MEMBANGUN INDONESIA BERMARTABAT DAN UNGGUL DALAM PENANGANAN AKI DAN AKB MELALUI SEMANGAT EMANSIPASI WANITA DAN PERAN KERJASAMA LINTAS SEKTOR

            Dini Safitri Zahara, Rizky Aditya Fardhani 

Universitas Diponegoro

Emansipasi wanita seperti yang disuarakan oleh ibu Kartini, adalah ‘kesetaraan hak dan gender. Emansipasi wanita memberi kesempatan bekerja, belajar dan berkarya seperti halnya pria, tapi seimbang dengan kemampuannya. Itulah yang di cita-citakan oleh ibu Kartini, yang sampai saat ini sangat dihormati masyarakat Indonesia sebagai promotor emansipasi wanita. Dengan memperoleh kesempatan belajar yang lebih, kaum perempuan akan memperoleh banyak pengetahuan termasuk pengetahuan tentang kesehatan. Seorang ibu memiliki peran yang paling besar dalam menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan dalam rumah tangga. Apabila dalam sebuah rumah tangga memiliki seorang ibu yang cerdas, maka bisa dipastikan seluruh anggota keluarga dapat terpenuhi hak-hak terhadap kesehatannya.

Cita-cita ibu Kartini masih tetap relevan untuk kita jalankan, sejalan dengan kontekstual perkembangan zaman. Khususnya Indonesia yang masih memerlukan pemikiran-pemikiran cerdas yang mampu menyelesaikan permasalahan yang sedang hangat yaitu masih tingginya angka kematian ibu dan anak. Jangan bermimpi untuk menjadi negara maju yang mampu berkembang dari segi ekonomi, jika dibandingkan dengan negara-negara asia tenggara di luar Kamboja dan Laos, produktivitas beberapa indikator kesehatan negara kita masih jauh dibawah terutama angka kematian ibu dan anak. Sudah selayaknya kita berbenah dan bercermin dari apa yang ada karena indikator kesehatn merupakan indikator yang sangat penting dalam stabilitas suatu negara.

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan masyarakat dan menjadi tolak ukur kesejahteraan suatu bangsa. Angka kematian ibu dan anak juga merupakan target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) yaitu tujuan ke 4 dan 5 yaitu menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu yang dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai tiga per empat resiko jumlah kematian ibu dan anak di Indonesia. Dari hasil survei yang dilakukan, AKB dan AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan MDGs masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus.

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat AKB dan AKI

Rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian ibu dan bayi, meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. Misalnya, pemberdayaan perempuan yang tak begitu baik, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, kebijakan juga berpengaruh. Kaum lelaki pun dituntut harus berupaya ikut aktif dalam segala permasalahan bidang reproduksi secara lebih bertanggung jawab.

Sering kali permasalahan kesehatan terutama masalah AKB dan AKB masalah medis menjadi kambing hitam, padahal selain masalh medis, tingginya kematian ibu juga karena masalah ketidaksetaraan gender, nilai budaya, perekonomian serta rendahnya perhatian laki-laki terhadap ibu hamil dan melahirkan. Oleh karena itu, pandangan yang menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu diubah secara sosiokultural agar perempuan dapat perhatian dari masyarakat. Sangat diperlukan upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat terutama suami.

Memang medis juga turut serta dalam masalah ini seperti relatif masih rendahnya cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan. Departemen Kesehatan menetapkan target 90 persen persalinan ditolong oleh tenaga medis pada tahun 2010. Perbandingan dengan hasil survei SDKI bahwa persalinan yang ditolong oleh tenaga medis profesional meningkat dari 66 persen dalam SDKI 2002-2003 menjadi 73 persen dalam SDKI 2007. Angka ini relatif rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand di mana angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan hampir mencapai 90 persen.

Apabila dilihat dari proyeksi angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,tampak bahwa ada ketidaksesuaian dari tahun 2004 dimana angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dibawah dari angka proyeksi, apabila hal ini tidak menjadi perhatian kita semua maka diperkirakan angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 90 persen pada tahun 2010 tidak akan tercapai. Konsekuensi lebih lanjut bisa berimbas pada resiko angka kematian ibu meningkat. Kondisi geografis, persebaran penduduk dan sosial budaya merupakan beberapa faktor penyebab rendahnya aksesibilitas terhadap tenaga pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, dan tentunya disparitas antar daerah akan berbeda satu sama lain.

Apabila dilihat dari tren pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan dari tahun 2000-2007 menunjukkan bahwa pertolongan persalinan oleh dokter dari tahun trendnya meningkat baik di desa maupun di kota. Bahkan di daerah perkotaan angka pertolongan persalinan oleh dokter pada tahun 2007 telah lebih dari 20 persen.Sedangkan cakupan pertolongan persalinan oleh bidan relatif tidak banyak bergerak bahkan apabila dibandingkan antara tahun 2007 dan 2004 secara total pertolongan persalinan oleh bidan kecenderunganya menjadi turun.

Hal yang penting diperhatikan dalam menganalis permasalahan ini juga adalah mengenai perilaku masyarakat yang kurang mendukung pola hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung peningkatan status kesehatan penduduk. Perilaku masyarakat yang baik akan mencerminkan tingkat kepedulian masyarakat terhadap diri, masyarakat serta kemajuan bangsanya.

Konflik Permasalahan Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia

Meskipun secara nasional kualitas kesehatan masyarakat telah meningkat, akan tetapi disparitas status kesehatan antar tingkat sosial ekonomi, antar kawasan, dan antar perkotaan-perdesaan masih cukup tinggi. Angka kematian bayi dan angka kematian balita pada golongan termiskin hampir empat kali lebih tinggi dari golongan terkaya. Selain itu, angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan lebih tinggi di daerah perdesaan, di kawasan timur Indonesia, serta pada penduduk dengan tingkat pendidikan rendah. Persentase anak balita yang berstatus gizi kurang dan buruk di daerah perdesaan lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih dan cakupan imunisasi pada golongan miskin lebih rendah dibanding dengan golongan kaya.

Masalah kesehatan yang terjadi tidak hanya sebatas hal tersebut. Persoalan lain juga bermunculan antara lain pendarahan, keracunan kehamilan yang disertai kejang-kejang, aborsi, dan infeksi. Pendarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu. Anemia dan kekurangan energi kronis pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya pendarahan dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu. Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca persalinan, namun ia akan menderita akibat kekurangan darah yang berat atau anemia berat dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan.

Yang penjadi pekerjaan selanjutnya dan perlu mendapat perhatian khusus adalah eklamsia. Kejang bisa terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol saat persalinan. Hipertensi dapat terjadi karena kehamilan, dan akan kembali normal bila kehamilan sudah berakhir. Namun ada juga yang tidak kembali normal setelah bayi lahir. Kondisi ini akan menjadi lebih berat bila hipertensi sudah diderita ibu sebelum hamil. Karenanya hal ini sangat membahayakan. Oleh karena ini masalah kesehatan sistemik seperti ini penting mendapat perhatian bagi seorang ibu.

Hal yang tidak dapat dipungkiri yang menjadi beban negara yang menjadi penghambat program penurunan angka kematioan AKI dan AKB adalah rendahnya kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Hal ini didukung dengan terbatasnya tenaga kesehatan dengan distribusi tidak merata yang menyebabkan kesatuan sistem yang salah yang memperburuk citra Indonesia dalam penangan kasus ini. Kesatuan konflik ini harusnya menjadi cerminan bagi masyarakat dan pemerintah serta lembaga yang terkait untuk bersama-sama dalam menangani masalah yang cukup pelik ini.

Peran Emansipasi Perempuan dalam Pembangunan Kesehatan di Indonesia

Ketika kita mengingat kembali perjuangan kaum perempuan seperti yang telah disuarakan oleh pahlawan revolusi kita, yaitu Ibu Kartini, maka sesungguhnya tidak bisa dipungkiri bahwa kaum perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia tanpa harus meninggalkan fungsi domestiknya sebagai ibu rumah tangga. Justru di situlah sebenarnya kunci kekuatan kaum perempuan yang sejak dulu diharapkan ibu Kartini dalam mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Perempuan Indonesia menjadi sorotan ketika terjadi permasalahan  ibu dan anak yang sedang menjadi pembicaraan hangat di negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang sekarang ini tengah masyarakat yang modern. Permasalahan tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri yang di mana angka kematian ibu dan anak merupakan indikator baik buruknya derajat kesehatan ataupun pelayanan kesehatan bagi suatu negara. Apabila permasalahan tersebut dibiarkan terus menerus, bukan tidak mungkin negara yang tertinggal dalam hal penanganan kesehatan ibu dan anak mendapat sorotan dan cemooh dari negara-negara dunia dan terganggunya hubungan dalm bidang investasi maupun bilateral negara.

Kasus kematian ibu dan anak yang sampai sekarang masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia sesungguhnya bisa dicegah melalui program terarah dan terencana yang melibatkan kaum permpuan sebagai subjeknya. Selama ini pembangunan kesehatan berbasis masyarakat yang digerakkan salah satunya melalui posyandu telah berhasil meningkatkan taraf hidup kesehatan masyarakat. Bahkan program yang digerakkan oleh kaum ibu ini banyak dijadikan rujukan oleh bangsa lain dalam rangka meningkatkan layanan kesehatannya. Subjek dan objek program ini lebih banyak kepada kaumperempuan. Peningkatan kesehatan keluarga, ibu hamil dan menyusui balita dan anak akan melibatkan banyak kaum perempuan dalam pelaksanannya. Nantinya diharapkan seorang ibu mampu melaksanakan pelayanan kesehatan dasar secara mandiri dan meningkatkan kesehatan lingkungan serta pencegahan terhadap wabah penyakit yang kemungkinan terjadi dan merupakan salah satu faktor penyebab tingginya angka kematian ibu dan anak.

Pengetahuan ibu mengenai kesehatan dirinya sejak hamil, melahirkan dan setalah melahirkan sangat penting. Hal ini dikarenakan serangkaian kejadian yang yang akan dialami seorang ibu dalam proses tersubut perlu persiapan matang dari ibu tersebut. Tercatat banyak angka kelahiran bayi dan kematian ibu dikarenakan kelalaian seorang ibu dalam menjaga kesehatan diri dan bayi yang dikadungnya. Perlunya perawatan rutin ketika sedang hamil misalnya, dapat menggambarkan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan seorang ibu selama hamil. Pengetahuan ini juga harus didukung oleh keluarga terutama suami agar tetap perhatian terhadap perkembangan kesehatan ibu dan anak selanjutnya.

Pengetahuan ibu tentang kesehatannya juga tercermin pada strategi Making Pregnancy Safer  (MPS) atau Kehamilan yang Aman sebagai kelanjutan dari program  Safe Motherhood. Strategi ini bertujuan untuk mempercepat penurunan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. MPS terfokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam intervensi klinis dan sistem kesehatan serta penekanan pada kemitraan antar institusi pemerintah, lembaga donor dan peminjam, swasta, masyarakat, dan keluarga. Perhatian khusus diberikan pada penyediaan pelayanan yang memadai dan berkelanjutan dengan penekanan pada ketersediaan penolong persalinan terlatih. Aktivitas masyarakat ditekankan pada upaya untuk menjamin bahwa wanita dan bayi baru lahir memperoleh akses terhadap pelayanan.

Seorang ibu yang bijak dan berpengetahuan cerdas juga harus memperhatikan kondisi gizi selama hamil dan setah melahirkan. Banyak angka kecacatan bayi disebabkan kelalaian ibu dalam mengonsumsi zat-zat yang diperlukan selama hamil. Seorang ibu yang melahirkan sangat rentan terkena anemia dikarenakan pendarahan yang terjadi pada saat melahirkan. Hal ini penting dipersiapkan seorang ibu dengan baik serta berfikiran maju ke depan. Banyak makanan mikro dan makro yang sangat diperlukan bagi perkembangan bayi di kandungan sehingga menuntut seorang ibu untuk mencari ilmu sebanyak banyaknya salah satunya dengan membaca. Jika kesulitan memperoleh ilmu dari membaca dikarenakan harga buku yang mahal, seorang ibu dituntut untuk aktif bertanya baik dari posyandu ataupun mengikuti penyuluhan yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.

Sehingga dalam serangkaian menekan angka AKI dan AKB perlu kedewasaan seorang ibu dalam menentukan pilihan bagi diri dan anaknya. Pesan revolusi dari ibu Kartini untuk terus meningkatkan semangat para wanita harusnya menjadi motivasi tersendiri bagi perempuan indonesia terutama kaum ibu untuk keseteraan kehidupan di masyarakat. Semangat ini juga mengingatkan wanita Indonesia untuk mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan perilaku sehat agar tidak sangat tergantung kepada laki-laki.

Peran Aktif Semua Pihak dalam Penyelesaian Masalah AKB dan AKI

Bertambahnya penduduk miskin sebagai akibat krisis ekonomi yang terjadi sejak 1998 telah membatasi akses dan kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak bagi golongan miskin. Selain program-program rutin pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemerintah telah meluncurkan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) bidang kesehatan, antara lain dengan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan gratis bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi untuk keluarga miskin, serta bantuan pembangunan sarana kesehatan. Hal ini harus kita manfaatkan secara benar dengan pembagian secara rata masyarakat miskin sehingga dapat menjadi keunggulan pemerintah Indonesia.

Dengan ditetapkannya UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, kesempatan anak Indonesia untuk hidup sehat, tumbuh dan berkembang secara optimal menjadi semakin terbuka. Dalam undang-undang itu dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental spiritual, dan sosial. Sehingga harusnya setiap keluarga merasa nyaman karena ketersedian jaminan untuk tumbuh dan kembang anak sudah di jamin negara. Sehingga harusnya hal ini juga memacu pemerintah dalam hal peningkatan kualitas dalam pelayanan kesehatan dan sosial bagi anak-anak Indonesia.

Merujuk pada kebijakan umum pembangunan kesehatan nasional, upaya penurunan angka kematian bayi dan balita merupakan bagian penting dalam Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) yang antara lain dijabarkan dalam Visi Anak Indonesia 2015 untuk menuju anak Indonesia yang sehat. Strategi nasional bagi upaya penurunan kematian bayi dan balita adalah pemberdayaan keluarga, pemberdayan masyarakat, meningkatkan kerja sama dan koordinasi lintas sektor serta meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan anak yang komprehensif dan berkualitas. Jika hal ini berjalan dengan baik maka visi Indonesia dalam hal peningkatan kesehatan ibu dan anak dapat berjalan secara maksimal. Hal ini juga membuat Indonesia menjadi unggul dan disetarakan dengan negara maju yang sebelumnya telah mempunyai pelayanan kesehatan yang unggul.

Faktor utama penyebab tingginya angka kematian bayi di Indonesia sebenarnya dapat dicegah dengan intervensi yang dapat terjangkau dan sederhana. Oleh karena itu kinerja pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan penduduk. Hal ini perlu penanganan khusus dan kerjasama antar pihak-pihak terkait dalam penyelesaian masalah ini. Kerja sama lintar sektoral menjadi lini pertama dalam penanganan dan percepatan penyelesaian masalah ini.

Sasaran pembangunan kesehatan pada akhir tahun 2009 adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang antara lain tercermin dari indikator dampak (impact) yaitu menurunnya angka kematian bayi dari 35 menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup, menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 25,8 persen menjadi 20,0 persen.

Untuk mencapai sasaran tersebut harusnya pemerintah mempunyai kebijakan-kebijakan strategis yang mampu menghasilkan hasil yang rasional dan pencapaian yang maksimal terutama dapat diarahkan pada peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas puskesmas, peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan, pengembangan sistem jaminan kesehatan terutama bagi penduduk miskin, peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat, peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini dan pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar.

Pembangunan kesehatan harusnya memprioritaskan upaya promotif dan preventif yang dipadukan secara seimbang dengan upaya kuratif dan rehabilitatif. Perhatian khusus diberikan kepada pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin, daerah tertinggal dan daerah bencana, dengan memperhatikan kesetaraan gender. Sehingga kesatuan sistem ini dapat menjadi ujung tombak utama dalam kajian strategis penyelesaian suatu sistem masalah ini.

Program sederhana yang harusnya menjadi perhatian pemerintah dalam peningkatan pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak sudah semestinya dapat ditujukan untuk meningkatkan jumlah, pemerataan, dan kualitas pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan jaringannya meliputi puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan bidan di desa. Jika pelayanan kesehatan dapat merapa di daerah terutama daerah terpencil, maka AKB dan AkI dapat ditekan karena permasalahan yang kita hadapi sekarang ini adalah akses yang sulit hingga ke daerah-daerah terpencil

Kegiatan pokok sebagai solusi yang penting diperhatikan dalam hal kerja sama antar elemen masyarakat, pemerintah dan lembaga terkait adalah maksimalisasi pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas dan jaringannya, pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya, pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial, peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang-kurangnya promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, pengobatan dasar dan penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan.

Program yang tidak kalah penting dalam penyelesaian masalah yang cukup pelik ini adalah peningkatan asupan gizi. Tidak dapat dipungkliri ketersedian gizi yang cukup sangat menunjang kesehatan ibu yang hamil, saat melahirkan serta perkembangan anak yang lahir. Program iniharusnya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil, bayi dan anak balita. Peningkatan status gizi ini ditunjang dengan kemauan ibu untuk terus mencari pengetahuan yang berhungan dengan kesehatannya. Membaca sebanyak-banyaknya, aktif dalam penyuluhan dan aktif dalam kegiatan posyandu penjadi kegiatan pokok yang harus diperhatikan seorang ibu yang ingin meningkatkan derajat kesehatan dirinya.

Strategi dan usaha untuk mendukung upaya penurunan kematian bayi dan balita lainnya adalah meningkatkan kebersihan atau hygienedan sanitasi di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat melalui penyediaan air bersih, meningkatkan perilaku hidup sehat, serta kepedulian terhadap kelangsungan dan perkembangan dini anak. Program peningkatan kebersihan ini juga mampu menanggulangi penyakit menular yang menjadi ancaman bagi ibu dan anak

Oleh karena itu, mulai sekarang kita wujudkan Indonesia berkualitas dalam pananganan masalah ibu dan anak dengan peranan serta bersama dan khususnya peran wanita dalam zaman emansipasi demi terwujudnya Indonesia yang berbudi dan bermartabat di mata dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *