OBAT – OBAT ANTIINFLAMASI NOSTEROID (NSAID)

Analgetik non opiod digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang ringan sampai berat (analgetik ringan), juga untuk menurunkan suhu badan pada keadaan panas badan yang tinggi (antipiretik) serta digunakan sebagai anti radang. Analgetika non narkotik bekerja pada perifer dan sentral sistem saraf pusat. Obat ini mengadakan potensiasi dengan obat-obat penekan saraf pusat. Berdasarkan struktur kimianya analgetika non narkotik dibagi menjadi dua kelompok yaitu analgetik antipiretik dan obat antiinflamasi bukan steroid (Non Steroidal Antiinflamtory Drugs = NSAID)
A. Analgetik Antipiretika
Obat golongan ini digunakan untuk pengobatan simptomatik , yaitu hanya meringankan gejala penyakit, tidak menyembuhkan atau menghilangkan penyebab penyakit . Berdasarkan struktur kimianya obat analgetik antipiretik dibagi menjadi dua kelompok yaitu turunan anilin dan para-aminofenol, dan turunan 5-pirazolon.
• Turunan Anilin dan Para-Aminofenol
Turunan anilin dan p-aminofenol, seperti asetaminofen, asetanilid, dan fenasetin mempunyai aktivitas analgesic-antipiretik sebanding dengan aspirin, tetapi tidak mempunyai efek antiinflamasi dan antirematik. Turunan ini digunakan untuk mengurangi rasa nyeri kepala dan nyeri pada otot atau sendi, dan obat penurun panas yang cukup baik. Efek samping yang ditimbulkan antara lain adalah methemoglobin dan hepatotoksik.
• Turunan 5-Pirazolon
Turunan 5-pirazolon seperti antipirin,amidopirin, dan metompiron mempunyai aktivitas analgesic-antipiretik dan antirematik serupa dengan aspirin. Turunan ini digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada keadaan nyeri kepala, nyeri pada spsma usus, ginjal, saluran empedu dan urin, neuralgia, migraine, dismenorhu, nyeri gigi dan nyeri pada rematik. Efek samping yang ditimbulkan adalah agranulositosis, yang dalam beberapa kasus dapat berakibat fatal.
B. Obat Antiinflamasi Bukan Steroid (NSAID)
NSAIDs berkhasiat analgetis, anapiretik, serta antiradang dan banyak digunakan untuk menghilangkan gejala penyakit rematik seperti A.R., artrosis dan spondylosis. Obat ini juga efektif terhadap peradangan lain akibat trauma dan mencegah pembengkakan. NSAIDs juga berdaya terhadap terhadap kolik saluran empedu dan kemih serta keluhan tulang pinggang, nyeri haid dan berguna pula untuk nyeri kanker akibat metastase tulang. Berdasarkan struktur kimianya, NSAID dibagi menjadi tujuh kelompok yaitu turunan salisilat, turunan 5-pirazolidindion, turunan asam N-arilantranilat, turunan asam arilasetat, turunan heteroarilasetat, turunan oksikam, dan turunan lain-lain.
Turunan Asam Salisilat
Asam salisilat mempunyai aktivitas analgesic-antipiretik dan antirematik, tetapi tidak digunakan secara oral karena terlalu toksik. Yang banyak digunakan sebagai analgesic-antipiretik adalah senyawa turunannya. Turunan asam salisilat digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada nyeri kepala, sakit otot, dan sakit yang berhubungan dengan rematik. Kurang efektif untuk mengurangi sakit gigi, sakit pada waktu menstruasi, dan sakit karena kanker. Tidak efektif untuk mengurangi sakit karena kram, kolik, dan migraine. Turunan asam salisilat menimbulkan efek samping iritasi lambung. Iritasi lambung yang akut kemungkinan berhubungan dengan gugus karboksilat yang bersifat asam, sedang iritasi kronik kemungkinan disebabkan oleh penghambatan pembentukan prostaglandin E1 dan E2, yaitu senyawa yang dapat meningkatkan vasodilatasi lambung dan vasokonstriksi mukosa lambung yang menyebabkan nekrosis iskemik dan kerusakan mukosa lambung. Contoh dari turunan asam salisilat diantaranya adalah aspirin, salsilamid, dan diflunisal.
Turunan 5-Pirazolidindion
Turunan 5-Pirazolidindion seperti fenilbutazon dan oksifenbutason adalah antiinflamasi non steroid yang banyak digunakan untuk meringankan rasa nyeri yang berhubungan dengan rematik, penyakit pirai, dan sakit persendian. Turunan ini menimbulkan efek samping agranulositosi yang cukup besar dan iritasi lambung.
 Turunan Asam N-Arilantranilat
Asam antranilat adalah analog nitrogen dari asam salisilat. Turunan asan N-arilantranilat terutama digunakan sebagai antiinflamasi untuk pengobatan rematik, dan sebagai analgesic untuk mengurangi rasa nyeri yang ringan dan moderat. Turunan ini menimbulkan efek samping iritasi saluran cerna, mual, diare, nyeri abdominal, anemia, agranulositosis, dan trombositopenia. Contoh dari turunan ini adalah asam mefenamat, asam flufenamat, natrium meklofenamat, glafenin, floktafenin.
 Turunan Asam Arilasetat
Turunan ini mempunyai aktivitas antiinflamasi dan analgesic yang tinggi, dan terutama digunakan sebagai antirematik. Seperti pada obat antirematik yang lain, turunan ini juga menimbulakn efek samping iritasi saluran cerna cukup besar. Struktur umum turunan asam arilasetat memiliki gugus alkil turunan asam fenilasetat seperti namokrisat, diklofenak Na, ibufenak, fenbufen, ibuprofen, ketoprofen, dan fenoprofen.
 Turunan Asam Heteroarilasetat
Contoh turunan heteroasetat antara lain fentiazak, asam tiaprofenat, asam metiazinat, dan ketorolak trometamol.
 Turunan Oksikam
Turunan ini pada umumnya bersifat asam, mempunyai efek antiinflamasi, analgesic, dan antipiretik. Efektif untuk pengobatan simptomatik rematik arthritis, osteoarthritis, dan antipirai. Contohnya piroksikam, tenoksikam, dan isoksikam.
 Turunan Lain-Lain
Seperti turunan yang terdahulu, turunan ini juga menimbulkan efek samping iritasi saluran cerna, serta menyababkan ketidaknormalan hematologis dan kadang-kadang bersifat hepatotoksik atau nefrotoksik. Contoh diantaranya benzidamin HCL, tinoridin, asam niflumat.

MEKANISME KERJA OBAT NSAID

Bila membran sel mengalami kerusakan oleh suatu rangsangan kimiawi, fisik, atau mekanis maka enzim fosfolipase diaktifkan untuk mengubah fosfolipida yang ada menjadi asam arachidonat. Asam arachidonat ini oleh enzim cyclooxygenase, sebagian diubah menjadi zat – zat prostaglandin. Bagian lain dari asam arachidonat akan diubah menjadi leukotrien. Baik prostaglandin maupun leukotrien bertanggung jawab bagi sebagian besar dari gejala peradangan.
Cyclo-oxygenase terdiri dari dua iso enzim yakni COX-1 dan COX-2 dengan berat molekul dan daya enzimatis yang sama. COX-1 terdapat di kebanyakan jaringan, antara lain di pelat-pelat darah ginjal, dan saluran cerna. Zat ini berperan dalam pemeliharaan perfusi ginjal, homeostase vaskuler, dan melindungi lambung dengan jalan membentuk bikarbonat dan lendir, serta menghambat produksi asam. COX-2 dalam keadaan normal tidak terdapat di jaringan, tetapi dibentuk selama proses peradangan oleh sel-sel radang dan kadarnya dalam sel meningkat sampai 80 kali. Menurut perkiraan, penghambatan COX-2 lah yang memberikan NSAID anti radangnya. Penghambatan COX-1 dengan demikian bertanggung jawab atas efek sampingnya terhadap mukosa lambung, usus, dan di ginjal, sedangkan efek negatifnya , seperti iritasi dan efek toksiknya terhadap ginjal. Atas dasar perbedaan ini, telah dikembangkan NSAID selektif ysng terutama menghambat COX-2 dan kurang mempengaruhi COX-1. Obat ini dinamakan penghambat COX-2 selektif, dan yang kini dikenal adalah senyawa – senyawa coxib celecoxib, rofecoxib, valdecoxib, parecoxib dan etorixoxib. Dua obat dengan selektivitas kurang tuntas adalah nabumeton dan meloxicam.
Jenis Prostaglandin yang dikenal termasuk dalam 3 kelompok yaitu:
a) Prostaglandin A – F (Pg A – Pg F)  Prostaglandin ini dapat dibentuk oleh semua jaringan , yang terpenting adalah PgE2 dan PgF2. Zat – zat ini berdaya meradang dengan jalan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh dan membran synovial. Selain itu reseptor nyeri disensibilisasi hingga efek dari mediator lain (histamin, bradikinin dan lain-lain) diperkuat sehingga dengan sendirinya zat ini tidak mengakibatkan nyeri. PgE2 berkhasiat menstimulasi pertumbuhan tumor dan terdapat dalam kadar tinggi di mukosa usus. Penghambatan sintesanya dalam waktu lama menghasilkan efek antitumor kuat terhadap kanker di usus besar dan rectum. Sifat ini khususnya terdapat pada NSAIDs dengan siklus enterohepatis. Hal ini juga dipengaruhi oleh supresi langsung dari pelepasan bradikinin, penghambatan migrasi dan fagositosis dari granulosit.
b) Prostacyclin ( PgI2)  Dibentuk terutama di dinding pembuluh, berdaya vasodilatasi dan antitrombotis juga memilki efek protektif terhadap mukosa lambung.
c) Tromboxan (Txa2, TxB2)  Khusus dibentuk dalam trombosit, berdaya vasokontriksi dan menstimulasi agregrasi pelat darah (trombotis).
Efek farmakodinamik dari obat analgetika non opioid adalah :
1. Analgesik  obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang misalnya sakit kepala, mialgia, atralgia, nyeri lain yang berasal dari integumen dan nyeri yang berkaitan dengan inflamasi. Efek analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek analgesic opiate, tetapi tidak menimbulkan ketagihan. Menimbulkan efek analgesic dengan cara menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalis biosintesis prostaglandin, seperti siklooksigenase sehingga mencegah sensitasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit, seperti bradikinin, histamin serotonin, protasiklin, prostaglandin, ion-ion hidrogen dan kalium, yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi.
2. Antipiretik  Sebagai antipiretik, akan menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam, dengan cara menimbulkan dilatasi pembuluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat. Tapi tidak semua obat berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik bila digunakan secara rutin atau terlalu lama.
3. Antiinflamasi  kebanyakan obat ini lebih dimanfaatkan sebagai antiinflamasi pada pengobatan kelainan musculoskeletal seperti arthritis rheumatoid, osteoarthritis, dan spondilitis ankilosa.
Analgetik non opioid menimbulkan efek antiinflamasi melalui beberapa kemungkinan, antara lain adalah menghambat biosinteis dan pengluaran prostaglandin dengan cara memblok secara terpulihkan enzim siklooksigenase sehingga menurunkan gejala inflamasi, menghambat enzim-enzim yang terlibat pada biosintesis mukopolisakarida dan glikoprotein, meningkatkan pergantian jaringan kolagen dengan memperbaiki jaringan penghubung dan mencegah pengeluaran enzim-enzim lisosom melalui stabilisasi membran yang terkena inflamasi. Analgetika non opioid hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi secara simtomatik tapi tidak menghentikan, memperbaiki, atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan musculoskeletal.
Contoh obat NSAIDs :
A. Asam Mefenamat
• Indikasi : sebagai analgesic; sebagai anti-inflamasi, asam mefenamat kurang efektif dari pada aspirin. Asam mefenamat terikat sangat kuat pada protein plasma. Dengan demikian interaksi terhadap obat antikoagulan harus diperhatikan.
• Dosis asam mefenamat : 2-3 kali 250-500 mg sehari, dosis meklofenamat untuk penyakit sendi adalah 200-400 mg sehari
• Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dyspepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung. Pada orang usia lanjut efek samping diare hebat lebih sering dilaporkan. Efek samping lain yang berdasarkan hipersensitivitas ialah eritem kulit dan bronkokonstriksi. Anemia hemolitik pernah dilaporkan.
• Kontradiksi : Karena efek toksiknya maka di Amerika Serikat obat ini tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak • Sediaan yang tersedia adalah oral : kapsul 250 mg
B. Diklofenak
 Indikasi :Obat ini dianjurkan untuk kondisi peradangan kronis seperti atritis rematoid dan osteoarthritis serta untuk pengobatan nyeri otot rangka akut.
 Farmakodinamik : Obat ini mempunyai efek antiinflamasi, analgesic dan antipiretik.
 Farmakokinetik : Absorbsi obat ini melalui saluran cerna berlangsung cepat dan lengkap. Obat ini terikat 99% pada protein plasma dan mengalami efek lintas awal (first-pass) sebesar 40-50%. Walaupun waktu paruh singkat yakni 1-3 jam. Diklofenak diakumulasi di cairan sinovia yang menjelaskan efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat tersebut.
 Dosis orang dewasa 100-150mg sehari terbagi dua atau 3 dosis.
 Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala sama seperti obat AINS (anti inflamasi non-steroid).
 Kontraindikasi : Pemakaian obat ini harus berhati hati pada penderita tukak lambung. Peningkatan enzim transaminasi dapat terjadi pada 15% pasien dan umumnya kembali normal. Pemakaian selama kehamilan tidak dianjurkan.
 Sediaan yang tersedia adalah oral : tablet salut enteric 25, 50, 75 mg.
C. Ibuprofen
• Indikasi : Derivate asam propionate dapat mengurangi dieresis dan natriuresis furosemid dan tiazid, juga mengurangi efek antihipertensi obat beta bloker, prazosin dan kaptopril. Efek ini mungkin akibat hambatan biosintesis PG ginjal.
• Dosis sebagai analgesic 4 kali 400 mg sehari tetapi sebaiknya dosis optimal pada tiap orang ditentukan secara individual. Efek anti-inflamasinya terlihat dengan dosis 1200-2400 mg sehari, pada dosis sekitar 2400 mg per hari, efek antiinflamasi ibuproven setara dengan 4 g aspirin. Berdasarkan British National Formulary for Children (BNFC), dosis biasa untuk anak umur 1-4 tahun dengan nyeri ringan sampai sedang atau demam adalah 300 mg,dosis untuk umur 10-12 tahun adalah 900 mg.
• Farmakokinetik : Absorbsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. Waktu paruh dalam plasma sekitar 2jam. Sembilan puluh persen ibuprofen terikat pada protein plasma tapi hampir tidak mengubah aktivitas obat warafin dan oral hipoglikemik. Tetapi pada pemberian bersama dengan warafin, tetap harus waspada karena adanya gangguan fungsi trombosit yang memperpanjang masa pendarahan. Ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap. Kira kira 90% dari dosis yang diabsorbsi akan diekresi melalui urin sebagai metabolit atau konjugatnya. Metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan karboksilasi.
• Farmakodinamik : Ibu profen merupakan derivate asam propionate. Obat ini bersifat analgesic dengan daya anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin.
• Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin, indometasin atau naproksen. Efek samping lainnya yang jarang adalah eritema kulit, sakit kepala, trombositopenia, ambliopia toksik yang reversible.
• Kontraindikasi : Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui. Dengan alasan bahwa ibuprofen relative lebih lama dikenal dan tidak menimbulkan efek samping serius pada dosis analgesic, maka obat ibuprofen dijual sebagai obat generic bebas di beberapa Negara antara lain Amerika srikat dan inggris.
• Sediaan yang tersedia adalah oral  tablet 200, 300, 400, 600, 800 mg.
D. Ketoprofen
 Indikasi : Kefektifan ketoproven sama seperti obat-obat AINS yang lain aspirin dalam pengobatan arthritis rematoid dan osteoarthritis.
 Farmakodinamik : Derivate asam propionate ini memiliki efektifitas seperti ibuprofen dengan sifat anti-inflamasi sedang.
 Farmakokinetik : Absorbsi berlangsung baik dari lambung dan waktu paruh plasma sekitar 2 jam. Obat ini dimetabolisme di hati.
 Dosis 2 kali 100 mg sehari, tetapi sebaiknya ditentukan secara individual.
 Efek samping sama dengan AINS lainnya terutama menyebabkan gangguan saluran cerna, dan reaksi hipersensitivitas.
 Kontraindikasi : Pemberian ketoprofen bersama probenesid akan menaikkan kadar ketoprofen dan memperpanjang waktu paruh plasmanya.
 Sediaan yang tersedia adalah oral: kapsul 25, 50 dan 75 mg.
E. Asam asetil salisilat
• Salisilat lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin adalah analgesic antipiretik dan anti inflamasi yang sangat luas digunakan dan digolongkan dalam obat bebas. Sebagai obat prototip, obat ini merupakan standar dalam menilai efek obat sejenis.
• Indikasi : untuk mengobati nyeri yang tidak spesifik misalnya sakit kepala, nyeri sendi, haid,neuralgia, dan mialgia.
• Kontraindikasi : Aspirin tidak boleh diberikan pada penderita dengan kerusakan hati berat, hipoprotombinemia, defisiensi vit.k, dan hemophilia , karena dapat menimbulkan pendarahan. Salisilat dapat menurunkan fungsi ginjal pada penderita dengan hipovilemia atau gagal jantung.
• Farmakodinamik : salisilat merupakan obat yang paling banyak digunakan sebagai analgesic, antipiretik, dan anti-inflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretik. Dengan dosis ini laju metabolisme juga meningkat. Pada dosis toksik obat ini juga memperlihatkan efek piretik sehingga mengakibatkan demam dan hiperhidrosis pada keracunan berat.
• Farmakokinetik : pada pemberian obat sebagian salisilat diabsorbsi dengan cepat dalam bentuk utuh dilambung, tetapi sebagian besar diusus halus bagian atas. Kadar tertinggi kira kira dicapai setelah 2 jam pemberian. Absorbsi yang diberikan secara rektal lebih lambat dan tidak sempurna sehingga cara ini tidak dianjurkan. Asam salisilat diabsorbsi cepat dari kulit sehat, terutama bila dipakai sebagai obat gosok/salep. Keracunan dapat terjadi pada pengolesan kulit yang luas. Obat ini mudah menembus sawar darah otak dan sawar uri. Kira kira 80% sampai 90% salisilat plasma terikat pada albumin. Aspirin diserap dalam bentuk utuh,dihidrolisis menjadi asam salisilat terutama dalam hati , sehingga hanya sekitar 30 menit terdapat dalam plasma. Biotransformasi salisilat terjadi dibanyak jaringan, terutama di mikrosom dan mitokondria hati. Salisilat diekskresi dalam bentuk metabolismenya terutama melalui ginjal, sebagian kecil melalui keringat dan empedu.
• Efek terhadap pernapasan: gejala pernapasan terlihat serius gangguan keseimbangan asam basa dalam darah. salisilat merangsang pernapasan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada dosis terapi salisilat mempertinggi konsumsi oksigen dan produksi CO2. Peningkatan PCO2 akan merangsang pernapasan sehingga pengeluaran CO2 melalui alveolar bertambah ICO2 dalam plasma turun. Meningkatnya ventilasi ini pada awalnya ditandai dengan perapasan yang lebih dalam sedangkan frekuensi hanya sedikit bertambah .
• Efek terhadap keseimbangan asam-basa: dalam dosis terapi yang tinggi salisilat menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen dan produksi CO2 terutama diotot skelet karena perangsangan fosforilasi oksidative. Keadaan yang lebih buruk biasanya terjadi pada bayi dan anak yang mendapat dosis toksik atau pada orang dewasa yang menelan salisilat yang sangat besar. Pada bayi dan anak fase alkaloksis respiratoar sering tidak terdeteksi sehingga mereka baru dibawa kedokter setelah keadaan memburuk, yaitu terjadi pada saat asidosis metabolic.
• Efek urikosurik : Dosis kecil (1gr atau 2gr sehari) mengakibatkan ekskresi asam urat, sehingga kadar asam urat dalam darah meningkat. Dosis 2 atau 3gr sehari biasanya tidak mengubah ekskresi asam urat, tetapi pada dosis lebih dari 5gr per hari terjadi peningkatan ekskresi asam urat melalui urin, sehingga kadar asam-urat dalam darah menurun. Hal ini terjadi karena pada dosis rendah salisilat menghambat sekesi tubuli sedangkan pada dosis tinggi salisilat juga menghambat reabsorbsinya dengan hasil akhir peningkatan ekskresi asam urat.
• Efek terhadap darah : pada orang sehat aspirin dapat memperpanjang massa pendarahan. Karena asetilasi siklo-oksigenase trombosit sehingga pembentukan TXA2 terhambat, dosis tunggal 650 mg aspirin dapat memperpanjang massa pendarahan kira kira 2kali lipat. Pada pemakaian obat antikoagulasi jangka lama sebaiknya berhati hati memberikan aspirin, karena bahaya pendarahan mukosa lambung.
• Efek terhadap hati dan ginjal: salisilat bersifat hepatotoksik dan ini berkaitan dengan dosis, bukan respon imun. Gejala yang sering terlihat hanya kenaikan SGOT dan SGPT, beberapa penderita menunjukan hepatomegali, anoreksia, mual, dan ikterus. Bila terjadi ikterus pemberian obat aspirin harus dihentikan, karena dapat terjadi nekrosis hati yang fatal.
• Efek terhadap saluran cerna: pendarahan lambung yang berat dapat terjadi pada dosis yang besar dan pemberian kronik.
• Sediaan yang tersedia adalah oral (regular atau salut enteric) : tablet 65, 81, 324, 325, 486, 500 mg, tablet lepas lambat : 650 dan 800 mg. Rektal : supositoria 60, 120, 125, 130, 195, 200, 300, 325, 600, 650, 1200 mg.
• Aspirin tersedia dalam bentuk tablet 100 mg untuk anak dan tablet 500 mg untuk orang dewasa. Metal-salisilat hanya digunakan sebagai obat luar dalam bentuk salep atau linimen dan dimaksudkan sebagai counter irritant bagi kulit. Asam salisilat yang berbentuk bubuk digunakan sebagai karatolitik dengan dosis tergantung pada penyakit yang akan diobati.
• Untuk memperoleh efek anti inflamasi yang baik kadar plasma perlu dipertahankan antara 250-300mcg/ml. kadar ini tercapai dengan dosis aspirin oral 4 gram per hari untuk orang dewasa. Pada penyakit demam reumatik, aspirin masih belum dapat digantikan oleh obat AINS yang lain dan masih dianggap standar dalam studi perbandingan penyakit arthritis rheumatoid
• Dosis salisilat untuk dewasa adalah 325 mg-650 mg, diberikan secara oral tiap 3 atau 4 jam. Untuk anak 15-20 mg/kgBB, diberikan tiap 4-6 jam dengan dosis total tidak melebihi 3,6 gr per hari.

Dosis optimal untuk anak-anak harus dihitung untuk tiap individu karena anak-anak mempunyai dosis yang berbeda-beda menurut umur, berat badan, lebar tubuh dan penyakit tapi belum semua obat ditest pada anak-anak sehinggan dosis obat NSAIDs untuk anak – anak tidak selalu tersedia. Sehingga tidak terlalu mengejutkan bila terjadi dosing error pada saat pengobatan pada anak-anak.
Untuk anak-anak obat NSAIDs dalam bentuk tablet atau kapsul lebih sering diberikan daripada dalam bentuk cairan karena obat yang tersedia kebanyakan dalam bentuk tablet/kapsul atau obat tablet/kapsul adalah permintaan dari orang tua. Pada anak- anak ada tiga kemungkinan alasan untuk meresepkan NSAIDs dengan dosisi yang rendah :
a) NSAIDs mungkin lebih efektif untuk penyakit dengan dosis rendah daripada menggunakan dosis biasa, karena NSAIDs hanya digunakan pada waktu tertentu saja.
b) Dosis rendah munkin dianjurkan atau diberikan oleh dokter, karena dokter bimbang akan berapa dosis yang harus diberikan.
c) Dokter berhati-hati akan efek merugikan yang dapat muncul dari dosis NSAIDs yang tinggi

DAFTAR PUSTAKA

• Siswandono, Bambang Soekardjo. 2008. Kimia Medisinal ed 2. Surabaya : Airlangga University Press.
• Katzung, Bertram G. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik ed 6. Jakarta : EGC.
• Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan Efek Sampingnya ed 6. Jakarta : Gramedia.
• Amir Syarif et al. 2005. Farmakologi dan Terapi ed 4. Jakarta : Gaya Baru.
• Kristina Star, Ola Caster, Andrew Bate, Ralph Ewards. Dose Variations Associated with Formulation of NSAID Prescriptions for Children. Drug Saf 2011; 34 (4): 307-317

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *