Model Pembelajaran Integratif | Model Integratif adalah suatu model pembelajaran yang bersifat induktif secara konseptual berdasar pada aliran konstruktivis dalam hal belajar. Menurut pandangan konstruktivisme belajar merupakan proses aktif dari si subjek belajar untuk merekonstruksikan makna dengan cara mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki, pengertiannya menjadi berkembang (Sardiman, 2003 : 32). Prinsip dalam belajar menurut pandangan konstrutivisme ada lima, yaitu :

  1. Belajar berarti mencari bermakna,
  2. Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus,
  3. Belajar merupakan pengembangan pemikiran yang membuat pengertian yang baru,
  4. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungan,
  5. Hasil belajar dengan apa yang telah diketahui subjek belajar, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahasa yang sedang

Pembelajaran model integratif  terkait erat dengan model induktif dalam hal struktur dan pelaksanaan. Perbedaan mendasar antara kedua model tersebut terkait dengan topik yang diajarkan untuk masing-masing model. Untuk model induktif didesain untuk mengajarkan topik-topik tertentu dalam bentuk konsep, generalisasi, prinsip, dan aturan-aturan akademik, sedangkan model integratif didesain untuk mengajarkan kombinasi topik-topik itu yang berbentuk isi  yang luas, mengorganisasi anatomi pengetahuan (Usman, 2006:1).

Tujuan Model Pembelajaran Integratif

Untuk mencapai iklim yang mendukung pembelajaran integratif perlu diperhatikan:

  1. Tersedianya informasi yang dapat dianalisis oleh siswa,
  2. Siswa harus memainkankan peran aktif dalam proses mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri,
  3. Siswa harus diberi keleluasaan untuk melatih berpikir tingkat tinggi dan berpikir kritis. Seperti menemukan pola, menjelaskan kesamaan dan perbedaan, membuat hipotesis, mengeneralisasi, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti atau fakta.

Model integratif membutuhkan lingkungan kelas sedemikian sehingga siswa merasa bebas untuk mengambil resiko dan menawarkan kesimpulan, membuat dugaan, mengajukan fakta-fakta tanpa merasa takut dari kecaman atau rasa malu. Model integratif didesain untuk mencapai dua sasaran belajar yang saling terkait, yaitu:

Membantu siswa menyusun pemahamannya

Melalui pembelajaran integratif siswa dibimbing agar dapat membentuk atau menyusun anatomi pengetahuan baru.

Melatih siswa berpikir kritis

Melalui pembelajaran integratif siswa dilatih berpikir kritis dengan mengkonstruksikan makna dengan cara mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimilikinya.

Dalam menerapkan model integratif guru harus trampil di dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan siswa. Proses perencanaan model integratif serupa dengan perencanaan model induktif ataupun model pencapaian konsep antara lain yaitu menetapkan topik, menetapkan sasaran belajar, dan mempersiapkan  sajian materi pelajaran.

Fase-fase Pembelajaran Model Integratif

Model integratif dilaksanakan dalam empat fase yang terkait erat, yaitu:

  • Fase 1: Menggambarkan, membandingkan dan menyelidiki pola

Ciri-ciri fase 1 yaitu siswa mengawali analisis mereka tentang informasi yang ada dalam matriks. Cara mengawali fase 1 bergantung pada pilihan dan keputusan guru masing-masing dengan memperhatikan tingkat perkembangan siswa.

  • Fase 2: Menjelaskan kesamaan(keserupaan) dan perbedaan 

Fase ini ditandai dengan menggiring siswa masuk kedalam proses berpikir tingkat tinggi dan berpikir kritis. Pada fase 2 ini guru dituntut mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pada fase1 di atas siswa hanya diminta membuat observasi atau menetapkan kesamaan atau perbedaan, sementara pada fase 2 ini siswa diminta untuk menjelaskan perbedaan, mengapa kesamaan atau perbedaan itu ada.

  • Fase 3: Menghasilkan hipotesis dari keadaan yang berbeda 

Fase  3 menandai satu langkah tambahan dalam mengembangkan kemampuan siswa untuk mengolah informasi.

  • Fase 4: Generalisasi untuk membentuk relasi yang luas 

Pada fase ini pelajaran diringkas dan ditutup ketika siswa mendapat satu atau lebih generalisasi yang berfungsi untuk meringkas isi pelajaran. Pada saat siswa membuat ringkasan,  guru menulis pernyataan-pernyataan ringkasan itu di papan tulis. Hal ini memudahkan untuk mengecek mengenai ketepatan ringkasan itu dan meminta siswa menambahkannya jika perlu.

Pada pembelajaran integratif di atas urutan fase-fasenya tidak bersipat hierarki dalam arti urutan tersebut tidak kaku. Seorang guru mungkin bergerak langsung dari membandingkan pada fase 1 kepembuatan hipotesis pada fase 3 (Usman, 2006: 9). Keempat fase ini, lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut.

 Tabel 1. Sintak Model Pembelajaran Integratif

Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Fase Pembelajaran
1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

 

Memperhatikan penjelasan guru
2. Mengorganisasi siswa dalam kelompok belajar dan membagikan LKS

 

Mencatat nama-nama kelompok dan membentuk kelompok kecil
3.a. Meminta siswa mengobservasi dan menganalisis  informasi pada chart informasi

b. Meminta siswa mencari persamaan dan perbedaan pada kubus dan balok

 

a. Menganalisis informasi pada chart informasi

 

 

b. Mencari persamaan dan perbedaan pada kubus dan balok

 

Fase 1

4. Mengajukan pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemikiran siswa dalam menganalisis

 

Menjawab pertanyaan  

Fase 2

5. Membimbing siswa dan menganalisis hipotesis

 

Menyusun hipotesis Fase 3
6. Membimbing siswa mencari generalisasi untuk meringkas isi pelajaran

 

Mencari generalisasi Fase 4
7. Memberi tes individu Mengerjakan tes individu
8. Memberikan penghargaan kepada kelompok yang dapat bekerja dengan baik

 

Menerima penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok

( Usman, 2006: 10)

Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Integratif

Tiga langkah penerapan model pembelajaran integratif, yakni :

Pertama : Mengidentifikasi topik

Topik yang paling efektif yang diajarkan dalam awal     pembelajaran integratif adalah topik yang mengorganisasi (menyusun struktur pengetahuan yaitu topik yang mengkombinasikan fakta-fakta, konsep, generalisasi dan relasi satu sama lain).

Kedua :  Menetapkan tujuan

Penetapan tujuan meliputi :

  • Tujuan isi materi pelajaran berfokus pada hasil belajar (out come)
  • Tujuan pembentuk siswa berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi dengan berfokus pada proses menemukan pola, menjelaskan kesamaan dan perbedaan, menggeneralisasi dan mendapatkan kesimpulan sesuai dengan fakta dengan bukti.

Ketiga         :  Mempersiapkan bahan dan membuat akurasi data

Agar data akurat maka guru harus membuat matriks data berkenaan dengan topik yang akan diajarkan.

Teori-teori Yang Mendukung Model Pembelajaran Integratif

Teori-teori yang berkaitan dengan pembelajaran integratif:

  • Teori Belajar Bruner

Bruner (Slameto, 2003:11) berpendapat alangkah baiknya bila sekolah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk maju dengan cepat sesuai dengan kemampuan siswa dalam mata pelajaran tertentu. Untuk meningkatkan proses belajar perlu lingkungan yang dinamakan “discovery learning environment”, yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi dan penemuan-penemuan baru. Pada pembelajaran integratif saat siswa menganalisis informasi, siswa akan memperoleh penemuan-penemuan baru yaitu ciri-ciri kubus dan balok.

  • Teori Belajar Gagne

R.Gagne (Slameto, 2003:13) mendefinisikan belajar sebagai “proses untuk memperoleh informasi dan pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku”. Pembelajaran integratif menerapkan teori belajar Gagne yaitu siswa yang meneruskan sosialisasi tanpa pertentangan untuk membantu memenuhi kebutuhan konsiderasi siswa serta menggunakan simbol-simbol yang menyatakan keadaan sekelilingnya seperti gambar, huruf, angka, diagram dan sebagainya.

  • Teori Belajar Bermakna

Teori ini berlaku pada siswa yang sudah dapat membaca dengan baik dan telah memiliki konsep dasar pada pelajaran tertentu. Menurut Ausabel (Slameto, 2003:24) “belajar bermakna merupakan proses menguasai informasi baru dengan jalan menghubungkan dengan apa yang diketahuinya”.

Pada pembelajaran integratif guru perlu mengembangkan pengetahuan prasyarat siswa guna membentuk pemahaman awal siswa pada konsep kubus dan balok. Pemahaman awal tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam struktur kognetif yang telah ada, Teori disusun kembali dan diubah untuk menghasilkan pengetahuan baru.

  • Teori belajar Vygotsky

Vygotsky (Ibrahim, 2000:18) percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang. Dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman ini.

Pada pembelajaran integratif siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil sehingga dapat memberikan peluang bagi mereka untuk berintegrasi dengan teman lain dalam menganalisa informasi.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *