagai cara untuk mencegah terjadinya osteoporosis.
d. Otot
Perubahan struktur otot pada penuaan sangat bervariasi. Penurunan jumlah dan ukuran serabut otot, peningkatan jaringan penghubung dan jaringan lemak pada otot mengakibatkan efek negatif.
Dampak perubahan morfologis otot adalah penurunan kekuatan, penurunan fleksibilitas, peningkatan waktu reaksi, dan penurunan kemampuan fungisonal otot. Untuk mencegah perubahan lebih lanjut, dapat diberikan latihan untuk mempertahankan mobilitas.
e. Sendi
Pada lanjut usia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligamen, dan fasia mengalami penurunan elastisitas. Ligamen, kartilago, dan jaringan periartikuler mengalami penurunan daya lentur dan elastisitas. Terjadi degenerasi, erosi, dan kalsifikasi pada kartilago dan kapsul sendi. Sendi kehilangan fleksibilitasnya sehingga terjadi penurunan luas gerak sendi.
Beberapa kelainan akibat perubahan pada sendi yang banyak terjadi pada lanjut usia antara lain, osteoartritis, artritis reumatoid, gout, pseudogout. Kelainan tersebut dapat menimbulkan gangguan berupa bengkak, nyeri, kekakuan sendi, keterbatasan luas gerak sendi, gangguan berjalan, aktivitas keseharian lainnya.

Sistem Saraf
Lanjut usia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Proses menua menyebabkan penurunan persepsi sensorik dan respons motorik pada susunan saraf pusat dan penurunan reseptor propioseptif. Hal ini terjadi karena susunan saraf pusat pada lanjut usia mengalami perubahan morfologis dan biokimia. Berat otak pada lanjut usia berkurang berkaitan dengan berkurangnya kandungan protein dan lemak pada otak sehingga otak menjadi lebih ringan. Akson, dendrit, dan badan sel saraf banyak mengalami kematian. Dendrit yang berfungsi untuk komunikasi antarsel saraf mengalami perubahan sehingga menjadi lebih tipis dan kehilangan kontak antar sel saraf.
Perubahan tersebut mengakibatkan penurunan fungsi kognitif, koordinasi, keseimbangan, kekuatan otot, refleks, proprioseptif, perubahan postur, dan peningkatan waktu reaksi. Hal tersebut dapat dicegah dengan pemberian latihan koordinasi dan keseimbangan serta latihan untuk menjaga mobilitas dan postur.

Sistem Kardiovaskuler
Massa jantung bertambah, ventrikel kiri mengalami hipertrofi, dan kemampuan peregangan jantung berkurang karena perubahan pada jaringan ikat dan penumpukan lipofusin. Katup jantung mengalami fibrosis dan kalsifikasi. SA node dan jaringan konduksi berubah menjadi jaringan ikat.
Kemampuan arteri dalam menjalankan fungsinya berkurang sampai 50%. Pembuluh darah kapiler mengalami penurunan elastisitas dan permeabilitas. Terjadi perubahan fungsional berupa kenaikan tahanan vaskuler sehingga menyebabkan perfusi jaringan. Penurunan sensitivitas baroreseptor menyebabkan terjadinya hipotensi postural. Cardiac output menurun akibat penurunan denyut jantung maksimal dan volume sekuncup.
Konsumsi oksigen pada tingkat maksimal (VO2 maks) berkurang sehingga kapasitas vital paru menurun. Latihan berguna untuk meningkatkan VO2 maksimum, mengurangi tekanan darah, dan berat badan.

Sistem Respirasi
Pada proses menua terjadi perubahan jaringan ikat paru. Kapasitas total paru tetap, tetapi volume cadangan paru bertambah. Volume tidal bertambah untuk mengkompensasi kenaikan ruang rugi paru. Udara yang mengalir keparu berkurang. Perubahan pada otot, kartilago, dan sendi toraks mengakibatkan gerakan pernafasan terganggu dan kemampuan peregangan toraks berkurang.

Sistem Indera
Pada sistem penglihatan terjadi presbiopia (old sight). Lensa kehilangan elastisitas dan kaku. Otot penyangga lensa lemah dan kehilangan tonus. Ketajaman penglihatan dan daya akomodasi dari jarak jauh atau dekat berkurang. Penggunaan kacamata dan sistem penerangan yang baik dapat digunakan untuk mengompensasi hal tersebut.
Gangguan pendengaran pada lanjut usia terjadi karena hilangnya sel-sel rambut koklear, reseptor sensorik primer sistem pendengaran atau sel saraf koklear ganglion, brain stem trucks yang dikenal dengan sensoric neural hearing loss.

Sistem Integumen
Pada lanjut usia, kulit mengalami atrofi, kendur, tidak elastis, kering dan berkerut. Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan berbercak. Kekeringan kulit disebabkan atrofi glandula sebasea dan glandula sudorifera. Menipisnya kulit bukan terjadi pada lapisan epidermisnya melainkan pada lapisan dermisnya karena terdapat perubahan dalam jaringan kolagen serta jaringan elastisnya. Perubahan pada kulit lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan antara lain angin, dan sinar matahari, terutama sinar ultraviolet.

II.2. KEMANDIRIAN
Berbagai kemunduran fisik mengakibatkan kemunduran gerak fungsional baik kemampuan mobilitas atau perawatan diri. Kemunduran fungsi mobilitas meliputi penurunan kemampuan mobilitas ditempat tidur, berpindah, jalan, dan mobilitas dengan alat adaptasi. Kemunduran kemampuan perawatan diri meliputi penurunan kemampuan aktivitas makan, mandi, berpakaian, defekasi dan berkemih, merawat rambut dan gigi. Selain itu, kemunduran juga terjadi pada kemampuan berkomunikasi seperti kemampuan menggunakan telepon, menulis surat.
Kemunduran gerak fungsional dapat dikelompokan menjadi tiga tingkat ketergantungan berikut :
a. Mandiri, yaitu lanjut usia mampu melaksanakan tugas tanpa bantuan orang lain ( bisa saja lanjut usia tersebut membutuhkan alat bantu seperti alat bantu berjalan).
b. Bergantung sebagian, yaitu lanjut usia mampu menjalankan tugas dengan beberapa bagian memerlukan bantuan orang lain.
c. Bergantung sepenuhnya, yaitu lanjut usia tidak dapat melakukan tugas tanpa bantuan orang lain.
Penurunan gerak dan fungsi lanjut usia berdampak terhadap kemampuan beradaptasi dengan lingkungan aktivitasnya.
Indeks Katz merupakan salah satu sistem penilaian yang dikembangkan dalam pemeriksaan kemampuan fungsional. Selain indeks Katz, banyak sistem–sistem lain yang juga dapat dipakai, yaitu indeks activity daily living (ADL), indeks Barthel yang dimodifikasi, dan Quesioner Aktivitas Fungsional (FAQ).
Indeks Katz untuk mengukur aktivitas fungsional kehidupan sehari-hari secara kuantitatif dan diintepretasikan dalam bentuk angka, memfokuskan pada 6 aktivitas sehari-hari seperti yang tertera diatas. Selain keenam aktivitas tersebut, indeks ini juga mengkaji kemampuan individu untuk melakukan kegiatannya sendiri secara mandiri. Misalnya pada individu yang ditempatkan pada posisi indeks seperti “membutuhkan bantuan untuk berpindah”. Posisi ini memberikan gambaran definitif pada individu, apakah mereka dapat menggambarkan kemampuannya, seperti kemampuan untuk makan dan mempertahankan tetapi mengalami kesulitan dalam bergerak.
Penilaian didasarkan pada kemampuan pasien untuk melakukan ke 6 hal tersebut, namun pada pelaksanaannya perlu beberapa modifikasi penilaian untuk memastikan status fungsional lanjut usia. Pembagian skala ini didasarkan pada keterampilan dalam menjalankan fungsi biologis, yang memerlukan bekerjanya sistem saraf dan anggota gerak dari lanjut usia.
Sistem indeks Katz ini dapat digunakan untuk membantu memprioritaskan tindakan atau perawatan.
MMSE adalah sebuah tes untuk menilai fungsi kognitif secara singkat dan sudah dipergunakan secara luas. MMSE yang diperkenalkan oleh Folstein sebagai instrumen klinik dipergunakan sebagai alat untuk mendeteksi adanya gangguan kognitif, mengevaluasi perjalanan penyakit dan memonitor respon pengobatan, sedangkan sebagai instrumen penelitian MMSE berfungsi sebagai alat screening

II.3. LATIHAN FISIK
Latihan fisik aalah segala upaya yang dilaksanakan untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan kondisi fisik lanjut usia. Kebugaran jasmani (physical fitness) adalah suatu aspek fisik dari kebugaran menyeluruh (total fitness). Kebugaran jasmani memberikan kesanggupan kepada seseorang untuk melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa adanya kelelahan yang berlebihan dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dengan baik ataupun melakukan pekerjaan mendadak. Tujuan dari latihan fisik adalah untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan kardiorespirasi, kecepatan, kelenturan dan keterampilan. Kebugaran jasmani pada lanjut usia adalah kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan yaitu kebugaran jantung-paru dan peredaran darah serta kekuatan otot dan kelenturan sendi.

Prinsip latihan fisik pada lanjut usia:
1. Penahapan
Setiap latihan fisik sebaiknya dilaksanakan melalui tahap pemanasan, latihan inti dan pendinginan. Pemanasan bertujuan untuk memberikan dorongan hasrat latihan agar bersemangat, memanaskan jaringan tubuh supaya tidak kaku akibat lama tidak bergerak dan mencegah cedera yang mungkin timbul akibat gerakan lebih lanjut., memperkecil defisit oksigen, dan menyiapkan sistem humoral pengontrol respirasi. Sifat gerakan pemanasan mudah dilakukan, melibatkan banyak sendi dan otot berhubungan dengan gerakan inti. Gerakan dimulai dari bagian proksimal ke distal, tidak membebani sendi dan disertai peregangan.
Pemanasan akan meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, konsumsi oksigen, dilatasi pembuluh darah, dan meningkatkan suhu otot yang aktif. Pemanasan harus melubatkan 2 komponen, yaitu (1) latihan aerobik yang bertahap, seperti jalan atau gerakan senam yang berirama lambat dan (2) kelenturan (fleksibility) sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Otot yang penas lebih mudah diregang, daripada otot yang dingin. Oleh karena itu, latihan kelenturan diberikan 5 sampai 8 menit setelah melakukan latihan aerobik dengan intensitas rendah (aerobik low impact).
Gerakan inti sangat bergantung pada sasaran latihan yang diinginkan. Untuk meningkatkan kebugaran, lebih cocok aerobik, untuk meningkatkan kekuatan otot, lebih cocok anaerobik. Untuk meningkatkan daya tahan, lebih baik latihan dengan pengulangan gerak tinggi dan beban rendah, untuk meningkatkan kelenturan sendi dengan relaxasi dan untuk meningkatkan ketangkasan atau keterampilan lebih cocok dengan senam.
Pendinginan sama pentingnya dengan pemanasan. Oleh karena itu setiap latihan harus diakhiri dengan pendinginan. Otot-otot tubuh setelah melakukan gerakan latihan berat akan menghasilkan sisa pembakaran dan menimbulkan rangsang pada simpul saraf, sehingga otot tetap terpacu untuk berkontraksi dan untuk menghentikannya perlu dilakukan relaksasi.
Pendinginan juga menurunkan kerja jantung secara perlahan dan keseluruhan proses metabolisme yang meningkat selama latihan. Keuntungan pendinginan yaitu mencegah pengumpulan darah dalam vena dan memastikan cukupnya aliran darah dalam otot rangka, jantung, dan otak, mencegah kekakuan dan nyeri otot, mengurangi timbulnya pingsan/pusing setelah latihan, mengganti defisit oksigen dan mengkonversi asam laktat. Pendinginan berupa latihan aerobik dengan intensitas rendah diikuti dengan beberapa menit peregangan pada otot-otot yang aktif digunakan selama latihan.

2. Dosis Latihan
Dosis yang akan dibahas adalah FITT yang meliputi pengaturan frekuensi (frequency), intensitas (intencity), durasi (time), dan macam (type).
a. Frekuensi
3 atau 5 kali per minggu. Untuk meningkatkan kebugaran jantung paru minimal harus berlatih 3 kali dalam 1 minggu, berselang 1 hari dalam zona latihan. Hal ini juga dianjurkan oleh American College of Sport Medicine (ACSM) untuk program latihan aerobik.
b. Intensitas
Intensitas didasarkan atas beban latihan dan merupakan faktor yang penting dalam program latihan. Bagi pemula dianjurkan dengan intensitas 50-60 % dari VO2 maksimal. ACSM menganjurkan latihan dengan intensitas 60-90 % dari denyut jantung maksimal untuk meningkatkan kebugaran jantung paru.
c. Durasi
Untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat bagi kebugaran jantung paru, harus berlatih pada zona latihan selama 15-30 menit dengan pemanasan sebelumnya selama 5-10 menit. Menurut ACSM, durasi latihan untuk mendapatkan hasil yang baik adalah 20-60 menit latihan.
d. Macam
Untuk mendapatkan kebugaran jasmani yang adekuat, jenis latihan harus disesuaikan dengan manfaat yang diharapkan. Latihan yang menggerakkan sebagian otot-otot besar pada panggul kaki secara ritmis dan berkesinambungan, sangat bermanfaat bagi kebugaran jantung dan paru. Misalnya senam aerobik, jalan cepat, jogging, lari, bersepeda, dan berenang.

3. Program Latihan
Agar latihan dapat mencapai sasaran, perlu disusun program latihan seperti berikut :
a. Cukup memenuhi tingkat kebugaran yang dapat menunjang pekerjaan sehari-hari atau setidaknya dapat mencapai kebugaran yang membantu mengurangi penyakit yang berkaitan dengan jantung koroner, kegemukan, diabetes, degenerasi, dan kelemahan otot.
b. Mudah dilakukan tanpa memerlukan bakat khusus, fasilitas peralatan dan keadaan sekitar.
c. Tidak terlalu banyak waktu, 30-60 menit dan tidak melelahkan setelah latihan.
d. Manfaat dapat segera dirasakan dan diukur.

Berbagai keuntungan yang dapat kita peroleh dengan berolahraga antara lain adalah :
1. Kepercayaan Diri
Dengan menjadi aktif dan merasa sehat dan kuat, secara alami akan meningkatkan rasa percaya diri, terutama kepercayaan terhadap diri sendiri.
2. Kesenangan
Dengan berolahraga, endorfin yang alami akan diproduksi, sehingga akan membuat rasa nyaman dan akan mengurangi resiko depresi.
3. Interaksi Sosial
Olahraga merupakan salah satu jalan untuk bertemu dengan orang lain dan bersosialisasi. Melakukan olahraga bersama-sama dengan orang lain, akan membuat berolahraga menjadi lebih menyenangkan.
4. Pola Tidur Lebih Baik
Pada orang-orang yang melakukan olahraga secara rutin, pola tidur mereka menjadi lebih baik. Biasanya menjadi lebih mudah untuk memulai tidur, tidur lebih nyenyak, dan menjadi lebih jarang terjaga / terbangun di malam hari.
5. Mencegah Penyakit Alzheimer
Penelitian yang terbaru menunjukan kalau olahraga dapat mencegah Alzheimer dan demensia.
6. Metabolisme
Olahraga dapat meningkatkan metabolisme. Peningkatan massa otot akan meningkatkan pembakaran kalori, karena otot dapat membakar kalori lebih baik daripada lemak
7. Komposisi Tubuh
Olahraga yang dilakukan secara teratur dan benar, dan juga pengkomsumsian makanan yang sehat akan membantu menurunkan komposisi lemak didalam tubuh dan meningkatkan atau menjaga massa otot.
8. Peningkatan Mobilitas
Apabila melakukan berbagai latihan fisik, maka secara alami terjadi peningkatan fungsi koordinasi, sehingga akan memudahkan untuk mengendalikan tubuh dalam melakukan aktivitas.
9. Fleksibilitas dan Keseimbangan
Fleksibilitas dan keseimbangan tubuh akan meningkat apabila kita berolahraga secara teratur. Peningkatan kekuatan, fleksibilitas, dan postural tubuh akan meningkatkan pula keseimbangan tubuh, sehingga akan menurunkan resiko jatuh. Fleksibilitas yang baik akan menurunkan rasa sakit akibat artritis.
10. Fungsi Imun
Tubuh yang sehat dan kuat akan lebih mudah dan lebih cepat dalam melawan infeksi dan berbagai penyakit lainnya.
11. Kardio-Respiratori dan Kardiovaskular
Olahraga fisik yang teratur dan rutin akan menurunkan resiko terkena penyakit jantung dan hipertensi. Apabila sudah hipertensi, olahraga fisik akan menurunkan tekanan darah.
12. Densitas Tulang dan Osteoporosis
Olahraga dapat melindungi tulang dari kehilangan massa tulang itu sendiri, sehingga menurunkan resiko osteoporosis, dan patah tulang.
13. Fungsi Gastrointestinal
Olahraga yang teratur akan meningkatkan efisiensi kerja dari sistem gastrointestinal

DEFINISI YANG BERHUBUNGAN DENGAN OLAHRAGA
Olahraga :
Lanjut usia banyak yang kurang memperhatikan pentingnya olahraga, padahal olahraga merupakan salah satu cara untuk menghambat disabilitas pada lanjut usia. Olahraga pada lanjut usia yang akan dibahas terdiri dari 2 jenis yaitu olahraga fisik dan gerak latih otak, dimana olahraga fisik diarahkan untuk menjaga kebugaran dan kekuatan otot lanjut usia agar dapat menjalankan aktivitas sehari-harinya dengan baik, dan senam otak yang diarahkan untuk menjaga fungsi kognitif seseorang.
Indeks Katz
Indeks Katz adalah suatu sistem penilaian yang dikembangkan dalam pemeriksaan untuk menilai kemampuan fungsional seseorang. Dalam Indeks Katz ada beberapa variable yang dapat dinilai yaitu : bathing, dressing, toileting, transferring, continence, feeding. Dan ada beberapa tingkatan kemandirian yang dapat dinilai dalam Indeks Katz yaitu Indeks Katz A sampai G.
MMSE
MMSE adalah sebuah tes untuk menilai fungsi kognitif secara singkat dan sudah dipergunakan secara luas. MMSE yang diperkenalkan oleh Folstein sebagai instrumen klinik dipergunakan sebagai alat untuk mendeteksi adanya gangguan kognitif, mengevaluasi perjalanan penyakit dan memonitor respon pengobatan, sedangkan sebagai instrumen penelitian MMSE berfungsi sebagai alat screening
Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai dengan rendahnya massa tulang dan terjadinya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Osteoporosis merupakan penyakit metabolik tulang, yang disebut juga tulang rapuh atau tulang keropos. Gejalanya seringkali tidak diketahui sampai adanya fraktur, sehingga disebut juga silent disease.
Jatuh
Jatuh secara singkat bisa diartikan sebagai “a person coming to rest on the ground or another lower level” or “to become no longer supported and drop suddenly“ atau dengan kata lain suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata, yang melibatkan suatu kejadian yang menyebabkan seseorang mendadak terbaring atau terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka
Gangguan Berjalan
Gangguan gaya berjalan (Gait Disorder) adalah “A slowing of gait speed or a deviation in smoothness, symetry, or synchrony of body movement”, penurunan kecepatan berjalan atau berkurangnya kehalusan gerakan, simetris dan kesatuan gerakan tubuh.

III. KESIMPULAN
Masih banyak lanjut usia yang tidak mengikuti kegiatan olahraga fisik dan gerak latih otak..Dari penilaian kemandirian dengan menggunakan indeks Katz, didapatkan lanjut usia yang rutin melakukan olahraga fisik, sebagian besar mempunyai Indeks Katz A yaitu sebanyak 93% dan sisanya yaitu 7% mempunyai Indeks Katz B .
Proses menua adalah suatu proses yang natural dan kadang-kadang tidak tampak mencolok. Proses menua akan terjadi pada semua sistem tubuh manusia dan tidak semua sistem akan mengalami kemunduran pada waktu yang sama. Meskipun proses menua merupakan gambaran yang universal, tidak seorangpun mengetahui dengan pasti penyebab penuaan atau mengapa manusia menjadi tua pada usia yang berbeda-beda. Teori proses menua sampai saat ini juga belum ada yang menerangkan secara keseluruhan fenomena ini.
Perubahan fisiologis proses menua mengenai sistem muskuloskeletal, saraf, kardio-vaskuler-respirasi, indra, dan integumen.
Latihan fisik aalah segala upaya yang dilaksanakan untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan kondisi fisik lanjut usia. Kebugaran jasmani (physical fitness) adalah suatu aspek fisik dari kebugaran menyeluruh (total fitness). Kebugaran jasmani memberikan kesanggupan kepada seseorang untuk melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa adanya kelelahan yang berkelebihan dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dengan baik ataupun melakukan pekerjaan mendadak. Tujuan dari latihan fisik adalah untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan kardiorespirasi, kecepatan, kelenturan dan keterampilan. Kebugaran jasmani pada lanjut usia adalah kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan yaitu kebugaran jantung-paru dan peredaran darah serta kekuatan otot dan kelenturan sendi.

DAFTAR PUSTAKA

Asa. (2002). Pertambahan Jumlah Lanjut usia Indonesia Terpesat di Dunia. Kompas Cyber Media. Senin, 25 Maret 2002. Available at : http://:www.kompas.com/kompas-cetak/ (login : 14 April 2007)

A-129. (2003). Angka Harapan Hidup Terus Naik. Pikiran Rakyat Cyber Media. Bandung, 6 Mei 2003. Available at : http://:www.pikiran-rakyat.com

Pudjiastuti, Sri S; Utomo Budi. Fisioterapi Pada Lanjut usia. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2002.

Setiabudhi, Tony; Hardywinoto. 1999. Panduan Gerontologi (Tinjauan dari Berbagai Aspek). Penerbit Gramedia. Jakarta.

NN. Senior Fitness and Sports, Exercise, Training, and Online Resources.
Available at : http://www.seniorfitness.net

NN. Physiotherapy in Elderly, ANAES,
Available at : http://www.anaes.fr/anaes/Publications.nsf/nPDFFile/

Balcerzakprevent, Kim Ruiz, falls and physical fitness for senior fitness
Available at : http://www.senior-fitness.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *