MEMAHAMI RETORIKA KEPEMIMPINAN ALA KI HAJAR DEWANTARA

Membaca Retorika Politik Pemilu 2009

Oleh M. Nelza Mulki Iqbal[1])

Universitas Brawijaya

Dalam kurun waktu 10 tahun berjalannya sebuah peradaban baru bernama demokrasi, hampir seluruh elemen di negeri ini percaya dan meletakkan legitiminasi penuh pada sebuah sistem demokrasi yang terkonsolidasi bernama pemilu. Itu pula yang kemudian diharapkan muncul dalam pelaksanaan pemilihan umum dan pemilihan presiden 2009. Alasanya, demokrasi merupakan sistem politik terbaik, yaa setidaknya sistem ini lebih ‘bernyali’ dalam menelurkan solusi berbagai permasalahan yang dihadapi negeri ini seperti pengangguran, kemiskinan, kesehatan dan masalah sosial lainnya.

Pemilu adalah momen bagi rakyat dalam menentukan jalan yang akan ditempuh bangsa dan Negara ini kedepannya. Apakah Indonesia akan tetap terbaca sebagai Indonesia atau malah tereja dan terpatah-patah menjadi INDONE- yang sia sia. Disinilah rakyat akan memutuskan apakah akan ‘menghadiahi’ atau ‘menelanjangi’ para calon elit pemimpin bangsa 2004-2009.

Menjelang penyelenggaraan pemilu 2009, sudah tidak asing lagi berbagai baliho, stiker, bendera bertebaran di seantero negeri. Pun demikian dengan keberadaan mereka yang numpang beken lewat iklan layar kaca. Berbagai iklan politik yang hadir senantiasa menjanjikan keindahan-keindahan politik pasca pemilu. Semua dibumbui dengan bunga-bunga yang nampak indah dan harum walaupun masih belum jelas isinya. Inilah fakta yang terjadi belakangan ini, retorika-retorika asyik disebar disana-sini, padahal ketika retorika itu berhenti retorika dan keindahan kata-kata dalam iklan politik hanya terpampang diatas kertas bisu atau di layar kaca yang penuh kamuflase atau terpampang didinding kosong tanpa makna, tentu hanya akan menjadikan harapan-harapan semu belaka bagi rakyat yang tak tahu apa-apa.

Maka dari itu sudah saatnya kita sadar bahwa pemimpin yang akan kita pilih bukan pemimpin yang pandai beretorika yang melangit, penuh dengan berbagai bujuk rayu bagaikan buluh perindu. Rakyat saat ini harus cermat memilih pemimpinnya, setidaknya dengan cermat memilih pemimpin yang memiliki kriteria retorika kepemimpinan yang baik seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara yakni Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Ing ngarso sung tulodho, artinya pemimpin harus mampu lewat sikap, ucapan, dan perbuatannya menjadi pola anutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya. Ing Madyo Mangun Karso, artinya pemimpin harus mampu memberikan dorongan secara swakarsa kepada orang-orang yang dipimpinnya sekaligus berkreasi dan menjadi inspirator. Tut Wuri Handayani, artinya seorang pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang diasuhnya agar berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.

Memang politik dan retorika seakan menjadi dua buah hal yang tak terpisahkan. Tanpa adanya retorika bagaimana mungkin seorang politikus dapat mempengaruhi massa untuk memilihnya. Melalui kemampuan ini pula seorang pemimpin dapat menyampaikan visi dan misi mereka, Namun agaknya rakyat juga harus mengerti bahwa retorika yang sebenarnya bukan mutlak berbicara mengenai propaganda saja, lebih mendalam retorika berbicara tentang  pemekaran bakat tertinggi manusia yakni rasio dan cita rasa yang diwujudkan melalui bahasa. Bahkan menurut Plato, Negara ideal adalah Negara yang dipimpin oleh filsuf, yang juga mahir beretorika !. Dengan demikian bukan hanya yang tampak verbal, tetapi sesuatu yang terpancar dari dalam diri salah satunya kebijaksanaan.

Namun, saat ini apakah hanya retorika yang menjadi subyek dan obyek penilaian ? Saya yakin masyarakat Indonesia sudah cukup cerdas dalam menjatuhkan pilihan, adalah kesalahan fatal bagi rakyat yang masih dengan mudah terjebak rayuan-rayuan manis dan retorika mempesona nan lembut dari para politikus. Sudah saatnya memilih pimpinan yang konsekuen terhadap retorikanya, bukan hanya janji tapi bukti, bukan wacana tapi realita dan fakta, dan bukan hanya pesona namun sebuah kinerja.

Dengan demikian kita masih dapat menggantungkan harapan terbaik dari yang sudah kita pilih. Atau mungkin kita malah sudah jengah dengan pemilu yang hasilnya ‘itu itu aja’ tidak membawa perubahan, siapa saja yang naik pasti hasilnya sama. Inilah mungkin yang menjadi pedoman dasar sebuah golongan bernama GOLPUT. Yang sebenarnya sampai saat ini saya masih bingung mengapa persoalan pilihan nurani lantas bergeser menjadi pilihan surga dan neraka, cukup aneh memang. Namun demikian mengingat Negara kita sudah mengakui adanya kedaulatan rakyat yang independent untuk menentukan nasibnya sendiri. Sehingga satu suara salah saja kita sendiri yang rugi. Maka dari itu pastikan bahwa Indonesia akan memiliki sosok pemimpin yang ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani. Indonesia baru yang cerdas, mandiri, demokratis dan berwibawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *