MANFAAT PISANG (Musa paradisiaca) SEBAGAI PENCEGAH HIPERTENSI UNTUK MENGURANGI JUMLAH KEMATIAN JANIN

Taufiq Akbar

 Fakultas Kedokteran

Universitas Hasanuddin

Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) adalah kematian yang terjadi saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau beratnya lebih dari 500 mg. Jika terjadi pada trimester pertama disebut abortus atau keguguran. Sedangkan menurut WHO kematian janin adalah kematian janin pada waktu lahir dengan berat badan <1000 gram. Kematian janin ini terjadi sebelum janin dilahirkan ibunya dan fakta dari kematian janin ini bisa dinilai ketika sudah dipisahkan dari ibunya dengan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

KJDK ini adalah salah satu permasalahan dalam bidang kesehatan di Indonesia terutama dalam bidang kebidanan, karena pada tahun 1999 angka kematian janin 46 kematian per 1000 jumlah kelahiran, kemudian meningkat lagi pada tahun 2000 menjadi 47/1000. Berdasarkan hasil dari Survei Kesehatan Nasional(Suskernas),angka kematian janin di Indonesia pada tahun 2001 sebesar 50/1000 dan pada tahun 2002 menjadi 45/1000, sedangkan pada tahun 2003 terjadi penurunan yang signifikan menjadi 35/1000 dan pada tahun 2007 jumlah angka kematian janin mengalami penurunan menjadi 34/1000, dan pada 2008 angka kematian janin menjadi 31/1000. Angka ini masih jauh di bawah target yang ingin dicapai oleh Dinas Kesehatan yaitu 26/1000. Pencapaian yang telah dicapai ini juga masih jauh dibawah negera tetangga kita, Malaysia, yang mencapai 16/1000 dan Singapura bahkan mencapai angka 2/1000 yang berarti hanya ada dua kematian janin dar 1000 persalinan yang ada. Sedangkan pada Millenium Development Goals (MDGs) standar angka kematian janin adalah 17/1000yangmasih sangat jauh dari pencapaian yang ada di negeri kita.

Ada banyak penyebab dan faktor resiko dari kematian janin. Berikut ini akan dijelaskan tiga penyebab kematian janin. Penyebab pertama adalah kausa janin, kausa ini mencakup anomali kongenital, infeksi dan malnutrisi.Penyebab kedua adalah kausa plasenta yang disebabkan gangguan dari plasenta, membran atau tali pusat yang mencakpu infeksi plasenta, infark plasenta, dan perdarahan plasenta. Penyebab ketiga adalah kausa ibu, kausa ini disebabkan karena perilaku dari ibu ketika mengandung, hipertensi dan diabetes mellitus adalah dua penyebab tersering dalam kausa ini.

Dari kausa penyebab kematian janin yang ada, kausa ibu adalah kausa yang bisa diperbaiki guna mengurangi angka kematian janin dan salah satu penyebab dari kausa tersebut adalah hipertensi. Hipertensi menurut WHO adalah peningkatan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan tekanan diastolik sama atau lebih besar dengan 95 mmHg dan ada yang mendefinisikan hipertensi jika tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 mmHg. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi ini yaitu faktor nutrisi, faktor kimia, faktor biologi, dan faktor fisik. Untuk wilayah kota-kota besar yang banyak menderita hipertensi, faktor nutrisi dan faktor fisik adalah faktor tersering yang menjadi penyabab hipertensi. Untuk faktor nutrisi ialah tingginya penggunaan natrium dalam makanan yang dikonsumsi sehingga dapat menyebabkan konsentrasi natrium dalam cairan ekstraseluler meningkat. Banyaknya restoran cepat saji yang kaya daging juga dapat menyebabkan obesitas, dari penelitian ditemukan bahwa 60% dari penderita hipertensi adalah orang yang obesitas. Untuk faktor fisik ini lebih disebabkan karena kebiasaan dan gaya hidup dari penderita, terutama dari masyarakat yang sering mengkonsumsi rokok dan alkohol. Sebagian besar dari penderita hipertensi adalah perokok berat. Serta kehidupan masyarakat perkotaan yang memiliki jadwal padat, menyebabkan masyarakat perkotaan jarang memiliki waktu untuk berolahraga.

Pada saat hamil, resiko hipertensi bisa meningkat, hal ini disebabkan oleh tekanan darah esensial yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan emosi yang labil. Pada usia kehamilan 30 minggu, 30% ibu hamil mengalami peningkatan tekanan darah tanpa disertai adanya gejalan, dan 20% lagi ibu hamil mengalami tekanan darah disertai urin keruh, edema. Tekanan darah ini dapat disertai nyeri ulu hati, mual, dan muntah. Lalu penyebab kedua adalah hipertensi karena penyakit ginjal, hal ini disebabkan karena adanya peradangan bagian ginjal yang disertai meningkatnya suhu badan atau gangguan buang air kecil. Untuk mengatasinya ibu hamil dianjurkan untuk istirahat yang cukup, bekerja ringan, dan mengendalikan emosi. Dan apabila hipertensi disertai dengan edema, dan proteinuria hal ini menyebabkan pre-eklampsia, yang menjadi salah satu faktor tejadinya kematian janin.

Ibu hamil dengan hipertensi dapat mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen, seperti prostaglandin. Yang dapat menyebabkan vasospasme dan agegasi platelet. Pada fase vasospasme konstriksi vaskuler menyebabkan peningkatan tahanan perifer dan tekanan darah. Pada saat yang sama, kerusakan sel endotel menyebabkan kebocoran interstitisial yang meliputi bahan dalam darah seperti trombosit, fibrinogen, dan deposit subendotelial lain. Ketika dilakukan pemeriksaan USG, pada penderita pre-eklampsia yang salah satu penyebabnya adalah hipertensi terlihat adanya perubahan tahanan arterial. Penurunan aliran darah akibat gangguan distribusi, iskemia, dan perdarahan jaringan menyebabkan serangkaian gejala pre-eklampsia. Hipertensi pada ibu hamil juga dapat menyebabkan kelainan sistem kardiovaskuler yaitu meningkatnya after-load jantung sehingga menyebabkan gangguan pre-load akiba tterganggunya proses hipervolemia dalam proses kehamilan, serta aktivasi endotel dengan akibat ekstravasasi kedalam ruang ekstraseluler terutama ke dalam paru. Penumpukan trombus dan pendarahan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf lokal dan kejang. Banyak cara yang dilakukan untuk mengobati atau mencegah hipertensi, seperti dengan merubah kebiasaan hidup yaitu dengan memperbanyak olah raga dan tidak merokok, mengkonsumsi makanan yang sehat dengan memperbanyak konsumsi buah-buahan serta sayur-sayuran, serta melalui pengobatan medikamentosa seperti ACE Inhibitor.

Dalam jurnal penelitian yang diterbitkan oleh The Journal of The American Cardiology yang ditemukan bahwa asupan kalium sebesar 1.600 mg atau kurang dari separuh jumlah kalium harian yang dianjurkan untuk dewasa yaitu sebesar 3.500 mg cukup untuk menurunkan resiko hipertensi. Kalium disini berfungsi sebagai diuretik sehingga pengeluaran natrium meningkat, hal ini mampu membantu menurunkan tekanan darah. Konsumsi kalium yang banyak akan meningkatkan konstentrasi di dalam cairan intraseluler, sehingga cenderung menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah. Kalium memiliki sifat merelaksasi pembuluh darah sehingga mampu kengurangi resiko dari penyempitan pembuluh darah. Bahan makanan yang mengandung kalium adalah buah-buahan dan sayur-sayuran, kandungan kalium dalam pisang (Musa paradisiaca) adalah 435 mg, jumlah ini lebih tinggi dari pepaya dan apel merah yang masing masing kandungannya 221 mg dan 203 mg. Dalam jurnal New Englan Journal of Medicine disebutkan bahwa mengkonsumsi pisang mampu menurunkan 40% resiko hipertensi

Sebuah penelitian di India juga menemukan hasil yang sama, mengkonsumsi dua buah pisang sehari mampu menurunkan tekanan darah 10% dalam satu minggu, hal ini disebabkan karena meningkatnya kadar angioestin-2 dalam tubuh akan diikuti dengan peningkatan tekanan darah karena angioestin-2 menyebabkan pembuluh darah mengkerut. ACE (Angiotensin-Converting-Enzyme) Inhibitor yang berfungsi untuk menghambat fungsi ACE yang memproduksi angioestin-2. Dan ditemukan pisang yang matang memiliki ACE Inhibitor yang lebih banya dibandingkan dengan buah pisang yang masih muda.

Pisang juga memiliki kandungan natrium yang rendah, fungsi kerja dari natrium ini bertolak belakang dengan fungsi kerja dari kalium. Konsumsi natrium berlebihan menyebabkan konsetrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya, cairan intraseluler ditarik keluar, sehingga cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya cairan ekstraseluler tersebut yang menyebabkan meningkatnya volume darah. Selain meningkatkan volume darah, natrium juga cenderung mempersempit diameter pembuluh darah dan menjadi penyebab hipertensi. Dengan meningkatnya volume darah dan menyempitnya pembuluh darah, maka resiko hipertensi akan meningkat. Sehingga perlunya mengkonsumsi kalium untuk menstabilkan tingginya volume ekstraseluler. Dengan mekanisme kerja kalium dan natrium yang berbanding terbalik dapat membantu kestabilan tekanan darah. Sehingga FDA (Food and Drug Association) adalah sumber kalium dan rendah natrium yang berfungsi untuk mengurangi resiko hipertensi.

Bagi ibu hamil mengkonsumsi pisang selain mengurangi resiko hipertensi, pisang juga memgandung asam folat yang penting dalam perkembangan janin, pembentukan sel-sel baru, dan mencegah terjadinya  cacat bawaan. Satu buah pisang yang mengandung 85-100 kalori, sehingga kebutuhan asam folat sekitar 58 mikrogram dapat terpenuhi. Pisang juga mampu mengurangi efek morning sickness, yaitu rasa mual pada ibu hamil di pagi hari. Pisang juga memiliki zat besi yang tinggi dan mudah diserap tubuh sehingga mampu mengurangi resiko anemia pada ibu hamil.

Selain manfaat yang sangat banyak, mengkonsumsi pisang juga banyak memiliki keuntungan dari segi ekonomi dan sosial. Dari segi ekonomi, pisang adalah buah yang relatif murah dan dapat diperoleh dimana saja, baik itu diperkotaan dan dipedesaan. Dari segi sosial, selain dapat langsung dikonsumsi, pisang juga dapat diolah menjadi berbagai macam makanan, sehingga pisang dapat dikonsumsi oleh semua kalangan.

Maka dengan berbagai keuntungan yang dimiliki oleh pisang ini, diharapkan angka kematian janin yang ada di Indonesia mampu dikurangi, sehingga mampu menjadikan Indonesia menjadi negara yang sehat dan sejahtera, baik dari aspek kesehatan, ekonomi, dan sosial. Dan target dari MDGs mampu tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *