Membangun Karakter Mahasiswa Melalui PEMIRA

oleh

MUHAMMAD HAFIZULLAH LUBIS

Mahasiswa, secara etimologis berarti siswa yang di-maha-kan, siswa yang dihormati dan dihargai di lingkungan sekitar terutama lingkungan berbangsa dan bernegara. Bukan hanya itu, melainkan ada yang lebih substansial lagi, mahasiswa dalam menjalankan aktifitasnya dituntut untuk mandiri, kreatif, dan idependen.

Dalam kehidupan bermasyarakat, mahasiswa menjadi suatu komunitas unik yang khas, bahkan ada yang mengatakan sebagai sesuatu yang aneh. Mengapa demikian? Karena mahasiswa secara historis telah mencatatkan jejak dalam lembaran sejarah perubahan, menjadi garda terdepan, dan motor penggerak perubahan. Komunitas mahasiswa dikenal dengan jiwa militannya dan pengorbanan yang tak kenal lelah mempertahankan idealismenya, yang lebih substansial lagi, mahasiswa mampu berada sedikit di atas kelas masyarakat karena dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya,

Melihat potensi mahasiswa yang begitu besar, tidak sepantasnyalah peran mahasiswa yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi saja. Melainkan harus tetap berkontribusi terhadap bangsa dan negaranya. Seperti yang telah dituliskan di atas, mahasiswa bukan menjadi siswa yang tanggung jawabnya hanya belajar, mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat.

Masyarakat yang dimaksud dalam hal ini dapat meliputi sejumlah atau sekelompok individu yang bersatu dalam satu pengaturan atau organisasi demi mencapai suatu tujuan bersama. Masyarakat dalam lingkup pemilihan raya meliputi seluruh mahasiswa maupun pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam proses dan hasil dari suatu pemilihan raya itu sendiri. Di samping itu, terdapat suatu proses pergeseran dari mahasiswa demi menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada di masyarakat. Dalam konteks era kekinian, peranan mahasiswa mengalami pergeseran nilai dan tujuan. Mahasiswa kini tak lagi idealis seperti dulu, banyak peranan mahasiswa yang diboncengi oleh banyak kepentingan yang ada. Selain itu, peranan mahasiswa yang seharusnya menjadi pembawa aspirasi rakyat, kini mulai bergeser menjadi academic oriented saja dengan hanya belajar sebagai kegiatan utama tanpa memperdulikan hal-hal lain yang jauh lebih penting. Perlu ingat, mahasiswa hakikatnya lahir dari rahim masyarakat, dan sudah sepantasnyalah mahasiswa membela kepentingan masyarakat. Mahasiswa sejatinya perlu membangun suatu karakter baru yang nantinya akan merangsang tumbuhnya watak-watak brilian untuk mengontrol situasi yang ada. Cara apa yang paling sesuai untuk mengetahui siapa aja yang nantinya akan membangun karakter baru tersebut? Tentu salah satunya adalah melalui pemilihan raya karena dari pemilihan raya seorang mahasiswa akan mampu menilai siapa sosok baru yang nantinya akan mengubah sistem yang sudah mengakar di lingkungannya. Di samping itu, melalui pemilihan raya tersebut mahasiswa akan merasa bahwa pendapat mereka dihargai karena mereka diberikan hak untuk memilih calon yang tepat menjadi punggawa yang berwibawa dan ulet dalam merealisasikan amanah-amanah yang diharapkan rekan-rekan mahasiswa lainnya.

Penulis sebagai mahasiswa dapat memetakan setidaknya ada empat peranan mahasiswa yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang harus dipikul. Peranan ini diturunkan apa yang seharusnya dan paling idealnya.

Creator of Change

Selama ini kita mendengar bahwa peranan mahasiswa hanya sebagai agen perubahan. Penulis mengatakan itu tidaklah benar, mengapa? Karena dalam defininya kata ”agen” hanya merujuk bahwa mahasiswa hanyalah sebagai pembantu atau bahkan hanya menjadi objek perubahan, bukan sebagai pencetus perubahan. Inilah alasan mengapa saat ini peranan mahasiswa banyak yang diboncengi pencetus perubahan lain seperti partai politik, ormas, dan lainnya. Melihat dari kata ”pencetus”, mahasiswa seharusnya dapat bergerak independen, sesuai dengan idealisme mereka.

Hal ini dapat lihat, ketika kondisi bangsa ini sekarang tidaklah ideal, banyak sekali permasalahan bangsa yang ada, mulai dari korupsi, penggusuran, ketidakadilan, dan lain sebagainya. Mahasiswa yang mempunyai idealisme sudah seharusnya berpikir dan bertindak bagaimana mengembalikan kondisi negara menjadi ideal. Lalu, apa yang menjadi alasan untuk berubah? Secara substansial, perubahan merupakan harga mutlak, setiap kebudayaan dan kondisi pasti mengalami perubahan walaupun keadaanya tetap diam –sudah menjadi hukum alam. Sejarah telah membuktikan, bahwa perubahan besar terjadi di tangan generasi muda mulai dari zaman nabi, kolonialisme, reformasi, dan lain sebagainya. Maka dari itu, mahasiswa dituntut bukan hanya menjadi agen perubahan saja, melainkan pencetus perubahan itu sendiri yang tentunya ke arah yang lebih baik.

Iron Stock

Peranan mahasiswa yang tak kalah penting adalah iron stock atau mahasiswa dengan ketangguhan idealismenya akan menjadi pengganti generasi-generasi sebelumnya, tentu dengan kemampuan dan akhlak mulia. Dapat dikatakan, bahwa mahasiswa adalah aset, cadangan, dan harapan bangsa masa depan. Peran organisasi kampus tentu mempengaruhi kualitas mahasiswa, kaderasasi yang baik dan penanaman nilai yang baik tentu akan meningkatkan kualitas mahasiswa yang menjadi calon pemimpin masa depan. Pasti timbul pertanyaan, bagaimana cara mempersiapkan mahasiswa agar menjadi calon pemimpin yang siap pakai? Tentu jawabannya adalah dengan memperkaya pengetahuan yang ada terhadap masyarakatnya. Selain itu, mempelajari berbagai kesalahan yang ada pada generasi sebelumnya juga diperlukan sehingga menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan diri.

Ada satu pertanyaan yang menggelitik bagi saya, mengapa bernama iron stock? Bukan golden atau silver stock? Hal ini masuk akal, karena sifat besi itu sendiri yang berkarat dalam jangka waktu lama, sehingga diperlukan pengganti besi-besi sebelumnya. Filosofi ini dapat dibenarkan, karena manusia yang disimbolkan sebagai besi tentu akan mati dan kehilangan tenaganya, maka dari itu dibutuhkan generasi manusia baru sebagai pengganti yang lebih baik.

Social Control

Peran mahasiswa sebagai kontrol sosial terjadi ketika ada yang tidak beres atau ganjil dalam masyarakat dan pemerintah. Mahasiswa dengan gagasan dan ilmu yang dimilikinya memiliki peranan menjaga dan memperbaiki nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Mengapa harus menjadi social control? Kita semua tahu, bahwa mahasiswa itu sendiri lahir dari rahim rakyat, dan sudah seyogyanya mahasiswa memiliki peran sosial, peran yang menjaga dan memperbaiki apa yang salah dalam masyarakat.

Saat ini di Indonesia, masyarakat merasakan bahwa pemerintah hanya memikirkan dirinya sendiri dalam bertindak. Usut punya usut, pemerintah tidak menepati janji yang telah diumbar-umbar dalam kampanye mereka. Kasus hukum, korupsi, dan pendidikan merajalela dalam kehidupan berbangsa bernegara. Inilah potret mengapa mahasiswa yang notabene sebagai anak rakyat harus bertindak dengan ilmu dan kelebihan yang dimilikinya. Lalu bagaimana cara agar mahasiswa dapat berperan sebagai kontrol sosial? Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa sosial yang peduli pada keadaan rakyat yang mengalami penderitaan, ketidakadilan, dan ketertindasan. Kontrol sosial dapat dilakukan ketika pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan yang merugikan rakyat, maka dari itu mahasiswa bergerak sebagai perwujudan kepedulian terhadap rakyat.

Pergerakan mahasiswa bukan hanya sekedar turun ke jalan saja, melainkan harus lebih substansial lagi yaitu diskusi, kajian dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, sifat peduli terhadap rakyat juga dapat ditunjukkan ketika mahasiswa dapat memberikan bantuan baik secara moril dan materil bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Moral Force

Moral force atau kekuatan moral adalah fungsi yang utama dalam peran mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lalu mengapa harus moral force? Mahasiswa dalam kehidupannya dituntut untuk dapat memberikan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat. Hal ini menjadi beralasan karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat sebagai kaum terpelajar yang memiliki keberuntungan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Kini, peran mahasiswa yang satu ini telah banyak ditinggalkan, banyak kegiatan mahasiswa yang berorientasi pada kehidupan hedonisme. Amanat dan tanggung jawab yang telah dipegang oleh mahasiswa sebagai kaum terpelajar telah ditinggalkan begitu saja. Jika ini terjadi, kegiatan mahasiswa bukan lagi berorientasi pada rakyat, hal ini pasti akan menyebabkan generasi pengganti hilang. Maka dari itu, peran moral force sangat dibutuhkan bagi mahasiswa Indonesia yang secara garis besar memiliki goal menjadikan negara dan bangsa ini lebih baik.

Mahasiswa dengan segala keunikan dan kelebihannya masih sangat rentan, sebab posisi mahasiswa yang dikenal sebagai kaum idealis harus berdiri tegap di antara idealisme mereka dan realita kenyataan. Realita ini yang ada dalam masyarakat, di saat mahasiswa tengah berjuang membela idealisme mereka, tenyata di sisi lain realita yang terjadi di masyarakat semakin buruk. Saat mahasiswa berpihak pada realita, ternyata secara tak sadar telah meninggalkan idealisme dan ilmu yang seharusnya di implementasikan. Inilah yang menjadi paradoks mahasiswa saat ini.

Posisi mahasiswa di masyarakat juga masih dianggap sebagai kaum ekslusif, kaum yang hanya bisa membuat kemacetan di kala aksi, tanpa sekalipun memberikan hasil yang konkret, yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Dengan kata lain, perjuangan dan peran mahasiswa saat ini telah kehilangan esensinya sehingga masyarakat sudah tidak menganggap peran mahasiswa sebagai suatu harapan. Inilah paradigma yang seharusnya diubah, jurang lebar antara masyarakat dan mahasiswa harus dihapuskan. Penulis berpendapat, bahwa peran mahasiswa saat ini seyogyanya memiliki kesinergisan masyarakat dimana mahasiswa bernaung sebagai anak rakyat, semoga.

Dari penjelasan di atas yang begitu panjang, mahasiswa dituntut untuk memiliki karakter idealis terhadap lingkungan sekitarnya, termasuk dalam hal ini adalah idealis untuk berpartisipasi dalam pemilihan raya yang ada di lingkungannya. Mahasiswa tidak diajak untuk aktif, tetapi mahasiswa mempunyai kesadaran sendiri bahwa mahasiswa itu mampu dalam melaksanakan dan memecahkan persoalan-persoalan yang melanda lingkungan sekitarnya. Mahasiswa yang memiliki karakter tidak menunggu kapan dia akan diinstruksikan. Karakter-karakter yang dibangun merupakan tumpuan bagi seorang mahasiswa dalam meniti pahit manis kehidupan yang dialami oleh masyarakat.

Salah satu hal yang dilaksanakan masyarakat kampus yang notabene merupakan masyarakat paling dekat dengan mahasiswa adalah pemilihan raya, apalagi pemilihan tersebut, mahasiswa terdorong untuk aktif dalam memberikan kontribusi yang nyata bagi pemilihan raya tersebut. Suatu pemilihan raya merupaka hal yang paling menentukan keadaan yang akan dialami para mahasiswa di masa datang nanti sebab dari hasil pemilihan raya tersebut akan lahir suatu dasar-dasar baru dan perubahan-perubahan terhadap sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini, mahasiswa dituntut untuk tidak apatis dalam menanggapi keadaan seperti demikian. Salah satu peran mahasiswa seperti yang dijelaskan di atas adalah agent of control, mahasiswa harus membuktikan bahwa mereka mempunyai peranan yang amat berharga demi merobek kain yang hitam dan menggatinya dengan kain yang putih. Dari kain putih tersebut, mahasiswa memberikan kontribusi dan kekuasaan untuk mengubah warna kain putih tersebut kearah warna yang lain. Kalau seandainya kain tersebut masih berwarna putih seperti sedia kala, hal tersebut menandakan bahwa tidak ada perubahan yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut.

Melalui pemilihan raya, akan lahir sosok-sosok baru yang memiliki karakter, sosok-sosok yang sudah siap dalam menghadapi berbagai permasalahan. Pemilihan yang dilakukan demi menanti suatu perubahan yang diharapkan tentunya akan merealisasikan hal-hal yang betul-betul diharapkan untuk berubah. Mahasiswa yang memiliki intelegensi dan mampu berkompetisi demi perubahan yang lebih baik pastinya akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap tumbuhnya generasi-generasi baru berikutnya yang akan mempunyai karakter berwibawa dalam mengedepankan moral, integritas, dan ilmu pengetahuan.