Batasan
Morbus Hansen (Hanseniasis, Lepra, Kusta) adalah penyakit menular yang sifatnya kronis, disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang primer menyerang saraf tepid dan sekunder menyerang kulit, otot RES saluran nafas bagian atas, mata dan testis.

PATOFISIOLOGI

Masuknya kuman dalam tubuh dapat melalui beberapa kemungkinan, diantaranya dapat melalui kulit yang tidak utuh, saluran nafas atau saluran pencernakan. Setelah masuk ke dalam tubuh, kuman menuju ketempat prediksinya yaitu sel Schewann pada saraf tepi..
Di dalam sel ini kuman berkembang biak, selnya pecah kemudian menginfeksi sel Schwann yang lain atu ke kulit tergantung derajat imunitas penderitanya. Pada imunitas yang tinggi akan terjadi kusta tipe tuberkuloid, sedangkan pada imunitas yang rendah akan terjadi tipe lepromatus.

GEJALA KLINIS

Keluhan utama biasanya sebagai akibat kelainan saraf tepi, yang dalam hal ini dapat berupa bercak pada kulit yang mati rasa, rasa tebal, semutan, kelemahan otot-otot dan kulit kering akibat gangguan pengeluaran kelenjar keringat.

Gejala klinis yang terjadi dapat berupa kelainan pada saraf tepi, kulit, rambut, otot, tulang, mata dan testis.

1. Kelainan pada saraf tepi
Kelainan yang terjadi dapat berupa penebalan yang nyeri tekan akibat proseskeradangan atau reaksi fibrosis.
Terjadinya terutama pada saraf tepi yang dalam perjalanannya mendekati permukaan kulit al.: nulnaris mgnus, n. Perouneus lateralis dan n. Medianus.

2. Kelainan pada kulit
Kelainan yang terjadi dapat berupa bercak mati rasa atau makula anastetika, nodula, ulkus, ichtiosis, penebalan cuping telinga serta facies leonina.

3. Kelainan pada rambut
Kerontokan rambut yang terjadi biasanya terbatas pada mukula atau pada alis mata (madarosis)

4. Kelainan pada otot
Kelainan dapat berupa disuse atrophy dari otot-otot yang dienervasi oleh saraf tepi yang rusak al: atrofi tenar, hipotenar, M.interosei, M.lumbricalis.
Kelumpuhan otot-otot diikuti kekakuan sendi sehingga terjadi claw hand, drop foot dan drop hand.

5. Kelainan pada tulang
Dapat berupa osteomyelitis sehingga terjadi mutilasi.
Dapat terjadi res orbsi pada tulang terutama pada jari-jari sehingga memendek dan ujungnya bengkok disebut sebagai telescopic finger.

6. Kelainan pada mata.
Kelainan pada mata sering diakibatkan oleh kelumpuhan dari m. orbiculris oculi sehingga terjadi lagopthalmus atau mata tidak dapat dipejamkan sehingga mata menjadi kering dengan akibat terjadi keratitis yang dapat berlanjut menjadi ulkus kronea, iritis, iridosi klitis dan berakhir kebutaan.

7. Kelainan pada testis
Dapat terjadi orkitis atau keradangan pada testis dan berakhir menjaadi atrofi. Atrofi testis ini yang mengakibatkan ginekomasti.

CARA PEMERIKSAAN / DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dengan cara pemeriksaan : klinis, bekteriologis serologis dan histopalogis .

1. Pemeriksaan klinis
Pemeriksaan klinis harus dilakukan ditempat yang terang.

Makula anastetika :
Pemeriksaan harus dilakukan ditempat yang terang.
• Gangguan rasah suhu ;
Diperiksa dengan cara membedakan suahu 2 tabung reaksi yang diisi dengan air es dan yang lain dengan air panas (60oC).
• Gangguan rasa nyeri :
Dengan menggunakan jarum pentol bagian yang runcing.
• Gangguan rasa raba :
Dengan menggunakan kapas yang dipilih.
• Gangguan rasa yang lebih dalam :
Dengan cara membedakan bagian yang runcing dan yang tumpul dari jarum pentol.

Pembesaran Saraf
• Pembesaran nauricularis magnus:
Dengan cara menoleh ke arah yang berlawanan, teraba saraf menyilang m. strenocleidomastoid.
• Pembesaran n. ulnaris
Posisi tangan dalam keadaan fleksi
Saraf dapat diraba pada sulkus ulnaris atau pada sulkus bisipitalis ulnaris.
• Pembesaran n. peroneus lateralis :
Penderita duduk dengan posisi kaki dalam keadaan menggantung saraf dapat diraba pada kapitum fibula.

2. Pemeriksaan bakteriologis
Untuk mencari M. leprae dilakukan pemeriksaan sediaan yang dicat dengan Zichl-Nielsen.
Bahan sediaan diambil dengan cara :
a. Mengorek septum nasi dengan oease untuk mendapatkan sekret hidung.
b. Kerokan yang dihasilkan setelah mengadakan irisan dangkal dengan scalpel pada cuping telinga yang sebelumnya dijepit dengan jari sehingga pucat.
c. Kerokan yang dihasilkan setelah mengadakan irisan dangkal dengan scalpel pada lesi kulit (Mukala) yang sebelumnya dijepit dengan pincet sampai pucat.

Sediaan yang telah dicat dilihat dibawah mikroskop biasa dengan lensa objektif 100 x , yang kemudian ditentukan :
Bentuk kuman : solid (utuh), fragmented (segmented) atau granulated.
Struktur kuman : Clump, globi atau soliter.
Kepadatan (densitas) kuman :
I.B. (Indek Bakteri) yang dalam hal ini dinyatakan dengan + 1 – + 6.
Daya tular : dinyatakan dengan I.M (Indek Morfologi) yang dalam hal ini dinyatakan dengan persentase.

3. Pemeriksaan serologis
Lepromin tes : Untuk membantu menentukan tipe kusta yang dalam hal ini tidak dilakukan secara rutin
4. Pemeriksaan histopatologis
Dilakukan terutama untuk membantu menentukan tipe pada kasus-kasus yang meragukan dan untuk penelitian.

Penentuan tipe kusta
Pembagian menurut Ridley-Jopling: TT, BT, BB, BL dan LL
Tipe TT dan BT disebut sebagai tipe pausibasiler
Tipe BB, BL dan LL disebut sebagai tipe multibasiler

Perbedaan         Pausibasiler         Multibasiler

Klinis                asimetris               simetris
                        Batas jelas            tidak jelas
                        Hipopigmentasi     eritematus
                        Kering                  mengkilat
                       Anastesi                hipoestesi

Syaraf              gangguan lebih dini     pada stadium
                       Dan lebih menonjol     akir gambaran
                                                        Anestesi pada
                                                        Sarung tangan
                                                        Dan kaos kaki

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Untuk M.H.tipe Tuberkloid yang makuler dapat di DD/ dengan penyakit penyakit golongan eritro-papua-suamus dermatose, sedangkan untuk M.H. tipe Lepromatus yang noduler dapat kita DD/ dengan pengecatan bersifat tahan asam.

PENYULIT
Penyulit paling sering dijumpi berupa sekunder infeksi sebagi akibat tidak langsung oleh Karena adanya anastesi.
Sekunder infeksi ini dapat mulai dari ulkus sampai osteomylitis, multilasi yang berakhir dengan deformitas atau kecacatan yang menetap. Penyulit lain dapat berupa Lepra Reaksi yang dalam hal ini sering dijumpai terutama pada penderita yang sedang mendapat pengobatan.

PENATALAKSANAAN
Pengobatan M.H, diberikan secara kombinasi (MDT) menurut regimen dari WHO

Tipe Paucibasiler
Rifampicin 600 mg/ bulan, diminum dimuka petugas
DDS 100 mg/ hari
Pengobatan diberikan secara teratur selama 6 bulan dan paling lama selesai dalam 9 bulan.

Tipe Multibasiler
Rifampicin 600 mg/ bulan
Diminum dimuka petugas
Lamperene 300 mg/ hari
Lamprence 50 mg/ hari

Pengobatan diberikan selama 2 tahun secara teratur dan paling lama selesai dalam 36 bulan.
Disamping obat-obat diatas, perlu diberikan vitamin-vitamin yang bersifat neurotropik dan penambah darah.
Untuk tipe Paucibasiler setelah selesai pengobatan kita nyatakan penderita dalam status RFT (Release From Tretment) yang dalam hal ini tetapi tetap kita observasi Selama 2 tahun.
Apabila selam jangka waktu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda aktif, pnderita dinyatakan RFC (Release From Control).
Untuk tipe Multibasiler jangka waktu observasi ini lama yaitu 5 tahun sebelum dinyatakan RFC.

DAFTAR PUSTAKA

1. Andrews G.C., Diseaseof the Skin 7 the ed. W.B. Saunders Company, Philadelphia, London. 1982 : 421 – 440.
2. Jopling W.H. Handbook of leprosy 3 rd ed. William Heineman Medical Book Ltd. London. 198: 1 – 50.
3. Thangaraj R.H. Yawalkar S.J. Leprosy for Medical Practitioners and Paramedical worker Ciba-Geighy Ltd. Basel Sweitzerland 1986 : 1 – 75