rian-Juanda
Oase ARAFURA dari Sang KAPTEN
Oleh: Rian Juanda, S. Kel
Arafura merupakan wilayah perairan Indonesia paling timur yang memiliki keanekaragaman hayati laut paling tinggi, terutama udang, yang merupakan “emasnya” Arafura, sejak dimanfaatkan mulai tahun 65-an sampai sekarang, Arafura masih merupakan surga perikanan Indonesia, bahkan dunia. Lebih dari ratusan ton setiap bulannya udang Arafura di ekspor ke negeri Sakura, Jepang, belum lagi hasil perikanan yang lain.
 
Kali ini, saya berkesempatan secara langsung mengikuti operasi penangkapan salah satu kapal Trawl udang yang berbasis di Sorong. Perjalanan dari Sorong ke Arafura membutuhkan waktu yang panjang, yang biasanya hanya 3 hari, menjadi 5 hari 4 malam untuk menuju fishing ground (area penangkapan), dikarenakan kami berlayar di tengah terjangan ombak yang mencapai 5-8 meter. Kapal ini memiliki bobot 162 GT dengan 14 awak kapal, dengan pukat ganda, satu di sisi kanan dan satu di sisi kiri kapal.
Kami disambut kawanan lumba-lumba yang mengawal di sisi kapal, sesekali kawanan lumba-lumba ini bermanuver dan meloncat-loncat ke udara, seolah-olah kami ini tamu yang harus disambut dengan hangat. Sejauh mata memandang, hanya tampak hamparan laut tak berujung, yang ada hanya beberapa kapal perikanan yang hilir mudik menangkap udang dan ikan, tak terkecuali kapal perikanan ilegal dari luar.
 
Rian Juanda
Kebetulan saat itu merupakan bulan ramadhan, walaupun demikian tak menyurutkan Saya dan awak kapal untuk melaksanakan ibadah puasa, seumur hidup Saya, baru kali ini saya merasakan suka-dukanya berpuasa di tengah lautan, tanpa sinyal hp, jauh dari keluarga dan jauh dari hiruk pikuk manusia. Namun demikian nuansa islami di kapal ini begitu kental, seperti; Sang Kapten kadang kala bertindak sebagai imam, ketika waktu shalat tiba, dan setengah jam sebelum waktu berbuka, lantunan ayat suci alqur-an bergema, mengalun dengan bagus keluar dari pengeras suara di kapal, apalagi ditambah dengan deburan ombak dan kicauan burung yang saling menyahut dengan latar belakang senja di ufuk sana, sangat mendamaikan, benar-benar moment yang langka.
 
Awalnya saya berpikir ini kaset yang diputar, ternyata dugaan saya salah, sang Kaptenlah yang selalu melantunkan ayat suci tersebut, sukar dipercaya, jarang sekali saya bisa menyaksikan hal ini. Berbeda sekali dengan kapten-kapten kapal yang lain yang sering saya temui. Saya mencoba mengenal sang Kapten lebih dekat lagi, ternyata sang Kapten berusaha mengubah perlahan-lahan image yang selama ini melekat pada awak perikanan kita, seperti; mabuk-mabukan, dan judi, walaupun diakuinya kadang kala lamanya di laut (60 hari) membuat sebagian orang merasa bosan dan jenuh dengan aktivitasnya di laut.
Bahkan sang Kapten pernah merintis shalat Idul Fitri bersama di atas kapal-kapal yang dirapatkan menjadi satu padu, Sang kapten yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren ini berharap,  image ini dapat hilang perlahan-lahan.
 
Sang Kaptenpun memiliki toleransi yang sangat tinggi terhadap teman Saya yang non muslim, ia menyiapkan makanan buat dia, seperti saat makan siang. “ Islam mengajarkan untuk berbuat baik terhadap sesama manusia, jangan karena kita berpuasa ia kelaparan…” Begitu katanya.
 
Perjalanan panjang ini terbayar sudah tatkala Saya melihat hasil tangkapan lautnya begitu luar biasa, berbagai macam jenis ikan tertangkap, berbagai jenis makhluk laut yang sebelumnya tidak pernah saya lihat dapat dengan mudah saya saksikan. Di saat saya sibuk melihat ikan-ikan, para awak kapal dengan sigap memilah-milah udang yang merupakan primadonanya  Arafura, bayangkan saja, ukuran udang di sini bisa mencapai 33 cm per-ekornya. Luar biasa, dalam 10 hari saja, mereka bisa menangkap hampir 1 ton udang segar dengan berbagai macam jenis, seperti udang windu (tiger prawn), dan Udang Putih (banana prawn)
 
Kapal ini memiliki palka dan sistem pendingin sendiri, sehingga udang-udang ini bisa bertahan berbulan-bulan di dalam palka, udang yang ditangkap-pun langsung diproses dan dipacking sedemikian rupa, sehingga saat kembali dari melaut, udang ini dalam kondisi siap diekspor.
 
Namun demikian, kondisi perairan tidak selalu teduh dan bersahabat, ada kalanya ombak besar menerjang kami, bahkan membuat kami hampir tenggelam, dimana sang Kapten harus berjibaku dengan ombak sekaligus mempertahankan kestabilan kapal, belum lagi petir yang menyambar di tengah malam buta, yang membuat kapal kehilangan navigasinya, matinya GPSnya bahkan mesin utama kami mati, tapi karena sebuah keyakinan dan kerjasama yang solid antar awak kapal ditambah dengan sang Kapten yang memiliki iman yang kuat, Alhamdulillah, semua itu dapat kami lalui dengan aman.
 
Dunia perikanan memang keras, kadang kala jika Saya membayangkan apa yang telah kami alami selama di laut, seharusnya kesejahteraan nelayan harus diperhatikan dengan betul, harus  meningkat untuk kehidupan yang layak bagi mereka dan keluarganya, semoga saja.
 
Terakhir, sebelum Saya kembali, sang Kapten berpesan, “ Ingatlah Allah di manapun kamu berada ”. Terima kasih Kapten, semoga bisa menjadi teladan bagi semua. (RJD)