Kegiatan Belajar 1
Teori dan Mekanisme Perubahan Kebudayaan
Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan kebudayaan yang banyak menjadi perhatian para ahli antropologi adalah adanya penemuan baru dan gejala persebaran unsur-unsur kebudayaan. Untuk mengenali karakteristik unsur kebudayaan dan perubahan kebudayaan terdapat beberapa teori di antaranya adalah teori evolusi dan difusi. Teori evolusi menggambarkan bahwa perubahan kebudayaan terjadi secara perlahan-lahan dan bertahap. Setiap masyarakat mengalami proses evolusi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, masing-masing masyarakat menunjukkan kebudayaan yang berbeda-beda. Salah satu masyarakat dikenal telah maju, sedangkan masyarakat yang lain masih dianggap atau tergolong sebagai masyarakat yang belum maju. Teori difusi memberi ilustrasi lain bahwa perubahan kebudayaan terjadi karena adanya proses pengaruh mempengaruhi dari kebudayaan yang satu terhadap kebudayaan lainnya. Persamaan unsur kebudayaan pada masyarakat yang berbeda dianggap bukan sebagai hasil dari proses evolusi tetapi karena adanya kontak atau hubungan yang terjadi pada masa lampau dari kedua atau lebih masyarakat yang memiliki kesamaan kebudayaan tersebut.
Perubahan kebudayaan terjadi melalui mekanisme yang berbeda-beda. Suatu kebudayaan masyarakat akan berubah melalui mekanisme adanya inovasi atau penemuan baru dalam masyarakat itu sendiri. Sedangkan mekanisme lainnya dapat terjadi melalui proses difusi, akulturasi, culture loss, genocide, dan perubahan terencana (direct change).
Kegiatan Belajar 2
Modernisasi dan Kondisi Masyarakat Mendatang
Modernisasi merupakan fenomena dunia yang dijadikan “alat” untuk mengejar ketinggalan dan memperoleh kemajuan tertentu yang pernah atau sudah diraih oleh negara maju. Dengan demikian sejumlah negara atau bangsa yang tidak melaksanakan modernisasi dianggap akan menjadi negara atau bangsa yang semakin tertinggal bahkan akan dikuasai oleh negara atau bangsa yang lebih berpengaruh. Modernisasi di Barat didahului oleh komersialisasi dan industrialisasi, sedangkan di negara non-Barat, modernisasi didahului oleh komersialisasi dan birokrasi.
Modernisasi menurut Reinhart Bendix (1964) adalah seluruh perubahan sosial politik yang menyertai industrialisasi. Industrialisasi didefinisikannya sebagai pembangunan ekonomi melalui transformasi sumber daya dan kuantitas energi yang digunakan. Makna dari esensi modernisasi adalah sejenis tatanan sosial modern atau yang sedang berada dalam proses menjadi modern..
Beberapa ciri-ciri aspek kemodernan adalah berkenaan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut, setidaknya mengenai produksi dan konsumsi secara tetap; kadar partisipasi rakyat dalam pemerintahan yang memadai; difusi norma-norma sekuler-rasional dalam kebudayaan; peningkatan mobilitas dalam masyarakat; transformasi kepribadian individu, sehingga dapat berfungsi secara efektif dalam tatanan sosial yang sesuai dengan tuntutan kemodernan.

Globalisasi dicirikan dengan lahirnya perjanjian perdagangan bebas yang disepakati oleh beberapa negara seperti WTO (World Trade Organization), GATT (General Agreement on Tariffs and Trade), dan AFTA (Asia Facific Trade Associations). Perjanjian yang disepakati tersebut adalah bahwa para produsen memiliki kebebasan untuk memasarkan produknya ke negara-negara di seluruh dunia, paling tidak bagi negara-negara pendukung perdagangan bebas. Sebuah negara tidak memiliki kontrol secara penuh terhadap pengaruh masuknya produk dari luar. Keberadaan perusahaan transnasional seperti Toyota, McDonald, dan lain-lain yang terdapat di satu negara di luar negara asal perusahaan tersebut merupakan indikasi gejala globalisasi.