Aedes aegypti tergolong dalam filum Arthropoda yang berasosiasi dengan penyakit virus (Arbovirus). Tubuhnya terdiri dari kurang lebih 20 ruas yang terkonsolidasi menjadi tiga bagian yaitu, kepala (caput), dada (toraks), dan perut (abdomen). Pada kepala terdapat alat mulut dan mata. Toraks terdiri dari 3 ruas yang berturut-turut dari depan yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Pada bagian ini terdapat sayap dan tungkai sedangkan pada abdomen berisi alat pencernaan dan alat reproduksi (Jumar, 2000). Caput umumnya terdiri dari alat mulut, antena, dan mata majemuk. Bagian toraks nyamuk dewasa mempunyai bercak putih-putih keperakan atau putih kekuningan pada tubuhnya yang berwarna hitam. Bagian dorsal dari toraks terdapat bercak yang khas berupa 2 garis sejajar dibagian tengah dan dua garis lengkung ditepinya. Abdomen nyamuk betina yang lancip ujungnya dan memiliki cerci yang lebih panjang daripada nyamuk-nyamuk lainnya (Soedarto, 1995).
Alat mulut terdiri dari enam stilet penusuk, yaitu: stilet labrum (labrum hipofaring), dua stilet mandibel, dua stilet maksila, dan stilet hipofaring. Labium berfungsi sebagai sarung stilet (rostrum). Palpus maksila ada, tapi palpus labium tidak ada. Saluran ludah terdapat didalam hipofaring dan saluran makanan terdapat diantara labrum yang beralur dan mandibel (Jumar, 2000).

          Nyamuk A. aegyptibetina dewasa memiliki tubuh berwarna hitam kecoklatan. Ukuran tubuh nyamuk A. aegypti betina antara 3-4 cm, dengan mengabaikan panjang kakinya. Tubuh dan tungkainya ditutupi dengan sisik dengan garis-garis putih keperakan. Dibagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal dibagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari nyamuk spesies ini. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap berbeda antarpopulasi, bergantung pada kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk selama perkembangannya. Nyamuk jantan dan betina tidak memiliki perbedaan nyata dalam ukuran. Biasanya nyamuk jantan memiliki tubuh yang lebih kecil daripada betina, dan terdapat bulu-bulu tebal pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati dengan mata telanjang (Ginanjar, 2007). Nyamuk A. aegypti bisa dilihat pada gambar 2.2.
Telurnya berbentuk elips atau oval memanjang, tampak seperti anyaman kasa (Zaman, 1997), berwarna hitam, ukurannya 0,5-0,8 mm, permukaan poligonal, tidak memiliki alas pelampung, dan terpisah satu dengan yang lainnya (Soegijanto, 2004). Larva Aedes aegypti memiliki sifon yang panjang berbentuk tidak langsing dan bulunya satu pasang, segmen anal pelana tidak menutup segmen serta gigi sisir yang tidak berduri lateral (Soedarto, 1995; Zaman, 1997). Ukuran dan kelengkapan anatomis tubuhnya sesuai dengan tahap perkembangannya yaitu: larva instar I, tubuhnya lebih kecil, warna transparan, panjang 1-2 mm, rambut (spinae) pada dada (toraks) belum jelas, dan corong pernafasan belum menghitam. Larva instar IIbertambah besar, ukuran              2,5-3,9   mm, rambut pada dada belum jelas, dan corong pernafasan sudah hitam, larva instar III sudah mulai lengkap struktur anatominya. Larva instar IV telah lengkap struktur anatominya dan jelas terbagi menjadi kepala (cephal), dada (thoraks), dan perut (abdomen) (Soegijanto, 2004).Larva A. agypti danA. albopictus sangat mirip, namun terdapat perbedaan mencolok antara larva A. aegypti dan A. albopictus yaitu pada gigi sisir (comb) yang terletak pada segmen 8 pada abdomen (Beaver et al, 1989).

          Sesudah melewati pergantian kulit yang keempat, maka terjadi pupasi. Pupa berbentuk agak pendek, tubuhnya bengkok, dengan bagian kepala-dada (cephalotoraks) lebih besar bila dibandingkan dengan perutnya, sehingga tampak seperti tanda baca “koma”. Pada bagian punggung (dorsal) dada terdapat sepasang alat bernapas seperti terompet. Bila perkembangan pupa sudah sempurna, kulit pupa pecah dan nyamuk dewasa keluar serta terbang (Soegijanto, 2004; Sembel, 2009). Morfologi telur, larva, dan pupa nyamuk A. aegypti bisa dilhat pada gambar 2.3 dibawah.