MODEL-MODEL PENELITIAN TINDAK KELAS

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Penelitian Tindakan Kelas

Dosen : Abdur Rasyid, M.Pd.

Disusun oleh :
1. Dyanra Purna Nugraha 12.22.1.0132
2. Syarafiyah Sahaifa 12.22.1.0434
3. Yuyun Indriyani 12.22.1.0491
VII IPA 3

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
UNIVERSITAS MAJALENGKA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan izin dan kuasa-Nyalah kami dapat menyusun makalah ini dengan baik. Adapun maksud dan tujuan pembuatan makalah ini, sebagai tugas mata kuliah Penelitian Tindak Kelas (PTK). Ucapan terima kasih, kepada Bapak dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan dalam hal struktur maupun penyusunan makalah ini, sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan baik.
Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit hambatan yang maupun rintangan yang kami temukan, namun berkat bimbingan dari berbagai pihak akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Akan tetapi dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh sebab itu saran dan kritik yang bersifat membangun masih sangat diharapkan guna kesempurnaan laporan ini. Adapun bahasan yang kami bahas dalam makalah ini yaitu “MODEL-MODEL PENELITIAN TINDAK KELAS”.
Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya untuk penulis dan umumnya untuk kita semua. Dan mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat dan karunianya pada kita umat manusia.

Majalengka, 14 Oktober 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Penelitian Tindak Kelas 3
B. Siklus dan Model Penelitian Tindakan Kelas 4
1. Model PTK menurut Kurt Lewin 6
2. Model PTK menurut John Elliott 8
3. Model PTK menurut Mckernan 12
4. Model PTK menurut Hopkins dan Dave Ebbutt 13
5. Model PTK menurut Kemmis dan Mc Taggart 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 16
B. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 11
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas Pasal 3 bahwa pendidikan nasional befungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan salah satu tujuan kemerdekaan bangsa kita, seperti dinyatakan pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, upaya Guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas merupakan amalan mulia karena memberikan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan yang telah direbut lewat pengorbanan yang tidak sedikit.
Guru memainkan peranan dalam menentukan pencapaian keberhasilan proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Guru menduduki posisi sentral dalam menyukseskan keberhasilan proses pembelajaran di sekolah. Peserta didik hanya bisa belajar jika tersedia lingkungan belajar yang kondusif dan gurulah yang mempersiapkan semuanya. Berkenaan dengan peran guru Brown (2000) menyatakan bahwa guru bertugas membimbing dan memfasi-litasi peserta didik dalam belajar. Untuk dapat menjalankan peranannya dengan baik, setiap guru dituntut memiliki kemampuan sebagai seorang profesional dibidangnya.
Guru-guru yang profesional adalah guru-guru yang mampu mengantarkan peserta didik untuk akses ke zona keberhasilan dalam belajar. Dalam kaitannya dengan peranan guru sebagai profil sentral dalam proses pembelajaran, upaya peningkatan profesionalisme guru merupakan hal penting yang tidak bisa di tawar-tawar lagi. Banyak cara atau strategi yang bisa digunakan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Salah satu diantaranya yang akhir-akhir ini berkembang pesat adalah melalui penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research.
Untuk melakukan Penelitian Tindak Kelas (PTK), terlebih dahulu di kemukakan model-model atau desain-desain penelitian tindakan yang selama ini digunakan. Hal ini dimaksudkan agar wawasan kita menjadi lebih luas dan dengan mengetahui berbagai design model penelitian tindakan kelas, design yang dikebangkan akan menjadi lebih jelas dan terarah. Pada prinsipnya diterapkan PTK dimaksudkan untuk mengatasi suatu permasalahan yang terdapat didalam kelas. Ada beberapa model atau design yang dapat diterapkan. Design-design tersebut diantaranya : 1). Model Kurt Lewin, 2). Model John Elliot, 3). Model Mckernan, 4). Model Hopkins dan Dave Ebbutt, 5).Model Kemmis Mc Taggart.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang di maksud dengan Penlitian Tindakan Kelas?
2. Bagaimana Siklus Penlitian Tindakan Kelas?
3. Bagaimana identifikasi model PTK menurut Kurt Lewin?
4. Bagaimana identifikasi model PTK menurut John Elliott?
5. Bagaimana identifikasi model PTK menurut Mckernan?
6. Bagaimana identifikasi model PTK menurut Hopkins dan Dave Ebbutt?
7. Bagaimana identifikasi model PTK menurut Kemmis dan Mc Taggart?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka terdapat tujuan penulisan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui maksud dari Penlitian Tindakan Kelas?
2. Untuk mengetahui Siklus Penlitian Tindakan Kelas?
3. Untuk mengetahui identifikasi model PTK menurut Kurt Lewin?
4. Untuk mengetahui identifikasi model PTK menurut John Elliott?
5. Untuk mengetahui identifikasi model PTK menurut Mckernan?
6. Untuk mengetahui identifikasi model PTK menurut Hopkins dan Dave Ebbutt?
7. Untuk mengetahui identifikasi model PTK menurut Kemmis dan Mc Taggart?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Suharsimi (2002) menjelaskan Penelitian Tindakan Kelas melalui definisi dari tiga kata yaitu penelitian, tindakan, dan kelas.
1. Penelitian adalah kegiatan menermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2. Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
3. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru.
Sedangkan Kemmis (1988) berpendapat bahwa penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka (Sanjaya, hal. 24). Dalam hal ini, penelitian tindakan memiliki kawasan yang lebih luas daripada PTK. Penelitian tindakan diterapkan di berbagai bidang ilmu di luar pendidikan, misalnya dalam kegiatan praktik bidang kedokteran, manajemen, dan industri (Basrowi & Suwandi, hal. 25). Bila penelitian tindakan yang berkaitan pada bidang pendidikan dilaksanakan dalam kawasan sebuah kelas, maka penelitian tindakan tindakan ini disebut PTK.
Rapoport dalam Hopkins dikutip dalam Wiriaatmadja, menjelaskan penelitian tindakan kelas untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial dengan kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati bersama (Wiriaatmadja, 2005:12).
Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan.
Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Penelitian tindakan kelas (PTK) pada hakekatnya merupakan penelitian kualitatif berupa rangkaian riset- tindakan. Riset tindakan yang dilakukan secara siklik untuk memecahkan masalah pembelajaran sehari-hari yang dialami oleh guru dan meningkatkan mutu pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran di kelas.
B. Siklus dan Model Penelitian Tindakan Kelas
Untuk melakukan penelitian tindakan kelas terdapat beberapa model yang dapat digunakan bergantung pada kemampuan peneliti memahami model yang tersedia. Berikut beberapa model yang telah dikembangkan menurut para ahli yaitu: model menurut Kurt Lewin, model menurut John Elliott, model menurut Mckernan, model menurut Hopkins dan model menurut Dave Ebbutt, dan model menurut Kemmis dan Mc Taggart.
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri dari empat tahap yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan/aksi, observasi, dan refleksi. Menurut Sulipan (2007) menggambarkan daur PTK sebagai berikut:

Perencanaan

Refleksi Aksi

Observasi

Gambar 1: Desain menurut Sulipan
Menurut Sulipan (2007) Tahapan PTK terdiri dari empat tahapan, yaitu:
Tahap 1: Perencanaan Tindakan
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.
Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan (aksi)
Pada tahap ini pelaksana (guru) harus ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan, tetapi juga harus berlaku wajar dan tidak dibuat-buat.
Tahap 3: Pengamatan Terhadap Tindakan (observasi)
Kegiatan pengamatan tidak akan terpisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangung dalam waktu yang sama.
Tahap 4: Refleksi
Dalam tahap ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan “refleksi”. Kegiatan ini sebetulnya lebih tepat dikenakan ketika pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Intinya yaitu ketika pelaksana tindakan mengatakan kepada peneliti pengamatan tentang hal-hal yang dirasakan sudah berjalan dengan baik dan bagian mana yang belum.
 Adapun beberapa model penelitian tindakan kelas sebagai berikut:
1. Model Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan oleh Kurt Lewin
Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai model penelitian tindakan yang lain, khususnya PTK. Dikatakan demikian, karena dialah yang pertama kali memperkenalkan Action Research atau penelitian tindakan. Pelaksanaan penelitian tindakan adalah proses yang terjadi dalam suatu lingkaran yang terus-menerus. Ia menggambarkan penelitian tindakan sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral.
Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu; a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c)pengamatan (observing), dan d) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut

Gambar 2: Desain Model Kurt Lewin

a. Menyusun perencanaan (planning)
Pada tahap ini kegiatan yang harus dilakukan adalah membuat RPP, mempersiapkan fasilitas dari sarana pendukung yang diperlukan dikelas,mempersiapkan instrument untuk merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan.
b. Melaksanakan tindakan (acting).
Pada tahap ini peneliti melakukan tindakan tindakan yang telah dirumuskan dalam RPP, dalam situasi yang actual, yang meliputi kegiatan awal, inti dan penutup.
c. Melaksanakan pengamatan (observing)
Pada tahap ini yang harus dilaksanakan adalah mengamati perilaku siswa siswi yang sedang mengikuti kegiatan pembelajaran. Memantau kegiatan diskusi atau kerja sama antar kelompok mengamati pemahaman tiap tiap siswa dalam penguasaan materi pembelajaran, yang telah dirancang sesuai dengan PTK.
d. Melakukan refleksi (reflecting)
Pada tahap ini yang harus dilakukan adalah mencatat hasil observasi, mengevaluasi hasil observasi, menganalisis hasil pembelajaran, mencatat kelemahan-kelemahan untuk dijadikan bahan penyusunan rancangan siklus berikutnya sampai tujuan PTK tercapai.
Contoh:
1. Perencanaan Bagaimana saya dapat membuat para mahasiswa speak up dalam matakuliah speaking? Mungkin saya perlu memberikan penghargaan (reward) kepada mahasiswa yang mau berbicara.
2. Tindakan Saya memberikan penghargaan (yang berupa tambahan nilai) kepada setiap mahasiswa yang mau berbicara.
3. Pengamatan Bersamaan dengan itu, saya mengamati apakah dengan penghargaan tersebut para mahasiswa mau berbicara.
4. Refleksi Para mahasiswa mulai mau berbicara. Namun, mereka tampak masih malu-malu kucing. Saya perlu merencanakan suatu tindakan agar mahasiswa mau berbicara tanpa malu-malu lagi.
Tahap-tahap di atas, yang membentuk satu siklus, dapat dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan rencana, tindakan, pengamatan, dan refleksi ulang berdasarkan hasil yang dicapai pada siklus sebelumnya. Dengan demikian, gambar 2 di atas dapat dikembangkan menjadi gambar 3 (McNiff, 1992: 23). Jumlah siklus dalam suatu penelitian tindakan tergantung pada apakah masalah (utama) yang dihadapi telah terpecahkan.
Apabila masih ditemukan adanya masalah yang belum terpecahkan maka peneliti dapat melangkah ke siklus kedua, dengan membuat rencana tindakan ulang berdasarkan hasil refleksi pada siklus sebelumnya. Dengan demikian, pada siklus kedua ini terjadi revisi atau modifikasi rencana tindakan pertama, sesuai dengan keadaan di lapangan. Langkah-langkah selanjutnya relatif sama dengan langkah-langkah yang telah dipaparkan pada siklus pertama. Demikian seterusnya hingga masalah yang dihadapi dapat terpecahkan. Untuk itu barangkali diperlukan lebih dari tiga siklus; dan hal itu tidak menjadi masalah, karena jumlah siklus tidak ditentukan oleh hal lain kecuali terpecahkannya masalah.
2. Model Penelitian Kelas yang dikembangkan oleh John Elliot
Menurut John Elliot, yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). PTK model Elliot dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3: Desain Model John Elliot

Model PTK dari John Elliot ini lebih rinci jika dibandingkan dengan model Kurt Lewin dan model Kemmis-Mc Taggart. Dikatakan demikian, karena di dalam setiap siklus terdiri dari beberapa aksi, yaitu antara tiga sampai lima aksi (tindakan). Sementara itu, setiap tindakan kemungkinan terdiri dari beberapa langkah yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar.
Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa hal tersebut itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya.
Penjelasan tahapan PTK John Elliot yaitu:
a. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk melihat dan menemukan masalah-masalah apa aja yang terjadi disekolah. Lebih khususnya lagi dalam proses pembelajaran di kelas. Identifikasi masalah ini sangat penting posisinya karena tahapan ini merupakan pondasi awal atau acuan awal kegiatan penelitian kedepannya. Seorang peneliti yang baik tentunya akan bisa melihat masalah-masalah apa aja yang patut untuk dipecahkan dengan segera dan urgent bagi sekolah tersebut.
b. Penyelidikan
Penyelidikan dimaksudkan sebagai kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang masalah yang ditemukan oleh seorang peneliti disekolah. Berdasarkan hasil penyelidikan dapat dilakukan pemfokusan masalah yang kemudian dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian.
c. Rencana Umum
Rencana umum merupakan seperangkat rencana awal tentang kegiatan yang akan dilakukan oleh seorang peneliti untuk menjawab masalah penelitian yang ditemukan dikelas atau disekolah. Pada tahapan ini, seorang peneliti akan memberikan perlakuan kepada sampel agar bisa terlihat perubahan prilaku sesuai yang diharapkan oleh peneliti. Dalam model PTK dari John Elliot, terdapat beberapa langkah tindakan yang direncanakan oleh peneliti. Bagian inilah yang membedakan model PTK John Elliot dengan model-model PTK yang lainnya.
d. Implementasi Langkah Tindakan 1
Pada tahap ini, seorang peneliti akan menerapkan atau melakukan perlakuan pada kelas sampel dengan tujuan meningkatkan, merubah atau memperbaiki masalah-masalah penelitian yang ditemukan oleh peneliti dikelas. Tentunya dalam tahap ini, seorang peneliti akan melakukan perlakuannya didasarkan pada langkah-langkah tindakan yang direncanakan pada tahap rencana umum.
e. Memonitor Implementasi
Tahap ini bagi seorang peneliti akan melihat dan memantau hasil pemberian perilaku pada kelas sampel. Peneliti akan mendata dan mencatat hasil-hasil dari implementasi pada tahap selanjutnya. Apakah menunjukkan hasil peningkatan (positif) ataupun malah menunjukkan peningkatan yang sebaliknya (negatif). Sudah benarkah atau belum implementasi yang diterapkan oleh peneliti.
f. Penyelidikan
Pada tahapan ini, peneliti akan berusaha untuk mengungkap dan menjelaskan tentang kegagalan-kegagalan pengaruh. Faktor-faktor apa aja yang bisa menyebabkan hal tersebut gagal. Tentunya seorang peneliti akan belajar dari kegagalan dan ketidakberhasilan implementasi pada tahapan sebelumnya.
g. Merevisi Ide Umum
Pada tahap ini, peneliti berbekal dari data-data yang sudah didapat pada tahap-tahap sebelumnya akan kembali membuat rencana penelitian. Tentunya tahapan ini hanya akan dilakukan jika implementasi telah mengalami kegagalan dan tidak memenuhi harapan serta tujuan penelitian dari peneliti. Makanya dianggap perlu untuk melakukan siklus kedua yang diawali dengan merevisi rencana awal.
i. Model Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan oleh McKernan
Dari model PTK oleh McKernan, dia lebih menekankan model penelitian dengan “proses waktu”, dalam arti bahwa dalam penelitian tindakan yang penting janganlah dilakukan dengan terlalu kaku dalam soal waktu. Hal ini mencakup menentukan fokus permasalahan, penyelesaian masalah yang rasional, dan kepemilikian penelitian yang demokratis.

Gambar 4: Desain Model McKernan

Melihat bagan diatas maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Definisi Masalah
Guru/peneliti terlebih dahulu mengidentifikasi masalah yang memerlukan tindakan untuk mengatasinya.
Assesmen Kebutuhan
Setelah masalah ditetapkan dilakukan analisis kebutuhan untuk menetapkan tindakan yang digunakan dan perangkat-perangkat yang diperlukan untuk memecahkan masalah termasuk juga pemahaman peneliti terhadap teori/filosofi/langkah-langkah penerapan tindakan.

b. Hipotesis
Setelah kebutuhan pemecahan tindakan teridentifikasi peneliti membuat hipotesis tindakan agar upaya pemecahan tindakan dapat dilakukan. Hipotesis tindakan dapat dalam bentuk: “jika……maka……” misalnya “jika pembelajaran matematika dilaksankan dengan metode pemecahan masalah maka hasil belajar siswa akan lebih baik”. Hipotesis dapat juga dinyatakan dengan rumusan lain seperti: “Bagaimana pelaksanaan metode pemecahan masalah agar dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SD?”
c. Implementasi
Pada tahap implementasi ini guru melaksanakan apa yang telah direncanakan dalam bentuk tindakan pada proses pembelajaran.
d. Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan sebelum mengambil keputusan terhadap pelaksanaan siklus yang telah berlangsung.
e. Pengambilan Keputusan
Dari pengambilan keputusan yang dilakukan dapat menjurus pada kesimpulan “apakah melanjutkan pada pelaksanaan siklus selanjutnya? Atau, kembali untuk mengevaluasi kegiatan awal siklus yang dilakukan yaitu mendefinisikan masalah?” Kegiatan ini mungkin disebabkan pelaksanaan siklus yang telah dilalui tidak terlaksana sebagaimana yang telah direncanakan.
ii. Model Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan oleh Hopkins dan Dave Ebbutt
Berpatokan pada desain-desain model PTK para ahli pendahulunya, selanjutnya Hopkins (1993) menyusun desain yang dikenal Model Ebbutt (Hopkins, 1993). Model ini menunjukkan bentuk alur kegiatan penelitian dimulai dari pemikiran awal penelitian yang selanjutnya dikenal dengan reconnaissance. Bagian ini, Ebbutt berpendapat yang berbeda dengan penafsiran Elliott mengenai reconnaissancenya Kemmis, yang seakan-akan hanya berkaitan dengan penemuan fakta saja. Padahal menurutnya reconnaisance mencakup kegiatan-kegiatan diskusi, negoisasi, menyelidiki kesempatan, mengakses kemungkinan dan kendala atau dengan singkat mencakup keseluruhan analisis.
Menurut Ebbutt, cara yang tepat untuk memahami proses penelitian tindakan adalah dengan memikirkannya sebagai suatu seri dari siklus yang berturut-turut, dengan setiap siklus mencakup kemungkinan masukan balik informasi di dalam dan diantara siklus. Ebbutt mengakui bahwa deskripsi penelitian tindakan ini tidak begitu rapih dibandingkan dengan para pendahulunya dimana proses penelitian tindakan pendidikan yang ideal seperti digambarkan oleh Hopkins (l993) sebagai berikut:

Gambar 5: Desain Model Hopkins

Setelah membaca desain model PTK yang dikembangkan oleh beberapa ahli, silahkan kalian memilih desain model siapa yang akan dijadikan desain penelitian pada proses pembelajaran. Semua desain model penelitian diatas dapat dikembangkan kembali sesuai situasi dan kondisi sekolah yang akan dijadikan objek penelitian.

iii. Model Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart
Model PTK yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart adalah merupakan model pengembangan dari model Kurt Lewin. Dikatakan demikian, karena di dalam suatu siklus terdiri atas empat komponen, keempat komponen tersebut, meliputi: (1) perencanaan, (2) aksi/tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sesudah suatu siklus selesai diimplementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya
perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri. Demikian seterusnya, atau dengan beberapa kali siklus. Model ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 6: Desain Model Kemmis dan Mc Taggart
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penelitian tindakan kelas (PTK) pada hakekatnya merupakan penelitian kualitatif berupa rangkaian riset- tindakan. Riset tindakan yang dilakukan secara siklik untuk memecahkan masalah pembelajaran sehari-hari yang dialami oleh guru dan meningkatkan mutu pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran di kelas.
Pada prinsipnya diterapkan PTK dimaksudkan untuk mengatasi suatu permasalahan yang terdapat didalam kelas. Ada beberapa model atau design yang dapat diterapkan. Design-design tersebut diantaranya : 1). Model Kurt Lewin, 2). Model John Elliot, 3). Model Mckernan, 4). Model Hopkins dan Dave Ebbutt, 5).Model Kemmis Mc Taggart.

B. Saran
Sebaiknya guru yang ingin membuat penelitian tindakan kelas harus sesuai dengan sistematika penulisan penelitian tindakan kelas dan lebih baik penelitian dilakukan dua tahun pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Karimnyalina. (2013). Penelitian Tindakan Kelas-PTK
Kimnunainun. (2011). Model-Model PTK.
Rifaty. (2012). Model-Model Penelitian Tindakan Kelas.
Srihendrawati. (2012). Model-Model PTK.
[Online] Tersedia: http://karimnyalina.blogspot.co.id/2013/09/penelitian-tindakan-tindakan-kelas-ptk.html(10 Oktober 2015)
[Online] Tersedia: http://kimnunainun.blogspot.co.id/2011/04/model-model-ptk.html (10 Oktober 2015)
[Online] Tersedia: http://rifaty.blogspot.co.id/2012/10/model-model-penelitian-tindakan-kelas.html (10 Oktober 2015)
[Online] Tersedia: http://srihendrawati.blogspot.co.id/2012/02/model-model-ptk.html (10 Oktober 2015)
[Online] Tersedia:https://www.academia.edu/9080849/PPT_PTK_Kel_2_JENIS-JENIS_DAN_MODEL-MODEL_PTK_kelas_BIO_A_7 (10 Oktober 2015)
Hamdani dan Hermawan. (2008). Claasroom Action Research (Teknik Penulisan dan Contoh Proposal PTK). Jakarta. Rahayasa Reaserch and Training

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *