Penegertian | Definisi MNA

Penegertian | Definisi Mini Nutritional Assessment (MNA) adalah alat untuk mengukur / menskrining nutrisi pada lansia. Mini Nutritional Assessment (MNA) mengandung pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan nutrisi dan kondisi kesehatan, kebebasan, kualitas hidup, pengetahuan, mobilitas, dan kesehatan yang subjektif.

Mini Nutritional Assessment (MNA) banyak dibanding-bandingkan dengan alat pengukur nutrisi lain yang juga cepat dan mudah digunakan seperti Malnutrition Universal Screening Tool (MUST), Short Nutritional Assessment Questionnaire (SNAQ), dan Nutritional Risk Screening (NRS). Namun Mini Nutritional Assessment (MNA) tetap dianggap paling cocok untuk mengukur nutrisi pada lansia karena MNA memang didesain lebih spesifik untuk mengukur nutrisi lansia. Alat ukur lain diatas (MUST, SNAQ, NRS) sering digunakan karena mudah dipakai dan tidak memakan waktu yang lama.

Kategori Mini Nutritional Assessment (MNA)

Pada awalnya MNA hanya mempunyai 1 tipe saja. MNA memiliki 18 item yang harus ditanyakan kepada responden. Namun karena memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengambil data pasien, MNA jarang dilakukan dengan lengkap pada perawatan kasus akut. Oleh karena itu, untuk mempersingkat waktu yang terbuang, Rubenstein mengembangkan MNA-SF (MNA short form). MNA-SF ini tidak sembarangan dibuat, melainkan mengacu kepada pertanyaan yang mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi terhadap full MNA.

Full Mini Nutritional Assessment (MNA)

Full MNA terdiri dari 18 pertanyaan atau poin yang harus ditanyakan. 18 poin tersebut dibagi ke dalam 4 golongan, yaitu :

  • Anthropometric assessment : BMI (tinggi badan dan berat badan), penurunan berat badan, lingkar lengan atas dan lingkar betis.
  • General assessment : gaya hidup, riwayat pengobatan, mobilitas responden, dan tanda depresi atau demensia.
  • Short dietary assessment : Jumlah asupan makanan dan minuman
  • Subjective assessment : persepsi responden terhadap kesehatan dan nutrisi

Full MNA ini dapat diselesaikan dalam waktu lebih kurang 15 menit. Setiap data yang diperoleh akan diubah menjadi skor. Skor tersebut akan dijumlahkan untuk mengetahui status gizi responden.

Penilaian Full MNA terhadap status gizi mempunyai range sebagai berikut :

  • Jika jumlah skor >24                : baik
  • Jika jumlah skor 17-23,5         : resiko malnutrisi
  • Jika jumlah skor <17                : malnutrisi

MNA-SF (MNA Short Form)

MNA-SF ini merupakan MNA yang lebih singkat dan lebih mudah untuk dilakukan. MNA-SF biasa digunakan pada populasi yang mempunyai resiko malnutrisi yang rendah. MNA-SF ini dibuat agar dapat digunakan pada keadaan-keadaan yang membutuhkan suatu penilaian cepat tetapi juga akurat dalam menentukan status gizi pasien15.

Walaupun MNA-SF lebih singkat dari full MNA, sensitivitas dan spesifisitas dari MNA-SF ini tetap tinggi. Berdasarkan jurnal review clinical gerontology, penelitian-penelitian yang dilakukan menunjukkan tingginya sensitivitas dan spesifisitas MNA-SF ini16. Dengan adanya fakta di atas, MNA-SF cukup valid untuk digunakan dalam dunia klinisi dan hasil MNA-SF mendekati hasil full MNA.

Area Penilaian MNA16

Area penilaian MNA meliputi :

a)      Pengukuran anthropometri :

  • Tinggi badan dan berat badan – Tinggi badan dan berat badan digunakan untuk mengukur indeks massa tubuh pada lansia. Penilaian indeks massa tubuh akan mempengaruhi skor pada hasil akhir MNA.
  • Penurunan berat badan – Penurunan berat badan yang diukur adalah penurunan berat badan dalam 3 bulan terakhir.
  • Pengukuran lingkar betis – Pengukuran ini merupakan pengukuran optional dan dilakukan apabila pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk menghitung BMI tidak mungkin dilakukan karena keterbatasan alat dan lainnya.

b)      Evaluasi global :

  • Acute disease atau psychological stress – Responden harus dievaluasi apakah ada penyakit akut atau ada penyakit kronik yang memburuk pada 3 bulan terakhir.
  • Neurophysiological problem – Neurophysiological problem misalnya seperti dementia.
  • Mobilitas – Penilaian mobilitas dilihat dari kebiasaan sehari-harinya apakah responden hanya melakukan bedrest, atau dapat melakukan kegiatan ringan, atau dapat melakukan kegiatan normal seperti biasa tanpa gangguan apapun

c)      Diet assessment

  • Asupan makanan – Responden harus ditanyakan apakah ada penurunan asupan makanan dalam 3 bulan terakhir yang dikarenakan adanya gangguan pencernaan, kurangnya nafsu makan, atau adanya gangguan mengunyah atau menelan

d)     Self assessment

  • Persepsi terhadap nutrisi responden itu sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *