BAB VII
NEUROGERIATRI

TUJUAN BELAJAR

TUJUAN KOGNITIF
Setelah membaca bab ini dengan seksama, maka anda sudah akan dapat:
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan neurogeriatri.
1.1. Menjelaskan pengertian neurogeriatri.
1.2. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri mengenai pentingnya memahami neurogeriatri.
1.3. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri mengenai keadaan-keadaan neurologis pasien geriatri dengan pasien pada tingkat umur yang lain.
2. Mengetahui bagaimana pendekatan pelayanan kesehatan pada pasien geriatri.
2.1. Menjelaskan cara pendekatan pelayanan kesehatan dalam bidang neurologis dan sosial budaya yang biasa digunakan pada pasien geriatri.
2.2. Menjelaskan cara-cara mengukur tingkat fungsional pada pasien geriatri.
2.3. Menjelaskan cara mengukur fungsi kognitif pada pasien geriatri.
3. Mengetahui kelainan neurologis yang biasa ditemukan pada pasien geriatri.
3.1. Menjelaskan mengenai parkinson, demensia, vertigo dan stroke serta bagaimana cara mendiagnosisnya.
3.2. Menjelaskan cara terapi farmakologis maupun non farmakologis pada kelainan neurologis.
4. Mampu memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan pendekatan proses keperawatan.
4.1. Mampu mengkaji dengan pendekatan paripurna (holistik) dan memperhatikan dampak proses degeneratif.
4.2. Mampu mengidentifikasi masalah keperawatan dan memprioritaskan diagnosis keperawatan.
4.3. Mampu merumuskan rencana tindakan keperawatan dengan pendekatan SMART.
4.4. Mampu mengimplementasikan asuhan keperawatan sesuai standar dan strategi komunikasi terapeutik.
4.5. Mampu mengevaluasi hasil asuhan dengan tepat dan melakukan modifikasi sesuai dengan kebutuhan.

TUJUAN AFEKTIF
Setelah membaca bab ini dengan penuh perhatian, maka penulis mengharapkan anda sudah akan dapat:
1. Menunjukkan perhatian akan kesehatan neurologis orang yang lanjut usia.
1.1. Membaca lebih lanjut mengenai neurologis geriatri.
1.2. Membimbing keluarga pasien bagaimana cara menghadapi orang lanjut usia dengan kelainan neurologis.
1.3. Mengusulkan cara pengobatan yang memadai.

I. PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan teknologi di berbagai bidang serta kemajuan di bidang ekonomi, harapan hidup manusia Indonesia juga mengalami peningkatan, yang saat ini telah melampaui usia 60 tahun. Akibatnya jumlah penduduk lanjut usia juga meningkat. Peningkatan jumlah lanjut usia ini tentu membawa dampak di bidang kesehatan, karena akan diikuti oleh bertambahnya penyakit yang berhubungan dengan proses menua.
Setiap lanjut usia ingin menua dengan sukses, yang mencakup:
 Dapat tetap berdikari.
 Sehat mental dan mampu mempertahankan harga diri.
 Hambatan fisik yang minimal dan mampu mengatasinya.
 Puas dengan hidup dan keadaaannya.
Untuk mencapai keadaan ini, perlu dicegah timbulnya penyakit sejak dini.
Neurogeriatri adalah sekelompok penyakit saraf yang terdapat pada lanjut usia. Adapun penyakit-penyakit yang termasuk dalam neurogeriatri antara lain :
• Stroke
• Nyeri pada lanjut usia
• Vertigo
• Sindrom Parkinson
• Demensia
• dan lain-lain
Di dalam referat ini akan dibahas beberapa penyakit saraf yang sering dijumpai pada kelompok lanjut usia, yaitu stroke, vertigo, sindrom Parkinson, dan demensia.

A. Stroke
Stroke adalah gangguan mendadak suplai darah ke otak. Kebanyakan stroke disebabkan oleh blok yang tiba-tiba aliran darah arteri ke otak. Penyebab lainnya adalah perdarahan ke dalam jaringan otak saat pembuluh darah otak pecah. Karena stroke terjadinya cepat dan perlu penanganan segera, stroke disebut juga serangan otak.
Stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama di Indonesia. Serangan otak ini merupakan kegawatdaruratan medis yang harus ditangani secara cepat, tepat dan cermat.
Lebih lanjut mengenai stroke akan dibahas pada bab tersendiri.

B. Vertigo
Vertigo ialah ilusi bergerak. Penderita merasakan atau melihat lingkungannya bergerak atau penderita merasakan dirinya bergerak.Vertigo digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan. Gangguan keseimbangan beragam bentuk dan penyebabnya. Banyak sistem atau organ tubuh yang ikut terlibat dalam mengatur dan mempertahankan keseimbangan tubuh kita.
Keseimbangan diatur oleh integrasi berbagai sistem. Di antara sistem ini, yang banyak peranannya ialah sistem vestibular, sistem visual dan sistem somatosensorik (propioseptif). Gerakan pada vertigo umumnya gerakan berputar, namun sesekali dijumpai kasus dimana gerakan bersifat linier, tubuh seolah-olah didorong atau ditarik menjauhi bidang vertikal. Bila seseorang menderita vertigo, hal ini menunjukkan bahwa sistem vestibularnya terganggu. Pada lanjut usia, hal ini disebabkan sistem vestibular dan keseimbangannya mengalami perubahan degeneratif dan mengakibatkan gangguan klinis berupa vertigo.

Bentuk Gangguan Keseimbangan :
1. Rasa tidak seimbang, disekuilibrium
Keluhan ini dapat diakibatkan oleh berbagai kelainan, misalnya : gangguan vestibular, gangguan propioseptif, gangguan fungsi serebelum, labirin yang tidak berfungsi, gangguan ekstrapiramidal, intoksikasi obat, tumor di fossa posterior.
2. Kepala terasa ringan
Keluhan ini dapat disebabkan oleh efek samping obat (misalnya obat anti-hipertensi, obat penenang), gangguan sistemik.
3. Merasa seolah hampir “pingsan”, “hilang”, sinkop, black out
Keluhan ini sering dijumpai pada gangguan homeostatik, gangguan aliran darah, termasuk penyakit jantung, kardiovaskular, serebrovaskular, anemia, oleh obat-obatan, dan hipotensi ortostatik. Hipotensi ortostatik merupakan penyebab yang sering bagi rasa enteng di kepala pada lansia.
4. Vertigo (halusinasi gerakan, rasa bergerak)
Vertigo dijumpai pada gangguan vestibular, baik yang di perifer maupun yang sentral. Vertigo dapat disebabkan oleh kelainan sentral (batang otak, serebelum) dan perifer (telinga dalam, saraf vestibular). Vertigo sentral dapat dibedakan dari yang perifer melalui beberapa gejala.

Tabel 1. Perbedaan vertigo perifer dengan vertigo sentral
Gejala Vertigo Perifer Vertigo Sentral
Vertigo Berat Ringan
Arah nistagmus Terutama satu arah, fase cepat kontralateral terhadap lesi Dua atau satu arah
Nistagmus Vertikal Tidak pernah ada Mungkin ada
Tinitus dan/atau tuli Sering ada Biasanya ada
Gejala disfungsi batang otak Tidak ada Sering ada

Penyebab vertigo yang sering dijumpai :
1. Vertigo jenis perifer
– Neuronitis vestibular
– Vertigo Posisional Benigna
– Penyakit Meniere
– Trauma
– Fisiologis (mabuk kendaraan)
– Obat-obatan
– Tumor di fossa posterior, misalnya neuroma akustik
2. Vertigo jenis Sentral
– Stroke vertebrobasilar (infark atau perdarahan)
– Trauma
– Migren basilar
– Neoplasma
– Degenerasi Spinoserebelar
3. Lain-lain
– Toksik (misalnya oleh anti-konvulsan)
– Infeksi
– Hipotiroid

Pemeriksaan penunjang:
1. Tes Romberg yang dipertajam
2. Tes melangkah di tempat (stepping test)
3. Salah tunjuk (past pointing)
4. Manuver Nylen-Barany atau Manuver Hallpike

Beberapa Kelainan Dengan Gejala Vertigo :

1. Presbiastaksis (disekuilibrium pada usia lanjut)
Orang usia lanjut sering mengeluhkan puyeng dan rasa tidak stabil. Bila kita cari penyebabnya atau diagnosis klinis atau diagnosis patologis khusus, sering kita tidak dapat menentukannya. Pada keadaan demikian digunakan diagnosis disekulibrium pada usia lanjut (presbiastaksis).
Usia lanjut disertai degenerasi statokonia (sakulus dan utrikulus), neuroepitel vestibular, ganglion vestibular (Scarpa) dan serebelum. Belum dapat dipastikan yang mendasari perubahan degeneratif ini yang menyebabkan sensasi disekuilibrium. Obat yang bermanfaat pada presbiastaksis adalah dramamine, promethazine, diazepam.

2. Benigna Positional Vertigo (BPV)
Vertigo posisional adalah vertigo yang timbul bila kepala mengambil posisi atau sikap tertentu. BVP merupakan kelainan perifer yang paling sering dijumpai pada usia dekade 5 dan 6, serta wanita agak lebih sering daripada pria.
BPV adalah suatu gangguan vestibular perifer yang menyebabkan serangan vertigo yang berlangsung singkat, biasanya kurang dari satu menit. Serangan sering terjadi di waktu pagi hari bila bangun dari tempat tidur atau berguling, merebahkan diri di tempat tidur, mengerakkan kepala ke belakang atau menengadah. Pasien juga mengeluhkan adanya gangguan keseimbangan dan mengalami kesulitan bila ia berjalan, yang dapat berlangsung beberapa jam setelah serangan vertigo posisional.
Etiologi pada sebagian besar kasus tidak diketahui. Beberapa kasus BPV dijumpai setelah mengalami jejas atau trauma kepala atau leher, infeksi telinga tengah atau operasi stapedektomi. Banyak kasus BPV yang timbul spontan, disebabkan oleh kelainan di otokonia.
Terapi BPV adalah dengan obat antivertigo seperti meklisin, betahistin atau fenergan. Pasien juga dapat melakukan latihan posisional yang dapat membantu mempercepat remisi pada sebagian besar penderita BPV.

3. Gangguan Vaskular di Otak
Perubahan vaskular pada lansia dapat berkaitan dengan sindrom vestibular menyebabkan vertigo, imbalans (tidak seimbang) dan pusing. Stroke dapat memberikan gejala vertigo terutama stroke batang otak atau serebelum, daerah yang diperdarahi oleh arteria vertebrobasilaris.

Terapi Antivertigo:
1. Antihistamin
Beberapa antihistamin memiliki sifat antikolinergik. Diduga sifat antikolinergik inilah yang berhubungan dengan sifat antivertigonya. Efek samping yang umum dijumpai adalah sedasi (mengantuk).
2. Betahistine
Betahistine mesylate (Merislon ®), Betahistine diHCl (Betaserc®).
Senyawa betahistine (suatu analog histamin), yang dapat meningkatkan sirkulasi di telinga dalam, dapat diberikan untuk mengatasi gejala vertigo. Dosis 6-12 mg, 3x sehari maksimum 6 tablet. Efek samping : gangguan lambung, rasa enek, kadang rash di kulit.
3. Dimenhydrinate(dramamine ®)
Lama kerja obat 4-6 jam, diberikan oral atau parenteral (i.m atau i.v) dosis 25-50 mg, 4x sehari. Efek sampingnya adalah sedasi.

C. SINDROM PARKINSON
Parkinson atau lebih tepat bila disebut sebagai sindrom Parkinson mencakup berbagai kondisi dengan beragam etiologi dengan gejala klinis yang serupa atau hampir serupa. Johnson dkk. mengemukakan bahwa diagnosis klinis Parkinson dapat ditegakkan bila dijumpai sekurang-kurangnya 2 dari 4 gejala berikut, yaitu : tremor, rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural.
Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurologis yang mengenai sekitar 1% dari kelompok usia di atas 50 tahun dan sekitar 2% dari mereka yang berusia lebih dari 70 tahun.
Lebih lanjut mengenai Parkinson akan dibahas pada bab tersendiri.

D. DEMENSIA

Sindrom demensia dapat didefinisikan sebagai deteriorasi atau kemunduran kapasitas intelektual. Sindrom ini ditandai oleh gangguan kognitif, emosional, dan psikomotor. ICD-10 mengemukakan bahwa agar dapat digolongkan sebagai demensia, kemunduran fungsi luhur (mental) harus sedemikian rupa sehingga mengganggu di pekerjaanya, aktivitas sosial atau hubungan dengan orang lain.
DSM IV (1994) mendefinisikan demensia sebagai sindrom (diakibatkan oleh banyak kelainan, penyakit) ditandai oleh gangguan tingkat intelektual yang sebelumnya lebih tinggi. Gangguan mencakup memori dan bidang kognitif lainnya (termasuk berbahasa, orientasi, kemampuan konstruksional, berpikir abstrak, kemampuan memecahkan persoalan dan praksis) dan harus cukup berat sehingga menganggu kemampuan okupasional atau sosial atau keduanya. Perubahan kepribadian dan afek sering dijumpai.
Lebih lanjut mengenai demensia akan dibahas pada bab tersendiri.

II. KESIMPULAN
Stroke adalah manifestasi klinis gangguan serebrovaskuler dan salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama di Indonesia. Stroke merupakan kegawatdaruratan medis yang harus ditangani secara cepat, tepat dan cermat.
Vertigo digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan. Vertigo dijumpai pada gangguan vestibular, baik yang di perifer maupun yang sentral. Vertigo dapat disebabkan oleh kelainan sentral (batang otak, serebelum) dan perifer (telinga dalam, saraf vestibular). Vertigo sentral dapat dibedakan dari yang perifer melalui beberapa gejala.
Vertigo posisional adalah vertigo yang timbul bila kepala mengambil posisi atau sikap tertentu. BVP merupakan kelainan perifer yang paling sering dijumpai pada usia dekade 5 dan 6, serta wanita agak lebih sering daripada pria.
Sindrom Parkinson adalah sindrom motorik yang terdiri dari berberapa gejala yaitu bradikinesia, tremor, rigiditas muskular dan instabilitas postural. Diagnosis klinis Parkinson dapat ditegakkan bila dijumpai sekurang-kurangnya 2 dari 4 gejala tersebut. Penyebab Parkinson masih belum diketahui, namun para ahli menghubungkan dengan kondisi kekurangan dopamin pada otak.
Demensia atau pikun adalah gejala lanjut usia yang amat ditakuti. Demensia adalah kumpulan sejumlah gangguan intelektual. Orang demensia tidak dapat memelihara dirinya sendiri, tidak mandiri, tidak mengenal lagi lingkungannya.

DAFTAR PUSTAKA

Adams and Victor’s. Principales of Neurology International Edition. McGraw-Hill, USA: 2001.

Bagian Farmakologi. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-4. Gaya Baru. Jakarta: 1995.

Ghautier, S. Clinical Diagnosis and Management of Alzheimer’s Disease.Martin Dunitz, London: 2002.

Harsono. Kapita Selekta Neurologi Edisi ke-2. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta: 2003.

Hazzard, W.R, et al. Principles of Geriatric Medicineand Gerontology 2nd edition. Mc-Graw Hill. USA: 1990.

Setiabudhi,T. Kuliah Gerontology Neurogeriatri. Jakarta: 2005.

Samekto Wibowo, Abdul Gofir. Farmakoterapi dalam Neurologi. Salemba Medika. Jakarta: 2001.

Sidiarto, K. Pengenalan dini dan Penanganan Gangguan Kognitif Ringan dan Stadium Awal Demensia Alzheimer. 2002.

www. merck.com

www.yahoo.com.

www.google.com

www. Id.novartis.com/bul_cns.shtml.

www. Pdpersi.co.id/pdpersi/news/psejati.php3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *