Kegiatan Belajar 1

Pemahaman Konsep
Setiap kajian antropologi yang pernah dilakukan selalu berusaha untuk memahami kebudayaan dari masyarakat yang dipelajarinya. Oleh karena itu, dalam antropologi, kebudayaan merupakan konsep sentral. Hanya dalam perkembangannya, kini konsep kebudayaan tidak sekedar merupakan alat untuk mendeskripsikan atau alat untuk mengumpulkan data-data kebudayaan tetapi lebih ke arah sebagai “alat analisis”.
Konsep yang mendasar dalam Kegiatan Belajar 2 ini adalah “kebudayaan” dan “adaptasi”. Dalam hal ini, adaptasi adalah berkenaan dengan bagaimana manusia mengatur hidupnya untuk menghadapi berbagai kemungkinan di dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan-kebutuhan dan hambatan-hambatan dalam memenuhinya menuntut manusia untuk beradaptasi. Manusia harus mampu memelihara keseimbangan yang terus-menerus berubah antara kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan potensi yang terdapat di lingkungan di mana dia tinggal dan hidup. Menghadapi berbagai kemungkinan tersebut dalam menjalani hidup inilah yang menjadi tugas utama sebuah “kebudayaan”.
Kebudayaan memang tampaknya sangat stabil. Namun, sebenarnya, sedikit atau banyak, perubahan merupakan karakteristik utama dari semua kebudayaan. Baik itu kebudayaan dari masyarakat maju, maupun kebudayaan dari masyarakat yang sedang berkembang atau masyarakat tradisional. Selain itu, karena kebudayaan mempunyai tugas utama untuk membuat manusia sanggup menghadapi berbagai kemungkinan yang terus menerus berubah dalam menjalani hidup ini maka semua masyarakat manusia yang masih eksis di muka bumi ini mempunyai kebudayaan tanpa kecuali. Di samping itu, sudah selayaknya bila dikatakan bahwa kebudayaan tertentu adalah yang paling sesuai bagi masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu pula tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi atau lebih baik dari kebudayaan lainnya.
Sementara itu, sebuah kebudayaan juga perlu memelihara eksistensi dirinya. Kebudayaan, dalam menjaga keberlangsungannya adalah dengan cara menciptakan tradisi-tradisi, seperti yang terdapat pada berbagai pranata-pranata sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Dengan kata lain, kebudayaan mengoperasionalkan model-model pengetahuan yang dimilikinya ke dalam pranata-pranata sosial. Ada pranata perkawinan, pranata agama, pranata pendidikan, pranata politik dan sebagainya.
Sedangkan hubungannya dengan “struktur sosial”, pranata-pranata sosial ini berfungsi sebagai pengontrol dalam menjaga keberlangsungan struktur-struktur sosial yang bersumber pada kebudayaan. Selain itu, kebudayaan memberi ‘warna’ atau ‘karakter’ terhadap struktur-struktur sosial yang ada sehingga struktur-struktur sosial yang terdapat pada kebudayaan tertentu akan tampak ‘khas’ bila dibandingkan dengan struktur-struktur sosial yang terdapat pada kebudayaan yang berbeda. Dengan demikian, struktur sosial merupakan ‘operasionalisasi’ dari pranata-pranata sosial – yang telah disesuaikan dengan lingkungan-lingkungan sosial yang ada dalam kehidupan nyata pendukung kebudayaan yang bersangkutan.

Kegiatan Belajar 2

Perubahan dan Keteraturan
Perubahan adalah karakteristik umum dari semua kebudayaan. Meski perubahan merupakan karakteristik kebudayaan, namun proses perubahan tersebut selalu berakhir dengan “keteraturan”, yaitu menuju proses “keteraturan baru”. Setelah tercapai posisi “keteraturan baru” maka proses perubahan akan berjalan kembali. Demikian seterusnya. Oleh karena itu kebudayaan tampak “stabil” dan “kuat” tetapi juga bersifat lentur.
Perubahan dikatakan sebagai karakteristik umum dari semua kebudayaan karena secara alamiah:
  1. Lingkungan di mana manusia tinggal dan hidup – yang tampaknya stabil – pada hakikatnya juga dinamis atau selalu mengalami proses perubahan.
  2. Adanya variasi pengetahuan kebudayaan dari para pendukung kebudayaan itu sendiri.
  3. Penemuan dari para pendukung kebudayaan sehingga terjadi suatu pembaharuan atau inovasi.
  4. Selain itu, perubahan juga terjadi karena bermula dari berinteraksi (pertemuan dengan) kebudayaan asing (misalnya karena proses difusi atau hubungan sosial tertentu) sehingga terjadi asimilasi atau akulturasi, pembaharuan atau hilangnya unsur-unsur tertentu dalam kebudayaan.
Proses perubahan yang berlangsung terus menerus ini, pada akhirnya membawa umat manusia masuk ke dalam peradaban perkotaan seperti yang terjadi saat ini. Berbicara tentang peradaban kota tentunya tidak lepas dari proses perubahan karena modernisasi, yang merupakan akibat dan kelanjutan dari keempat faktor di atas.
Modernisasi adalah suatu proses global di mana masyarakat nonindustri berusaha mendapatkan ciri-cirinya dari masyarakat industri atau masyarakat “maju” sehingga terjadi proses perubahan kultural pada masyarakat nonindustri. Masyarakat nonindustri mencoba mengejar ketinggalan terhadap apa yang sudah dicapai oleh masyarakat industri/maju dalam waktu satu generasi (relatif cepat). Akibatnya, masyarakat nonindustri banyak yang mengalami ketidaksiapan atau kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang sedemikian cepat. Akhirnya, Tumbuh kebudayaan “ketidakpuasan” dan “culture lag” di sebagian besar masyarakat nonindustri.
Sementara proses modernisasi berlangsung, proses globalisasi pun sedang terjadi. Masyarakat dunia sedang bergerak ke arah tumbuhnya satu kebudayaan dunia yang “homogen”. Proses modernisasi dan globalisasi ini mendorong masyarakat nonindustri (negara-negara sedang berkembang dan dunia ketiga) ke arah kecenderungan untuk meniru produk, teknologi dan praktek-praktek masyarakat maju. Sementara itu, reaksi lain juga muncul seperti penolakan unsur-unsur yang berbau kebudayaan asing, tumbuhnya etnosentrisme baru, evangelisme/dakwahisme bahkan yang lebih ekstrem lagi muncul seperti “teror-teror” bom yang banyak terjadi saat ini (militan).

Kegiatan Belajar 3

Masa Depan Umat Manusia dan Kajian Antropologi
Kebudayaan pada dasarnya selalu dinamis karena harus terus-menerus menyesuai diri dengan lingkungan dan kebutuhan-kebutuhan hidup para pendukung kebudayaan tersebut. Demikian halnya dengan antropologi. Bukan karena masyarakat nonindustri atau tradisional semakin lama semakin sedikit yang tersisa dan hampir punah karena arus modernisasi dan globalisasi, lalu antropologi kehilangan arah. Selayaknya kebudayaan, antropologi yang dalam setiap kajiannya selalu berusaha memahami kebudayaan dari masyarakat yang ditelitinya (kebudayaan sebagai konsep sentral antropologi) juga dituntut mampu beradaptasi atas perubahan-perubahan yang dialami oleh masyarakat kajiannya. Dalam hal ini, antropologi dituntut beradaptasi secara kultural pula, yaitu adaptasi dalam hal teori dan konsep agar tetap eksis dan mampu memberikan sumbangan teoritis dan praktis.
Tidak hanya beradaptasi semata, tetapi antropologi juga dituntut untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan atau temuan-temuan baru di bidang teori dan konsep dari hasil kajian-kajian yang dilakukannya. Dengan ‘menghilangnya’ masyarakat tradisional bukan berarti antropologi sudah kehilangan lahan penelitian/kajian. Saat ini sudah banyak kajian tentang masyarakat dari peneliti itu sendiri.
Memang banyak kritikan yang ditujukan kepada antropologi dan para ahlinya, terutama di Indonesia. Kritikan-kritikan tersebut umumnya berkisar pada masalah relevansi antropologi dan sumbangan praktis di era pembangunan atau di era modernisasi dan globalisasi saat ini. Misalnya, kajian tentang masalah masyarakat yang hampir punah, waktu penelitian yang relatif lebih lama ketimbang waktu yang diperlukan oleh ilmu sosial lain, masalah sejauh mana antropologi mampu menghasilkan generalisasi atas studi yang dilakukan, dan apakah teori-teori dan konsep-konsepnya masih relevan untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada di era globalisasi. Berbagai kritikan ini harus dipandang sebagai masukan karena hal ini merupakan salah satu pendorong untuk perkembangan antropologi itu sendiri.